Hampir Bertabrakan

"Hahaha. Kamu ini lucu mas. Bisa aja bikin jokes kayak gitu." Tawa renyah Devina, memenuhi ruang tamu rumah mewah yang tidak lain adalah rumah milik keluarga Devina.

"Ngomong-ngomong papa mama kamu kemana dev?" Tanya Andi yang siang ini akhirnya memutuskan untuk mengantar Maya ke rumah. Setelah tadi, Maya sempat mampir ke kantor Andi.

"Papa masih di Singapore mas, kalau mama palingan lagi kumpul sama temen ibu-ibu lainnya di cafe." jawab Devina.

Devina lahir dari keluarga kaya. Papa nya seorang businessman sukses yang memiliki cabang perusahaan hampir di seluruh Indonesia. Sementara mama nya memang hanya ibu rumah tangga, tapi warisan peninggalan keluarga nya sudah cukup untuk menghidupi anak cucu nya sampai tujuh turunan.

"Sibuk ya." Ucap Andi sambil memindai ke sekitar ruang tamu.

Kalau dibanding dengan rumah yang Andi miliki. Mungkin luasnya bisa sepuluh kali lipatnya dari rumah Andi.

"Aku, pamit ke kantor lagi ya." Andi berdiri sambil berusaha memberikan kesan terburu-buru.

"Loh, baru sebentar mas." jawab Devina dengan wajah manja.

Andi tersenyum sambil berusaha bersikap biasa di hadapan Devina. "Yah, masih jam kerja. Nanti aku mampir lagi kalau waktu senggang."

Devina berjalan mengekor di belakang Andi, mengantar ke pintu depan. "Janji ya mas. Aku tunggu kunjungan berikut nya."

Andi tersenyum. Kali ini ia tidak ragu untuk menyentuh pipi Devina bahkan sampai mencubit manja. "Iya, aku janji." ucapnya.

walaupun perbedaan usia mereka cukup jauh, tapi sosok Andi yang masih terlihat muda dengan perawakan badan yang tegap dan terlihat rajin berolah raga, membuat Devina tidak merasa canggung dan langsung terpesona dengan ketampanan matang Andi yang usianya sepuluh tahun lebih tua dari Devina.

Devina melambaikan tangan saat mobil Andi parkir keluar melewati lobi rumah mewah yang sangat besar itu.

Sepanjang perjalanan, Andi tersenyum sendiri mengingat momen kebersamaan antara dirinya dan perempuan muda yang langsung membuat hatinya goyah dan ingin segera memiliki nya.

"Devina ... " Gumam nya sambil memperhatikan jalan di depannya.

Di tengah perempatan lampu merah depan saat Andi ingin mengambil jalur kiri untuk berbelok langsung ke kiri, tiba-tiba saja Andi di kejutkan oleh dua orang yang menyeberang dengan tanpa melihat kanan kiri.

"Astaghfirullah!" Sontak Andi menginjak rem mobilnya sampai menimbulkan suara decitan dari ban nya.

Andi membuka kaca jendela mobilnya.

Ia melihat seorang wanita paruh baya dengan hijab berwarna biru tua yang sedang menggandeng seorang anak kecil yang juga memakai hijab warna senada dengan wanita tersebut.

"Bu. Hati-hati kalau menyeberang!" bentak Andi yang kemudian turun menghampiri wanita tersebut.

Wanita paruh baya yang sedang memeriksa anak kecil yang di bawa nya itu tidak sadar kalau Andi sudah ada di belakangnya.

"Woy! Ngerti gak kalau nyeberang itu harus liat kanan kiri dulu!" Sentak Andi lagi.

Kedua nya kemudian saling terpaku ketika mata mereka bertemu.

"Maya ..." Gumam Andi yang terkejut melihat wanita paruh baya yang berhijab itu adalah Maya. istrinya yang sudah pergi selama hampir beberapa Minggu ini.

Maya tidak kalah terkejut ketika melihat Andi, suami nya lah yang hampir menabrak dirinya bersama gadis kecil yang ternyata ada Aisyah, gadis dari pesantren yang di bawanya kembali ke kota.

"M--Mas And--Andi." Ucap Maya terbata - bata.

Keduanya terpaku saling tatap untuk beberapa saat. Sampai suara klakson mobil lain yang terhalang di belakang mobil Andi, mulai riuh karena kemacetan yang dibuat oleh Andi yang tidak memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.

