Pagi hari terasa lebih kelabu dari biasanya. Matahari belum benar-benar menampakkan diri saat Maya bangkit dari tempat tidur dengan perasaan hampa. Di tangannya masih tergenggam kertas ultimatum dari Andi, sebuah kenyataan pahit yang terus menghantui pikirannya sepanjang malam.
Maya berjalan ke dapur dan mulai menyiapkan sarapan. Kebiasaannya bangun lebih awal untuk menyiapkan makanan bagi Andi tetap tak berubah meskipun hatinya penuh luka. Sambil menggoreng telur dan menyiapkan nasi goreng, pikirannya melayang pada berbagai kemungkinan yang bisa terjadi.
Andi selalu menjadi fokus dalam hidupnya, dan sekarang ia dihadapkan pada pilihan yang begitu berat, mengizinkan Andi menikahi wanita lain atau perceraian.
Saat suara derap kaki Andi terdengar dari arah tangga, Maya cepat-cepat menyeka air mata yang menggenang di sudut matanya dan memasang senyum palsu. Andi masuk ke dapur dengan ekspresi datar, mengangguk singkat sebagai sapaan sebelum duduk di meja makan.
"Selamat pagi, Mas," sapa Maya lembut, meski hatinya terasa berat.
Andi hanya menggumam sebagai balasan, tatapannya fokus pada layar ponsel di tangannya. Maya menyajikan sarapan di depannya dan duduk di seberang meja, mencoba mencari keberanian untuk membicarakan isi amplop yang diberikan Andi tadi malam.
"Mas ... soal surat yang kamu kasih tadi malam ..." suara Maya terdengar lemah dan ragu.
Andi mengangkat wajahnya, menatap Maya dengan pandangan yang tidak terbaca. "Kita bahas nanti. Sekarang aku harus ke kantor," katanya singkat sebelum bangkit dari kursinya, bahkan belum sempat menyentuh makanannya.
Maya hanya bisa mengangguk, merasa semakin kecil di hadapan suaminya. Andi berjalan keluar dari dapur tanpa menoleh lagi, meninggalkan Maya dengan perasaan yang semakin hancur.
Setelah Andi pergi, Maya mencoba mencari kesibukan di rumah untuk mengalihkan pikirannya. Namun, setiap sudut rumah ini mengingatkannya pada kenangan yang dulu manis namun kini pahit. Ia tahu bahwa dirinya perlu mencari dukungan, dan pikirannya melayang pada satu-satunya orang yang mungkin bisa mendengarkan, sahabatnya, Irma
Maya menghubungi Irma dan mengajaknya bertemu di kafe favorit mereka. Irma adalah sahabat yang selalu ada untuk Maya, bahkan di saat-saat tersulit dalam hidupnya. Mereka berdua sudah berteman sejak kuliah, dan Irma selalu menjadi pendengar yang baik.
Saat Maya tiba di kafe, Irma sudah menunggu di meja pojok. Irma tersenyum lebar dan melambai saat melihat Maya, tapi senyumnya memudar saat melihat ekspresi wajah sahabatnya yang muram.
"Kenapa May?" tanya Irma dengan nada khawatir saat Maya duduk di hadapannya.
Maya menarik napas panjang sebelum mulai bercerita tentang kejadian tadi malam dan sebuah surat ultimatum dari Andi.
Air mata tak terbendung lagi saat ia menceritakan betapa tertekannya dirinya karena masalah ketidakmampuan memberikan keturunan.
Irma mendengarkan dengan seksama, wajahnya penuh empati. "Aku tahu ini pasti berat buat kamu. Tapi kamu harus ingat, kamu juga berhak untuk bahagia. Jangan biarkan Andi atau siapapun membuatmu merasa tidak berharga."
Maya mengangguk pelan, meskipun hatinya masih berat. "Tapi aku gak tahu harus mulai dari mana, Ir. Aku merasa terjebak."
Irma menggenggam tangan Maya dengan erat. "Bisa, kamu harus mulai dari hal terkecil untuk merasakan kebahagiaan itu lagi. Pelan-pelan aja. Kalau kamu butuh teman cerita, aku selalu siap dengerin, May. "
Kata-kata Irma memberikan sedikit kekuatan pada Maya. Mereka menghabiskan waktu di kafe dengan berdiskusi tentang berbagai kemungkinan, termasuk adopsi. Namun, Maya masih merasa bimbang tentang bagaimana Andi akan merespons ide tersebut.
