‘Gus Afkar’
Zahra terperangah kaget mendapati suara suaminya di belakangnya.
Sontak ia menoleh dengan mata yang membulat sempurna ke arah lelaki yang sekarang tengah berjalan menghampirinya itu.
“Ke mana saja kamu? suamimu ini mencarimu dari tadi,” ujar lelaki itu terdengar antusias.
Tapi tak ada kata yang sanggup Zahra ucapkan. Ia hanya menatap heran ke arah suaminya itu.
“Ayo pulang!” ajak lelaki itu dengan lembut sambil menggandeng tangannya.
‘Mengapa aku menangkap kemarahan dalam nada suaramu dan gelagatmu yang lembut ini, Gus. Apa aku yang salah kira?’ pikir Zahra menatap bingung tangan yang menggenggamnya itu.
“Maaf ya Nayla, sudah malam. Baiknya kau juga harus pulang,” seru lelaki itu kemudian menarik tangan Zahra untuk kembali.
Nayla tampak begitu kesal dan kecewa.
Sementara itu, Zahra menatap suaminya yang kini tengah menarik tangannya untuk berjalan cepat. Sedikitpun lelaki itu tak menoleh kepadanya.
‘Apa kau mendengarnya, Gus? Apa kau marah?’
Zahra hanya bisa bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Ia menyadari sikap dingin lelaki itu.
Apalagi Gus Afkar sama sekali tak menoleh padanya sepanjang jalan.
‘Ini terasa seperti malam pernikahan kita saat itu, Gus’
Namun anehnya, tangannya tetap digenggam, tak dilepas sedikitpun.
Lelaki itu kemudian membuka pintu rumahnya dan membawa Zahra masuk.
Zahra menatap dalam ke arah suaminya yang sekarang masih memegang tangannya dengan tangan lain mengunci pintu itu.
Masih tak ada kata terucap…
Lelaki itu menarik tangan Zahra masuk kamar.
‘Istirahatlah!’ ucap Gus Afkar menoleh dengan wajah datar setelah melepas tangannya.
Lelaki itu terlihat mengambil handuk dan membiarkan Zahra tertegun di tempat.
Mata Zahra berkaca-kaca, ia menelan ludahnya sembari memperhatikan kemana lelaki yang sedang mengabaikannya itu bergerak.
‘Gus, ini menyakitiku’
Lelaki itu sekarang masuk ke dalam kamar mandi.
Terdengar suara guyuran air menabrak lantai berturut-turut dan beberapa kali.
Zahra menghela nafas panjang. Ia berjalan gontai menuju ranjangnya dan duduk di sana.
Air matanya tak kuasa menetes…
Ia mengusap air di pipinya itu perlahan kemudian memperhatikannya dengan bertambah heran.
‘Ada apa denganku?’ pikirnya bingung.
‘Kenapa setiap kali diperlakukan seperti itu hatiku sakit? Apa ini karena Nayla atau karena….”
Matanya bergerak ke kanan ke kiri dengan penasaran.
Kriek
Terdengar suara pintu dibuka.
Lelaki itu tampak keluar dengan mengusap rambut basahnya yang mengalir ke leher dan dada atasnya yang bidang. Wajahnya terlihat begitu segar dan tampan.
Tiba-tiba lelaki itu tampak menoleh ke arahnya dan membuatnya tersadar dari keterpakuannya..
‘Astaghfirullah’
Zahra segera memalingkan muka ke arah lain.
Gus Afkar kemudian mengambil selimut dan bantal di atas ranjang kemudian beranjak menuju sofa panjang di kamar tersebut.
‘Tidak! aku harus bertanya, aku tak mau dia salah paham’
“Gus!” panggil Zahra sembari segera bangkit dari duduknya.
Rasanya dada Zahra kembali berdebar kencang apalagi mendapati lelaki itu terhenti dan terdiam di tempat untuk sesaat.
“Apa kita bisa bicara sebentar?” ucapnya hati-hati.
Lelaki itu akhirnya membalikkan badannya, wajahnya kini terlihat berubah teduh. Dia bahkan tersenyum menatapnya.
Dia menghampiri Zahra dan menggandengnya menuju ranjang dengan tangan lain mengapit bantal dan selimut di bawah ketiaknya.
“Tidurlah! kau pasti sudah sangat lelah mempersiapkan acara hari ini,” ucapnya dengan hangat.
Zahra menurut dan mulai berbaring, lelaki itu bahkan menyelimutinya dan tersenyum hangat lagi seraya berkata, “Selamat malam!”
Zahra tambah merasa bersalah.
