So Sweet, Gus

“Kalau begini kita bakalan cepet dapet cucu, Aba Yai.”

“Ummi ini bicara apa?”

Terdengar sayup-sayup Ummi Aminah sedang berkata lirih pada suaminya di ruang makan yang sedang dilewati Zahra. 

Ia langsung mundur ke belakang dinding dan tanpa sengaja tersenyum malu.

‘Kalau sampai di dengar orang lain, bakalan malu banget aku’ pikir Zahra. Apalagi banyak orang di sana karena memang sedang ada persiapan haul pendiri pondok.

Zahra memutuskan masuk dan menyela supaya pembicaraan ibu dan ayah mertuanya itu tidak berlanjut.

Namun langkahnya terhenti, suaminya tampak masuk dari ruang tamu. Akhirnya, ia mundur kembali.

“Ummi sama Abi lagi bicara apa? serius sekali,” tanya suaminya. 

“Nggak tau ini, Ummimu,” jawab Kyai Amir sambil tetap membaca buku yang sedari tadi dibukanya.

“Ah, Abi nggak seru. Mending Ummi ngomong sama Gus.”

‘Ya Allah, apa yang mau diomongin Ummi sama Gus?’

Terlihat wanita itu kini beranjak duduk di sebelah putra sulungnya itu. Dia kemudian memegang tangannya dan berkata dengan wajah yang terlihat sangat teduh dan lirih, “Terima kasih ya Gus, Ummi tau kamu ingin membahagiakan Ummi supaya bisa segera menimang cucu, tapi lain kali jangan lupa mengunci dan menutup pintu.”

Zahra langsung terperangah kaget, ‘Ummi, please stop Ummi!’

Tampak Kyai Amir juga ikut terperanjat, dia sontak menutup bukunya.

“Ummi, Ssstt!” sela Gus Afkar yang juga terlihat malu.

Kyai Amir sekarang tampak menoleh dan mendengarkan dengan seksama.

“Tidak apa, Ummi kan pelan, tidak ada yang akan dengar,” jawab Umminya kekeuh.

“Pokoknya Ummi dukung, tapi jangan lupa tutup pintu dan jangan pas Shubuh gitu, waktunya sholat!”

“Apa benar itu, Gus?” tanya Kyai Amir sedikit marah.

“Ah, tidak seperti itu, Aba Yai. Ummi yang salah, sudahlah tak usah diperjelas. Pokoknya nggak di sengaja dan nggak seperti dugaan Abi. Ummi nggak lihat yang aneh-aneh,” ucap Ummi Aminah menenangkan.

“Ummi cuma lihat mereka pelukan langsung ummi tutup pintu karena malu.”

Sayup-sayup terdengar Wanita itu berbisik kepada suaminya.

‘Ummi!’ gumam Zahra dalam hati sambil merengut malu. 

“Malu ya Ning?”

“Iya,” ucap Zahra termangu.

‘Siapa yang barusan tanya?’

Zahra sontak kaget, matanya membulat sempurna. Ia menelan ludahnya dan segera menoleh ke belakang.

‘Alfiyah’

Gadis itu tampak tertawa terkekeh bersama Ning Nusaibah dan Ning Shofi. 

‘Jadi dari tadi, mereka ikut mendengarkan dan bisa-bisanya aku tak menyadarinya'

“Tenang, paling hanya terdengar Abi sama Ummi,” ucap Ning Shofi sambil tersenyum.

“Sama Mas Zawawi sama Bang Zahidan,” timpal Ning Nusaibah. 

Tak ayal ketiganya tertawa bersama kembali, padahal Zahra tambah merengut malu.

Ia segera menutup mulut Ning Nusaibah yang tertawa begitu keras menikmati kepanikan adik iparnya ini.

“Sudah, jangan digodain terus!” 

Zahra membelalak lebih kaget mendengar suara Gus Afkar di belakangnya. Ia segera membalikkan badan.

“Apa sekarang aku sudah boleh ngobrol sama istri tercintaku ini.”

‘Apa? Istri tercinta, apalagi ini?’

Sepertinya semua orang sepakat menggodanya.

Alhasil, ketiga wanita di belakangnya itu tersenyum-senyum sendiri. 

“Sudah halal, tentu boleh,”

Zahra mengira mereka akan langsung pergi, ternyata Ning Nusaibah malah mendorong tubuh Zahra sampai menabrak Gus Afkar sebelum pergi.

Seketika tawa ketiga wanita itu mengambang di telinganya, wajahnya termangu di depan suaminya yang hanya berjarak beberapa inci itu. Nafasnya tertahan, matanya berkedip kemudian membelalak begitu lebar.  

Ia menelan ludahnya. Ia seperti terhipnotis oleh lelaki tampan itu,

“Apa kau akan terus menatapku,” ucap suaminya itu menyadarkannya.

Ia langsung memalingkan muka dan mendorong tubuh suaminya, namun lelaki itu segera menarik tubuh Zahra dan malah mendekapnya begitu erat.

“Sebentar saja, aromamu sungguh menenangkan.”

Zahra terdiam mendengar bisikan itu, seolah ia menangkap adanya beban yang sedang dipikul suaminya tersebut.

Lelaki itu kemudian perlahan melepas pelukannya. Dia memegang kedua lengan atas Zahra dan menatapnya hangat.

“Terima kasih sudah hadir dalam hidupku, ya Habibati.”

Zahra terkesiap mendengar panggilan yang sudah lama tak ia dengar itu. Tanpa sadar, hatinya tersentuh.

Bahkan ia tetap  menatap punggung suaminya yang sudah berjalan pergi itu.

‘Gus’

*****

Suasana rumah begitu sibuk menyiapkan haul, di ruang tamu kediaman Kyai Amir juga sedang ada tamu beberapa Kyai Sepuh beserta dengan istri, dan berapa juga membawa keluarga dekatnya.

Zahra keluar membawa nampan berisi kue diikuti beberapa santriwati yang juga membawa nampan berisi kue yang berbeda.

Zahra berjalan menunduk dan menghidangkan kue tersebut di atas meja.

Ia mengangguk dan mempersilahkan para tamu agung Kyai Amir itu untuk mencicipinya.

Tanpa sengaja Ia menatap suaminya yang duduk di antara mereka. 

Lelaki itu tengah menatapnya begitu dalam sambil tersenyum hangat.

Tanpa terasa dadanya kembali berdegup kencang.

“Ini toh istrinya Gus Afkar, pantes sampai ditunggu-tunggu.”

Ucap salah satu Bu Nyai yang jadi tamu di rumah itu.

‘Ditunggu-ditunggu? Apa maksudnya.”

“Sudah jangan digodain,” ucap salah satu Kyai sepuh yang ada di tempat itu.

“Kalau begitu, saya izin kondur para Romo Kyai dan Ummi Nyai. Monggo silakan dicicipi,” ucap Zahra sambil mempersilahkan dengan kelima jarinya yang terbuka.

Ia kemudian keluar dari ruangan tersebut menuju dapur, untuk mengecek semua makanan yang harus disiapkan untuk haul.

“Ning Zahra, piringnya masih kurang, pripun?” tanya salah seorang santriwati yang menghampirinya.

“Ambil saja di rumah Gus Afkar, ini kuncinya,” jawab Zahra sambil mengeluarkan kunci dari sakunya.

“Piringnya ada di laci bawah lemari di dapur ya, ambil juga sendok yang ada di sana, takutnya nanti kurang,” lanjutnya menjelaskan kemudian lanjut berkeliling di dapur umum tersebut.

“Ning Zahra, njenengan dipanggil Ibu Nyai Aminah diminta ikut ke tempat haul.

Zahra segera menuju ruang depan.

Di sana terlihat para Romo Kyai beserta kerabatnya tengah berdiri bangkit dan berjalan keluar rumah Kyai Amir. Sepertinya mereka hendak menuju tempat haul di sekitar masjid.

Tiba-tiba dari arah belakang tangannya digandeng seseorang.

Zahra menoleh.

‘Gus Afkar’

Zahra menghela nafas panjang untuk mengontrol hatinya yang sedang tidak terkontrol itu.

Ia memandang suaminya dengan tersenyum.

Lelaki itu menatap ke depan, tapi tangannya menggenggam erat tangan Zahra.

“Apa kau tahu sesuatu?” bisik lelaki itu terdengar lembut.

Zahra menggelengkan kepalanya, “maksud Gus?”

“Kau terlihat sangat cantik sekarang.”

Zahra tersenyum menunduk mendengar ucapan suaminya tersebut.

“Tapi tidak,” lanjut lelaki itu membuat Zahra kaget.

“Hah?” gumam Zahra sambil menoleh kepadanya dengan kesal.

“Maksudku kau memang selalu terlihat cantik setiap saat,” ucap suaminya itu membuatnya semakin salting.

Ia tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya.

“Oh,” ucap suaminya sambil menoleh dengan tatapan heran ke arah Zahra.

‘Apa ada yang salah?’ pikir Zahra menatap balik suaminya dengan penuh penasaran.

“Pantas semua mengeluh wedang tadi tawar.”

“Benarkah?” Zahra langsung merasa bersalah mendengar ucapan suaminya tersebut.

Perasaan dia sudah memerintahkan kepada santriwati untuk mencicipi segala makanan yang akan dihidangkan.

“Ternyata semua gulanya menempel di senyummu,” goda suaminya.

Zahra langsung memalingkan muka sambil tersenyum kemudian memukul dada suaminya itu.

“Jadi sekarang kau sudah berani memukul suamimu?” goda suaminya lagi sambil menatapnya dalam.

“Entahlah,” jawab Zahra sambil memalingkan muka ke arah lain.

'Seandainya waktu terhenti atau seandainya kau bukan Gus Afkar yang dicintai Nayla'

Episodes
1 1. Abi Naik Pitam Menjodohkanku
2 Dinginnya Sikapmu, Gus
3 Kembalinya Sang Pujaan Hati
4 Peringatan Keras Gusku
5 Diabaikan
6 Salah Paham
7 Kok Bisa, Gus
8 Terluka?
9 Salah Bicara
10 Tidak seperti dugaan, Ummi
11 So Sweet, Gus
12 Penagih Janji
13 Perasaan Aneh
14 Aku Cinta Pertamanya?
15 Allah, Sakit!
16 Andai Sahabatku tak Mencintaimu
17 Haruskah kuingkari janjiku?
18 Tersentuh...
19 Dek!
20 Cemburu
21 Mantra Pemikat Seorang Gus
22 Caring Vs Loving
23 Takdir Surgaku
24 Aku Mencintaimu
25 Terperanjat
26 Aku bukan Pengkhianat
27 Dinginnya kembali sikapmu, Gus
28 Dididik situasi
29 Bagaimana bisa?
30 Ketika hati mulai bertanya
31 Aku tidak cemburu
32 Mengapa aku terus memikirkannya
33 Melunak
34 Bagaimana dia bisa tau?
35 Jangan Menungguku!
36 Diprank ipar
37 Bimbang
38 Ketika hati mulai serakah
39 Cincin?
40 Beri aku waktu!
41 Nasehat Ummi
42 Maaf, Kak!
43 Kembalilah pada keluargamu!
44 Kala hati sudah kalah
45 Cukup!
46 Apa aku masih punya kesempatan?
47 Aku tidak baik-baik saja
48 Menunggu pertolongan Ilahi
49 Apa kau bisa menebak isi hatiku?
50 Ayo bersama lagi!
51 Belum cukup
52 Gugup
53 Harga seorang suami
54 Allah!
55 Aku hanya tidak siap
56 Kuat!
57 Kau adalah doaku
58 Wanita Istimewa
59 Perhatian Tersembunyi
60 Istri Seutuhnya
61 Jangan tanya pendapatku!
62 Serba bingung
63 Izin seorang kakak
64 Merajuk
65 Terenyuh
66 Panggilan tak terduga
67 Gombal terus!
68 Kami menyayangimu, Nay!
69 Terlanjur buruk
70 Tambah merasa bersalah
71 Dihantui rasa bersalah
72 Berita tak terduga
73 Apa ada yang kau sembunyikan?
74 Pulang
75 Kita pikirkan bersama
76 Sungguh! Aku tak tau
77 Beban Seorang Bu Nyai
78 Tak Senang
79 Tak seperti dugaan, Ummi!
80 Kabar bahagia...
81 Reaksi Sang Suami
82 Apa lagi ini?
83 Sungguh, aku tak punya hubungan dengannya!
84 Jangan tinggalkan aku!
85 Jangan Menyentuh Istriku
86 Wanita Asing
87 Terkuak
88 Anugerah itu hadir
89 Kepoin Yang Baru
Episodes

Updated 89 Episodes

1
1. Abi Naik Pitam Menjodohkanku
2
Dinginnya Sikapmu, Gus
3
Kembalinya Sang Pujaan Hati
4
Peringatan Keras Gusku
5
Diabaikan
6
Salah Paham
7
Kok Bisa, Gus
8
Terluka?
9
Salah Bicara
10
Tidak seperti dugaan, Ummi
11
So Sweet, Gus
12
Penagih Janji
13
Perasaan Aneh
14
Aku Cinta Pertamanya?
15
Allah, Sakit!
16
Andai Sahabatku tak Mencintaimu
17
Haruskah kuingkari janjiku?
18
Tersentuh...
19
Dek!
20
Cemburu
21
Mantra Pemikat Seorang Gus
22
Caring Vs Loving
23
Takdir Surgaku
24
Aku Mencintaimu
25
Terperanjat
26
Aku bukan Pengkhianat
27
Dinginnya kembali sikapmu, Gus
28
Dididik situasi
29
Bagaimana bisa?
30
Ketika hati mulai bertanya
31
Aku tidak cemburu
32
Mengapa aku terus memikirkannya
33
Melunak
34
Bagaimana dia bisa tau?
35
Jangan Menungguku!
36
Diprank ipar
37
Bimbang
38
Ketika hati mulai serakah
39
Cincin?
40
Beri aku waktu!
41
Nasehat Ummi
42
Maaf, Kak!
43
Kembalilah pada keluargamu!
44
Kala hati sudah kalah
45
Cukup!
46
Apa aku masih punya kesempatan?
47
Aku tidak baik-baik saja
48
Menunggu pertolongan Ilahi
49
Apa kau bisa menebak isi hatiku?
50
Ayo bersama lagi!
51
Belum cukup
52
Gugup
53
Harga seorang suami
54
Allah!
55
Aku hanya tidak siap
56
Kuat!
57
Kau adalah doaku
58
Wanita Istimewa
59
Perhatian Tersembunyi
60
Istri Seutuhnya
61
Jangan tanya pendapatku!
62
Serba bingung
63
Izin seorang kakak
64
Merajuk
65
Terenyuh
66
Panggilan tak terduga
67
Gombal terus!
68
Kami menyayangimu, Nay!
69
Terlanjur buruk
70
Tambah merasa bersalah
71
Dihantui rasa bersalah
72
Berita tak terduga
73
Apa ada yang kau sembunyikan?
74
Pulang
75
Kita pikirkan bersama
76
Sungguh! Aku tak tau
77
Beban Seorang Bu Nyai
78
Tak Senang
79
Tak seperti dugaan, Ummi!
80
Kabar bahagia...
81
Reaksi Sang Suami
82
Apa lagi ini?
83
Sungguh, aku tak punya hubungan dengannya!
84
Jangan tinggalkan aku!
85
Jangan Menyentuh Istriku
86
Wanita Asing
87
Terkuak
88
Anugerah itu hadir
89
Kepoin Yang Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!