Episode 6 Panti Asuhan

Jam dinding menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Semua orang masih tertidur pulas dengan mimpi mimpi mereka. Namun Zahra terbangun dari tidurnya.Ia merasakan ada sesuatu yang menindih kedua kakinya.

"Kenapa kakiku terasa berat, seperti ditindih sesuatu." batin zahra. Zahra pun membuka selimutnya.

Terlihat sebuah kaki diatas kedua kakinya. ia pun membalikkan tubuhnya.

"Mas Azka... bukanya semalam tidur disofa, kenapa jadi tidur diranjang.? mungkinkah semalaman ia tidur disampingku?" pertanyaan yang muncul dihati Zahra. Ini kali pertama ia dapat melihat wajah sang suami dengan begitu dekat. ia dapat melihat setiap guratan diwajah suaminya.

"Bahkan saat tidur saja mas Azka masih terlihat sangat tampan." ucap zahra dalam hati. Azka yang tidur dengan begitu pulas tak menyadari istrinya yang memandanginya saat tertidur.

Zahra dengan pelan-pelan memindahkan kaki suaminya. Ia berusaha agar tidak membangunkan Azka. Setelahnya Zahra melangkah pergi kekamar mandi, mengambil wudhu untuk bersiap sholat tahajud. Didalam setiap doa yang dipanjatkan seusai ia sholat. zahra tak lupa menyebutkan nama suaminya. Dan memohon kelanggengan untuk rumah tangganya.

Setelah masuk waktu subuh dan selesai sholat. zahra bergegas menuju kedapur untuk membuat sarapan. Ia sengaja memasak lebih awal, karna semua keluarga Azka ada disini. Ia ingin membuat sarapan yang sepesial untuk mereka semua. Dan sampai akhirnya masakan Zahra telah matang. Menyusun dengan rapi diatas meja.

"Kak Zahra sedang membuat sarapan?" tanya Ratna yang baru turun dari tangga.

"Iya Ratna, kakak baru saja selesai membuat sarapan." balas zahra.

"Kakak kenapa gak bangunin aku, aku kan bisa bantuin kakak tadi."

"Gak apa apa, kakak gak mau ngrepotin kamu, lagian ini juga udah selesai kog."

"ih... kak zahra, aku kan juga mau belajar masak sama kakak. Besok-besok lagi kalau kak Zahra masak harus wajib ngajak aku loh." pinta Ratna.

"Iya Ratna, kakak juga kan gak tau kalau kamu mau belajar masak. Entar kalau kakak masak lagi pasti kakak ngajak kamu deh."

"Oke...Kalau gitu Ratna panggil mama sama papa buat sarapan ya kak"

"Ya, kakak juga mau manggil Mas Azka dulu."

"Tok....tok....tok.."

"Masuk"

"Mas sarapanya udah siap."

"Ya,bentar lagi gwe turun." Azka yang masih sibuk merapikan pakaianya.

"Mas Azka mau dibuatkan minuman apa?" tanya Zahra.

"Kopi dengan sedikit gula."

"Kalau begitu saya kebawah dulu."

"Em.."

Semua telah berkumpu dimeja makan.

"Jadi apakah kalian sudah memutuskan mau berbulan madu kemana??" tanya papa.

"Belum pa" jawab Azka.

"Ehem....hem.. Begini Azka mama papa sudah memutuskan selama kalian belum berbulan madu kami akan tetap tinggal disini. Jadi mama harap kalian tak terlalu terburu-buru."

" Ayolah mah, gak perlu berlebihan kayak gitu." ucap Azka.

"Berlebihan bagaimana mama kan cuma pengen lebih deket sama menantu mama apakah itu salah."

"Ya gak salah si ma, tapi kan mama papa sudah punya rumah sendiri yang lebih mewah, jadi untuk apa tinggal disini."

"Ratna setuju sama mama, Ratna juga baru mau belajar masak sama kak zahra jadi gak masalah mau tinggal disini lebih lama"

"Tu kan adekmu aja setuju."

"Diem aja kamu ceking. Gak usah ngikut-ngikut."

"Iiihhh kak azka.... Kakak sendiri tu yang ceking, makanya ngaca donk...!! Lagian kak zahra juga gak keberatan kenapa kakak harus ngotot."

"Sudah sudah ini kan lagi ada dimeja makan kenapa kalian jadi pada ribut. Seperti yang dibilang mama kalian kami akan tinggal disini sampai kalian pergi berbulan madu." lerai papa.

"Tapi pa, kami kan baru saja menikah. Jadi apa gak sebaiknya kalau papa sama mama memberikan waktu bagi kami berdua tinggal disini sendiri. Kami masih perlu waktu untuk mengenal satu sama lain." jelas Azka.

"Tenang aja mama sama papa gak bakalan ganggu kalian berdua. lagian mama sama papa juga pernah muda. Jadi mana mungkin ganggu kalian. Bener kan pa??" ucap mama.

"Bener yang diucapin mamamu. Jadi kalian berdua tenang saja." imbuh papa.

"Kalau sudah begini, Azka nyerah deh. Azka mau pergi kekantor dulu." ucap Azka.

" Kamu gak nganter zahra kekampus dulu??."

"Gk perlu ma, Zahra bisa pergi naik taksi kok. Nanti mas azka bisa telat kalau nganterin Zahra."

"Mas tunggu didepan" ucap Azka.

"Tapi mas.."

"Gak ada tapi tapian buruan nanti keburu macet."

"Iya mas. Saya ambil tas dulu."

"Mah pa, azka berangkat dulu ya."

"iya hati hati ya sayang."

"Zahra juga berangkat dulu ya mah. Assalamualaikum." sambil mencium tanga mama dan papa.

"Walaikumsalam."

Didalam mobil, Zahra hanya diam tanpa berkata kata. Sedangka Azka bersikap dingin seperti biasa.

"Jam berapa loe pulang kuliah??"

Tanya Azka menyapu keheningan.

"Sekitar nanti jam 1 siang, ada apa mas tanya seperti itu?"

"Berhubung mama sama papa masih tinggal dirumah, aq akan menjemputmu sepulang kuliah. Dan soal semalem, mendadak mama dateng kekamar, jadi kepaksa gwe tidur diranjang. So...untuk berjaga-jaga selama mama sama papa masih menginap, kita tidur seranjang. Terus jangan pernah sekali-kali lo mikir gwe suka tidur seranjang sama lo, itu semua cuma sekerdar sandiwara."

"Iya mas, saya mengerti."

"Bagus deh kalau lo paham"

Mereka kembali lagi pada keheningan sewaktu perjalanan. Sampai didepan kampus mobil berhenti.

"Jangan lupa nanti siang gwe jemput"

"Iya mas, terima kasih sudah mau nganterin."

Azka tanpa berbicara lagi langsung saja pergi. Begitu pula zahra berjalan memasuki kampus.

" Zahra, tunggu" suara seseorang memanggilnya

"Sisi"

"Oh ya, tadi gwe dari depan. Trus gwe liahat kamu dianterin sama cowok. Apakah itu suamimu??"

"Iya, itu Mas Azka."

"Wah...wah ..wah pantes aja hari ini wajahmu kelihatan lebih sumringah. Ternyata dianterin sang suami to."

"Kamu ini... paling jago kalau godain orang."

"Hehehe iya donk. Ya udah kekelas bareng yuk...!!" ajak Sisi.

"Em...."

1 jam sebelum Azka menjemput zahra.

"Sisi temenin aku yuk!!" ajak zahra.

"Emang kamu mau kemana??" tanya sisi.

"Udah lah nanti kamu juga bakal tau."

"Oke, berhubung kuliah udah selesai trus aku gak tau mau ngapain. Dengan senang hati aku mau nemenin kamu."

"Memang kamu yang terbaik."

"Iya donk. Siapa lagi kalau bukan aku." jawab sisi sambil tertawa.

"Ya udah, buruan yuk. Keburu Mas Azka jemput aku."

Dengan mobil Sisi mereka melesat ketempat tujuan.

"Berhenti" ucap zahra.

"Disini tempatnya??" tanya Sisi

"Iya disini tempatnya, terus bantuin aku untuk bawa barang-barang ini."

"Oke, biar yang itu aku bawain."

Mereka berdua masuk kedalam. Ditempat itu dipenuhi dengan anak-anak. Ada sebagian dari mereka yang bermain, kejar-kejaran, belajar dan masih banyak lagi. Zahra bertemu seseorang yang bertanggung jawab ditempat itu.

"Ada yang bisa saya bantu mbk??"

"Begini buk, sebelumnya saya minta maaf apabila kedatangan saya menggagu. Sebenarnya saya datang kesini punya niatan pengen sedikit berbagi dengan anak-anak dipanti asuhan ini. Jadi saya meminta persetujuan dari ibuk. Apakah ibu tidak keberatan untuk itu??"

"Tentu saja ibuk tidak keberatan sama sekali, justru ibu malah seneng dizaman sekarang masih ada orang-orang muda sepeti kalian perduli dengan anak-anak dipanti asuhan seperti ini. Sebelumnya kalian belum memperkenalkan diri, kalau boleh tau siapa nama mbak mbak ini??"

"Iya saya lupa memperkenalkan diri, saya Zahra sedangkan ini teman saya Sisi, kami mahasisawi dari universitas keperawatan."

"Panggil saja saya Ibu Nur, kalau begitu langsung saja kalian bisa bertemu anak-anak sekarang sambil memperkenalkan diri kalian."

"Baiklah buk Nur."

Sisi dan Zahra terlihat begitu bahagia bertemu dan bermain dengan anak-anak panti asuhan itu. Namun ada satu anak yang mencuri perhatian Zahra pada saat itu. Seorang anak perempuan yang duduk diayunan sambil memeluk boneka beruang. Sang anak hanya berdiam diri sendirian tanpa ikut bergabung dan bermain dengan yang lainya. Wajahnya tertutupi dengan aura kesedihan. Entah pristiwa apa yang telah menimpanya.

"Anak itu bernama Laras." Ibu Nur yang datang dengan tiba-tiba mengejutkan zahra.

"kedua orang tua dan keluarganya tewas karna pembunuhan dan hanya dia yang selamat. Karna tidak ada saudara yang mengurusnya dia dikirimkan kepanti asuhan ini 1 tahun yang lalu. Semenjak datang kesini dia jarang sekali berbicara, bahkan ia tidak bergabung dengan yang lainnya. Dia selalu nenyendiri dan memeluk boneka yang satu-satunya ia bawa kesini. Namun semenjak Mas Hendra datang dan berusaha berkomunikasi denganya ada sedikit kemajuan dari Laras. Laras selalu menunggu kedatanganya diayunan itu. Sepertinya kamu juga bisa mendekati Laras, cobalah bicara dengannya." menepuk pundah Zahra.

Zahra mencoba mendekati Laras.

"Hai apakah aku boleh duduk diayuna bersmamu?" tanya zahra.

Laras tak merespon pertanyaan Zahra.

"Kalau kamu diam saja, itu tandanya kamu tidak keberatan." seperti patung Laras tak merespon sama sekali.

"Namaku zahra, kalau nama adik siapa??"

"Namanya Laras, dia jarang berbicara, jadi aku harap kamu dapat memakluminya." jawab seorang laki-laki muda yang tiba-tiba saja muncul.

"Tentu saja, saya juga sudah diberi tahu sama ibu Nur tentang kondisi Laras."

"Jadi begitu, oh ya aku Hendra kalau gak salah tadi kamu bilang namamu zahra kan??"

"Iya nama saya zahra, ibu nur juga telah bercerita tentangmu kepada saya."

"Benarkah, sepertinya aku cukup populer untuk dibicarakan."

"Bu..bukan begitu, saya sedikit tertarik melihat Laras yang berdiam diri sendirin, dan Ibu Nur melihat saya, kemudian beliau menceritakan tentang Laras, berhubung kamu orang yang dekat dengan laras beliau juga bercerita tentang kamu. Itu pun cuma cerita kedekatanmu dengan Laras. cuma itu saja."

"Santai saja aku juga cuma bercandak kok."

Dia berjongkok dan menyodorkan sebuah coklat kepada Laras. Laras menerima coklat tersebut dan tak disangka ia mengatakan. "Terima kasih kak"

"Sama-sama" ardi tersenyum manis.

"Em.. sepertinya sudah waktuku untuk pergi sekarang. Saya senang dapat bertemu denganmu Laras begitu pula denganmu Hendra."

"Aku juga senang dapat bertemu wanita cantik sepertimu zahra. Semoga kita dapat bertemu kembali."

"Sepertinya kamu terlalu berlebihan. Kalau gitu saya pamit dulu. Daa... Laras." melambaikan tangan.

Zahra dan Sisi kembali kekampus, kebetulan jarak kampus dengan panti asuhan tadi berdekatan. Jadi tidak memerlukan waktu lama untuk kembali. Sesampainya di kampus zahra dan sisi berpisah. Sisi pulang duluan sedangkan Zahra menanti Azka untuk menjemputnya.

Sementara itu dikantor, Azka sedang menikmati makan siang dengan Rere. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran.

Rere memang sengaja membawakan makan siang untuk Azka. Diruang kerja yang hanya ada mereka berdua. Selayaknya seorang kekasih Rere menyuapi Azka begitu pula sebaliknya. Azka seakan melupakan tentang akan menjemput Zahra selepas kuliah. Terlihat dari jendela ruangan sepertinya cuaca diluar sedang tidak bagus. Mungkin saja akan turun hujan. Mereka berdua bermesraan didalam ruangan sedangkan Zahra diluar menunggu suaminya datang. Hujan mulai mengguyur bumi. Zahra mencari tempat untuk berteduh. Ia mencari tempat yang setidaknya suaminya dapat melihatnya. Jadi sang suami tak perlu keluar mobil untuk mencarinya. Hujan semakin deras disertai suara sambaran petir yang mengglegar. Zahra yang tinggal seorang diri didepan kampus mulai ketakutan. ia memang sedikit takut dengan suara petir yang menyambar. Namun ia tetap setia menunggu kedatangan Azka untuk menjemputnya. Mungkin sudah hampir 2 jam lebih ia menunggu. Tapi suaminya tak kunjung datang. Sebenarnya Zahra bisa pulang sendiri dengan taxsi namun itu pasti menambah masalah untuk suaminya. Ia tidak ingin suaminya kena marah oleh mama apalagi dengan keadaanya yang basah terkena air hujan seperti ini. Pasti mama akan sangat marah sama Mas Azka. Hari semakin sore, hujan pun tak kunjung reda. Tubuh Zahra mulai kedinginan. Dengan keadaannya yang seperti itu ia bisa jatuh sakit. Mendadak sebuah mobil berhenti didekatnya. Seseorang turun dari mobil lalu menghampirinya.

"Apa lo gila, kenapa lo masih ada disini. Semua orang cemas mikirin lo. Ayo pulang."

"Mas Azka... akhirnya kamu datang Mas." Zahra jatuh pingsan.

"Zahra...zahra... bangun zahra, kenapa jadi kayak gini si." Azka pun mengendong zahra masuk kemobil.

Sampai dirumah. Azka menggendong zahra.

"Ya allah..Aksa, apa yang terjadi pada zahra. Kenapa bisa kayak gini?" ucap mama yang khawatir.

"Cepet kak bawa masuk kak zahra." pinta Ratna.

Zahra dibawa masuk kekamar.

"Ratna kamu ambilin air hangat dulu." printah mama

"Zahra gak papa kan mah??" tanya Azka.

"Mama gak tau, sebaiknya kamu keluar dulu biar mama ganti bajunya. Terus tolong kamu telepon dokter untuk datang kemari, cepetan."

"Iya mah Azka telepon dulu dokternya."berjalan keluar kamar.

"Doc, apa yang terjadi pada menantu saya doc?" tanya mama.

"Ibu gak perlu terlalu khawatir, Dia hanya demam dan magnya sempat kambuh karena belum makan. Tubuhnya juga kelelahan jadi biarkan dia untuk beristirahan sementara waktu. Saya akan memberikan obat dan pastikan saja saat dia bangun nanti untuk makan terlebih dahulu lalu minum obatnya." jelas doctor.

"Syukurlah kalau begitu, terima kasih doctor."

"Sama-sama, kalau begitu saya pamit pulang dulu."

"Oh iya doc, silahkan saya akan mengantarkan doctor sampai kedepan. Azka jaga Zahra malam ini ingat kan apa yang doktet katakan."

"Iya mah ,Azka jagain."

"Dan kamu Ratna ayo keluar biarkan mereka berdua beristirahat."

"iya mah."

semua orang telah keluar, menyisakan Azka dan Zahra didalam kamar.

"Perempuan bodoh, kenapa gak pulang saja. Sudah tau hujan tapi masih saja menunggu.

Sebegitu berharapnya ya lo untuk gwe jemput. Kalau akhirnya begini kan jadi tambah repot." duduk dikursi sebelah ranjang.

"kenapa gwe jadi merasa bersalah gini sie, itu kan salahnya sendiri, kenapa gak pulang aja. Ngapain masih nungguin gwe. Aaah... udahlah makin pusing gwe mikirnya." Azka menatap wajah zahra yang sedang tertidur.

"Kalau diperhatiin lumayan cantik juga nie cewek...aaaahh gila apa gwe. Bisa bisanya gwe mikir kayak gitu. Mendingan gwe tidur biar otak gwe normal kembali." gerutunya dalam hati. Azka tertidur dikursi didekat zahra.

Mulai terdengar suara Azan, zahra pun terbangun dari tidurnaya.

"Ah.... kepalaku pusing sekali"

Azka yang berada didekatnya pun ikut terbangum.

"Lo udah bangun. kalau gitu lo makan dulu deh. Eeh... lo mau kemana?" tanya azka.

"Saya mau sholat subuh dulu."

"Ya udah deh sebaiknya gwe panasin dulu buburnya habis itu lo makan ya, sekalian minum obat."

"Iya Mas"

Setelah sholat, Azka menyodorkan bubur kepada zahra.

"Ini makan udah gwe angetin."

"makasih mas"mengambil semangkok bibur yang Azka sodorkan

"Gwe gak habis pikir sama lo, kenapa lo kemarin masih ada disana. Kalau gwe gak dateng-dateng seharusnya lo pulang, gak usah nungguin gwe."

"Iya seharusnya saya pulang waktu itu, tapi saya gak mau kalau mas kena marah mama. Jadi saya meyakinkan diri saya kalau Mas Azka akan datang. Karna saya percaya sama Maz Azka. Makanya saya masih bertahan disana."

"Perasaan apa ini. kenapa jatung gwe berdetak semakin cepat. sepertinya gwe ketularan sakit nih..." batin Azka.

"Kalau gitu sebaiknya lo istirahat dulu dirumah. Soal kuliah biar nanti gwe mampir kekampus buat izinin lo. Ya sudah gwe mau mandi dulu buat siap-siap pergi kekantor."

"Iya Mas."

Beberapa menit kemudian Azka keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk dibagian bawahnya. Memperlihatkan bentuk tubuh Azka yang sipex. Menyisakan tetesan tetesan air yang masih menempel pada tubuhnya. Otot-otot yang mengintip dari balik kulitnya yang putih. menamba kesan maskulin padanya.

"Astagfirullahhaladim"

"Belum pernah lihat cowok telanjang dada?" goda Azka.

"Sebaiknya saya keluar dulu." Zahra beranjak dari ranjang. Namun Tak sengaja Kaki zahra tersandung membuat badannya tak seimbang dan akan jatuh. Azka yang tak jauh dari zahra

menangkap tubuh kecil tersebut. Mengakibatkan tubuh zahra jatuh diatas tubuh Azka. Kedua mata mereka saling bertemu, membut zahra tersipu malu.

"Setidaknya lo bisa kan lebih berhati hati sedikit"

"Maaf mas."

"Cepetan bangun"

"Iya" zahra pun bangkit dan berdiri

"Lo gak usah keluar kamar, nanti gwe suruh Ratna buat nganterin sarapan buat lo."

"Iya Mas."

Azka pun sudah berangkat kekantor. Sedangkan Zahra hanya bisa berbaring diranjang seharian.

Terpopuler

Comments

Kumur-kumur

Kumur-kumur

sixpack Thor bukan sipex

2021-04-18

0

Muhayati Imuh

Muhayati Imuh

ralat thor bukan sipex tapi six pack

2021-03-08

0

Raidoh Salmaz

Raidoh Salmaz

maaf thor kalau boleh ngasih masukan, tlg tulisan istigfarnya di benarin ya yg bagian blkangnya jgn gunakan huruf "D" tapi pakai huruf "Z,atau Zal" itu yg benar biar g menyalahi maknanya

2021-02-06

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 Pesta Pernikahan
2 Episode 2 Sarapa Pagi
3 Episode 3 Perayaan Penyambutan
4 Episode 4 Teman Baru
5 Episode 5 Kunjungan Papa Mama
6 Episode 6 Panti Asuhan
7 Episode 7 Membeli Kue
8 Episode 8 Bulan Madu
9 Episode 9 Kilas Balik
10 Episode 10 Festival Topeng
11 Episode 11 Jalan-jalan
12 Episode 12 Pulang ke Rumah
13 Episode 13 Suara Petir
14 Episode 14 Makan Siang
15 Episode 15 Pergi Ke Mall
16 Episode 16 Azka yang kembali Marah
17 Episode 17 Teraktiran
18 Episode 18 Rencana Hendra
19 Episode 19 Zahra yang Ingin bicara
20 Episode 20 Pesta Opening Resort
21 Episode 21 Zahra yang Menghilang
22 Episode 22 Anting-anting
23 Episode 23 Sikap Zahra
24 Episode 24 Kemarahan Azka
25 Episode 25 Kabar dari Desa
26 Episode 26 Menanam Padi
27 Episode 27 Candaan Azka
28 Episode 28 Malam penyatuan
29 Episode 29 Ayunan
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 30
41 Episode 31
42 Episode 32
43 Episode 33
44 Episode 34
45 Episode 35
46 Episode 36
47 Episode 37
48 Episode 38
49 Episode 39
50 Episode 40
51 Episode 41
52 Episode 42
53 Episode 43
54 Episode 44
55 Episode 45
56 Episode 46
57 Episode 47
58 Episode 48
59 Episode 49
60 Episode 50
61 Episode 51
62 Episode 52
63 Episode 53
64 Episode 54
65 Episode 55
66 Episode 56
67 Episode 57
68 Episode 58
69 Episode 59
70 Episode 60
71 Episode 61
72 Episode 71
73 Episode 63
74 Episode 64
75 Episode 65
76 Episode 66
77 Episode 67
78 Episode 68
79 Episose 69
80 Episode 70
81 Episode 71
82 Episode 72
83 Episode 73
84 Episode 74
85 Episode 75
86 Episode 76
87 Episode 77
88 Episode 78
89 Episode 79
90 Episode 80
91 Episode 81
92 Episode 82
93 Episode 83
94 Episode 84
95 Episose 85 Perjuangan Azka
96 Episode 86 Nafsu Makan
97 Episode 87 Menyelinap Masuk
98 Episode 88 Hari pertama Check Up
99 Episode 89
100 90 Pengakuan Milea
101 Episode 91 Pembicaraan Azka dan Leo
102 Episode 92 Tamu
103 Episode 93 Rere
104 Episode 94 Kembalinya ingatan Zahra
105 Episode 95 Membalut luka Azka
106 Episode 96 Aksi Nekat Azka
107 Episode 97 Azka yang Merasa Kesal
108 Episode 98 Kejutan Reka
109 Episode 99 Bercandak
110 Episode 110 Mama Sisi
111 Episode 111 Kecemasan Zahra
112 Episode 112 Kena Batunya
113 Episode 113 Kabar buruk
114 Episode 114 Pulang ke Rumah
115 Episode 115 Kesal karena Cemburu
116 Episode 116 Menelepon Kak Reka
117 Episode 117 Akhirnya Zahra yang mau cerita
118 Episode 118 Krim Kue
119 Episode 119 Menjenguk
120 Episode 120 Pembicaraan
121 episode 121 Area Permainan
122 Episode 122 Sisi yang bersembunyi
123 Episode 123 Anak Kecil yang Menggemaskan
124 Episode 124 Kebiasaan Azka
125 episode 125 Pagi
126 Episode 126 Pencarian Sisi 1
127 Episode 127 Pencarian Sisi 2
128 Episode 128 Azka yang Merasa Tergoda
129 Episode 129 Es krim
130 Episode 130 Es Krim part 2
131 episode 131 Pesta Part 1
132 Episode 132 Pesta Part 2
133 Episode 133 Pesta Part 3
134 Episode 134 Mengikuti Sisi
135 Episode 135 Berbicara dengan Milea
136 Episode136 Telepon
137 Episode 137
138 Episode 138 Terbongkarnya Rahasia Milea
139 Episode 139 Pengejaran Milea
140 Episode 140
141 Episode 141 Kekalahan Milea
142 Episode 142 Membawa Sisi ke rumah sakit
143 Episode 143 Di Rumah Sakit
144 Episode 144 Azka Zahra
145 Episode 145 Keadaan Sisi
146 Episode 146 Rahasia
147 Episode 147
148 Episode 148 Sel Penjara
149 Episode 149 Sel Penjara 2
150 Episode 150 Berkumpul Bersama
151 Episode 151 kopi panas
152 Episode 152 Mengobati luka
153 Episode 153 Kedatangan Ibu yang Mendadak
154 Eoisode 154 Kucing dan Tikus
155 Episode 155 Permintaan Terakhir
156 Episode 156 Akhir Cerita (the end)
157 Episode tambahan
158 (Musim Ke 2)
159 Mabuk
160 Pertikaian
161 Teringat Masa Lalu
162 Pembicaraan
163 Makan Siang
164 Ingatan Masa Lalu
165 Rumah Sisi
166 Ice Skating
167 Alasan di balik semuanya
168 Wanita yang kemarin
169 Marah
170 Apartemen
171 Kembali teringat
172 Mengendap-ngendap
173 video
174 Hukuman di batalkan
175 Kelakuan aneh Clara
176 Meminta Motor
177 Toilet wanita
178 Menggambar seseorang
179 Tak sengaja menguping
180 Ruang Kesehatan
181 Pergi Ke Kantor
182 Hubungan yang semakin membaik
183 Salah paham
184 Kalung
185 Tak terkendali
186 Ditolong Rio kembali
187 Keganjilan
188 Aisyah 1
189 Aisyah 2
190 Pesan dari Rio
191 Bipolar
192 Bertolak belakang
193 Makan Malam
194 EPISODE 194
195 Pemaksaan
196 Ke perusahaan Relive
197 Anak Kecil Penjual Bunga
198 Cafetaria kantor
199 Kejadian yang di alami Milea
200 Mencari seorang Wanita
201 Tante Bunga
202 Pernyataan Cinta Rio
203 Pernikahan
204 Tidak sesuai ekspektasi
205 Amplop coklat
206 Pembahasan tentang Zahra
207 Bulan Madu
208 Sebuah titik terang
209 Melapor ke Kantor Polisi
210 Kembali ke hotel
211 Yanti yang kembali
212 Orang-orang mencurigakan
213 Pulang ke Rumah
214 Penjelasan Yanti
215 Kiss
216 Bertemu seseorang
217 Clara yang memasak
218 Brangkas Rahasia
219 Apakah sebuah pilihan yang benar?
220 Clara yang pergi
221 Sambal
222 Kelaparan
223 Masuk ke kamar Adam
224 Reza mengenal Arum?
225 Prasangka Rio kepada Paman Sam
226 Panti Asuhan Palangi
227 Vidio Call
228 Kejujuran yang memperburuk
229 Hobi Clara yang suka ngilang
230 Siapa laki-laki itu?
231 Azka yang tahu, siapa Rio sebenarnya?
232 Kecoa vs Cicak
233 Diawasi
234 Meminta bantuan
235 Berunding
236 Terbawa mimpi masa lalu
237 Mogok Makan
238 Kabur
239 Hati yang kembali berdebar
240 kedatangan yang tak diinginkan
241 Ciuman kejutan
242 Azka yang tergesa-gesa
Episodes

