Dek!

“Eh, ada Ning Zahra,” ucap Ning Alfiyah menyambut Zahra yang baru saja masuk dari pintu belakang.

Zahra hanya tersenyum menghampirinya.

“Dari tadi, aku tidak kelihatan Ummi, biasanya jam segini beliau kan suka keliling-keliling,” tanya Zahra heran.

“Oh Ummi, lagi istirahat di kamar. Katanya kurang enak badan,” jawab Ning Alfiyah.

“Saya berangkat kuliah dulu Ya Ning, Assalamualaikum!” lanjutnya sambil meraih beberapa jajanan pasar yang ada di meja. 

“ Waalaikumsalam, hati-hati!” ucap Zahra sambil memandang adik iparnya itu berbalik ke depan sekalian .ia melangkah  pergi ke kamar ibu mertuanya..

“Apa kalian baik-baik saja?”

Terdengar suara Ummi agak khawatir.

‘ummi sama siapa?’ tanya Zahra dalam hati penasaran.

“Kami baik-baik saja, Ummi.”

‘Gus Afkar’

Zahra mulai bertanya-tanya jangan-jangan Ummi menyadari ketidakharmonisan rumah tangganya. 

“Memang terkadang ada pertengkaran kecil, tapi seperti kata Ummi itu bumbu pernikahan.”

Zahra tertegun mendengar ucapan suaminya tersebut.

“Ning Zahra itu wanita modern, berpendidikan. Jangan terlalu menuntutnya macam-macam. Seng suka ngalah Gus, pokoknya itu tak berhubungan dengan akidah dan aturan Allah, kamu jadi orang yang fleksibel.”

Zahra menghela napas panjang, tak ada suara terdengar dari lelaki itu.

Ia merasakan betapa sabarnya suaminya. Ia yang berulah, suaminya yang dituduh. Tapi tak terdengar pembelaan keluar dari mulut sang suami.

“Dulu Ummi gimana sama abi, mungkin Afkar bisa mengambil pelajaran,”

“Abimu itu lelaki luar biasa. Dia menyukai Ummi sejak aliyah, tapi tidak pernah bilang. Gak kayak anak sekarang, dikit-dikit bilang sayang, padahal belum halal. Kamu jadi pengurus dan calon pengasuh pondok, yang observatif dan tegas, jangan sampai karakter santri kita rusak karena godaan sesaat.”

“Ya Ummi, in sya Allah.”

Sekali lagi tak ada kata pembelaan terdengar keluar dari mulut Gus Afkar.

“Kok tidak masuk, Ning?”

‘Aba Kyai’

Zahra langsung memasang wajah tersenyum dan menoleh kepadanya, “ Nggih Aba.”

“Ayo masuk, Ummi pasti senang disambang menantu tersayangnya,” ajak Kyai Amir sambil memintanya masuk duluan.

Zahra memandang suaminya yang terlihat memijat kaki ibunya itu, padahal ia sendiri saja sebagai perempuan, bahkan tidak pernah memijat umminya sendiri.

Lelaki itu tampak tersenyum menoleh padanya dan abinya, kemudian bangkit. Ia mengangkat kursi rias Ummi menuju samping ranjang ibunya itu untuk duduk sang Abi, dan mempersilahkan Kyai Amir duduk di sana. 

“Duduk disini, Nduk,” ucap Ummi Aminah memintanya duduk di sebelahnya.

Zahra menatap suaminya. 

Lelaki itu tampak mengerjapkan matanya.

Akhirnya, ia duduk di samping ummi Aminah.

“Ummi sakit apa, apa mau Zahra panggilkan dokter?” tanya Zahra pada mantan bu Nyainya itu.

“Ndak usah, tadi Ummi sudah minum madu sama habbat, ini juga sudah enakan. Kamu tidak usah khawatir, Ummi hanya kecapekan,” ujar Ummi Aminah sambil tersenyum sayu.

“Maaf ya, Ummi Abi, Afkar pamit dulu,” sela suaminya itu.

‘Mau kemana kamu, Gus?’ toleh Zahra tanpa berani bertanya.

“Sebentar, mumpung ada Zahra juga disini, duduklah sebentar, ada yang mau Abi diskusikan.”

“Nggih,” jawab suaminya menyanggupi sambil duduk dibawah kaki Umminya.

“Ini Abi kan diminta ngisi kajian di Semarang dua hari lagi, dan Abi sudah menyanggupi. Tapi melihat kondisi Ummi yang seperti ini, sepertinya tidak mungkin Abi ninggal,” ujar Kyai Amir.

“Maksud Abi?” tanya Gus Afkar penuh perhatian.

“Ini tadi Abi sudah menghubungi mereka. Lha dalah! lah kok mereka minta Gus untuk menggantikan Abi,” lanjut Aba Kyai itu.

“Baik, Abi.”

“Maksud Abimu, ajak Zahra. Kalian kan belum pernah….,  apa itu namanya? Eh…”

Zahra dan Gus Afkar saling berpandangan, berusaha memahami maksud Ummi.

“Honeymoon, Ummi,” sela Kyai Amir mengingatkan.

Zahra langsung menunduk tersenyum malu.

“Nah itu,” jawab Ummi sambil terkekeh.

‘Baik Ummi,” ucap Gus Afkar kemudian melirik ke arah Zahra dengan tersenyum, membuatnya salah tingkah dan langsung membuang muka. 

“Afkar pamit dulu ya,” ucap suaminya itu kemudian menyalami dan mencium kening Umminya.

“Jangan terus bersikap menggemaskan!” 

Deg

Zahra sontak menoleh terperangah ke arah suaminya, mendengar bisikan lelaki itu  saat hendak melewatinya.

“Kalau masih kangen, boleh ikut suamimu, Nduk,” celetuk ibu mertuanya menggoda, mungkin karena melihat Zahra terus meperhatikan lelaki itu.

“Bu Nyai… Eh! Ummi, Zahra masih mau mijitin Ummi kok.”

Mertuanya itu terlihat terkekeh kembali.

‘Zahra!’

******

Zahra menarik koper yang terisi pakaiannya dan Gus Afkar keluar dari kamarnya.

“Sini! biar gus yang bawa,” pinta lelaki itu sambil mengambil alih koper yang dibawa Zahra.

Keduanya beranjak menuju mobil yang sudah terparkir di depan kediaman Gus Afkar. 

Ada Ummi, dan Abi, juga Ning Alfiyah yang menunggu mereka di depan.

“Kan sudah Gus bilang, Ummi istirahat saja. Wong cuman ke Semarang saja, ndak perlu diantar. Ummi kan baru sehat,” ujar Gus Afkar meminta Umminya pulang.

“Ummi langsung sehat denger kalian mau, apa itu Bi….”

“Honeymoon, Ummi,” sela Ning Alfiyah sambil menyenggol bahu Zahra.

“Ya itu honeymoon, Ummi langsung sehat. Apalagi kalau sampai pulang bawa berita baik.”

Zahra langsung terdiam mendengar harapan ibu mertuanya tersebut.

“Ummi kita ini mau ngisi kajian,” ucap Gus Afkar sambil mengangkat koper itu untuk dimasukkan ke dalam bagasi mobil.

“Iya Ummi, jangan terlalu menekan mereka. Biarkan mereka menikmati masa-masa indah pernikahan mereka,” nasehat kyai Amir.

“Ya sudah Gus, Ning, hati-hati di jalan. Banyak-banyak dzikir dan sholawat!” lanjut Ummi.

“ Ya Ummi,” 

“Assalamualaikum Ummi, Abi. Zahra sama Gus pamit dulu,” ujar Zahra sambil menyalami mertuanya tersebut.

Gus Afkar membukakan pintu untuknya dan memintanya masuk.

Lelaki itu memegang atap mobil saat Zahra masuk untuk pertama kalinya. 

Zahra yang menyadarinya sontak mendongak ke atas.

‘makasih Gus’

Lelaki itu kemudian meraih bagian bawah gamis Zahra yang menjuntai keluar mobil dan memasukkannya. 

Zahra yang tersentuh, menatap suaminya yang tengah menutup mobil itu untuknya.

Lelaki itu tampak menyalami Ummi dan Abinya, kemudian membelai lembut kerudung adiknya. Entah apa yang sedang mereka obrolkan dalam waktu yang singkat itu. 

Zahra tertegun melihat keharmonisan keluarga suaminya itu dari balik spion tengah mobil.

Sekarang lelaki itu tampak menghampiri mobil dan masuk. 

“Bismillah…” gumam Gus Afkar kemudian menstarter mobil. Dia membuka jendela kaca mobil untuk berpamitan dengan keluarganya, lalu melaju keluar ke jalan raya melalui gerbang depan pesantren.

“Ya Allah, kok tiba-tiba haus ya. DEK, tolong ambilkan botol minum di sebelahmu itu.”

‘Dek’

Sontak Zahra menoleh dengan terperangah mendengar panggilan suaminya. Jantungnya berdebar, waktu seakan terhenti. 

Untuk beberapa lama ia hanya diam tertegun sambil menatap lelaki itu dalam-dalam.

'Allah, tadi aku tak salah dengar, kan?'

