Salah Bicara

“Ning, Ning Zahra…”

Zahra tersentak kaget dipanggil dan ditepuk lengan tangannya oleh santriwati yang berada di sampingnya itu.

“I—iya?” sahutnya sambil menoleh ke arah santriwati tersebut.

“Buncisnya memang harus di rajang seperti itu ya, Ning?” tanyanya mengingatkan.

Zahra langsung terperangah kaget menatap buncis yang tanpa sadar ia iris tipis-tipis tersebut, “Astaghfirullahaladzim!” 

‘Apa yang kau lakukan Zahra?’

Ia jadi tak fokus dan melamun saat mengingat pertengkarannya bersama sang suami dini hari tadi. Apalagi lelaki itu belum kembali ke rumah dari setelah mereka berdebat tadi sampai sekarang. Padahal hari sudah siang.

Ia sendiri juga bingung kenapa ia begitu marah dan kenapa sekarang ia begitu takut suaminya marah. 

Byur

Santan yang ada di samping buncis yang sedang dibersihkannya tersebut tiba-tiba tumpah ke bajunya karena tersenggol tangannya.

‘Ya Allah Zahra, kenapa kau begitu ceroboh’

“Sudah Ning, tak apa-apa, biar kami bersihkan dan lanjutkan. Ning Zahra ganti baju saja,” ucap santriwati yang tidak lain kepala bagian dapur tersebut. 

“Ada apa ini kok ribut-ribut?”

Zahra  dan yang lain sontak berhenti beraktivitas dan  menoleh, mendengar pertanyaan ummi Aminah yang baru saja masuk ke ruangan tersebut.

“Bu Nyai,” sapa para santri tersebut.

“Nggih, Ummi. Apa ada yang bisa Zahra bantu?” tanya Zahra sambil menghampiri ibu mertuanya tersebut.

Tapi bukannya menjawab, Ummi Aminah malah memperhatikan wajah Zahra dan berkata lirih, “kamu pucet banget Nduk, kamu sakit ya?”

“Tidak Ummi, Zahra kurang tidur saja mungkin.”

Ucapan Zahra tersebut membuat santriwati yang ada di dapur tersebut saling melirik dengan tersenyum.

Namun tidak dengan Ummi Aminah, ia malah memegang dahi Zahra, “tuh kan bener, kamu demam.”

“Tidak apa Ummi, ini hanya sumer saja,” ucap Zahra berusaha menenangkan wanita itu sambil tersenyum.

Sayangnya, itu tak berpengaruh, Ummi Aminah malah terlihat khawatir kemudian berkata, “ istrinya sakit seperti ini, dia malah ikut survey ke Malang.”

‘Jadi kamu ke malang, Gus. Pantas aku tak melihatmu dari tadi, apa kamu berusaha menghindariku?’

“Biar nanti Ummi marahi dia, kalau perlu Ummi wadulkan ke Aba biar dididik lagi. Sudah jadi suami kok gak perhatian sama istrinya,” seru Ummi dengan nada kesal.

“Tidak perlu Ummi, tadi Zahra yang meminta Gus untuk ikut. Kan yang paling tau medannya juga Gus Afkar,” ucapnya berbohong sambil tersenyum.

“Tetap saja ia harusnya menolak, wong kamu sedang sakit,” ucap Ummi Aminah dengan nada marah. 

‘Makasih Ummi, sudah jadi mertua Zahra. Zahra sungguh beruntung. Seandainya saja lelaki yang disukai Nayla bukan Gus Afkar’ gumam Zahra dalam hati.

Tapi kemudian dia yang heran kenapa bisa mengatakan kalimat terakhir tersebut, segera beristighfar.

“Maaf ya, Nduk!”

Zahra memegang tangan mertuanya itu kemudian menciumnya bolak-balik, “Zahra bersyukur punya mertua seperti Ummi dan Aba, jadi Ummi tak perlu minta maaf.”

“Ayo sudah kamu tiduran saja di kamarnya Ning Alfiyah, ayo Ummi antar.”

Wanita itu kemudian berjalan sambil membopongnya menuju ke rumahnya yang hanya berjeda pekarangan kosong sempit dari dapur umum tersebut. 

Zahra memandang wanita tua itu dalam-dalam, binar matanya terlihat penuh cinta, pelukannya sungguh menghangatkan, membuatnya ingin menangis di pelukan wanita itu. apalagi rasanya ia sungguh rapuh sekarang.