Sepulangnya dari kafe, Maya merasa sedikit lebih tenang. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama ketika telepon rumah berbunyi. Maya mengangkat telepon dan mendengar suara dingin yang sudah sangat dikenalnya, ibu mertuanya, Bu Ratna.
"Maya, ibu mau datang ke rumah kamu nanti siang," suara Bu Ratna terdengar tajam. "Ada hal penting yang perlu ibu bicarakan."
Maya merasa jantungnya berdegup kencang. Bu Ratna dikenal sebagai wanita yang keras dan tidak mudah dihadapi. Setiap kali bertemu dengannya, Maya selalu merasa terintimidasi. Dan sekarang, dengan masalah yang sedang dihadapinya, ia tidak yakin bisa menghadapi Bu Ratna sendirian.
...****************...
Tepat saat jarum jam menunjukkan pukul dua siang, suara bel pintu terdengar. Maya membuka pintu dan menemukan Bu Ratna berdiri dengan angkuh di ambang pintu. Wanita itu melangkah masuk tanpa menunggu undangan, matanya yang tajam menyapu seisi ruangan seolah mencari kekurangan.
"Ibu, masuk bu, ibu mau minum apa?" ujar Maya sopan, sambil mencium punggung tangan ibu mertuanya dan berusaha menyembunyikan kegugupannya.
Bu Ratna duduk di sofa dengan anggun namun penuh wibawa. "Ibu dengar dari Andi tentang ultimatum yang dia kasih ke kamu," katanya tanpa basa-basi. "Ibu mau dengar pendapat kamu?"
Maya merasa kakinya lemas mendengar pertanyaan itu. Ia duduk di kursi di seberang Bu Ratna, mencoba mengumpulkan keberanian. "Saya ... saya belum memutuskan, Bu. Ini semua terlalu mendadak bagi saya."
Bu Ratna menatapnya dengan pandangan tajam. "Maya, sudah sepuluh tahun kamu menikah dengan Andi dan belum juga memberikan cucu untuk keluarga ini. Kamu tahu betapa pentingnya keturunan bagi keluarga kami, bukan?"
Maya hanya bisa mengangguk pelan, merasa air mata mulai menggenang di matanya lagi. "Saya tahu, Bu. Tapi ini bukan sesuatu yang bisa saya kendalikan."
Bu Ratna mendengus pelan. "Andi itu anaknya terlalu sabar. Dia sudah menunggu cukup lama. Kalau kamu tidak bisa memberikan keturunan, mungkin sudah saatnya untuk mempertimbangkan jalan lain."
Maya merasa dadanya sesak mendengar kata-kata itu. "Bu, saya akan bicara dengan Mas Andi soal adopsi. Mungkin itu bisa menjadi solusi."
Namun, wajah Bu Ratna mengeras. "Adopsi bukan solusi yang ibu inginkan. Keluarga ini membutuhkan keturunan darah daging sendiri."
Maya merasa kepalanya berputar. Kata-kata Bu Ratna terasa seperti pisau yang menusuk hatinya. "Tapi, Bu, adopsi bisa menjadi cara kami untuk memiliki keluarga."
Bu Ratna berdiri dari tempat duduknya, matanya menatap Maya dengan tajam. "Dengarkan ibu baik-baik, Maya. Ibu tidak akan pernah menerima anak angkat sebagai cucu. Kalau kamu tidak bisa memberikan keturunan, kamu harus siap menghadapi konsekuensinya."
Tanpa menunggu jawaban dari Maya, Bu Ratna berbalik dan berjalan keluar dari rumah dengan angkuh. Maya terduduk lemas di kursinya, air mata mengalir deras di pipinya. Kata-kata Bu Ratna terus terngiang di telinganya, menambah beban yang sudah begitu berat di hatinya.
...****************...
Malam itu, Andi pulang lebih larut dari biasanya. Maya menunggu di ruang tamu dengan hati yang gelisah, mencoba mencari cara untuk membicarakan masalah mereka dengan tenang. Saat Andi masuk, Maya bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekat.
"Mas, aku ingin kita bicara," ujarnya dengan suara gemetar.
Andi menatapnya dengan ekspresi datar. "Bicara tentang apa lagi, Maya? Sudah jelas apa yang harus kita lakukan."
Maya menggeleng pelan, mencoba menahan air mata. "Mas, barangkali sudah saatnya kita memikirkan soal Adopsi."
Andi menghela napas panjang. "Maya, ibu tidak akan pernah menerima anak angkat. Kamu tahu, kan?".
"Tapi, kita bisa mencoba meyakinkan ibu, kan mas? . Kita bisa menjelaskan bahwa adopsi adalah pilihan terbaik untuk kita."
Andi menatap Maya dengan pandangan yang tajam. "Maya, aku sudah lelah. Selama sepuluh tahun ini, aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk mendukung kamu. Tapi aku juga punya batas. Aku butuh keturunan, dan jika kamu tidak bisa memberikannya, maka kita harus mencari jalan lain."
Maya merasa dunia di sekitarnya runtuh. "Aku juga sudah mencoba segalanya, mas. Aku juga ingin memiliki anak."
Andi menggelengkan kepala. "Kita harus realistis. Kita tidak bisa mendapatkan anak dengan cara ini, barangkali sudah seharusnya kita mempertimbangkan perceraian."
Kata-kata Andi seperti pukulan telak bagi Maya. Ia merasa dadanya sesak, sulit untuk bernapas. "Mas, tolong jangan katakan itu. Aku cinta sama kamu, gak pernah berubah sedikitpun, dan aku ingin kita tetap bersama."
Andi menatap Maya dengan tatapan yang lembut namun penuh keputusasaan. "Cinta aku juga gak pernah berubah, May. Tapi cinta saja tidak cukup. Kita butuh keturunan untuk melanjutkan keluarga ini."
Maya merasa hatinya semakin hancur mendengar kata-kata Andi. Air matanya mulai menggenang.
Andi menarik napas dalam-dalam dan menatap Maya dengan ekspresi campur aduk, entahlah semuanya bercampur di kepalanya saat ini. "Kamu harus mengerti, ini bukan hanya tentang kita. Ini soal Keluarga, terutama ibu."
Maya menyeka air mata yang mulai mengalir. "Tapi, Mas, aku benar-benar ingin kita tetap bersama. Kita bisa cari solusi lain, kita bisa coba ikut program ke dokter lain mas."
Andi menggeleng pelan. "Sudah hampir semua dokter di kota ini, May. Umur kamu juga sudah tidak lagi muda untuk hamil. Sudahlah May. Ini sudah cara terakhir yang harus kita hadapi. "
Maya merasakan ketidak-berdayaan merayap dalam dirinya. Ia tahu bahwa Andi berada di posisi yang sulit, tetapi ia juga tahu bahwa dirinya telah melakukan segala yang bisa dilakukan. Rasa putus asa itu semakin nyata.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang, Mas?" tanya Maya dengan suara yang hampir tak terdengar.
Andi tidak menjawab seketika. Ia berdiri dan berjalan ke arah jendela, menatap ke luar dengan pandangan kosong. "Aku belum tahu, mungkin kita perlu waktu sendiri untuk berpikir."
Maya merasa dadanya semakin sesak. "Sendiri? Berarti kamu ingin kita berpisah sementara?"
Andi berbalik, menatap Maya dengan mata yang penuh kesedihan. "Mungkin itu yang terbaik untuk sekarang, Maya. Kita butuh jarak untuk mempertimbangkan semuanya dengan lebih jernih." Andi berdiri sambil menatap maya dengan perasaan ragu. "Sebaiknya, kita mulai mempersiapkan diri untuk berpisah."
Maya merasa dunia di sekitarnya berputar. "Berpisah? Tapi, aku tidak ingin kehilangan kamu."
Andi berjalan tanpa menghiraukan Maya sedikitpun.
"Mas. Tolong." Maya terus berteriak mengejar Andi yang sudah pergi menuju kamar.
Hati Maya benar-benar hancur, ada rasa tidak percaya, tapi sebagian dari dirinya justru berbisik lega.
Pilihan yang diberikan Andi sangat tidak mudah bagi Maya. Mungkin memang lebih baik berpisah dari pada ia harus melihat dan merelakan suami nya membagi cinta pada perempuan lain.
...*******...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
vie na Ai
dihb sumpah ini Maya menjijikn bnget jd cewek terllu memohon lemah suami mu udah ngarepin kmu mikir pake otak jngn ngemis karena cinta bego
2024-11-03
1
Dimas Yudhistira
aura antagonisnya sudah tercium
2024-09-03
0
Riaaimutt
👍
2024-08-16
0