Menangis

🍓🍓🍓

Reyna pulang ke rumah dalam keadaan sedikit lemas akibat mendonorkan dua kantong darah. Sebenarnya Dokter menyarankan untuk beristirahat saja dulu. Tapi Reyna sangat malas berada di dekat keluarga nya .

Dari tadi dia berpikir keras, kenapa dengan Maretha. Memang semenjak kepulangannya, sikap Maretha tidak seperti dulu. Sekarang ia terkesan diam. Tidak ada lagi lirikan sinis juga umpatan kasar darinya.

Bodoh amat lah, pikir Reyna sambil menaiki tangga menuju kamarnya. Reyna sengaja membuang pandangannya saat bertemu Arsen yang baru saja keluar dari kamar Anita.

"Rey, kamu sudah pulang? Aku telfon, kamu tidak angkat!" Sapa Arsen sambil berjalan kearah Reyna.

"Aku sibuk." Jawab Reyna. Ia menghentikan langkah tapi tidak menghadap Arsen.

"Mama dan Papa habis ini datang. Untunglah kamu sudah pulang. Gimana keadaan Raka sekarang?" Tanya Arsen yang menatap Reyna dengan lekat.

"Sudah stabil." Jawab Reyna singkat.

"Apa tembok itu lebih tampan dari suami kamu ? Sampai kamu lebih suka memandangi nya daripada melihat ke arah ku ?" Tanya Arsen sambil disertai tawa.

Reyna berbalik menatap Arsen dengan matanya yang sudah melotot dan bibir manyunnya. Yang bagi Arsen sangat lah menggemaskan.

"Kamu agak pucat. Apa kamu baik-baik saja ?" Arsen masih bertanya dengan cemas. Sebab Reyna memang pucat dan tangannya menggapai tembok untuk berpegangan.

"Iya, cuma pusing sedikit."

"Hmm Arsen, kalau Papa dan Mama kamu datang kesini dan melihat Kak Anita. Apa yang akan kamu lakukan.?" Tanya Reyna merendahkan suaranya.

Arsen tersenyum mendengar pertanyaan dari Reyna, yang menunjukkan masih ada perhatian di hati istrinya itu. "Aku akan mengakuinya malam ini. Dan aku benar-benar minta maaf jika keputusan ku menikahi kamu membuat kamu sedih. Sungguh Reyna, aku tidak bermaksud menyakiti kamu. Aku juga tidak menyesal menikahi kamu sesuai permintaan Papa." Kata Arsen sambil menggenggam tangan Reyna.

Reyna mencoba melepaskan genggaman tangan nya, tapi Arsen memegang nya erat. Jadi dia diam saja.

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Arsen mengira Reyna akan marah-marah seperti sebelumnya. Tapi ekspresi Reyna hanya melengos saja. Jauh dari perkiraan Arsen.

"Kamu tidak marah? " Arsen memastikan dugaannya.

"Kalau aku marah. Apa kamu mau menceraikan aku ?" Tekan Reyna menatap tajam mata Arsen.

Inilah yang Arsen takutkan. Tatapan tajam dari Reyna yang mampu menghanyutkan dalam perasaan yang tidak tau ujungnya.

Berkali-kali Arsen yakinkan dalam dirinya. Apakah benar dia mulai tertarik pada Reyna. Sedangkan ia yakini bahwa hatinya telah jatuh pada pesona Anita, istri pertamanya.

Bukankah ia seperti lelaki breng*ek yang memiliki perasaan cinta pada lebih dari satu wanita.

"Sebenarnya aku ingin memulai hubungan yang lebih baik dengan kamu." Kata Arsen

"Dengan menjadikan aku wanita kedua, bukanlah hal baik yang perlu dilanjutkan Arsen. Ceraikan aku dan lanjutkan kebahagiaan mu dengan Kak Anita. Biar aku yang jelaskan pada orang tua kita. Lagipula aku sudah pernah jadi janda. Jadi janda sekali lagi, kurasa bukanlah masalah." Sorot matanya terlihat sangat pedih. Walaupun kata-kata itu diucapkan dengan keangkuhan.

Air mata Reyna menetes seketika. Ia memalingkan wajah kearah lain. Tapi terlambat, Arsen sudah melihatnya.

Tanpa berkata - kata, Arsen menggapai tubuh Reyna dan memeluk nya.

Tangis Reyna seketika pecah dalam pelukan Arsen. Ia pun tak tau kenapa bisa hatinya seakan tersugesti untuk mengeluarkan keluh kesah dalam hatinya.

Selama ini Reyna hanya menangis diam-diam seorang diri. Tidak ada seorang pun yang tau tentang kesedihan nya ditinggalkan suami dan calon bayinya. Duka itu masih ada sampai saat ini. Tapi beberapa waktu ini, ia merasa hatinya mulai nyaman hanya dengan menatap wajah Arsen.

Tapi Reyna yang tau diri, memaksa membangun tembok tinggi mengelilingi hatinya. Agar tiada seorang pun bisa menggapai hatinya yang ia yakini sudah beku.

"Kamu jahat Arsen. Kenapa menikah ku hanya untuk menyakiti ku. Aku pikir aku bisa melupakan kesedihan ku karena ditinggal kan orang yang aku cintai. Tapi ternyata luka yang kamu beri melebihi rasa sakit yang aku rasakan. Kenapa kamu tega pada perempuan yang bahkan belum kamu kenal sebelum nya . Dan kamu juga tega menyakiti istri pertama mu.!" Racau Reyna dalam pelukan Arsen.

Tangan Reyna hanya memegang ujung kemeja Arsen. Ia tidak kuasa untuk membalasnya. Tidak mau perasaan yang mulai bersemi itu semakin mekar nantinya.

"Aku tidak tau ada apa diantara kamu dan Kak Anita. Tapi aku mohon, tolong.. Tolong akhiri saja pernikahan konyol ini. Biar segala akibat nya aku yang menanggung. Tolong ceraikan aku ..!" Kata Reyna dalam Isak tangis nya.

"Tidak ada yang bercerai. Papa tidak mau kalau kehilangan menantu seperti Reyna ..!" Tiba-tiba terdengar suara yang menggema dari ujung tangga. Terlihat Papa Alex dan Mama Maria berdiri mematung dengan tatapan tak terbaca.

Reyna langsung mendorong dada Arsen pelan agar melepaskan pelukannya.

Papa Alex dan Mama Maria melangkahkan kaki ke arah mereka. Arsen tau, Papanya sedang tidak dalam suasana hati yang baik.

Benar saja, saat sudah dekat Papa Alex mengayunkan tangan menampar Arsen dengan kerasnya sampai Arsen terhuyung kesamping.

Darah menetes dari sudut bibirnya. Tapi Arsen tidak marah. Tidak sempat berfikir ada apa. Ia menegakkan tubuhnya kembali.

Reyna sangat terkejut. Hatinya berdebar-debar . Biasanya dia santai saja menghadapi kemarahan Papa Haris, tapi kali ini ia menghadapi kemarahan Papa orang lain. Dan itu membuat nya sedikit was-was juga .

Mama Maria hanya diam sambil menatap tajam Arsen. Arsen sendiri menduga bahwa ia sudah melakukan kesalahan fatal. Dan ia menyadari satu-satunya hal fatal yang ia lakukan adalah menikahi Anita tanpa sepengetahuan orang tuanya.

"Beraninya kamu menyakiti menantu kesayangan Papa, Arsen ?" Kata Papa Alex berusaha menurun nada suaranya di depan menantunya. Ia tidak mau dicap sebagai mertua yang buruk. Tapi kabar yang ia dapatkan tadi pagi masih membuat kemarahan dalam hatinya tidak berhenti menyala.

"Papa, itu tidak seperti yang Papa pikirkan." Bela Reyna yang masih menganggap Papa Alex salah paham.

"Reyna, sudah jangan membela Arsen. Ikut Mama ke dapur yuk. Kamu pasti belum makan. Tadi Papa kamu bilang kalau kamu habis donor darah buat adik kamu. Makan yuk Mama temani !" Ajak Mama Maria dengan lembut sambil menggandeng tangan Reyna menuju tanga.

"Tapi Ma, Arsen.." Reyna masih tidak mau meninggalkan Arsen sendirian dengan Papanya.

"Sudah biar Arsen sama Papa." Paksa Mama Maria.

Reyna menoleh kearah Arsen dan Arsen menganggukkan kepala pertanda menyetujui agar Reyna pergi saja.

🍓🍓🍓

Maaf ya beberapa hari belum bisa Up. Karena Author lagi kurang enak badan.

Terimakasih untuk yang sudah membaca dan meninggalkan komentar🫰🫰

Terpopuler

Comments

Norahsikin Ismail

Norahsikin Ismail

Lanjutkan lg cite nye ngan lebih lg

2024-07-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!