Rumah keluarga Maya sudah dipenuhi warga. Walaupun mereka tinggal di sebuah komplek cluster yang tidak begitu padat warganya, tapi mendengar keributan yang terjadi dari rumah Maya, satu persatu warga berdatangan untuk melihat. Sampai akhirnya ketua RT setempat datang dan melerai keributan yang awalnya terjadi antara Andi dan Maya, lalu berlanjut menjadi keributan antara Andi dan Raga.
Tamu jauh yang niatnya berkunjung hanya untuk membawakan beberapa barang milik gadis kecil bernama Aisya yang secara resmi di adopsi oleh Andi dan Maya, malah mendapat sebuah pukulan dari Andi yang sepertinya sudah diluar kendali.
Pelipis mata pemuda berusia 25 tahun itu lebam, bibir nya sobek dan saat ini sedang menahan rasa malu nya karena sudah menjadi tontonan warga sekitar.
Sekalipun Maya berusaha melerai kedua orang ini, tapi Andi yang memiliki tubuh tinggi besar dengan otot bisep yang menonjol, jauh memiliki tenaga yang lebih kuat dari hanya seorang Maya dan beberapa tetangga yang ikut mencoba memisahkan adegan pemukulan Andi kepada Raga.
"Saya bisa saja laporkan pak Andi ke kepolisian kalau pak Andi tidak bisa tenang!" Bentak Pak Beni, ketua RT setempat.
Andi duduk di sofa ujung di ruang tamu nya.
Sementara Raga, terpisah di ujung satunya. Tangannya memegangi sebuah kain dingin yang di rendam dengan air es untuk menghentikan pendarahan di bagian bibir bawahnya.
Maya duduk di sebelah Andi sementara Aisya memeluk Raga ketakutan. Menjauh dari Andi dan Maya saat ini.
"Ada apa sebenarnya, kenapa bisa sampai terjadi keributan begini." Pak Beni mencoba menengahi.
"Maaf pak, saya minta maaf sekali ini, ini semua hanya kesalahpahaman." Maya memberikan keterangan sembari berkali-kali mengusap air mata nya.
"Pak RT harusnya membela saya sebagai warganya. Pemuda ini masuk ke rumah saya tanpa izin!" Cetus Andi sambil menunjuk Raga yang masih mencoba tenang.
"Saya sedang membela pak Andi. Saya mencoba membela pak Andi supaya pak Andi tidak dilaporkan ke polisi karena sudah melakukan pemukulan kepada pemuda ini." Jawab Pak Beni. "Mas, saya mau tanya. Apa benar mas ..."
"Raga, nama saya Raga pak."
"Ya. Mas Raga, masuk ke rumah pak Andi tanpa izin?" pak Beni melanjutkan, sudut mata nya melirik ke arah gadis kecil yang sedari tadi memeluk Raga sambil menutupi wajahnya yang ketakutan.
"Tidak pak. Saya masuk karena saya melihat Pak Andi sedang melakukan pemukulan kepada mbak Maya."
Para tetangga yang menonton di pintu rumah Andi, sontak berbisik dan mencibir Andi dengan kata-kata kasar.
Andi tertunduk sambil melirik sinis ke arah para tetangganya.
"Benar begitu pak Andi?" Pak Beni menatap wajah Andi.
Andi menarik nafasnya pelan. Ia mengangkat wajahnya, terlihat jakunnya naik turun menelan saliva berkali-kali. "Itu bukan urusan dia, ini rumah tangga saya!" Bentaknya. Andi masih merasa dirinya benar.
"Astaghfirullah, pak. Kalau sudah KDRT ya jadi urusan tetangga juga!" Celetuk salah seorang warga yang menonton, disambut riuhnya warga lain yang mencela perbuatan Andi.
Andi mendengus kesal sambil memalingkan wajahnya.
"Pak, saya mohon. Saya minta maaf atas keributan ini. Tapi, kalau boleh, saya ingin menyelesaikan masalah ini secara tertutup." Isak Maya yang sedari tadi masih sabar dan masih berusaha menenangkan suaminya.
Pak Beni mengangguk lalu, ia memerintahkan salah seorang warga untuk membubarkan kerumunan lalu menutup pintu rumah Andi.
Suasana jauh lebih senyap saat ini, walaupun sebelum warga di bubarkan, mereka sempat berteriak protes dan memaki Andi berkali-kali.
"Baik, coba sekarang kalian ceritakan duduk permasalahannya. Lalu, siapa gadis kecil ini. Saya baru melihatnya. Setau saya Bu Maya dan pak Andi belum memiliki anak, kan?" Ucap Pak Beni sambil tersenyum kepada Aisya.
"Aisya pak, namanya Aisya, mbak Maya mengadopsi Aisya dari pondok pesantren tempat saya bekerja dan mengabdikan diri." Jawab Raga. "Saya datang kesini untuk membawakan beberapa barang dan berkas milik Aisya. Tapi, saat saya datang, pintu rumah sudah terbuka dan saya melihat pak Andi sedang melakukan KDRT kepada mbak Maya."
"Bukan urusan kamu! PEZINAH sok suci!" Kecam Andi sambil menatap raga yang sama sekali tidak menanggapi hinaan Andi.
