"Sedih, senang, sakit, haru menjadi satu," jawab chat Liana.
"Hallo, Kak," sapa Celline yang tidak sabar menunggu chat dari kakak iparnya.
"Dira sedang apa Kak?" Tanyanya.
"Sedang melukis, dia suka dan terus mengasah daya hayalnya. Supaya bisa di aplikasikan dengan baik gambar yang terciptanya, nanti aku kirimkan jika sudah jadi," ucap Liana.
Dira menggambar yang pasti jika ada yang melihatnya selain dirinya sudah pasti akan menitikkan air matanya. Liana yanh sudah terbiasa menjadi hal yang wajar, dia merindukan kedua orang tuanya bersama. Namun hal itu masih harus tertahan agar Daddy sadar sesadar sadarnya. Itulah yang mau keluarganya lakukan.
"Syukurlah, Kak. Setidaknya Dira menyukainya," ucap Celline.
"Kak, apa tanggapan kakak tentang perubahan kak Aris?" Akhirnya Celline memberanikan diri memberikan pertanyaan itu.
Dian Liana tidak menjawab, hanya terdengar hembusan nafas yang kecil lalu berubah menjadi tertahan. Seolah menahan sesuatu di hatinya yang tidak mampu mengucapkannya.
"Kak," lagi suara Celline yang belum ada jawaban dari Liana cukup lama di tunggunya. Bahkan Vira dan si kembar sama menantikannya juga.
"Iya, Celline jangan tanyakan hal itu dulu padaku, bisa? Lagi pula apa yang pantas aku harus katakan padamu? Tentu akan berbeda takutnya dengan persepsimu saat ini. Biarkan waktu saja yang memberikan kami kesempatan." jelas Liana.
"Baiklah, Kak. Ini sudah satu bulan sesuai dengan rencana awal kalian akan kembali," ucap Celline.
"Jangan dulu, biarkan Dira sedikit lebih lama disini," pinta Liana.
"Apakah kalian tidak merindukan kami keluarga disini ataupun keluargamu kak?" Tanya Celline lagi.
"Jelas rindu, tapi masih harus di tahan sedikit lagi, Celline." ucap Liana.
"Ya sudahlah," ucap Celline yang akhirnya menutup telpnya. Akhirnya Celline, Vira dan si kembar hanya mendengus. Betah sudah Liana dan Dira disana. Tanpa mereka ketahui jika Aris dari tadi saat Celline telp langkahnya harus terhenti dan bersembunyi. Mendengar semua yang di ucapkannya.
Liana dan Dira jadi selama ini Mommy dan keluargaku dibalik semuanya. Shit! Umpat Aris.
Tapi harus menahan dan berusaha tampak normal, harus bisa bersabar dan juga mencari cara agar bisa menemui mereka tanpa harus di ketahui oleh keluarganya
Aris yang akhirnya keluar dari persembunyiannya dan masuk ke dalam rumahnya.
"Assalamualaikum, Mom," sapa Aris dengan wajah datar.
"Waalaikumsalam, Ar. Tumben kesini? Ada apa?" Tanya Vira.
Apakah dia mendengarkan kami tadi? Batin Vira yang khawatir akan ketahuan oleh anaknya.
"Iya, Mom. Aku rindu ingin tidur disini. Bosen sendirian di apartemen. Si Celline tumben kesini?" Selidik Aris secara diam diam.
"Oh itu, aku ada kerjaan sama Kak Ad dan Kak An. Buat even di kantor loh, Kak." jujur Celline yang memang akan membuat even dan memerlukan bantuan si kembar.
"Ya sudah, Mom aku ke atas dulu ya, mau mandi dan bersih bersih," ucap Aris yang berlalu meninggalkan mereka.
"Apa Kakakmu tahu?" Selidik Vira.
"Tidak kayaknya, Mom. Kalau tahu pasti akan mengamuk bukan? Tapi lihat sikapnya yang masih biasa," ucap Ad.
"Setuju, Aunty. Kak Aris masih belum mengetahuinya," ucap Celline juga.
Sedangkan Aris memukul tembok di kamarnya untuk mengeluarkan emosi di hatinya.
"Ternyata keluargaku sendiri yang melakukannya. Pantas saja Om Gun tidak ada kabar yang pasti tentang pencariannya sampai satu bulan lebih ini. Untung saja Daddy masih di luar kota, aneh juga Mommy yang tidak ikut dengannya. Aku telah ceroboh dan pasti semuanya bersekongkol. Cello pasti dibalik juga terlibat. Aku hampir tidak mempercayai ini." marah Aris.
"Pantas saja mereka terlihat tenang dan tidak khawatir saat cucunya dan menantunya pergi. Karena memang mereka yang menyembunyikan. Tapi dimana mereka? Aku bahkan tidak bisa mencarinya. Tunggu! Apakah ada yang aku lewatkan," ucap Aris.
Kemudian mengingat beberapa klu saat bertemu dengan Om Gunnya.
Di restoran duduk dan berbincang tentang pencarian istri dan anaknya, malah dia tampak santai dan hanya bicara.
"Kamu mencintainya atau sebatas rindu akan kehadirannya yang selalu ada di dekatmu?"
"Pastikan hatimu lebih dulu, sebelum bertemu dengan mereka, terutama istrimu."
"Apakah kamu ingin bertemu dengannya karena ingin menambahkan luka atau menjaganya?"
Masih banyak lagi kata kata Gunawan berikan pada Aris namun belum juga membuat Aris mengerti maksud dari Gunawan yang sebenarnya.
Cintailah istrimu dan jaga anakmu.
Simple sekali, namun karena tidak bisa melihat jelas dengan matanya dan mendengar dengan teliti apa yang terjadi. Aris baru mengetahui sekarang mereka berada tidak jauh hanya dalam naungan keluarganya.
"Aku pasti menemukanmu, tapi aku harus bersikap seolah belum bisa mencari mereka. Tunggulah balasan dariku!" senyum smirk dari bibir Aris yang sudah siap membalas sikap keluarganya.
Malam ini juga Aris mencoba mencari cara mendekati Celline bagaimana pun caranya. Setelah selesai makan malam keluarganya. Aris meminta tolong Celline untuk sedikit membantunya.
"Celline, bantu Kakak sebentar ya, ini sedang banyak pekerjaan," pinta Aris.
"Iya, Kak. Tumben," jawab Celline.
"Cello kan lagi ngurus yang di Bali, baru berangkat siang ini," ucap Aris dan itu benar adanya. Selama tiga hari harus mengurus di sana. Ini lah kesempatannya untuk bisa mencari celah untuk bisa bertemu anak dan istrinya.
Celline yang tampak fokus mengerjakan dan tidak menyadari jika hpnya di tukar. Di pergunakan Aris dengan baik jika PW nya itu sudah ia ketahui. Setelah mendapatkan nomor yang tadi di telpnya segera menukar kembali sebelum si empunya marah.
Hingga jam sembilan keduanya fokus bekerja di dalam kamar Aris.
"Clear!" ucap Celline dengan senyum.
"Bagus, sana pergi!" usir Aris.
"Bukannya terima kasih eh malah ngusir. Dah lah kebiasaan kakak!" keluar Celline dari sana.
Aris langsung meminta salah satu anak buahnya yang hanya ia percayai dan memang bukan anak buah dari Daddynya.
"Lacak nomor ini segera! Dan pastikan posisi titik yang akurat! Besok pagi aku inginkan hasilnya!" perintah Aris di seberang telp pada seseorang.
"Oke, bos," jawab yang disana.
"Akhirnya aku bisa menemukanmu sedikit lagi. Sabar Sayang tunggu aku akan menjemput kalian dan membuat merek terkejut!" senyum smirk di wajah Aris malam ini.
"Sayang aku tidak kan tidur sendiri lagi, tapi malam ini biarkan kamu saja yang tetap menemaniku," bicara seorang diri di atas tempat tidur dengan gaun Liana yang selalu ia bawa kemana mana.
Jantung Aris berdebar kencang yang senang celah yang akan mempertemukan mereka. Gatal ingin telp, tapi tetap harus bersabar.
Hingga pagi ini sebuah pesan masuk sebagai kado terindah pagi ini, karena orang suruhannya telah berhasil memberika laporannya.
"Memang tidak salah aku memperkerjakannya. Sayang tunggulah aku disana! Pagi ini aku pastikan langsung kesana!" ucapnya di pagi ini saat bangun tidur.
...****************...
Terima kasih semuanya yang selalu setia membaca karya karya mommy.
Like dan komentar kalian di tunggu ya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Suwarni
lanjut
2024-07-31
1
Sundari Sekariputi
lanjut
2024-07-08
1