Tampak semua karyawan sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing. Memberikan suasana kantor menjadi terkesan melelahkan dan membosankan. Walau pun begitu mereka tetap berusaha yang terbaik untuk kemajuan kantor mereka. Tak ada yang salah dengan itu semua. Semuanya terlihat wajar-wajar saja. Namun ada sesuatu yang sedikit mengganggu pemikiran sang pemimpin(CEO) meraka. Entah apa penyebabnya, dan entah kerasukan setan mana dia hampir seharian ini melamun. Bahkan dari awal miting sampai selesai miting dia tidak fokus sama sekali. Padahal Azka terkenal sangat serius bila menyangkut soal pekerjaan. Namun hari ini dia tidak nampak, seperti dirinya yang seperti biasanya.
"Sial kenapa gwe selalu kepikiran cewek kampung itu terus si. Sepertinya otak gwe bener-bener udak gak waras nie." ucap Azka lirih.
"ping...ping" nada pesan masuk.
"Pesan dari Rere!!" ucap Azka.
Azka pun membuka pesan tersebut.
"Azka, sepulang dari kantor datanglah kerumahku. Aku punya kejutan untukmu." pesan yang ditulis Rere.
"Kejutan seperti apa yang dia persiapkan untukku.(Azka yang sedikit penasaran) Tapi hari ini sepertinya gak bisa dateng kerumahnya. Zahra kan lagi sakit kalau gwe gak buruan pulang, bisa bisa gwe dicincang sama mama. Gak bisa, gwe gak mau jadi korban mama yang selanjutnya." benaknya dalam hati.
"Maaf Re, bukanya aku gak mau dateng tapi pulang kerja ada satu urusan yang gak bisa aku tinggalin. Sekali lagi maaf Re. Mungkin lain kali aku kesana untuk menebus hari ini yang gak bisa dateng. Kamu gak marah kan?" balasan pesan dar Azka.
"Begitu ya, ya sudah gak apa-apa mungkin lain kali saja. Aku gak marah kog. Mana bisa si aku marah sama kamu." balasan pesan dari Rere.
"Kamu memang yang paling pengertian. Rasanya jadi tambah sayang deh sama kamu.
I love you." pesan dari Azka.
"Tentu saja. Aku juga semakin sayang sama kamu. I love you too Azka." pesan dari Rere.
Sepulang kerja Azka langsung pulang kerumah. Namun saat diperjalanan pulang azka melihat toko kue. Sejenak terlintas dalam pikiranya untuk membelikan kue untuk zahra. Karna melihat kondisi Zahra yang sedang sakit, pasti lidahnya terasa pahit untuk merasakan makanan. Jadi Azka putuskan untuk membeli kue dibawa pulang.
"Aku pulang" ucap Azka.
"Uh.. kakak udah pulang." Rere yang santai santai duduk diruang tamu.
"Hem...dimana mama?"
"Kayaknya didapur. Apaan tu kak, yang kakak bawa?"
"Mau tau aja kamu."
"iihh.. dasar kakak pelit."
"Biarin, suka suka gwe donk."
"ihhh....nyebelin. Ntar kuburan kakak jadi sempit baru tau rasa."
"Entar kalau sempit biar kakak tuker sama punya kamu. (hahaha) Ya udah nie bawa kedapur trus ambilin sedikit bawa keatas untuk kak zahra."
"Ciye.... yang lagi perhatian sama kakak ipar.(hahaha)." Ratna tertawa menggoda Azka
"Gak jadi, biar gwe makan sendiri aja nie kue."
"iya iya deh gitu aja ngambek. Sini biar Ratna bawa kedapur." meraih bungkusan yang berisi kue dari tangan Azka.
"ya udah kakak naik dulu, jangan lupa bawa keatas." melangkah pergi.
"Oke, bosss"
Sesampainya dikamar.
"Mas azka udah pulang?" kalimat pertama yang ditanyakan zahra saat melihat suaminya masuk kekamar.
"Em... gimana keadaan lo, udah baikan?" sambil meletakkan tas kerja diatas sofa.
"Alhamdulilah mas, udah rada mendingan."
"Syukur deh, kalau gitu gwe mau mandi dulu."
"Mau saya siapin air hangatnya mas?"
"Gak perlu, lebih baik lo istirahat aja." melangkah menuju kamar mandi
"Iya mas." zahra yang masih duduk diatas ranjang
"tok...tok..tok" ketukan pintu.
"Kakak ini Ratna"
"Masuk aja Ratna" zahra yang mengizinkan masuk.
"Ini kak zahra, Ratna bawain kue" ucap Ratna.
"Aduh...Ratna baik banget, terima kasih ya."
"Sebenernya yang beliin kuenya kak Azka, Ratna cuma disuruh nganterin keatas. Jadi sebaiknya kakak berterima kasih sama kak Azka." jelas Ratna.
"Jadi begitu, tapi tetap saja kakak harus berterima kasih sama kamu juga, karna sudah mau nganterin kuenya kesini. Terima kasih Ratna."
"Sama-sama kak, kalau begitu jangan lupa dimakan ya kak. Ratna keluar dulu, mau bantuin mama masak makan malam."
"Baiklah kakak gak bakalan lupa."
Ratna beranjak pergi meninggalkan kamar.
Sedangkan beberapa saat kemudian, Azka keluar dari kamar mandi.
Seperti sudah menjadi kebiasaanya Azka hanya memakai handuk dibagian bawah saja, memperlihatkan bentuk dadanya yang begitu bidang. Tanpa menghiraukan Zahra yang mulai memerah hampir matang. Zahra pun langsung membalikkan pandangannya dari Azka.
"Sepertinya lo harus membiasakan diri dengan pemandangan yang seperti ini." tersenyum jahil.
Zahra hanya terdiam tanpa berkata mengalihkan pandanganya dari Azka.
"Oh iya gwe mau ngomongin soal tuntutan ayah sama loe." ucap Azka sambil memakai baju.
"Tuntutan ayah?" Zahra yang memang gak mengerti.
"Tuntutan bulan madu kita."
"Em... soal itu, mas gak perlu memaksakan diri kalau mas gak mau pergi,
"Trus mebiarkan mama sama papa
terus-terusan disini, gak...gak bisa. Hanya ini satu satunya jalan agar mama sama papa melepaskan kita. Ini kamu tinggal pilih saja tempat yang kamu suka." memberikan sebuah buku kepada zahra.
"kalau loe sudah memilihnya bilang sama gwe. gwe mau keluar sebentar" berjalan pergi
"tunggu mas" tahan zahra
"Apa lagi?"
"Itu....mas Terima kasih soal kue yang sudah mas belikan." sambil zahra menundukkan kepala.
"Tak perlu berterma kasih, lagian gwe beli karna gwe pengen, jadi gwe beli aja."
"Oh begitu."
"Sudahlah gwe keluar dulu."
"iya mas"
Azka pergi meninggalkan kamar.
"Ma.. Azka mau keluar, gak usah nungguin azka untuk makan malam. Ada urusan sedikit yang harus Azka urus."
"Gak sebaiknya makan dulu, ini juga udah selesai masaknya."
"Gak deh ma, nanti biar azka sekalian makan diluar."
"begitu ya. tapi inget pulangnya jangan kemaleman zahra kan lagi sakit."
"Iya ma, Azka pergi dulu ya."
"Hati-hati dijalan"
"Oke mah"
Mobil melaju dengan kencang. Menelusuri jalanana malam. Memperlihatkan kehidupan malam yang tak pernah sepi dari kesenangan.
Membawa Azka ketempat sahabatnya.
"Wah sepertinya kita kedatangan pengantin baru nie..." sindir Alex
"Udah deh. gak usah banyak omong lo."
"sepertinya suasana hati lo lagi buruk, ada apa?" tanya Leo
"Seperinya gwe udah mulai gila kali ini"
"Baru nyadar lo, kemarin kemana aja?" ucap Alex
"Aist.... sialan lo"
"Emangnya lo ada masalah apa sie.?" tanya Hendra
"Kalian kan tau gwe nikah karna kepaksa. Trus nyokap bokap gwe mendesak gwe buat bulan madu biar cepet-cepet ngasih mereka cucu. gila gak tuh.?"
"Yah..kirain masalah apaan. ternyata cuma itu. kalau soal itu mah gampang. Tinggal lo tidurin aja istri lo. Bereskan..!" Alex memberikan saran
"Tidurin mata lo sowek. gwe gak ada perasan sama dia mana mungkin gwe bisa tidur sama dia."
"Ayo lah masak gwe juga harus ngajarin lo. Lo tinggal mabuk trus pulang kerumah bayangin aja istri lo seseorang yang lo suka. Gwe jamin pasti sukses."
"Ide lo gila, sama kayak lo yang udah gila"
"gwe kan cuma ngasih solusi kalau lo gak terima ya udah." Alex sambil meminun alkohol dalam gelas.
"ya udah biar lo gak tambah setres, kita minum-minum aja malam ini." ajak Leo
"gak ah, gwe gak bisa minum kali ini. sebaiknya gwe pulang. Bicara sama kalian malah bikin kepala gwe tambah pusing. gwe cabut dulu"
"Yah gak asik lo Az..." ucap Alex
Azka melangkah pergi meninggalkan sahabat-sahabatnya. Dia memutuskan untuk kembali pulang kerumah. Sampainya dirumah keadaan rumah sudah sepi, mungkin mereka sudah pada tidur. Azka menuju kamar. Ketika masuk kamar, Azka terkejut melihat zahra yang tidur disofa.
"Dia sedang sakit tapi kenapa malah milih tidur disofa, dasar wanita yang merepotkan. Apa mungkin dia ketiduran karena nungguin gwe ya. Sudahlah sebiknya aku pindahkan dia keranjang." Azka mengangkat tubuh zahra memindahkanya keatas ranjang.
"Abah... jangan tinggalin zahra." suara zahra yang mengigau karena bermimpi buruk. Tanpa sadar tangan zahra menggenggam tangan Azka.
"Apa dia bermimpi buruk? apakah seburuk itu? baiklah...mungkin sebentar saja kubiarkan dia memegang tanganku kali ini." Azka duduk ditepi ranjang.
Zahra tidur dengan nyenyak. Terlihat wajahnya yang lugu sangat imut saat ia tertidur. Azka memperhatikan zahra yang sedang tertidur. Wajah yang kecil, dengan bulu mata yang panjang, serta hidungnya yang sangat mancung. membuat azka tanpa sadar sedang mengamati wajah zahra. Apalagi bibir zahra yang kecil berwarna merah merona. Memberikan kesan seperti putri tidur yang menantikan pangeran untuk menciumnya.
"Aaahhh.... sebenarnya apa yang sedang gwe pikirkan. Dasar bodoh. sebaiknya gwe juga tidur." Azka melepas genggaman tangan zahra. membaringkan tubuhnya disamping zahra diatas ranjang. membuang semua pemikiran yang ada dikepalanya dan Azka mulai tertidur lelap.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
Tita Artila
jgn bilang mereka bulan madu, tapi azka ajak Rere
2020-07-27
2
Bu'e Kirana N Kenzie
kak buat azka klepek2 sama Zahra.tuman
2020-05-31
3
Imas R
ayolah azka lo udah mulai suka itu
2020-05-14
2