Pagi hari awan mendung menyelimuti langit. Daun-daun pepohonan seakan menari-nari diatas terpaan angin. Hanya sedikit cahaya sang surya yang mengintip dari balik kumpulan awan.
Hawa dingin masih terasa menusuk kulit.
Azka mulai membuka mata, dan menyadari kejadian semalam.
Dia berjalan membuka jendela. Melihat cuaca yang sedang tak bagus. Kemungkinan hari ini dia tidak masuk kekantor. Masih merasakan tidak enak badan gara-gara mabuk semalam. Azka berjalan keluar kamar. Saat melewati daput dia melihat Zahra yang sedang memasak. Bau sedap mulai tercium oleh hidung Azka. Perutnya pun mulai merasa lapar. Ia mendekat menghampiri Zahra.
"Apa yang sedang kamu masak?"
Tanya Azka.
Kedatangan Azka membuat Zahra terkejut sehingga jarinya terluka terkena pisau.
"Apakah aku membuatmu terkejut? Sepertinya jarimu terluka." Memperhatikan jari tangan Zahra.
"Mas Azka, Oh....ini cuma tergores sedikit. Tidak apa-apa."
"Tunggu sebentar, akan kuambilkan plester."
"Tidak usah Mas, ini cuma luka kecil. Nanti juga akan sembuh sendiri." Ucap Zahra
Azka tak menghiraukan ucapan Zahra, dia mengambil plester dari kotak obat.
"Kemarikan tanganmu!" Printah Azka.
"Sungguh tidak perlu Mas." Zahra mencoba menolak.
"Cepat kemarikan tanganmu!" Azka memaksa.
"Apakah semalam aku berbuat aneh-aneh padamu?" Tanya Azka.
"Semalam Mas tidak berbuat aneh-aneh. Tapi hanya sedikit berbicara aneh. Maaf sudah mengganti pakaian Mas tanpa izin. Karena Mas semalam muntah jadi terpaksa saya mengganti baju Mas Azka." Jelas Zahra
"Kamu gak perlu minta maaf, harusnya aku yang berterima kasih padamu. Karena kamu semalam sudah mau mengurusku. Dan soal kejadian tempo hari aku minta maaf. Seharusnya aku tidak berbuat seperti itu padamu. Aku sedang marah waktu itu, jadi aku tidak bisa mengontrol diriku. Sekali lagi maafkan aku."
"Saya sudah melupakan kejadian itu. Jadi sebaiknya kita tidak usah mengungkitnya lagi. Tapi kalau boleh saya tau. Apakah Mas Azka mengenal Mas Hendra?" Tanya Zahra
"Hendra dan aku adalah teman sejak kecil. Bisa dibilang kita tumbuh besar bersama. Kita begitu dekat. Sampai kejadian itu terjadi. Sekarang hubunganku dengannya seperti ada sebuah jarak diantara kita berdua. Kurang lebih seperti itulah Hendra denganku. Tapi soal ucapanku untuk tidak berhubungan dengannya itu adalah serius. Jadi aku harap kamu tidak mengabaikannya." Ucap Azka.
"Tapi sepertinya untuk kali ini saya merasa tidak bisa menuruti Mas Azka. Menurut saya, permintaan Mas ini tidak adil untuk saya. Saya tidak pernah melarang Mas bertemu dengan Mbak Rere jadi Mas juga tidak boleh melarang saya untuk berteman dengan siapa pun, bahkan sekalipun itu Mas Hendra. Saya sudah menjelaskan kepada Mas, bahwa saya dan Mas Hendra hanyalah sebatas teman. Jadi apa salahnya untuk itu. Disini yang seharusnya bisa mengerti Mas. Apakah Mas pernah sekali saja untuk memikirkan perasaan saya. Seorang istri yang mengetahui suaminya berkencan dengan wanita lain didepan matanya sendiri. Apakah Mas pernah memikirkan itu? Meskipun hubungan kita seperti sebuah sandiwara. Tapi pernikahan kita adalah nyata Mas. Mas harus tau itu. Dan saya sudah cukup berusaha untuk menghargai perasaan Mas kepada Mbak Rere. Jadi saya harap Mas juga bisa menghargai perasaan saya. Maafkan saya bila semua perkataan saya menyakitkan Mas. Tapi inilah kenyataan yang harus saya katakan. Saya harus kembali kekamar. Dan terima kasih sudah mengobati luka saya." Zahra berlari kembali kekamarnya.
Namun Azka meraih tangan Zahra, membuat Zahra tertahan.
"Jangan bilang, bahwa kamu mulai mencintaiku!" Ucap Azka dengan menatap kedua mata Zahra yang mulai berkaca-kaca
"Maafkan saya saya Mas." Menepis tangan Azka dan berlari.
Sementara Azka termenung memikirkan kembali perkataan yang baru saja dikatakan Zahra.
"Gak, ini gak boleh terjadi. Zahra gak boleh punya perasaan ke aku. Apa yang harus aku lakukan sekarang."
Mengacak-acak rambutnya.
Zahra keluar kamar dan hendak pergi kekampus. Sedangkan Azka sedang duduk diruang tamu sambil membaca koran. Zahra pun lewat.
"Mau berangkat kekampus?" Tanya Azka.
"Iya, seperti yang bisa Mas lihat sekarang."
"Aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu, Mas sebaiknya istirahat dirumah. Saya sudah pesan taksi." jelas Zahra.
"Aku sudah cukup istirahat, jadi aku akan mengantarmu."
"Saya mohon Mas, saya butuh waktu untuk sendiri. Jadi biarkan saya pergi sendiri." Harap Zahra.
"Gak bisa, kalau aku sudah bilang aku yang nganterin kamu. Maka aku yang harus nganterin kamu. Gak ada pilihan lain." Menarik tangan Zahra.
"Mas..... Apa masih belum cukup Mas menyakiti saya. Baru tadi pagi Mas meminta maaf kepada saya. Tapi mengapa sekarang Mas mau mengulanginya lagi." Suara Zahra yang meninggi.
"Apa kamu bilang, menyakitimu? Aku hanya berbaik hati mengantarkanmu kekampus dan kamu bilang menyakitimu. Sepertinya aku terlalu baik padamu, hingga kamu tidak sadar akan posisimu sekarang. Sekarang terserah kamu, aku sudah tidak perduli denganmu." Melepaskan tangan Zahra dan berlalu pergi.
Zahra pergi meninggalkan rumah dengan butiran bening berjatuhan dari matanya. Dia mengurungkan niatnya untuk pergi kekampus. Dia pergi kesebuah taman kecil, dan duduk sendiri. Zahra berusaha untuk menenangkan diri. Namun tetap saja pikirannya terfokus dengan kejadian yang telah terjadi hari ini. Zahra mulai tidak mengerti dengan sikap Azka yang selalu berubah-ubah. Ditengah pemikiran Zahra, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Rupanya telepon dari Sisi.
"Assalamualaikum Sisi."
"Walaikumsalam, kamu gak masuk kuliah?" tanya Sisi.
"Enggak, hari ini aku sedikit gak enak badan." Zahra yang berbohong.
"Kenapa gak ngabari aku sie. Aku kan jadi khawatir. Kalau begitu entar aku bilangin kedosen, kalau kamu lagi sakit. Jadi hari ini kamu istirahat aja dirumah. Entar pulang kampus aku akan mampir kesana. Cepet sembuh ya?"
"Terima kasih Sisi."
"Sama-sama. Kalau gitu aku putusin dulu, dosennya udah dateng nie. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam." Memutus telepon.
"Maafkan aku Sisi, aku sudah membohongimu." Sesal Zahra.
Sementara keadaan Azka saat ini juga sedang tidak baik. Ia masih marah dengan sikap Zahra tadi. Dia pun pergi menemui Rere.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
Sulati Cus
egois km mas suami
2021-12-16
0
Nona Cherry Jo
azka egois.. enak aja.. dia boleh berhubungan dgn rere. sdgkan dia mengekang istrinya utk tdk berteman dgn pria.. cihj
2021-03-22
0
Kris Wanti
lelaki selalu egois......kau akan tersiksa dengan karma mu Azka......
2020-10-17
3