Kali ini, Maya tidak ingin pergi ke rumah Irma. Maya memutuskan untuk pergi bersama Raga kali ini. Entahlah, Maya sudah tidak peduli lagi penilaian Andi.
Mereka bertiga keluar dari rumah itu, disaksikan pak RT yang kebetulan menyaksikan bagaimana Andi dengan kejamnya memberikan talak kepada Maya sore tadi rumah itu.
Ketika Maya, Aisya dan Raga meninggalkan rumah itu, Andi sama sekali tidak mengucapkan salam perpisahan atau hanya sekedar mengucapkan selamat tinggal.
Andi tidak Sudi melihat Maya keluar bersama Aisya dan Raga. Ia malah menelepon ibu nya untuk datang kerumah nya dan menyaksikan kepergian Maya.
Bu Ratna jelas yang paling merasa menang sore itu. Senyumnya merekah saat melihat Maya pergi dari rumah itu.
"Kita pulang ke pondok ya Aisya." Bisik Maya yang berjalan menggandeng Aisya.
Raga melirik iba ke arah Maya dan Aisya. Ia merasa khawatir pada Maya, terutama pada Aisya yang harus menyaksikan keributan bahkan kekerasan dalam rumah tangga Maya dan Andi.
Singkat cerita, Maya, Aisya dan Raga tiba di pondok pesantren tengah malam. Walaupun hatinya merasa tidak enak kepada ustadz fajar karena sebelumnya, ia malah tidak kembali lagi ke pesantren, tapi ia tidak lagi punya tempat untuk pergi.
"Kalian istirahat dulu saja, besok pagi baru kita ketemu dengan ustadz fajar." ucap Raga yang sudah mengantarkan Maya kembali ke kamar lama nya di pondok pesantren.
Bedanya, kali ini Aisya ikut tidur bersama Maya. Semua baju dan barang bawaannya, di simpan dan di masukkan ke dalam kamar Maya.
Maya mengangguk sambil berpamitan masuk ke dalam kamar. Aisya yang sudah tidur di gendongan Maya, terlihat sangat lelah.
"Makasih mas Raga. Saya mohon maaf atas apa yang sudah terjadi." Bisik Maya sebelum berpamitan masuk ke dalam kamar.
Pagi nya, Maya ditemani Raga pergi menemui ustadz Fajar di rumahnya.
"Maaf ustadz, saya sangat menyesal." Lirih Maya saat berhadapan dengan ustadz fajar pagi ini.
"Perceraian itu adalah hal yang paling tidak disukai Allah. Tapi, ketika kita sudah mencoba menjaga rumah tangga kita sesuai syari'at Nya, namun ternyata menemukan hasil yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, maka, sebaiknya kita ber-muhasabah, merenungi dan memohon ampunan nya." Jelas ustadz Fajar.
Raga sudah menceritakan perihal kekerasan yang di alami Maya di rumahnya. Ustadz Fajar merasa prihatin mendengarnya. Saat ini, yang bisa di lakukan ustadz Fajar adalah memberikan Maya kesempatan untuk melanjutkan kehidupannya disini.
"Silahkan mbak Maya tinggal disini selama yang mbak Maya inginkan. Pintu pesantren ini, selalu terbuka bagi siapapun yang ingin mendekatkan dirinya kepada Allah." Kata ustadz fajar, membuat Maya lega dan sangat berterimakasih kepada ustadz fajar.
Selepas bertemu ustadz Fajar, Maya dan Raga kembali ke area sekolah di pondok pesantren ini. Maya mengantarkan Aisya kembali bersekolah disini.
Raga, adalah salah satu guru yang mengajar di pondok pesantren ini. Jadi setidaknya Maya bisa sedikit tenang karena Aisya akan selalu terpantau oleh Raga.
Sementara Maya, belum memutuskan apa yang akan ia lakukan kedepannya. Ia tidak bisa selamanya tinggal disini dan hanya menjadi sukarelawan. Maya harus memikirkan rencana apa yang akan ia lakukan kedepannya setelah ia resmi menerima surat cerai dari Andi.
...****************...
Sementara itu, di kediaman rumah Andi pagi ini, Andi terbangun dengan perasaan kesal. Kejadian kemarin sore, masih mengganjal di hatinya.
Matanya melirik ke arah kasur di sebelahnya, bayangan Maya masih ada disitu. Tapi, ia kembali menguatkan diri, agar tidak menyesali apa yang sudah ia putuskan.
Ting.
Sebuah notifikasi pesan WhatsApp masuk ke handphonenya. Devina.
[Selamat pagi mas. Jangan lupa sarapan ya.]
Andi tersenyum.
