Cerita Reyna

🍓🍓🍓

Sudah dua minggu sejak pernikahan Arsen dan Reyna. Hubungan antara keduanya tidak ada kemajuan apapun. Bahkan sikap Reyna semakin dingin saja pada Arsen ataupun Anita.

Reyna lebih suka menghabiskan waktu dikamar ketika Arsen dirumah. Dan akan pergi ke kolam renang jika Arsen sudah pergi bekerja.

Sebenarnya Anita sangat ingin dekat dengan Reyna, tapi melihat sikap Reyna yang sangat galak pada suaminya sendiri membuat Anita urung mendekatinya. Hanya sesekali menyapa atau membawakan makanan setelah itu langsung pergi.

Seperti siang ini, Reyna duduk ditepi kolam renang sedang melukis. Posisi duduk nya yang membelakangi pintu masuk tidak bisa melihat siapa yang lewat atau mengintip nya.

Suara ponsel bergetar disamping Reyna membuat imajinasi nya bubar dan menatap geram benda itu.

"Hish ganggu saja!" Gerutunya.

"Halo.." Sapanya dengan malas di telfon saat tau siapa yang menghubungi nya.

.....

" Aku tidak mau ke perusahaan lagi. Bukannya sekarang aku sudah punya suami yang akan menanggung semua biaya hidupku ." Jawab Reyna membalas suara di telfon yang membuat seseorang yang sejak tadi berdiri di belakang Reyna menarik sudut bibirnya.

"Berikan saja pada Maretha. Agar tidak selalu iri padaku." Kata Reyna lagi lalu memutus sambungan telfonnya.

"Selalu saja aku. Apa-apa aku. Bilang nya aku tidak berguna tapi kalau ada masalah selalu mencari ku." Gumam Reyna mulai melanjutkan melukis lagi.

"Rey ...!" Sapa seseorang dari balik tubuhnya. Dan Reyna tau suara siapa itu. Seseorang yang ingin dihindari nya tapi tiba-tiba muncul didepan nya. Ini masih jam sebelas tapi kenapa dia sudah dirumah pikir Reyna langsung membuat moodnya buruk.

"Apa ?" Jawabnya sangat judes tanpa menoleh. Arsen langsung duduk di sisi Reyna.

"Kamu bisa melukis ?" Tanya Arsen basa basi. Dilihat dari hasil lukisannya, Arsen menduga sepertinya Reyna memang sering melukis .

Reyna diam tidak menjawab pertanyaan Arsen yang dianggap receh. "Sudah tau lukisan sebagus ini masih ditanya bisa melukis." Sungut Reyna dalam hati.

Memang lukisannya bagus wajar saja dia jengkel ditanya seperti itu walau maksud Arsen agar ada obrolan.

Sebenarnya Reyna bercita- cita jadi pelukis. Sejak kecil dia sudah menyukai dunia seni. Namun karena keegoisan sang Papa ia mengubur dalam-dalam mimpinya.

Ketika beranjak remaja Reyna selalu ditekankan untuk belajar mengelola perusahaan. Tuan Haris lebih percaya pada Reyna Putri kandung nya dari pada Maretha yang diketahuinya lebih suka mendesain pakaian.

Dan keputusan Tuan Haris juga Mama Arini yang mendukung penuh keinginan Maretha dianggap sebagai kasih sayang, yang tidak pernah didapatkan oleh Reyna.

Memang terbukti Selama beberapa tahun menjadi pemimpin perusahaan Reyna mampu memajukan HK Grup. Membuat banyak perusahaan lain bekerja sama dengannya. Sebelum akhirnya ia bertemu Doni dan memilih hidup sederhana saja.

"Kenapa tidak jadi pelukis saja ?" Tanya Arsen saat Reyna masih sibuk menggores kuas diatas kanvas.

"Karena mertuamu egois. Dia memeras anaknya untuk bekerja di perusahaan saja agar menghasilkan banyak uang untuknya." Jawab Reyna penuh penekanan.

Arsen tertegun. Sudah dipastikan bahwa hubungan Reyna dan Papa nya tidak baik-baik saja. Tapi Arsen tidak mau ikut campur terlalu jauh.

"Hmm.. Itu gambar anak kecil sungguhan apa imajinasi kamu Rey ? Terlihat sangat nyata." Tanya Arsen mulai kepo.

Saat ini Reyna tengah melukis seorang anak laki-laki yang kisaran usinya tiga tahun sedang memegang bunga matahari ditemani kucing berwarna putih berbulu lebat .

Rambutnya dibuat ikal dan berwarna cokelat. Wajahnya tampak dari samping terlihat sangat tampan walau dalam lukisan.

Disekitar nya ada rumah yang terlihat agak jauh dan sungai yang airnya berwarna biru.

Reyna terdiam sejenak."Dia anakku, kalau saja masih ada." Tutur nya pilu.

Bibir Arsen terkunci, tidak mampu bertanya lagi.

"Dia meninggal dalam kandunganku saat usianya delapan bulan. Benturan yang sangat keras membuat dia tidak selamat." Tidak menduga kalau Reyna mau bercerita sepanjang ini padanya membuat Arsen menajamkan telinga karena sungguh saat ini dia benar-benar ingin tau lebih.

"Apa meninggalnya bersamaan dengan suami kamu dulu?" Tanya Arsen hati-hati.

"Iya. " Jawab Reyna cepat.

Seolah tersadar sudah banyak bicara, Reyna cepat-cepat berdiri dan meninggalkan Arsen, membuat seseorang yang sedari tadi mengintip dibalik tembok segera pergi juga.

Sejak melihat mobil Arsen datang, Anita yang menulis di dekat jendela kamar langsung bersiap menyambut kedatangan sang suami. Namun ia merasa aneh kenapa Arsen tidak juga masuk ke kamar setelah beberapa menit.

Apa mungkin ia ke kamar Reyna, Pikirnya. Rasanya tidak mungkin karena sampai sekarang sikap Reyna masih galak.

Akhirnya Anita memutuskan mencari ke bawah dan melihat kalau Arsen sedang duduk menemani Reyna melukis. Yang sebenarnya terlihat oleh Anita kalau Arsen mencoba membangun hubungan baik dengan istri keduanya itu.

Sejujurnya disudut hati Anita mulai merasa tercubit. Seikhlasnya seorang perempuan akan tetap merasa sakit jika melihat suaminya dekat perempuan lainnya meski tau suaminya itu belum sepenuhnya mencintainya.

Anita melangkah ke arah dapur dan bertemu Reyna yang membuat jus. Mencoba tersenyum kearah adik madunya itu. Dan siapa sangka Reyna membalas senyumannya. Tidak seperti kemarin- kemarin yang nampak cuek.

"Apa karena baru saja bicara dengan Mas Arsen, membuat Reyna bahagia sampai membalas senyumanku." Pikir Anita.

"Anita..!" Sapa Arsen yang melihat Anita diam saja dibelakang Reyna.

"Eh iya Mas ? Mas Arsen butuh apa biar aku ambilkan?" Tanya Anita sambil mengulurkan tangannya pada Arsen, dan Arsen pun menyambut nya .

"Ee tidak ada. Sudah jam makan siang. Kita makan bersama yuk !" Ajak Arsen menoleh pada Reyna yang sudah duduk di kursi sambil meminum jus Apel Favorit nya.

Sadar bila akan diajak, maka Reyna cepat-cepat bangkit dan menghabiskan minumannya.

"Aku sudah kenyang. Kalian makan saja !" Tolak Reyna setelah meletakkan gelas .

"Tunggu Reyna.." Cegah Arsen menggamit lengan Reyna.

Reyna kaget, tubuh mereka sedekat ini dan itu di depan Anita, istri pertama suaminya. Membuat Reyna merasa tidak nyaman. Dan berusaha melepaskan tangan Arsen.

"Kita makan sama-sama. Ada yang mau aku omongin. Ayo!" Kata Arsen melepas lengan Reyna dan menarik kursi untuknya. Mau tidak mau Reyna duduk dikursi itu karena Arsen masih berdiri sebelum Reyna duduk.

Baru setelah Reyna duduk, Arsen menarik kursi yang biasa ditempati oleh Anita dan mempersilahkan wanita itu untuk duduk. Setelah itu ia duduk di kursi miliknya sendiri.

🍓🍓🍓🍓🍓

Minta support nya ya temen-temen.. Biar semangat up nya. Terimakasih buat yang sudah baca. Sehat2 semuanya yaa....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!