Apalagi lelaki itu sekarang berbalik menuju sofa itu lagi dengan bantal dan selimutnya. Sepertinya dia akan tidur di sana.
‘Sepertinya kau sangat lelah, Gus. Atau mungkin sangat penat?’ pikir Zahra sambil memandang suaminya yang langsung berbaring dan terpejam begitu lelapnya.
******
‘Ya Allah kok tambah sakit’
Zahra mengernyitkan dahinya dan menggeliat pelan memegangi perutnya yang terasa sakit dan semakin sakit.
‘Aduh sudah hampir di ujung lagi, kenapa nggak tadi-tadi’
Zahra langsung terjaga kembali dan melompat dari tempat tidurnya menuju kamar mandi dengan setengah berlari.
Sebenarnya ia sangat malas, tapi mau tak mau ia harus bangun.
Padahal baru saja ia bisa tertidur setelah dari tadi terus terjaga karena memikirkan alasan suaminya bersikap dingin, tapi memaksakan diri untuk berlaku hangat padanya.
Belum lagi tuntutan Nayla padanya dan juga apa-apaan ia jadi melow saat bersama suaminya itu.
Tak berapa lama, Ia akhirnya keluar dari sana.
Ia berjalan dengan perasaan begitu lega, setelah berada di tengah-tengah dilema antara malas bangun dan harus bangun.
Sekarang ia jadi tidak mengantuk lagi.
Dilihatnya sang suami yang masih tertidur dengan begitu pulas.
‘Gus Afkar’
Selimutnya terlihat sudah sangat berantakan dan berada di kaki bagian bawahnya saja.
Zahra menatapnya penuh arti kemudian menghampirinya perlahan. Dibenahinya selimut itu dengan ditariknya sampai dada sang suami.
‘Maaf kalau Zahra terus jadi beban pikiran, Gus’
Ia menghela nafas dan hendak bangkit, saat tanpa dinyana tangannya malah digenggam sang suami yang baru saja bergerak pelan.
Tidak berhenti disitu, lelaki itu tampak membalikkan badannya miring kemudian mendekap tangan Zahra dengan kedua tangannya saat ia mencoba menariknya perlahan.
Akhirnya Zahra hanya bisa duduk di depan sofa panjang itu.
Ia menatap lelaki itu begitu dalam.
‘Kenapa kau sangat perhatian padaku akhir-akhir ini, bagaimana kalau aku tak bisa mengendalikan perasaanku, bukannya kamu yang memintaku untuk tidak menganggap serius perjodohan ini. kalau begini bagaimana aku harus bersikap?’ pikir Zahra.
Ia kembali mendesah pelan.
“Dan kenapa kau terlihat begitu tampan?” gumam Zahra lirih sambil menyentuh turun hidung suaminya itu.
Lelaki itu tiba-tiba menggeliat, Zahra yang kaget, sontak langsung menyandarkan kepalanya seadanya dan berpura-pura tertidur.
‘Apa ini? Kenapa aku malah bersandar di dadanya?’ gumam Zahra dalam hati dan tanpa sadar itu membuat ia berkernyit.
‘Semoga dia tidur lagi. Ya Allah tidurkan suamiku lagi, kumohon’
Setelah ditunggu beberapa lama dirasa tidak ada gelagat dan suasana juga kembali hening. Zahra mencoba membuka matanya sebelah.
‘Astaghfirullah, bagaimana bisa aku melihatnya sudah bangun atau masih tidur, wong kepalanya ada di belakangku’ pikir Zahra yang hanya bisa melihat selimut membujur sepanjang tubuh suaminya itu.
Akhirnya ia buka kedua matanya, dan memberanikan diri menoleh ke belakang, ke wajah suaminya.
‘Alhamdulillah’ gumamnya dalam hati.
Ia menghela nafas lega mendapati lelaki itu masih tertidur pulas dengan mata terpejam.
namun sepertinya ia salah mengira….
Matanya membelalak begitu lebar menatap lelaki yang ia kira masih tidur itu membuka mata dan menatapnya dalam.
‘Gus’
“Sepertinya aku harus menghukummu karena membuatku terbangun dengan sangat gugup, Azzahra Khoirunnisa,” ucap lelaki itu dengan serius tanpa melepaskan pandangan ke arah lain.
‘Apa maksudmu, gus?’ pikir Zahra gugup, apalagi lelaki itu kini tengah menatap bibir dan matanya bergantian.
Nafas Zahra seakan terhenti, dadanya berdegup kencang berlomba dengan debaran jantung suaminya itu.
Wajah Gus Afkar kemudian terlihat mendekat dan semakin mendekat ke arahnya…
‘Gus?’
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments