Dirumah Zahra tidak melihat kehadiran suaminya. Mungkin saja Azka masih belum pulang dari kantor. Zahra pun memasak untuk makan malam. Mengingat setelah kejadian tempo hari, Azka marah dan tidak pernah makan dirumah. Mungkin saja malam ini dia lapar dan mau makan. Zahra merasa tidak nyaman hubungannya dengan Azka menjadi seperti sekarang ini. Dia ingin memperbaikinya. Semoga saja malam ini Azka bisa diajak bicara dengan baik.
Azka sedang berkumpul dengan
teman The Leadernya.
"Leo, gwe denger baru-baru ini loe mau buka bisnis baru. Apa bener?"
Tanya Alex.
"Ya bisa dibilang gitu sie. Gwe buka sebuah Resort baru. Kalian harus datang di Pesta pembukaannya besok malam. Jangan sampe gak dateng. Dan buat loe Azka, kali ini loe harus ajak istri loe. Untuk kali ini gwe memaksa." Ucap Leo
"Setuju benget, dia harus bawa istrinya besok. Kalau gak biar gwe culik istrinya. Lagi pula gwe juga belum ada pasangan, gimana?" Canda Alex
"Masih kurang apa cewek yang sering nemenin loe? Sampai istri orang mau lo embat juga." Ujar Hendra.
"Kalau gak gitu mana ada gregetnya donk. Iya gak?" Jawab Alex.
"Kalau itu sie, emang dasar loe nya aja yang gila." Balas Leo sambil tertawa.
"Soal itu gwe gak janji. Lagian gwe kesana sama siapa saja, juga gak ngaruh buat kalian kan. Jadi gak usah pada berisik." Azka yang mulai angkat bicara.
"Kanapa? loe gak ingin orang tahu, kecantikan istri loe. Makanya loe berencana menyembunyikannya terus menerus." Ledek Leo.
"Gak usah gila deh loe. Mana ada yang kayak gitu. Kalau kalian ingin, ajak sendiri aja dia. Gwe gak masalah. Mendingan juga gwe ajak Rere dari pada dia." Ujar Azka.
"Gila? Loe masih berhubungan sama Rere? Loe udah nikah brow, tapi masih menjalin hubungan dengan dia. Benar-benar loe udah sinting kali ini." Ujar Alex
"Menurut gwe itu wajar. Lagian gwe nikah sama dia juga gak ada perasaan apa pun. Jadi apa masalahnya?" Jelas Azka
"Sepertinya loe udah kehilangan akal untuk hal ini." Sahut Hendra.
"Iya memang benar, gwe udah kehilangan akal, gwe udah gila, gwe sinting. Lagian kalian gak akan ngerti. Karena kalian gak ada
diposisi gwe saat ini."
"Gwe harap loe gak akan nyesel soal ini." Ujar Leo.
Selepas kebersamaanya dengan
teman-temanya, Azka kembali kerumah.
Dia tidak melihat Zahra yang biasanya tidur diruang tamu.
"Mungkin dia sudah tidur." fikir Azka.
Azka merasa sedikit haus, dia berjalan menuju dapur untuk mengambil minum.
Diruang makan dia melihat Zahra yang tertidur sambil duduk dengan kepala diatas meja. Diatas meja juga sudah terdapat sajian makanan. Zahra memang sengaja menunggu dan menyiapkan makan malam untuk Azka. Namun Azka tak kunjung datang sampai dia ketiduran diruang makan.
"Kenapa dia punya kebiasaan tidur disembarangan tempat. Sungguh wanita yang merepotkan. Sebaiknya abaikan saja dia." Batin Azka.
Saat membuka kulkas Azka tak sengaja menjatuhkan sesuatu. Zahra yang tertidur pun akhirnya terbangun.
"Mas Azka sudah pulang." Ucap Zahra dengan mata yang masih terasa berat.
"Emmm"
"Mas Azka belum makankan? Saya akan memanaskan kembali makananya agar mas bisa makan."
"Gak perlu, tadi aku sudah makan diluar." Tolak Azka
"Begitu, Mas Azka mau saya buatkan teh atau kopi atau apa?" Tawar Zahra.
"Aku hanya ingin minum air dingin saja. Sebaiknya kamu kembali tidur dikamarmu."
"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Mas Azka."
"Sudah larut malam. Kita bicarakan besok saja. Hari ini aku juga sudah lelah."
"Baiklah Mas. Saya akan kembali kekamar. Selamat malam." Berjalan meninggalkan Azka.
"Malam."
Azka memang sengaja berbicara dengan dingin kepada Zahra. Karena dia sedang tidak ingin berbicara dengannya. Setelah itu pun Azka juga kembali kekamarnya.
Keesokan harinya. Zahra sudah menyiapkan sarapan pagi yang tersusun rapi diatas meja. Dia menunggu kedatangan Azka. Ia ingin meluruskan masalahnya dengan Azka agar tidak berlarut-larut. Dia tidak ingin Azka bersikap seperti ini terus menerus kepadanya. Setidaknya dia bisa kembali memakan lagi masakan yang ia buatkan untuknya seperti sebelumnya. Itu sudah cukup untuk Zahra.
Beberapa menit kemudian Azka keluar kamar untuk berangkat kekantor.
"Mas Azka sarapan dulu."
"Aku akan sarapan dikantor. Kamu sarapan sendiri saja. Aku buru-buru, aku pergi dulu."
"Tapi Mas...."
Azka sudah keburu pergi tanpa sempat mendengarkan Zahra bicara.
Zahra sudah tidak tau lagi dengan cara apa dia bisa bicara dengan Azka. Semuanya terasa sedikit berat sekarang. Namun Zahra akan tetap tegar dan bersabar. Mungkin saja ini hanyalah sebuah ujian untuknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
Lenny Marlina
saya berharap ada orang yang baik hati, membantu dan menolong Zahra untuk jauh dari Azka brengsek😝😝
2021-04-04
0
Nona Cherry Jo
kesabaran manusia ada batasnya... dan kita para wanita jgn trlalu lembek utk hadapi kaum pria kayak azka...wanita jg punya harga diri...
2021-03-22
0
Lintang Lia Taufik
jejak
2020-09-09
1