Terpopuler

Comments

Lilik Juhariah

Lilik Juhariah

punya suami sprt Gus afkar , jadi istrinya tersanjung banget

2024-08-24

1

lihat semua
Episodes
1 1. Abi Naik Pitam Menjodohkanku
2 Dinginnya Sikapmu, Gus
3 Kembalinya Sang Pujaan Hati
4 Peringatan Keras Gusku
5 Diabaikan
6 Salah Paham
7 Kok Bisa, Gus
8 Terluka?
9 Salah Bicara
10 Tidak seperti dugaan, Ummi
11 So Sweet, Gus
12 Penagih Janji
13 Perasaan Aneh
14 Aku Cinta Pertamanya?
15 Allah, Sakit!
16 Andai Sahabatku tak Mencintaimu
17 Haruskah kuingkari janjiku?
18 Tersentuh...
19 Dek!
20 Cemburu
21 Mantra Pemikat Seorang Gus
22 Caring Vs Loving
23 Takdir Surgaku
24 Aku Mencintaimu
25 Terperanjat
26 Aku bukan Pengkhianat
27 Dinginnya kembali sikapmu, Gus
28 Dididik situasi
29 Bagaimana bisa?
30 Ketika hati mulai bertanya
31 Aku tidak cemburu
32 Mengapa aku terus memikirkannya
33 Melunak
34 Bagaimana dia bisa tau?
35 Jangan Menungguku!
36 Diprank ipar
37 Bimbang
38 Ketika hati mulai serakah
39 Cincin?
40 Beri aku waktu!
41 Nasehat Ummi
42 Maaf, Kak!
43 Kembalilah pada keluargamu!
44 Kala hati sudah kalah
45 Cukup!
46 Apa aku masih punya kesempatan?
47 Aku tidak baik-baik saja
48 Menunggu pertolongan Ilahi
49 Apa kau bisa menebak isi hatiku?
50 Ayo bersama lagi!
51 Belum cukup
52 Gugup
53 Harga seorang suami
54 Allah!
55 Aku hanya tidak siap
56 Kuat!
57 Kau adalah doaku
58 Wanita Istimewa
59 Perhatian Tersembunyi
60 Istri Seutuhnya
61 Jangan tanya pendapatku!
62 Serba bingung
63 Izin seorang kakak
64 Merajuk
65 Terenyuh
66 Panggilan tak terduga
67 Gombal terus!
68 Kami menyayangimu, Nay!
69 Terlanjur buruk
70 Tambah merasa bersalah
71 Dihantui rasa bersalah
72 Berita tak terduga
73 Apa ada yang kau sembunyikan?
74 Pulang
75 Kita pikirkan bersama
76 Sungguh! Aku tak tau
77 Beban Seorang Bu Nyai
78 Tak Senang
79 Tak seperti dugaan, Ummi!
80 Kabar bahagia...
81 Reaksi Sang Suami
82 Apa lagi ini?
83 Sungguh, aku tak punya hubungan dengannya!
84 Jangan tinggalkan aku!
85 Jangan Menyentuh Istriku
86 Wanita Asing
87 Terkuak
88 Anugerah itu hadir
89 Kepoin Yang Baru
Episodes

Updated 89 Episodes

1
1. Abi Naik Pitam Menjodohkanku
2
Dinginnya Sikapmu, Gus
3
Kembalinya Sang Pujaan Hati
4
Peringatan Keras Gusku
5
Diabaikan
6
Salah Paham
7
Kok Bisa, Gus
8
Terluka?
9
Salah Bicara
10
Tidak seperti dugaan, Ummi
11
So Sweet, Gus
12
Penagih Janji
13
Perasaan Aneh
14
Aku Cinta Pertamanya?
15
Allah, Sakit!
16
Andai Sahabatku tak Mencintaimu
17
Haruskah kuingkari janjiku?
18
Tersentuh...
19
Dek!
20
Cemburu
21
Mantra Pemikat Seorang Gus
22
Caring Vs Loving
23
Takdir Surgaku
24
Aku Mencintaimu
25
Terperanjat
26
Aku bukan Pengkhianat
27
Dinginnya kembali sikapmu, Gus
28
Dididik situasi
29
Bagaimana bisa?
30
Ketika hati mulai bertanya
31
Aku tidak cemburu
32
Mengapa aku terus memikirkannya
33
Melunak
34
Bagaimana dia bisa tau?
35
Jangan Menungguku!
36
Diprank ipar
37
Bimbang
38
Ketika hati mulai serakah
39
Cincin?
40
Beri aku waktu!
41
Nasehat Ummi
42
Maaf, Kak!
43
Kembalilah pada keluargamu!
44
Kala hati sudah kalah
45
Cukup!
46
Apa aku masih punya kesempatan?
47
Aku tidak baik-baik saja
48
Menunggu pertolongan Ilahi
49
Apa kau bisa menebak isi hatiku?
50
Ayo bersama lagi!
51
Belum cukup
52
Gugup
53
Harga seorang suami
54
Allah!
55
Aku hanya tidak siap
56
Kuat!
57
Kau adalah doaku
58
Wanita Istimewa
59
Perhatian Tersembunyi
60
Istri Seutuhnya
61
Jangan tanya pendapatku!
62
Serba bingung
63
Izin seorang kakak
64
Merajuk
65
Terenyuh
66
Panggilan tak terduga
67
Gombal terus!
68
Kami menyayangimu, Nay!
69
Terlanjur buruk
70
Tambah merasa bersalah
71
Dihantui rasa bersalah
72
Berita tak terduga
73
Apa ada yang kau sembunyikan?
74
Pulang
75
Kita pikirkan bersama
76
Sungguh! Aku tak tau
77
Beban Seorang Bu Nyai
78
Tak Senang
79
Tak seperti dugaan, Ummi!
80
Kabar bahagia...
81
Reaksi Sang Suami
82
Apa lagi ini?
83
Sungguh, aku tak punya hubungan dengannya!
84
Jangan tinggalkan aku!
85
Jangan Menyentuh Istriku
86
Wanita Asing
87
Terkuak
88
Anugerah itu hadir
89
Kepoin Yang Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!