Zahra begitu terkesiap kaget mendapati suami dan sahabatnya keluar dari mobil yang sama. Nafasnya seakan terhenti karena syok.
‘Harusnya aku bahagia, tapi kenapa hatiku sakit’
Diusapnya air mata yang tak sengaja turun itu dengan heran dan bingung.
Sementara itu, ia menatap sang suami yang baru saja turun itu. Lelaki itu tampak terpaku mendapati dirinya di serambi rumah Nayla tersebut.
‘Kenapa Gus? Kau sampai membentakku supaya Nayla tidak datang ke rumah kita. Tapi sekarang kau malah…’
“Ya Allah, Zahra. Sudah lama ta menungguku?” panggil sahabatnya itu segera menghampirinya.
Zahra langsung menoleh ke arahnya dengan tersenyum ketir, tak mampu menyembunyikan perasaan aneh dalam hatinya.
“Jangan salah paham, kami hanya pulang sama-sama saja.”
‘Hanya?’ pikir Zahra mendengar ucapan Nayla barusan yang setengah berteriak.
Zahra tak tau harus menjawab apa, wajahnya masih tertegun menatap wajah Gus Afkar yang masih diam memandangnya dalam-dalam diantara rintik hujan yang mulai mereda.
“Makasih ya, sudah memberiku kesempatan,” bisik wanita itu lirih.
‘Kesempatan apa? Aku bahkan tak tau kalau kau bersama suamiku’ gumam Zahra dalam hati, sontak menoleh ke arah Zahra dengan bingung.
Tapi rasanya mulutnya terkunci dan lemah, tak mampu berbicara. Jiwanya benar-benar terpukul tanpa alasan yang ia mengerti.
Ia kembali menatap suaminya.
“Ayo masuk dulu, aku buatkan wedang,” ajak Nayla.
Zahra menoleh kembali ke arah Nayla, ia tak mampu lagi tersenyum. Matanya terus berkaca-kaca.
“Tidak, terima kasih. Aku hanya ingin menyerahkan surat undangan haul ini, dari ummi.”
“Ayolah, bagaimana Gus…. “ Nayla terlihat sedikit kaget ketika menoleh ke arah lelaki yang masih terpaku di bawah hujan itu.
“Lho..lho ayo masuk Gus, ndak usah sungkan,” ucap Nayla yang turun kembali dengan mengambil payung yang bersandar di sebelah pintu, dari sebelum Zahra datang. Dia membuka dan mulai memayungi Gus Afkar.
Namun lelaki itu terlihat diam, tak menghiraukan Nayla. Dia justru menghampiri Zahra tepat ketika wanita itu mulai memayunginya.
Dia tampak menggenggam tangan Zahra yang masih termangu sedih sembari menggosok-gosok tangan mungil itu, seraya menatapnya penuh sesal.
“Ayo mbak, pulang. sudah malam!” ajak Gus Afkar pada santriwati yang diajak Zahra tadi, seraya menarik tangan Zahra yang masih tak melepas pandangan pada suaminya itu.
Ketiganya bergegas menghampiri mobil, tentu saja dengan tangan Zahra yang masih ditarik lelaki itu.
Gus Afkar segera membuka pintu depan mobil untuknya dan mendorongnya masuk dengan lembut, kemudian memasangkan sabuk pengaman padanya.
Sekejap Zahra menatap wajah suaminya yang terlihat gupuh itu.
Lelaki itu tampak menutup mobil untuknya, kemudian menghampiri Nayla sembari berkata, “nanti sepedanya akan ada yang mengambil.”
Nayla yang masih berpayung di bawah hujan terlihat kecewa dan gelagatnya seperti hendak mencegahnya, tapi suaminya itu mengabaikannya dan langsung masuk kedalam mobil.
Lelaki itu kemudian memundurkan mobilnya dan membelokkannya ke jalan.
Setelah jalanan lurus itu, tangan lelaki itu terasa menggenggam tangannya dan menggosok-gosoknya kembali dengan sesekali menoleh. raut mukanya terlihat cemas.
‘Tega kau membentakku, Gus, kemudian pulang bersamanya’
Zahra segera menarik tangannya dan berbalik menghadap kaca jendela mobil.
Terlihat bayangan Gus Afkar yang hendak mengelus rambutnya. Segera ia menarik kepalanya untuk bersandar di jendela itu
‘Jangan menyentuhkan tangan yang sudah membonceng pulang Nayla padaku, Gus’.
Ia pun memejamkan matanya dan berusaha tertidur, berharap setelah itu ia akan melupakan kejadian tersebut.
Tak ayal, ia tertidur dalam mobil tersebut.
Hari yang sungguh penat bagi Zahra, tak banyak pekerjaan rumah yang dilakukannya, selain menunggu suaminya itu. Namun itu terasa sangat berat…..
*****
Zahra menghembus nafasnya dalam mata terpejam. Dahinya berkernyit, kepalanya terasa agak pening.
Ia membuka matanya perlahan, terlihat langit-langit kamarnya.
‘Apa aku sudah di kamar?”
Zahra mulai menyiratkan pandangannya ke segala arah, sampai kemudian ia mendapati ruangan yang agak remang karena hanya lampu tidur yang menyala itu kosong, tak ada siapapun di sana.
‘Apa Gus… Astaghfirullah!’
Teriak Dzurriya dalam hati, ia begitu terperanjat tiba-tiba melihat suaminya itu bangkit dan berdiri menghadapnya entah dari mana.
Ia memegang dadanya dengan napasnya yang tersengal-sengal karena kaget.
Namun lelaki berbaju taqwa dan berkopyah yang sedang melipat sajadah itu malah tersenyum, seperti menikmati kekagetan istrinya.
“Kau sudah bangun, Alhamdulillah…..”
Zahra langsung menarik kepalanya yang tengah diusap oleh lelaki itu dengan lembut.
Terlihat mimik Gus Afkar sedikit kecewa, tapi kemudian dia segera tersenyum kembali seraya menatap istrinya tu dalam-dalam.
“Alhamdulillah, panasmu sudah mulai turun,” lanjutnyalembut.
Tapi hati Zahra yang masih mengingat dengan jelas peristiwa kemarin malam, masih tak ridho. Ia segera memalingkan muka dan memejamkan matanya lagi.
“Apa kau masih marah?” tanya lelaki itu terdengar berhati-hati.
Zahra tak ingin menyahutnya.
Tanpa disadari apa alasan di balik kejengkelannya itu, hatinya masih dongkol.
Lelaki itu kini terasa duduk di sampingnya.
“Apa kamu cemburu?” tanya lelaki itu pelan.
‘Apa aku cemburu, benarkah aku cemburu?’ pikir Dzurriya sambil tetap terpejam dalam posisinya semula.
“Apa hakku untuk cemburu, Gus? Bukankah kau sendiri yang memintaku untuk tak terlalu memikirkan pernikahan kita,” ucap Zahra sinis sembari masih terpejam.
Lelaki itu terdengar menghela nafas panjang.
“Aku juga baru tau saat ngisi seminar di ITS, kalau Nayla jadi peserta di sana.”
Lelaki itu terdengar hening sebentar, mungkin menunggu respon darinya. Namun karena Zahra tak kunjung bereaksi, akhirnya dia melanjutkan penjelasannya, “Sebenarnya dari awal, Gus pulang sendiri. Namun di tengah jalan, Gus melihat Nayla berdiri di tepi jalan. Sepertinya ada apa-apa dengan sepeda motornya. Gus sudah berusaha mengabaikannya, tapi….”
“Tapi Gus tak tega kan sama dia. Sedang sama Zahra—” Zahra berhenti sebentar, rasanya begitu sakit saat mau mengatakannya.
Ia bangkit dan berdiri di depan suaminya.
“Sedang sama Zahra, Gus tega membentak Zahra karena Nayla.” Teriak Zahra tak lagi kuasa menahan emosinya.
Tapi lelaki itu malah tersenyum menunduk kemudian berkata dengan santainya, “Sepertinya kau memang sedang sangat cemburu.”
Zahra langsung menghempas tangan lelaki yang baru saja memegang tangannya tersebut dan membalikkan badan dengan marah.
‘Bisa- bisanya kau menertawakanku di saat begini, Gus?’
Zahra beranjak keluar, namun lelaki itu berusaha menghentikan langkahnya dengan berkata, “Apa kamu ingin Gus meninggalkan wanita yang ban sepedanya sedang bocor di tempat yang sepi, sedangkan kelihatan mau hujan juga?”
Zahra memalingkan muka dan menelan ludahnya. ia begitu terluka ketika lelaki itu sempat-sempatnya tertawa saat ia yang masih sebagai istrinya terluka.
“Aku tak peduli. Toh, tak ada pengaruhnya bagiku maupun bagimu, Gus. Seharusnya kau tak perlu repot-repot menjelaskannya.” ucap Zahra kemudian membalikkan badannya kembali menghadap suaminya itu.
“Ini hanya ikatan perjodohan antara keluarga Gus dan keluarga saya, tak ada hubungannya dengan kita, seperti yang Gus katakan sesudah akad pernikahan kita,” ujar Zahra sambil menatap nanar ke arah suaminya.
“Apa kau selalu seegois ini, Azzahra Khoirunnisa?” ucap lelaki itu penuh penekanan kemudian membalikkan badan dan keluar dari rumah itu.
Zahra sendiri kembali berbalik dan menangis dalam kesenyapan.
‘kenapa kau begitu terluka, Zahra?’
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments