Malam itu, setelah Andi berhasil membawa kembali Maya pulang, bersama dengan Aisya, kebahagiaan menyelimuti kehidupan rumah tangga mereka selama beberapa saat. Maya terlihat bahagia, kehadiran Aisya di tengah-tengah mereka membawa kehangatan baru di rumah.
“Asiya, mulai sekarang kamu boleh panggil aku Ayah.” Ucap Andi sambil menatap wajah gadis kecil yang ada di hadapannya.
Aisya mengangguk sambil tersenyum.
Maya yang duduk di samping Andi saat ini, ikut tersenyum mendengar kalimat manis yang keluar dari mulut suaminya. Sudah lama Maya tidak merasakan kehangatan ini.
Terutama dari suaminya. Entahlah, beberapa tahun belakangan ini, Andi memang jadi lebih dingin. Sangat berbeda jauh dengan Andi yang di kenalnya sepuluh tahun lalu. Tapi, saat ini, sejak kehadiran Aisya, walaupun baru sebentar, Maya merasa ada perubahan pada diri Andi.
“Masakan kamu hari ini enak banget May.” Puji Andi sambil tersenyum ke wajah Maya.
Sudah lama sekali, Maya baru mendengar Andi kembali memuji masakannya.
“Makasih mas.” Jawab Maya.
Kehangatan dari ketiga orang yang sedang menikmati makan malam di atas meja makan saat ini, berubah saat tiba-tiba, pintu rumah mereka di ketuk oleh seseorang.
“Biar aku aja mas yang buka.” Ucap Maya sambil berdiri menuju ruang tamu.
KLEK...
“MAYA?” Bu Ratna, ibu mertua nya sempat terkejut saat melihat Maya, menantunya yang sudah beberapa hari ini menghilang, sudah kembali.
Bukan perasaan bahagia dan penyambutan yang hangat dari bu Ratna. Tapi, wajahnya malah memperlihatkan ekspresi sinis dan kurang senang.
“Ibu, Silahkan masuk bu.” Sapa Maya dengan wajah tertunduk.
“Hem...” Bu Ratna menjawab sinis. Ia masuk tanpa menghiraukan menantunya itu. Tidak ada pelukan dan tidak ada kata-kata manis yang keluar dari mulut nya.
“Kami sedang makan malam bu, ibu sudah makan.? Saya siapkan makan malam buat ibu ya.” Ucap Maya dengan lembut.
Bu Ratna melirik sinis. “Gak usah, ibu Cuma sebentar. Cuma mau kasih tau Andi, kalau besok, ibu dan Andi, diundang oleh keluarga Devina makan malam di rumahnya.” Jawabnya ketus.
Maya mengerutkan keningnya. “Devina?” Bisiknya pelan.
Wajah Bu Ratna terlihat puas. “Oh, Andi belum cerita? Dia sudah menemukan calon istri lain yang akan memberikan keturunan.”
DEG.
Maya menundukan wajahnya, tangannya menahan sesak di bagian dadanya. Dadanya panas, hampir sesak mendengar ucapan dari ibu mertuanya itu.
“Ta-tapi bu, aku—“ Maya menahan getir yang keluar dari suaranya.
“Lagian kamu kenapa harus pulang lagi? Sudah bagus kamu pergi.” Ketus Bu Ratna lagi sambil berjalan menuju ruang makan.
Maya terdiam mendengar semua ucapan ibu mertuanya. Matanya sudah berair. Tapi ia tahan agar tidak semakin deras air matanya jatuh. Sambil menarik nafas, Maya berjalan mengekor ibu Mertua nya menuju ruang makan.
“Bu, makan malam dulu.” Sapa Andi sambil berdiri menghampiri ibu nya dan menyalami tangan ibu nya. “Aisya, salam dulu nak sama nenek.” Ucap Andi lembut.
Bu Ratna melirik sinis ke wajah anak kecil yang sedang berjalan menghampiri nya. Dengan ragu, Bu Ratna menyodorkan tangan kanannya.
Aisya tersenyum sambil mencium punggung tangan bu Ratna. “Nenek, kenalin aku Aisya.” Ucapnya polos.
Tanpa senyum, Bu Ratna kembali menarik tangannya. “Kamu yakin, mau mengadopsi anak yang gak jelas asal-usulnya ini, Andi?”
Bu Ratna mendengus sinis sambil berjalan memberi jarak pada Aisya dan Maya.
Andi menatap wajah kedua orang yang sedang tertunduk lemas melihat sikap ibu nya ini. “bu, nanti kita bicarakan masalah itu, sekarang ayo makan malam dulu.” Andi berusaha mengajak ibu nya duduk di meja makannya.
“Aisya lanjutin makannya di atas aja ya, sambil nonton TV.” Ucap Maya sambil membawa Aisya menjauh dari situasi ini.
Andi mengangguk ke arah Maya, menyetujui tindakan Maya.
Suasana hangat diruang makan, yang sebelumnya penuh dengan canda tawa, berubah dingin ketika Bu Ratna masuk saat ini.
“Kalau di depan Aisya, ibu gak usah ngomong begitu. Kasian, dia masih kecil.” Andi mencoba memberikan pembelaan.
Bu Ratna terlihat tidak senang mendengar anak nya menentang ucapannya itu. “Andi! Baru sebentar kamu bertemu dengan anak itu, tapi sudah berani berbicara seperti itu dengan ibu mu sendiri.” Bentaknya.
Andi mengembuskan nafas pelan sambil duduk kembali ke meja makan. Sementara Maya, sudah kembali dari lantai dua, dan ikut duduk di meja makan bersama Andi dan Bu Ratna.
“Ibu bilang, besok kamu dan ibu di undang oleh keluarga Devina, untuk makan malam.” Ucap Maya pelan. Ia tidak berani bertanya langsung, siapa Devina.
Andi melirik ke wajah Istrinya.
“Sekalian kamu kasih tahu istri mu ini. Kalau kamu mau menikah dengan Devina.” Celetuk Bu Ratna.
Andi menahan kalimatnya di tenggorokan. Posisinya benar-benar serba salah. Satu sisi, ia ingin memperbaiki rumah tangga nya bersama Maya, tapi, pertemuan dengan Devina kemarin, memang sudah merubah pandangannya soal perempuan itu.
“Bu, aku belum memutuskan apa-apa.” Jawab Andi pelan. Ia masih berusaha santun di depan ibu nya.
Maya tertunduk lemas mendengar semua percakapan ini.
“Yah... tidak usah terlalu lama memutuskan, kamu sudah tahu sendiri kan Devina itu anak baik.” Bu Ratna kembali mempertegas. “Lagipula, sekalipun istri kamu sudah kembali, dia tetep tidak bisa memberikan keturunan kan?".
“BU!” Andi berusaha memotong ucapan ibu nya.
Bu Ratna berdiri sambil mendengus ke arah mereka berdua. “Kenapa?!” Bentak ibu Ratna.
Maya mencoba menenangkan suaminya, ia menarik tangan andi yang sudah ikut berdiri melotot ke arah ibu nya.
“Sudah! Ibu mau pulang, besok kamu jemput ibu jam lima sore. Kita makan malam di rumah keluarga Devina titik!” Tegas bu Ratna sambil berjalan pergi meninggalkan Andi yang masih berdiri menahan emosinya.
Maya berkali-kali menenangkan suaminya yang sudah tidak bisa lagi tenang. Nafas nya tersengal, ada sesuatu yang mengganjal di tenggorkannya. “Tenang mas, duduk dulu.” Bisik Maya sambil mengusap tangan suaminya.
Andi menjatuhkan dirinya di kursi. Sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya saat ini. Begitu juga dengan Maya, yang berusaha menahan pertanyaan soal Devina di kepalanya. Maya Tahu, ini bukan saat yang tepat untuk bertanya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments