"Assalamualaikum." Sebuah suara perempuan mengagetkan Arsen saat sedang rebahan sambil menutup matanya dengan tangan. Ia masih ada di sofa depan kamar Reyna. Berjaga-jaga kalau istri keduanya itu kabur.
"Waalaikum salam." Jawabnya sambil mendudukkan tubuhnya.
Tangannya terangkat membalas uluran tangan dari istri pertamanya itu. Anita namanya. Wanita dengan cadar yang menghiasi wajahnya ketika keluar rumah.
"Gimana kegiatan kamu. Seneng ?" Tanya Arsen duduk menghadap Anita.
"Iya mas. Aku seneng banget. Melihat anak-anak kecil dapat hadiah sederhana dan wajah mereka yang tampak bahagia itu, rasanya aku lebih mensyukuri kehidupan ini." Jawab Anita sambil menatap mata Arsen.
Selama beberapa hari ini Anita memang mengikuti acara amal di Bandung yang mengharuskan ia menginap di sebuah yayasan sosial. Wanita dengan gamis panjang dan bercadar itu sangat senang mengikuti acara-acara seperti itu. Apalagi jika ada anak kecilnya.
" Terimakasih, karena mas sudah mengangkat derajatku yang hina ini." Lanjutnya kemudian sambil menggenggam tangan Arsen.
Arsen membalasnya dengan senyuman. "Tidak ada yang hina selama kita berusaha menjadi yang terbaik versi diri kita sendiri." Timpal Arsen membawa Anita ke pelukannya.
"Aku Pun sekarang merasa menjadi lelaki yang sangat buruk. Aku seperti mempermainkan dua perempuan yang baik.!" Kata Arsen sesudah melepas pelukannya.
"Dimana istri kamu itu Mas ?" Tanya Anita dengan hati-hati. Ia mencoba mengerti keadaan yang membuat suaminya seperti terbelenggu perasaan bersalah.
"Dia masuk kamar. Sangat marah." Jawab Arsen pelan dan menyandarkan kepalanya di sofa.
"Aku temui dia boleh ?" Tanya Anita. Seperti apapun seorang wanita, memang sudah marwahnya, sebuah rasa ingin tah menyerbu dalam hatinya.
Karena sebenarnya sejak masuk ke dalam rumah hatinya was-was perasaannya berdebar takut dengan apa yang akan terjadi didalam rumah ini.
"Jangan sekarang. Nanti saja, kalau dia sudah tidur dan tenang." Bujuk Arsen.
Dia tak mau kalo tiba-tiba istri pertama dan istri keduanya perang dan bisa dipastikan bahwa istri keduanya yang menang.
"Aku bisa lihat fotonya?" Tanya Anita lagi. Sepertinya wanita satu ini belum puas jika belum terlaksana keinginannya. Begitulah yang Arsen pahami selama kurang lebih dua bulan hidup bersama.
"Aku tidak punya. Pihak W.O belum mengirimkan nya " Jawab Arsen.
"Sudahlah Anita, sekarang lebih baik kamu istirahat. Kamu pasti capek. Sebentar lagi makan siang. Kamu bisa memanggil nya. Ayo, aku temani ke kamar!" Ajak Arsen sambil mengulurkan tangan dan disambut gembira oleh Anita.
.
.
.🍓🍓🍓
Sedangkan dikamar yang lain, Reyna baru saja terbangun dari tidur yang tidak direncanakan nya itu. Ia menggeliatkan badan nya dan mencerna dimana sekarang dia berada.
Ingatannya kembali ke beberapa jam lalu saat ia baru datang ke rumah Arsen. Juga tentang Arsen yang menikahinya untuk jadi istri kedua.
"Arsen brengs*k, kukira dia tertarik padaku karena sikap nya yang ramah." Umpatnya sambil berlalu ke kamar mandi.
Reyna memilih menyegarkan otak nya dengan mandi. Mungkin dengan mandi air dingin bisa mendinginkan perasaan nya yang meledak-ledak.
"Kenapa kita ditakdirkan berpisah secepat ini Doni. Kenapa kamu korbankan nyawamu demi aku. Kalau hidup sendiri seperti ini malah membuatku selalu merindukan mu."
Dibawah guyuran shower Reyna menumpahkan rasa sesak di dadanya. Kecewa dengan takdir yang seakan mempermainkan nya.
Hiks .. Hiks.. Hiks..
Tangisannya tak bisa dibelenggu lagi. Nyatanya lima bulan kepergian cintanya masih meninggalkan luka yang masih terasa.
Seusai mandi Reyna mengobrak abrik kopernya yang bersandar didekat pintu. Entah siapa yang meletakkannya dan dari kapan Reyna tak peduli. Karena memang Reyna tidak tau kalau Arsen yang diam-diam meletakkan koper itu saat Reyna tertidur. Sengaja ia sendiri yang mengantarnya sekaligus melihat keadaan Reyna.
Mengambil baju ganti, dress dibawah lutut dengan tali spaghetti di bahu menjadi pilihan nya .
Lalu menggelar sajadah dan memakai mukenah. Ia sudah janji pada suaminya dulu, ia akan tetap sholat meski hatinya merasa kecewa. Apalagi sekarang ada suami dan anaknya yang menunggu doa darinya.
Sesudah sholat ia menyempatkan berdzikir dan berdoa. Sebelum terdengar ada ketukan pintu yang membuat nya harus menyudahi kegiatannya itu.
"Assalamualaikum Reyna.!"
Berdiri didepan Reyna seorang wanita bergamis biru laut, memakai kerudung instan yang menutup dada tanpa cadar.
Reyna tertegun, inikah istri pertama suaminya. Wajahnya berparas teduh, matanya berwarna hitam namun tidak sehitam milik Arsen. Hidungnya juga mancung. Dan bulu alisnya yang tebal meskipun berantakan. Cukup cantik pikir Reyna.
"Kenapa?" Tanya Reyna dingin tanpa senyum. Tangannya bersedekap di dada dan sedikit menyandarkan tubuhnya ke pintu.
"Aku Anita. Kamu pasti sudah tau aku dari mas Arsen. Kita akan tinggal bersama setelah ini. Aku harap kamu betah dirumah ini." Kata Anita disertai senyuman.
Senyuman yang bagi Reyna sangat menyebalkan meskipun Anita tersenyum dengan tulus.
"Aku tidak lapar.!" Jawab Reyna dengan sewot.
"Makan sendiri saja dengan suami mu!" Lanjutnya sambil bergerak mau menutup pintu.
"Tunggu Reyna, Mas Arsen sudah menunggu kamu. Dia ingat kamu sarapan sedikit saat dihotel tadi. Ayo kita ke ruang makan. Atau biar Mas Arsen saja yang menjemput kamu ?" Tanya Anita.
Reyna mendelik mendengar Anita mengatakan agar Arsen saja yang menjemputnya. Seakan dia memang harus dibujuk dulu baru mau makan.
"Ya sudah ayo!" Putus Reyna kemudian. Dia berjalan disamping Anita. Anita mencoba menggandeng tangan Reyna namun segera di tepis olehnya.
Setibanya dimeja makan terlihat Arsen sedang memainkan ponselnya dengan kening sedikit berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Mas Arsen." Sapa Anita membuat Arsen meletakkan ponsel dan tersenyum menyambut dua wanita yang berjalan kearahnya. Yang satu dengan penampilan menutup tubuhnya, dan satu lagi dengan pakaian yang menggoda iman suaminya.
"Eehem..!" Arsen berdehem untuk menutupi kegugupannya. Bagaimana pun ia masih sedikit kikuk bertemu dengan Reyna setelah perdebatan mereka tadi.
"Sini, duduk dekat Mas Arsen !" Anita menarik kursi sebelah kanan Arsen untuk ditempati Reyna, lalu ia berjalan memutar, duduk di sebelah kiri Arsen. Namun Reyna belum juga duduk . Dia masih berdiri di dekat Arsen, kemudian menarik kursi disebelah kursi yang ditarik oleh Anita untuknya tadi.
🍓🍓🍓
tolong tinggalkan jejak ya teman- teman. Biar aku semangat up nya..
Happy reading ♥️♥️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
Mega Baiq
ogah dimadu,LBH Baek mundur,toh juga diriku seorang ceo
2025-04-01
0