Ternyata, selama ini setiap pagi siang sore malam, Devina selalu mengirimkan pesan chat kepada Andi. Terlihat dari riwayat chat nya yang tidak pernah di hapus Andi.
Tuduhannya terhadap Maya, semata karena dirinya yang melakukan perselingkuhan itu. Karena memang biasanya, mereka yang selalu curiga dan menuduh suatu hal itu adalah pelaku utamanya.
[Aku udah bangun dev, hari ini aku gak ke kantor. Kamu mau anter aku ke Pengadilan?]
Kirim.
Andi bangun sembari mempersiapkan diri, pergi ke kamar mandi sambil menunggu pesan balasan dari Devina.
[Kamu mau aku temenin?] balas Devina.
Andi tersenyum. [Boleh, aku jemput kamu ya.]
Andi mempercepat aktivitas mandi nya. Kemeja putih dengan jas coklat tua, menjadi pilihan outfit Andi pagi ini.
Setelah selesai mandi Andi segera pergi menuju rumah Devina tanpa sarapan terlebih dahulu. Tidak ada lagi Maya yang selalu membuatkannya sarapan. Menyapanya dengan lembut setiap pagi, dan menyambut Andi dengan hangat setiap pulang kerja.
Sesampainya di rumah Devina, Andi menelepon Devina untuk segera keluar dari rumah, karena Andi menunggu di dalam mobil.
Devina keluar rumah dengan senyum yang merekah. Menghampiri Andi yang sudah menunggu nya di dalam mobil.
"Pagi mas." Sapa Devina lagi saat ia masuk ke dalam mobil.
"Pagi." Jawab Andi singkat.
Devina mengurungkan niat nya untuk memberikan pelukan, ketika melihat reaksi Andi yang sedikit dingin.
"Kita sarapan dulu ya." Ucap Andi sambil menjalankan mobilnya, keluar dari rumah Devina.
Di perjalanan, Devina kebingungan untuk memulai topik pembicaraan. Wajah Andi ditekuk tanpa senyum. Sesekali Andi menggerutu kepada pengguna kendaraan bermotor yang di temuinya selama di perjalanan. Entahlah, sepertinya memang Andi masih kesal dengan kejadian kemarin sore.
"Mau makan apa mas?" Gumam Devina pelan.
Andi terdiam, matanya fokus melihat kedepan sembari terus menyetir mobilnya.
Devina mendengus kesal, ia tahu, Andi pikiran Andi tidak sedang bersamanya.
"Kamu, baik-baik aja, kan?" Tanya Devina lagi pelan.
Andi masih tidak bergeming.
Devina menghela nafas kasar. Sambil memalingkan wajahnya, Devina membentak Andi keras. "AKU TURUN DISINI AJA MAS! AKU MAU PULANG LAGI!"
Andi terhenyak kaget, ia segera menyadari kalau Devina marah kepadanya. "Maaf--maafin aku, pikiran aku gak fokus."
Devina melirik ke wajah Andi, lalu memalingkannya ke arah lain.
"Kita makan di kafe depan aja ya." Ucap Andi lembut. Sambil melirik ke arah Devina yang masih kesal, Andi mencoba menggoda Devina. "Jangan di tekuk dong mukanya, Aku jadi gak bisa liat senyum kamu, aku kangen senyum kamu yang bisa bikin aku nyaman."
Kali ini giliran Devina yang mengabaikan ucapan Andi. Tangannya di silangkan di depan dada, mukanya menatap kaca di samping kirinya, melihat ke arah jalan.
Andi mengembuskan nafas pelan, tangan kiri nya membelai wajah Devina, mencoba meminta perhatian dari Devina yang terlanjur kesal.
"Maaf ya." Bisik Andi pelan.
Devina menatap Andi kali ini. Devina balas menggenggam tangan Andi. Sambil tersenyum, Devina mengangguk, memaafkan sosok yang sudah mencuri hati nya sejak pertama kali ia bertemu.
"Makasih Devina."
Mereka berdua membiarkan tangan mereka saling genggam selama perjalanan. Andi, sudah benar-benar jatuh ke pesona seorang gadis muda bernama Devina. Selama sepuluh tahun pernikahannya dengan Maya, Andi tidak pernah mencintai orang lain selain istrinya. Tapi, kali ini, Andi sudah jatuh ke pelukan seorang Devina.
Keputusannya menceraikan Maya, karena dirinya sudah menemukan sosok lain yang bisa mengisi hatinya dan memberikannya sebuah harapan baru untuk memiliki seorang anak dari pernikahannya nanti dengan Devina.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Riaaimutt
perempuan model gini yg mau kau nikahi wkwkwk
2024-08-16
0
Soraya
maling teriak maling lanjut thor
2024-07-31
0