🍓🍓🍓
Adzan subuh membangun kan Anita dari tidur lelapnya. Perutnya terasa berat, sebab tangan kekar menimpanya. Ingat apa yang sudah terjadi, membuat senyum terukir di bibirnya. Dibelakang tubuhnya yang masih polos ada suami yang amat dicintainya.
Ribuan kupu-kupu seperti keluar dari perutnya. Sangat menyenangkan, senyum nya tak kunjung surut saat ia perlahan-lahan memindahkan tangan Arsen dari perutnya. Turun dari ranjang menuju kamar mandi setelah memunguti pakaian yang bercecer.
Sengaja ia tidak membangun kan Arsen, sebab ia masih sangat malu.
Beberapa menit kemudian ia keluar dengan memakai handuk kimono dan rambut basah nya dikeringkan dengan handuk sedang.
"Mas Arsen dibangunkan tidak ya.?"Gumamnya bimbang.
Akhirnya Anita membangun kan Arsen dengan mengelus lengannya. "Mas.. Mas Arsen.. Ayo bangun Mas, subuh sudah lewat. Ayo Mas mandi dulu terus sholat." Ujar Anita lembut di telinga Arsen.
Tubuh kekar Arsen menggeliat. Perlahan matanya terbuka. Melihat Anita membuat nya seketika teringat keja semalam. Segera ia duduk menghadap istrinya.
"Kamu tidak apa-apa? Ada yang sakit ?" Cemas Arsen pada Anita.
Anita menggeleng dengan wajah memerah. Lalu memalingkan wajah kearah lain agar tidak bertatap mata dengan Arsen.
"Terimakasih sayang." Ucap Arsen kemudian yang semakin membuat Anita malu.
"Seperti nya istriku lagi malu ya." Goda Arsen sambil menggelitik pinggang Anita. Sontak saja Anita terkejut dan tertawa geli.
Mereka tertawa-tawa di pagi buta itu, seolah tiada beban yang menunggu.
Hingga beberapa saat Arsen menuju kamar mandi dengan memakai handuk yang tadi dipakai Anita mengeringkan rambut. Meski agak kecil tapi Anita tetap memaksa agar Arsen memakainya.
🍓🍓🍓
Pukul tujuh ketiga orang dewasa sudah berkumpul di meja makan. Dalam keheningan, belum ada yang memulai makan.
Reyna dengan wajah datarnya seperti biasanya. Anita dengan senyum indahnya pula namun kali ini nampak lebih berseri. Bisa Reyna duga penyebab dari senyum wanita itu.
"Sia - sia kau Reyna menerima sesuatu yang bukan hanya milikmu. Itu sama dengan menggenggam mawar setiap harinya. Hanya dapat luka dari durinya saja."
Gumam Reyna dalam hati yang merasa dadanya berdetak lebih cepat tapi entah ia tak tau kenapa. Hingga tidak sadar sendok garpu menjadi sasaran genggaman nya.
Arsen menatap keduanya dengan senyuman kecil. Bingung juga mau bicara apa. Sebenarnya ia ingin bicara banyak. Tapi entah mengapa setiap kali berada di dekat Reyna hanya kebekuan yang dirasakannya. Sehingga bibirnya terkunci rapat pula.
"Ayo kita makan. " Suara Arsen akhirnya memecah keheningan.
Pagi ini mereka memakan nasi goreng dengan telur mata sapi yang Anita buat. Arsen makan dengan lahap. Membuat Anita senang melihatnya.
"Rey, kamu tidak suka makanannya ?" Tanya Anita yang melihat Reyna hanya mengambil setengah centong nasi goreng.
Reyna berhenti mengunyah dan menatap dua orang yang menatapnya. " Oh tidak kok. Aku suka. Cuma aku sedang diet." Jawab Reyna diakhiri dengan senyuman.
"Buat apa diet ? Badan kamu itu kurus. Nanti dikira orang kamu tidak bahagia bersama ku." Celetuk Arsen yang membuat Reyna memutar bola matanya malas. Tak lupa bibir yang mengerucut setiap kali hatinya jengkel.
"Memang tidak." Jawabnya pelan tapi masih bisa di dengar oleh Arsen dan Anita. Keduanya hanya saling berpandangan kemudian memilih untuk diam.
"Arsen, aku izin mau ke rumah sakit habis ini." Kata Reyna tanpa menatap Arsen. Ia masih asik mengunyah dan memotong putih telur.
"Kamu mau jenguk Raka ? Oh iya bagaimana kabarnya sekarang?" Tanya Arsen mendadak ia ingat jika kemarin ia berencana menjenguk Raka setelah orang tuanya pulang.
"Tidak tau. Tidak ada yang kasih tau." Jawab Reyna cuek.
Arsen menduga kalau orang tuanya tidak menghubungi Reyna lagi setelah donor darah kemarin.
"Aku antar ya. Rumah Sakit tempat Raka dirawat kan melewati kantorku. Sekalian aku juga mau lihat dia."
"Aku ke Rumah Sakit bukan mau jenguk Raka. Sok tau deh " Ketus Reyna setelah menghabiskan suapan terakhirnya.
"Lalu ? Kamu sakit ?" Tanya Arsen dengan cemas. Hingga membuat Anita dan Reyna sama-sama menatapnya.
Nyatanya, kepedulian Arsen membuat Reyna sungkan pada Anita. Ia merasa diperhatikan oleh suami orang. Bukan suaminya sendiri.
"Memang benar sikapku selama ini. Diperhatikan Arsen bukannya membuat aku senang malah merasa gelisah. Ya Alloh aku benar-benar tidak ingin menyakiti wanita manapun." Ratap Reyna dalam hati.
"Eehh aku cuma mau cek up rutin rahimku. Kan bayiku pernah meninggal didalam perut. Aku hanya takut terjadi apa-apa kedepannya. Tidak ada yang serius. " Jawab Reyna mencoba santai.
"Memang Rumah Sakit mana ? Tidak apa-apa biar aku antar." Kekeh Arsen.
"Iya Rey, biar diantar Mas Arsen aja. Hmm sebelumnya aku turut berdukacita ya. Kamu perempuan kuat Rey. Berapa bulan usia nya saat tiada ?." Kata Anita menimpali.
"Sudah delapan bulan. Dia sudah siap dilahirkan. Tapi Karena benturan dan dia juga terlalu banyak minum air ketuban yang pecah, membuat dia tidak selamat. Sebenarnya dia dan ayahnya bisa selamat andai orang yang menabrak kami mau berhenti dan menolong. Tapi dia dengan tanpa perasaan meninggalkan kami di tengah malam sendirian." Kenang Reyna mengingat malam naas itu.
Tidak terasa air matanya menetes. Cepat-cepat ia mengusap nya.
Anita meraih tangan Reyna yang berada diatas meja. Ia usap-usap tangan itu seolah memberi kekuatan.
"Aku tidak apa-apa." Kata Reyna menatap Anita.
"Aku mengerti perasaan kamu. Memang, ada kenangan yang tidak bisa dihapus oleh waktu. " Ucap Anita .Reyna mengangguk mantap dan balik menggenggam tangan Anita.
"Makasih Kak. Hmm pagi-pagi aku jadi mengeluarkan air mata. " Katanya dengan sedikit tawa.
Arsen hanya diam saja. Kasihan juga nasib Reyna. Pikir Arsen. Dari kecil tidak bahagia selalu dituntut sempurna. Saat menikah pun tidak direstui. Hingga ditinggal pergi sesosok yang begitu dicintainya.
🍓🍓🍓
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
Norahsikin Ismail
Lanjutkan lg cite nye ngan lebih lg
2024-07-25
0