Tak terasa matanya mulai berkaca-kaca kembali, ia segera menghela nafas yang begitu panjang untuk menahan air matanya itu keluar.

“Ada apa?” tanya istri Kyai Amir itu heran dengan apa yang barusan ia lakukan.

Zahra menggelengkan kepalanya sambil tersenyum hangat, “Tidak apa ummi, Zahra hanya ingat Umminya Zahra saja.”

“Ya sudah nanti Ummi undang kesini, biar makan malam sama kita, gimana?” usul Ummi.

Ia tidak menyangka ucapan basa-basinya itu malah dianggap serius oleh ibu mertuanya. Ia segera berusaha menolaknya, “Tidak usah Ummi, nanti malah Zahra ngerepotin….”

“Hush! tidak ada kata ngerepotin dalam keluarga,” sela Ummi Aminah menasehatinya.

Tak terasa keduanya telah sampai di kamar Ning Alfiyah, adik iparnya satu-satunya Zahra yang kini sedang kuliah itu.

“Tidurlah di dalam, Ummi siapkan makan dan obat untukmu,” pinta Ummi Aminah.

“Zahra bisa…”

“Sudah manut!” ucap wanita itu dengan tegas.

Zahra akhirnya menurut dan istirahat di kamar itu.

*****

Dirawat ibu mertuanya dengan cinta, benar-benar manjur.

Zahra langsung merasa lebih enakan dan segera pulih. Bahkan sekarang ia sudah berdandan untuk menyambut keluarganya yang akan silaturahmi ke rumah mertuanya itu. 

“Kau sungguh cantik, Nduk. Gus Afkar pasti sangat bersyukur akhirnya bisa mempersuntingmu setelah sekian lama.”

Zahra terperangah mendengar ucapan ibu mertuanya itu.

‘Akhirnya?’

Ia ingin bertanya, kalau saja orang tuanya itu tidak tiba-tiba datang.

“Assalamualaikum, Ahlan wa sahlan, Aba,” ucap Kyai Amir pada besannya itu sambil memeluknya erat.

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Kyai.” jawab Abinya Zahra menyambut pelukan sahabat sekaligus gurunya tersebut. Umminya juga begitu, segera berpelukan dengan ibu mertuanya dengan hangat.

Zahra tersenyum bahagia melihat kedua keluarga itu begitu akrab dan tersenyum bahagia. Apalagi sekarang Abi dan Umminya ada disana dan sedang memeluknya.

“Ayo besan, masuk!” ajak ayah mertuanya itu kepada orang tuanya untuk masuk ke dalam.

Semua orang di sana akhirnya masuk, kecuali Zahra yang masih menantikan kedatangan suaminya.

‘Kok kamu belum pulang, Gus?’

Ingin sekali Zahra mengabarinya kalau mertua suaminya itu datang, tapi dia masih gengsi. 

Tapi sekarang dia sendiri juga yang cemas dan bingung.

“Sudah, Gus Afkar tidak usah ditunggu, nanti juga datang. Ayo masuk, kamu kan baru sembuh,” ajak mertuanya itu penuh perhatian.

Zahra hanya bisa patuh dan masuk.

Ia kemudian duduk bersama mereka, namun sesekali menoleh ke belakang, berharap suaminya itu datang.

Suara gelak tawa dan obrolan di ruang tamu itu terdengar mengambang di telinganya. Ia tidak bisa fokus mendengarkan. Pikirannya terus melayang, memikirkan suaminya yang belum datang tersebut.

Ia hanya sesekali ikut tersenyum ikut-ikutan, tanpa memahami apa yang harusnya ia tertawakan.

Akhirnya makanan telah siap, Kyai Amir tampak mengajak besannya itu masuk, “Ayo Aba, Ummi, kita makan sama-sama di dalam. Seharian Ibu Nyai Aminah di dapur saking senangnya mau didatangi besannya.”

“Ya Allah, jadi ngerepotin,” ucap Umminya Zahra terdengar sungkan.

“Kalau begitu lain kali, Ummi harus bantuin saya di sini,” jawab Ummi Aminah terdengar begitu mengakrabkan diri.

“Siap.”

Semua orang terdengar tertawa mendengar kedua ibunya Zahra itu bercakap-cakap.

Semua orang berjalan masuk, tapi Zahra masih menoleh ke belakang. 

Dengan kecewa, akhirnya ia mengikuti mereka masuk juga.

“Assalamualaikum!”

‘Gus Afkar’

Zahra langsung tersentak bahagia mendengar suara suaminya tersebut, ia langsung berbalik dan menatapnya dengan berbinar-binar, seakan lupa kalau kemarin mereka bertengkar.

Lelaki itu tersenyum dan menatapnya dalam-dalam.

“Apa kamu sudah baikan, Dek?”

‘Dek’

Rasanya panggilan tiba-tiba itu begitu menggetarkan jiwanya.

‘Terima kasih, Gus’

Zahra kemudian menyalami lelaki itu.

Begitu juga suaminya yang kemudian menyalami mertua dan orang tuanya tersebut.

‘Bahkan kau mendahulukan orang tuaku, Gus’ pikir Zahra tersentuh.

Tanpa disangka, lelaki itu kemudian menggandeng tangannya masuk ke ruang makan mengikuti yang lain. Zahra memandang tangan kekar itu.

“Duduklah!” ucap Gus Afkar setelah menarikkan kursi untuknya.

Semua orang di tempat itu tampak saling melirik sambil senyum-senyum memperhatikan gelagat keduanya..

Gus Afkar kemudian duduk di sebelahnya.

Makanan di meja itu terhidang cukup banyak. 

Hoeek

Zahra yang kemarin kehujanan dan dari pagi hanya makan sedikit tiba-tiba merasa mual. 

Semua orang di ruangan itu terlihat panik, termasuk suaminya yang kemudian membopongnya ke kamar mandi.

Zahra benar-benar masuk angin, sedikit makanan yang ia makan tadi pagi keluar semua.

Lelaki itu tampak begitu cemas dan sangat perhatian, ia memijat tengkuk leher Zahra dan kemudian mengusap bibirnya dengan air setelah ia selesai muntah.

“Apa kau baik-baik saja, apa mau ku antar pulang saja?” saran suaminya itu.

“Tidak, ndak enak sama Ummi sama Abi. Sudah enakan juga, semuanya sudah keluar?” Jawab Zahra yang sebenarnya masih merasa lemas.

Lelaki itu terlihat menatapnya begitu khawatir dan membuat Zahra terenyuh.

Keduanya kemudian keluar saat tanpa disangka seisi ruang makan itu sedang berdiskusi serius, entah apa yang mereka bicarakan saat ia pergi bersama suaminya tadi.

“Zahra, apa kamu hamil?”

“Tidak mungkin,” jawab Zahra dan Gus Afkar spontan bersamaan membuat bukan hanya Ummi Aminah yang bertanya, tapi semua orang di rumah itu kaget, tak menyangka dengan apa yang mereka katakan.

Zahra dan Gus Afkar langsung berpandangan, bingung harus menjawab apa.

Episodes
1 1. Abi Naik Pitam Menjodohkanku
2 Dinginnya Sikapmu, Gus
3 Kembalinya Sang Pujaan Hati
4 Peringatan Keras Gusku
5 Diabaikan
6 Salah Paham
7 Kok Bisa, Gus
8 Terluka?
9 Salah Bicara
10 Tidak seperti dugaan, Ummi
11 So Sweet, Gus
12 Penagih Janji
13 Perasaan Aneh
14 Aku Cinta Pertamanya?
15 Allah, Sakit!
16 Andai Sahabatku tak Mencintaimu
17 Haruskah kuingkari janjiku?
18 Tersentuh...
19 Dek!
20 Cemburu
21 Mantra Pemikat Seorang Gus
22 Caring Vs Loving
23 Takdir Surgaku
24 Aku Mencintaimu
25 Terperanjat
26 Aku bukan Pengkhianat
27 Dinginnya kembali sikapmu, Gus
28 Dididik situasi
29 Bagaimana bisa?
30 Ketika hati mulai bertanya
31 Aku tidak cemburu
32 Mengapa aku terus memikirkannya
33 Melunak
34 Bagaimana dia bisa tau?
35 Jangan Menungguku!
36 Diprank ipar
37 Bimbang
38 Ketika hati mulai serakah
39 Cincin?
40 Beri aku waktu!
41 Nasehat Ummi
42 Maaf, Kak!
43 Kembalilah pada keluargamu!
44 Kala hati sudah kalah
45 Cukup!
46 Apa aku masih punya kesempatan?
47 Aku tidak baik-baik saja
48 Menunggu pertolongan Ilahi
49 Apa kau bisa menebak isi hatiku?
50 Ayo bersama lagi!
51 Belum cukup
52 Gugup
53 Harga seorang suami
54 Allah!
55 Aku hanya tidak siap
56 Kuat!
57 Kau adalah doaku
58 Wanita Istimewa
59 Perhatian Tersembunyi
60 Istri Seutuhnya
61 Jangan tanya pendapatku!
62 Serba bingung
63 Izin seorang kakak
64 Merajuk
65 Terenyuh
66 Panggilan tak terduga
67 Gombal terus!
68 Kami menyayangimu, Nay!
69 Terlanjur buruk
70 Tambah merasa bersalah
71 Dihantui rasa bersalah
72 Berita tak terduga
73 Apa ada yang kau sembunyikan?
74 Pulang
75 Kita pikirkan bersama
76 Sungguh! Aku tak tau
77 Beban Seorang Bu Nyai
78 Tak Senang
79 Tak seperti dugaan, Ummi!
80 Kabar bahagia...
81 Reaksi Sang Suami
82 Apa lagi ini?
83 Sungguh, aku tak punya hubungan dengannya!
84 Jangan tinggalkan aku!
85 Jangan Menyentuh Istriku
86 Wanita Asing
87 Terkuak
88 Anugerah itu hadir
89 Kepoin Yang Baru
Episodes

Updated 89 Episodes

1
1. Abi Naik Pitam Menjodohkanku
2
Dinginnya Sikapmu, Gus
3
Kembalinya Sang Pujaan Hati
4
Peringatan Keras Gusku
5
Diabaikan
6
Salah Paham
7
Kok Bisa, Gus
8
Terluka?
9
Salah Bicara
10
Tidak seperti dugaan, Ummi
11
So Sweet, Gus
12
Penagih Janji
13
Perasaan Aneh
14
Aku Cinta Pertamanya?
15
Allah, Sakit!
16
Andai Sahabatku tak Mencintaimu
17
Haruskah kuingkari janjiku?
18
Tersentuh...
19
Dek!
20
Cemburu
21
Mantra Pemikat Seorang Gus
22
Caring Vs Loving
23
Takdir Surgaku
24
Aku Mencintaimu
25
Terperanjat
26
Aku bukan Pengkhianat
27
Dinginnya kembali sikapmu, Gus
28
Dididik situasi
29
Bagaimana bisa?
30
Ketika hati mulai bertanya
31
Aku tidak cemburu
32
Mengapa aku terus memikirkannya
33
Melunak
34
Bagaimana dia bisa tau?
35
Jangan Menungguku!
36
Diprank ipar
37
Bimbang
38
Ketika hati mulai serakah
39
Cincin?
40
Beri aku waktu!
41
Nasehat Ummi
42
Maaf, Kak!
43
Kembalilah pada keluargamu!
44
Kala hati sudah kalah
45
Cukup!
46
Apa aku masih punya kesempatan?
47
Aku tidak baik-baik saja
48
Menunggu pertolongan Ilahi
49
Apa kau bisa menebak isi hatiku?
50
Ayo bersama lagi!
51
Belum cukup
52
Gugup
53
Harga seorang suami
54
Allah!
55
Aku hanya tidak siap
56
Kuat!
57
Kau adalah doaku
58
Wanita Istimewa
59
Perhatian Tersembunyi
60
Istri Seutuhnya
61
Jangan tanya pendapatku!
62
Serba bingung
63
Izin seorang kakak
64
Merajuk
65
Terenyuh
66
Panggilan tak terduga
67
Gombal terus!
68
Kami menyayangimu, Nay!
69
Terlanjur buruk
70
Tambah merasa bersalah
71
Dihantui rasa bersalah
72
Berita tak terduga
73
Apa ada yang kau sembunyikan?
74
Pulang
75
Kita pikirkan bersama
76
Sungguh! Aku tak tau
77
Beban Seorang Bu Nyai
78
Tak Senang
79
Tak seperti dugaan, Ummi!
80
Kabar bahagia...
81
Reaksi Sang Suami
82
Apa lagi ini?
83
Sungguh, aku tak punya hubungan dengannya!
84
Jangan tinggalkan aku!
85
Jangan Menyentuh Istriku
86
Wanita Asing
87
Terkuak
88
Anugerah itu hadir
89
Kepoin Yang Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!