Mata Andi berkali-kali melirik ke arah Devina dengan gaun merah padam yang anggun dan sangat mempesona. Steak medium rare hadapannya sudah hampir dingin. Andi benar-benar terpesona dengan kecantikan seorang Devina malam ini.
"Andi, ayo di habiskan." Sapa seorang wanita paruh baya yang mungkin seusia dengan Bu Ratna yang duduk bersisian dengan Bu Ratna di meja makan mewah malam ini.
Andi mengerjap dan mencoba tersenyum, memalingkan pandangannya dari wajah Devina yang duduk disampingnya.
"Sepertinya Andi terpesona dengan kecantikan Devina, sampai makanannya tidak disentuh sama sekali." Timpal Bu Ratna sambil tertawa kecil.
Mama dan papa nya Devina yang ikut makan malam bersama, membalas tawa dari Bu Ratna bersamaan.
"Bu Ratna ini bisa saja." Ucap Papa nya Devina dengan suara yang berwibawa, cocok dengan wajahnya yang masih sangat gagah dan berwibawa. "Kalau begitu, kita sambil bicarakan saja, kapan waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahannya." Lanjut pak Mathew dengan logat bahasa Indonesia yang bercampur dengan bahasa inggris.
Pak Mathew jelas menurunkan gen kepada Devina, wajah dan logat bahasa indo campuran nya sangat kentara kalau dia bukanlah asli Indonesia.
Andi terkejut, ia menundukkan wajahnya mendengar ucapan pak Mathew.
"Wah-wah pak Mathew ini sudah keburu pengen nimang cucu sepertinya." Celetuk Bu Ratna sambil terkekeh pelan. "Saya setuju kalau pernikahan mereka tidak perlu menunggu waktu lama, semakin cepat semakin baik, tapi ada baiknya biar Andi dan Devina yang memutuskan kapan mereka siap."
Devina tersenyum, ia menatap wajah kedua orang tua nya dengan penuh kebahagiaan, seolah ini adalah momen yang sangat ditunggu nya. "Aku terserah mas Andi saja. Aku siap kapanpun mas Andi siap."
Andi tersudut mendengar semua orang yang akhirnya membiarkan semua keputusan ada di tangan nya.
Wajahnya tertunduk mencoba menutupi perasaan resah di kepalanya. Andi baru saja akan memulai babak baru pernikahan nya dengan Maya setelah mereka memutuskan untuk mengadopsi Aisya. Tapi, pertemuan makan malam kali ini, apalagi dengan kecantikan seorang Devina yang membuatnya terpesona, membuat dirinya harus memutuskan apa yang sebenarnya ia inginkan.
"Begini, untuk masalah pernikahan, biar aku bicarakan berdua dulu dengan Devina." Jawab Andi santun.
"Haha, sepertinya Andi masih ragu." Ucap pak Mathew sambil menatap mata Andi tajam.
"Bukan pak. Saya sama sekali tidak ragu. Devina sangat cantik dan saya sangat tertarik dan menyukainya, hanya saja ..." Andi menegakan sandaran nya. "Saya harus tetap membicarakan nya dengan Devina berdua. Saya tidak mau menjadi egois dengan mengambil keputusan sendiri."
Pak Mathew tersenyum sambil mengangguk setuju. "Baiklah. Saya sangat setuju dengan apa yang diucapkan Andi barusan." Ucapnya tegas. "Devina, Andi. Papa kasih kalian waktu satu Minggu untuk lebih mendekatkan diri dan saling berkomunikasi untuk menentukan waktu yang tepat dan tanggal pernikahan kalian." Jelas pak Mathew.
Devina mengangguk sambil sesekali menatap wajah Andi yang kaku.
Mereka melanjutkan makan malam tanpa pembicaraan serius soal pernikahan.
...****************...
PRANG ...
Maya berlari ke arah ruang keluarga, menghampiri sumber suara benda yang terjatuh dan pecah.
"Bu Maya maaf ... Aku gak sengaja." Ucap Aisya yang berdiri terpaku. Di kaki nya, di sekitaran lantai, sebuah bingkai foto pernikahan Andi dan Maya, jatuh menyisakan pecahan kaca yang berserakan.
Maya tersenyum sambil menengadahkan tangan, menyuruh Aisya untuk tetap di tempatnya. "Tunggu, Aisya jangan bergerak dulu, ibu ambil sapu buat bersihin pecahan kaca nya." ucapnya seraya melirik ke bagian kaki Aisya yang untungnya tidak terkena pecahan kaca.
Maya kembali dengan sebuah sapu dan serok di tangannya. Sambil melangkah hati-hati, ia membersihkan pecahan kaca yang berserakan, lalu menuntun Aisya untuk berjalan ke arah sofa ruang keluarga.
Sebuah foto pernikahan antar Andi dan Maya, terlepas dari bingkainya, tergeletak bersama serpihan kaca yang pecah.
Maya sempat terpaku melihat foto pernikahan bahagia nya sepuluh tahun yang lalu. Hatinya berbisik mengucapkan nama Andi. Sementara kepala nya mengingat semua kejadian saat Andi mengucapkan kalimat 'saya terima nikah dan kawinnya Amaya latasanti binti Salman Hidayat dengan mas kawin sepuluh gram emas dan seperangkat alat solat dibayar tunai' dengan lantang dan tegas.
Sambil membersihkan pecahan kaca dari bingkai foto pernikahan seukuran 30x40 Cm yang di simpan di atas kabinet/meja TV bersama foto dan pajangan lain, Maya tidak kuasa menahan air matanya mengingat kebahagiaan di masa lalu nya bersama Andi.
Sebenarnya tangisnya pecah karena ia tahu malam ini, di tempat lain, Andi dan ibu mertua nya sedang bertemu Devina dan keluarga nya untuk makan malam bersama.
Walaupun Andi sudah izin kemarin, dan berjanji hanya untuk memenuhi undangan dari keluarga Devina, tapi entah kenapa hati Maya tidak tenang.
Pecahnya foto pernikahan ini bisa jadi pertanda bagi Maya, entahlah Maya merasa hati nya berbisik kalau Andi tidak hanya datang untuk memenuhi undangan dari keluarga Devina.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Riaaimutt
hah.. andi.. andi. sudah tak heran lagi kelakuan mu 😎
2024-08-16
1
Soraya
yang namanya laki-laki tetap aja kalo liat yg seksi ngiler
2024-07-27
1