Padahal kalau saja raga mau melawan pukulan Andi tadi, bisa saja malah Andi yang akan babak belur. Raga memiliki sedikit kemampuan bela diri. Buktinya, selama Andi melakukan pemukulan tadi, Raga menahan beberapa serangan Andi dan membuat benteng pertahanan yang kuat sehingga mengurangi dampak dari luka pukul yang di berikan Andi.
"Tenang pak Andi! Saya mencoba membantu. Tenang!" hardik Pak Beni sekali lagi. "Kenapa pak Andi bisa bilang kalau mas Raga ini Pezinah dan sampai melakukan pemukulan?"
Andi membuang muka, tidak ingin menatap wajah pak beni yang duduk bersebelahan dengan raga. "Istri saya selingkuh dengan bajingan ini!"
"Astaghfirullah itu fitnah mas." Maya terisak sembari menutup wajahnya.
"Astaghfirullah ..." Raga menggeleng tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Cemburu buta." Celetuk pak Beni. "Tapi tanpa bukti dan main hakim sendiri. Pak Andi tahu, kalau mereka benar selingkuh, apakah ada bukti yang bisa membenarkan ucapan pak Andi?"
Andi terdiam, ia sudah sangat kesal, emosinya naik turun. Mungkin kalau Pak Beni tidak ada disini, akan terjadi pemukulan bagian ke dua.
"Demi Allah saya berani bersumpah, saya tidak pernah melakukan perselingkuhan sekalipun." Maya terisak. "Saya menghubungi mas Raga beberapa hari lalu, karena saya hanya ingin memberi tahu pihak pondok pesantren tempat Aisya tinggal dulu, kalau saya sudah mengadopsi Aisya."
"Halah! Itu hanya pembelaan kamu saja!" Andi melotot sambil menahan tangannya yang sudah mengepal.
"Demi Allah mas! Demi apapun!"
"Sudahlah Maya! Aku muak!"
"Kamu! Kamu yang jelas melakukan perselingkuhan! Padahal kita belum bercerai, tapi kamu sudah menjalin hubungan dengan Devina bahkan sudah membicarakan masalah pernikahan, mas!"
"Bangsat!" Teriak Andi sambil mengangkat tangan kanannya yang mengepal dan berniat memberikan Maya pukulan di wajah, tapi tertahan karena Pak Beni dan Raga bereaksi menghentikan Andi yang akhirnya hanya bisa menggertakkan giginya menahan emosi.
Aisya berteriak histeris saat Andi hampir memukul Maya, lalu ia berlari ke arah Maya mencoba melindunginya.
"Astaghfirullah pak Andi! Saya bisa langsung bawa anda ke pihak berwajib kalau anda tidak menghargai keberadaan saya disini!" Pak beni berdiri menahan tangan Andi. "Maaf, saya tidak bermaksud untuk ikut campur urusan rumah tangga anda! Urusan perceraian dan perselingkuhan, silahkan kalian selesaikan. Tapi saya akan bertindak jika pak Andi melakukan kekerasan lagi dilingkungan RT yang saya pimpin!" Tegas Pak Beni.
Aisya yang sudah berteriak ketakutan melihat Andi, akhirnya berlari pergi ke arah kamarnya.
"Begini saja pak, Silahkan pak Andi selesaikan urusan rumah tangga nya. Tapi, demi menjamin ketertiban dan ketentraman di lingkungan saya, silahkan pak Andi keluar dari rumah ini terlebih dahulu. Sampai pak Andi lebih tenang dan bisa mengambil keputusan."
Andi melotot ke arah pak beni. "Ini rumah saya pak! Kenapa saya harus keluar!"
Pak beni menarik nafas, mulai kehabisan kesabaran menghadapi Andi. Padahal sebelum kejadian ini, pak beni mengenal Andi sebagai sosok yang baik, walaupun tidak begitu sering bergaul dengan tetangga sekitar, tapi Andi selalu menjadi donatur utama setiap kali ada kegiatan di lingkungan RT.
"Lalu mau pak Andi bagaimana?" Tanya pak beni lagi mencoba tenang.
Andi melirik sinis ke wajah Maya, dan Raga secara bergantian. "Istri yang tidak bisa memberikan saya keturunan! istri yang tidak berguna ini! Hari ini, di depan kalian semua! RESMI SAYA TALAK!" Andi berdiri sambil menunjuk Maya dengan angkuhnya. "Silahkan kamu pergi dari rumah ini!" Ucapnya.
Hati Maya remuk, hancur mendengar kalimat TALAK yang diucapkan langsung dari mulut Andi.
Beberapa waktu lalu, Andi memang pernah memberikan surat untuk bercerai. Tapi, mendengar Andi mengatakan langsung kalimat 'Talak', ternyata membuat hatinya jauh lebih hancur dan sakit.
Pak Beni dan Raga yang menyaksikan langsung, hanya bisa mengelus dada. Iba melihat Maya, sekaligus kesal terhadap sikap Andi.
Maya berdiri. Tanpa pamit, ia segera berlari ke kamar nya, membereskan semua baju-baju nya, dimasukan kedalam koper besar dan beberapa tas lain untuk memasukan beberapa barang miliknya.
Keputusan nya kali ini, sudah tidak bisa lagi dihalangi. Keputusan Andi menceraikan Maya. Begitupun keputusan Maya pergi dari rumah ini.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Soraya
vote pertama thor lanjut
2024-07-30
1