Andi berlari cepat menuju mobilnya bermaksud ingin memindahkan mobilnya ke pinggir untuk parkir, dan segera menghampiri Maya lagi.

Tapi, setelah Andi memarkirkan mobil nya. Maya dan gadis kecil itu sudah hilang.

Maya sudah pergi ke arah seberang dan cepat-cepat meninggalkan Andi.

...****************...

POV MAYA SEBELUM BERTEMU ANDI DI KOTA

Pagi itu, Maya bangun dengan perasaan yang tenang dan sangat bahagia. Entah kenapa, sejak perkenalan nya dengan gadis kecil bernama Aisyah, Maya jadi sering menghabiskan waktu dengan Aisyah di jam kosong setiap hari nya.

Setelah Maya beraktivitas seperti biasanya pagi ini, Maya segera pergi menuju area sekolah di sekitaran pesantren teduh.

"Assalamualaikum Mbak, maaf. Ustaz fajar memanggil mbak Maya di rumahnya." Ucap Raga yang saat itu sedang bersiap mengajar di salah satu kelas.

Maya yang sedang menyapu halaman, kemudian mengangguk dan segera pergi menuju ke rumah ustad Fajar yang jaraknya tidak begitu jauh dari area sekolah.

Tok ... Tok ...

"Assalamualaikum, permisi ustad Fajar memanggil saya?" Sapa Maya yang sudah sampai di muka pintu ruang kerja rumah ustad Fajar.

"Wa'Alaikum salam warahmatullahi. Silahkan masuk mbak." Balas ustadz Fajar sambil berdiri dari meja kerjanya dan duduk di sofa ruang tamu.

Maya berjalan setengah menunduk. Dengan sopan, Maya yang saat ini sudah memutuskan untuk berhijab, mengambil tempat duduk di sofa tersebut.

Maya memang sudah memutuskan untuk berhijab, sehari setelah ia datang ke pesantren ini. Keputusannya ini tidak berdasarkan paksaan siapapun. Ia jelas lebih tenang dengan berhijab. Apalagi, lingkungan pesantren ini banyak sekarang mengajarkan Maya ilmu baru. Ilmu agama yang semakin Maya dalami, semakin taat ia pada perintah Allah SWT.

"Ada apa ustadz." tanya Maya pelan.

"Begini mbak. Sebelumnya saya minta maaf, saya ingin merepotkan mbak Maya." Ustadz fajar membuka obrolan. Senyumnya merekah menyejukkan setiap orang yang melihat. "Seharusnya, hari ini saya mengantarkan salah satu santri kita yang bernama Aisyah untuk bertemu keluarga paman nya di kota. Jadi, rencana nya paman nya ini ingin menyekolahkan Aisyah di sekolah negeri di kota C. Tapi, keluarganya bilang mereka tidak bisa menjemput Aisyah ke sini. Jadi mereka meminta kita untuk mengantar Aisyah ke rumah paman bibi nya di kota."

"Aisyah, mau keluar dari sini? " Perasaan Maya sedikit kecewa mendengar nya. Padahal, baru saja ia membangun ke dekatan dengan gadis kecil yang mengingat kan dirinya saat kecil dulu.

"Yah, sebenarnya saya sudah meminta kepada keluarganya. Untuk tetap mengizinkan Aisyah menimba ilmu di sini. Mengingat Aisyah ini anak yatim piatu." ustadz fajar menjelaskan. "Tapi mau bagaimana lagi, kalau keluarganya meminta hal tersebut, kami dari pihak pesantren juga tidak bisa memaksa."

Maya mengangguk lemas. Ia tidak rela melepaskan Aisyah, tapi benar kata ustadz fajar. Bukan hak mereka yang ada di pesantren ini untuk menahan Aisyah disini.

"Mbak Maya tenang saja, nanti kami bekal kan ongkos untuk makan dan perjalanan juga biaya menginap, karena tidak mungkin mbak Maya harus bolak balik kemari. Jaraknya jauh."

Maya mengangguk, ia tahu betul sejauh apa jaraknya. Karena kita C adalah kota tempatnya tinggal bersama suaminya, Andi.

"Mbak Maya tidak keberatan kalau harus mengantarkan Aisyah?" Tanya ustadz fajar.

Maya tersenyum sambil mengangguk.

"Baik, ini di dalam amplop sudah ada uang sejumlah lima juta rupiah untuk perjalanan mbak Maya dan Aisyah. Silahkan mbak Maya bersiap-siap dan segera berangkat, takut kalau semakin siang, nanti kemalaman sampai di kota C" ucap ustadz fajar lagi.

Tanpa menunggu lama, Maya segera menyiapkan diri, bergegas mengganti pakaian dan menyiapkan beberapa baju yang akan ia bawa ke dalam tas kecil.

Singkat cerita, Maya dan Aisyah sudah berada di dalam bus menuju kota C.

"Aisyah, kamu senang mau ketemu paman kamu?" tanya Maya sambil menggenggam tangan anak kecil itu dengan tulus.

Mimik muka Aisyah, sudah menjawab seperti apa perasaan nya. Aisyah menggeleng sambil terus menundukkan wajahnya.

"Loh kenapa? Paman bibi kamu mau ngerawat kamu di sana, bukan?" Maya mengerutkan kening heran.

"Aku gak mau sama mereka." Jawab Aisya pelan.

Sambil menarik nafas pelan. Maya memeluk anak kecil itu dengan hangat. "Tapi alangkah baiknya, nanti di rumah baru kamu bersama paman dan bibi, kamu harus bersikap baik dan jangan cemberut gini dong." ucap Maya sambil menggoda Aisya.

Maya pikir, Aisya hanya takut memulai kehidupan baru bersama paman dan bibi nya.

Mereka berdua tertidur selama beberapa saat di perjalanan sampai tidak terasa, mereka sampai di terminal kota C yang padat dan penuh kendaraan.

Maya turun dari bus menggendong Aisya yang tertidur. Dari terminal, Maya masih harus melanjutkan perjalanan dengan taxi online menuju ke pusat kota C. Tempat rumah paman Aisya berada.

Taxi yang mereka tumpangi, berhenti di sebuah rumah besar di perumahan elit yang berada di tengah kota C.

Maya yang berhenti di depan pagar, disambut oleh dua orang satpam dengan wajah bengis dan tanpa senyum.

"Cari siapa?!" Tanya salah satunya sambil melotot.

"Maaf pak, apa benar ini rumah pak Baskara?" tanya Maya.

"iya benar. anda siapa?" matanya melirik ke wajah Aisya.

"Saya dari pondok pesantren. ingin mengantarkan Aisya ponakannya dari pondok." Jawab Maya pelan.

Salah satu satpam tersebut melirik sinis ke wajah Aisya. "Oh ini anaknya." ucapnya ketus. "biar saya saja yang mengantarnya masuk. Anda boleh pergi."

Maya mengerutkan keningnya. Ia merasa ada yang tidak beres. "Maaf, saya harus bertemu pak Baskara untuk memastikan aisya benar bertemu dengan pamannya."

Pak satpam yang berdiri di belakang kemudian berjalan mendekati Maya. Dengan wajah sinis, ia membentak Maya. "IBU INI SIAPA?! BERANI INGIN BERTEMU DENGAN TUAN BASKARA!"

Maya semakin merasa ada yang tidak beres. "Saya di beri amanah untuk mengantar Aisyah sampai bertemu dengan wali nya." Jawab Maya ketus.

"Sudah! biar saya saja! Silahkan ibu pergi." salah seorang satpam menarik tangan Aisya keras.

Aisyah sampai berteriak kesakitan.

"Hei! Kalau perlakuan kalian seperti ini! Saya akan membawa kembali Aisya.!" bentak Maya sambil mendorong satpam yang menarik tangan Aisya hingga sedikit terjengkang hampir jatuh.

Aisya berlari menghampiri Maya lalu menarik tangan Maya. "Kita pergi aja ayo." Ucap nya sambil menarik tangan Maya.

Mereka berdua akhirnya berlari setelah pak satpam malah berteriak meneriaki mereka 'Maling'

Maya dan Aisyah berlari sekencangnya keluar perumahan dan menuju ke perempatan lampu merah lalu.

Ciiiiit....

Sebuah mobil yang sedang berbelok tiba-tiba mengeluarkan Suara berderit dari ban mobil yang menginjak rem mendadak bersamaan dengan klakson yang keras, hampir saja menabrak Aisya dan Maya.

Andi. Suami Maya yang keluar dari mobil tadi. Keduanya kaget saat mata mereka bertemu. tapi, saat Andi memarkirkan mobilnya. Aisya kembali menarik tangan Maya untuk segera berlari ke tempat yang lebih aman.

Maya harus meninggalkan Andi lagi.

...****************...

Terpopuler

Comments

Riaaimutt

Riaaimutt

definisi: semua lelaki sama saja

2024-08-16

3

Soraya

Soraya

maaf thor bukan nya usia maya baru 34/ thn ya kok paruh baya setahuku klo usia paruh baya 50/ thn bukan 34 thn

2024-07-27

3

lihat semua
Episodes
1 Ulang Tahun Pernikahan
2 Permintaan untuk Berpisah
3 Kembali ke Desa
4 Selembar Surat dari Maya
5 AISYAH
6 Perempuan Lain
7 Lunch Box
8 Hampir Bertabrakan
9 Pertolongan Irma
10 JANJI ANDI
11 Makan Malam Keluarga Kecil
12 Notifikasi Pesan Chat Devina
13 Izin Makan Malam
14 FOTO PERNIKAHAN (PECAH)
15 Pagi yang Seharusnya Tenang...
16 PUNCAK KEMARAHAN ANDI
17 TALAK
18 Kembali Ke Pondok Pesantren.
19 Seperti Langit dan Bumi.
20 PERASAAN RAGA
21 Pengakuan Raga di Depan Andi
22 ... Biarkan Orang Tuamu yang Memberikan Jawaban.
23 Sedikit Rahasia Kecil Seorang Raga.
24 Pertemuan Keluarga Raga
25 Tawaran Direktur Perusahaan Pak Mathew
26 Persiapan Pernikahan Andi
27 Surat Harta Gono-gini
28 Makan Malam Bersama Dua Keluarga
29 Versi Eksklusif Raga.
30 Keributan di Store Berlian.
31 Gaun Pilihan Ibu Syuhada
32 PESTA PERNIKAHAN ANDI DAN DEVINA
33 KEBAHAGIAAN DI TENGAH PESTA PERNIKAHAN ANDI DAN DEVINA.
34 Delapan Milyar Untuk Awal Pernikahan Andi
35 DEWAN DIREKSI PERUSAHAAN
36 Panggilan Video Ayah dan Bunda
37 ...
38 Apartemen Mewah
39 Devina di Apartemen Mewah
40 Undangan Makan Malam Keluarga Syuhada
41 Kejutan Sebelum Akad Nikah
42 Alhamdulillah SAH
43 Malam Pertama ...
44 TAMU UNDANGAN RESEPSI MAYA DAN RAGA
45 KERICUHAN MAKAN MALAM
46 RUMAH SAKIT JIWA
47 DETEKTIF DADAKAN
48 PERSELINGKUHAN DEVINA
49 Penyesalan yang Terlambat
50 Izin Bertemu Aisya
51 Kehidupan setelah Pernikahan
52 Kehamilan
53 Calon Bapak Muda
54 GAMANG
55 Depresi Devina
56 Drama Baru Bu Ratna
57 Tragedi Pagi Hari
58 Petuah Pak Syuhada
59 Lembayung Senja di Bali
60 KEBIMBANGAN HATI ANDI
61 Gadis Dengan Kulit Sawo Matang
62 MASA LALU ARIN
63 COBAAN PERNIKAHAN RAGA
64 ANGGARA
65 TITIK TERANG
66 PENANGKAPAN RAGA
67 ANFAL
68 KABUR
69 Overveen
70 Penangkapan Andi dan Bu Ratna
71 Tes DNA
72 Hasil Tes DNA | Penyesalan Raga
73 PEMBUKAAN TUJUH
74 Wellcome Home Amara
75 FOTO-FOTO ANGGARA
76 PERKENALAN CALON IRMA
77 Dansa Pertama Irma dan Ardhito.
78 Kisah Ardhito
79 Eps-79
80 Eps-80
81 Eps-81
82 Eps-82
83 Eps-83
84 Eps-84
85 Eps-85
86 Eps-86
87 Eps-87
88 Eps-88
89 Eps-89
90 Eps-90
91 Eps-91
92 Eps-92
93 Eps-93
94 Eps-94
95 Eps-95
96 Eps-96
97 Eps-97
98 Eps-98
99 Eps-99
100 Eps-100
101 Eps-101
102 Novel Terbaru (Sequel)
103 Eps-102
104 Eps-103
105 Eps-104
106 Eps-105 | EPILOG
107 NOVEL HOROR
Episodes

Updated 107 Episodes

1
Ulang Tahun Pernikahan
2
Permintaan untuk Berpisah
3
Kembali ke Desa
4
Selembar Surat dari Maya
5
AISYAH
6
Perempuan Lain
7
Lunch Box
8
Hampir Bertabrakan
9
Pertolongan Irma
10
JANJI ANDI
11
Makan Malam Keluarga Kecil
12
Notifikasi Pesan Chat Devina
13
Izin Makan Malam
14
FOTO PERNIKAHAN (PECAH)
15
Pagi yang Seharusnya Tenang...
16
PUNCAK KEMARAHAN ANDI
17
TALAK
18
Kembali Ke Pondok Pesantren.
19
Seperti Langit dan Bumi.
20
PERASAAN RAGA
21
Pengakuan Raga di Depan Andi
22
... Biarkan Orang Tuamu yang Memberikan Jawaban.
23
Sedikit Rahasia Kecil Seorang Raga.
24
Pertemuan Keluarga Raga
25
Tawaran Direktur Perusahaan Pak Mathew
26
Persiapan Pernikahan Andi
27
Surat Harta Gono-gini
28
Makan Malam Bersama Dua Keluarga
29
Versi Eksklusif Raga.
30
Keributan di Store Berlian.
31
Gaun Pilihan Ibu Syuhada
32
PESTA PERNIKAHAN ANDI DAN DEVINA
33
KEBAHAGIAAN DI TENGAH PESTA PERNIKAHAN ANDI DAN DEVINA.
34
Delapan Milyar Untuk Awal Pernikahan Andi
35
DEWAN DIREKSI PERUSAHAAN
36
Panggilan Video Ayah dan Bunda
37
...
38
Apartemen Mewah
39
Devina di Apartemen Mewah
40
Undangan Makan Malam Keluarga Syuhada
41
Kejutan Sebelum Akad Nikah
42
Alhamdulillah SAH
43
Malam Pertama ...
44
TAMU UNDANGAN RESEPSI MAYA DAN RAGA
45
KERICUHAN MAKAN MALAM
46
RUMAH SAKIT JIWA
47
DETEKTIF DADAKAN
48
PERSELINGKUHAN DEVINA
49
Penyesalan yang Terlambat
50
Izin Bertemu Aisya
51
Kehidupan setelah Pernikahan
52
Kehamilan
53
Calon Bapak Muda
54
GAMANG
55
Depresi Devina
56
Drama Baru Bu Ratna
57
Tragedi Pagi Hari
58
Petuah Pak Syuhada
59
Lembayung Senja di Bali
60
KEBIMBANGAN HATI ANDI
61
Gadis Dengan Kulit Sawo Matang
62
MASA LALU ARIN
63
COBAAN PERNIKAHAN RAGA
64
ANGGARA
65
TITIK TERANG
66
PENANGKAPAN RAGA
67
ANFAL
68
KABUR
69
Overveen
70
Penangkapan Andi dan Bu Ratna
71
Tes DNA
72
Hasil Tes DNA | Penyesalan Raga
73
PEMBUKAAN TUJUH
74
Wellcome Home Amara
75
FOTO-FOTO ANGGARA
76
PERKENALAN CALON IRMA
77
Dansa Pertama Irma dan Ardhito.
78
Kisah Ardhito
79
Eps-79
80
Eps-80
81
Eps-81
82
Eps-82
83
Eps-83
84
Eps-84
85
Eps-85
86
Eps-86
87
Eps-87
88
Eps-88
89
Eps-89
90
Eps-90
91
Eps-91
92
Eps-92
93
Eps-93
94
Eps-94
95
Eps-95
96
Eps-96
97
Eps-97
98
Eps-98
99
Eps-99
100
Eps-100
101
Eps-101
102
Novel Terbaru (Sequel)
103
Eps-102
104
Eps-103
105
Eps-104
106
Eps-105 | EPILOG
107
NOVEL HOROR

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!