Updated 242 Episodes

1
Episode 1 Pesta Pernikahan
2
Episode 2 Sarapa Pagi
3
Episode 3 Perayaan Penyambutan
4
Episode 4 Teman Baru
5
Episode 5 Kunjungan Papa Mama
6
Episode 6 Panti Asuhan
7
Episode 7 Membeli Kue
8
Episode 8 Bulan Madu
9
Episode 9 Kilas Balik
10
Episode 10 Festival Topeng
11
Episode 11 Jalan-jalan
12
Episode 12 Pulang ke Rumah
13
Episode 13 Suara Petir
14
Episode 14 Makan Siang
15
Episode 15 Pergi Ke Mall
16
Episode 16 Azka yang kembali Marah
17
Episode 17 Teraktiran
18
Episode 18 Rencana Hendra
19
Episode 19 Zahra yang Ingin bicara
20
Episode 20 Pesta Opening Resort
21
Episode 21 Zahra yang Menghilang
22
Episode 22 Anting-anting
23
Episode 23 Sikap Zahra
24
Episode 24 Kemarahan Azka
25
Episode 25 Kabar dari Desa
26
Episode 26 Menanam Padi
27
Episode 27 Candaan Azka
28
Episode 28 Malam penyatuan
29
Episode 29 Ayunan
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 30
41
Episode 31
42
Episode 32
43
Episode 33
44
Episode 34
45
Episode 35
46
Episode 36
47
Episode 37
48
Episode 38
49
Episode 39
50
Episode 40
51
Episode 41
52
Episode 42
53
Episode 43
54
Episode 44
55
Episode 45
56
Episode 46
57
Episode 47
58
Episode 48
59
Episode 49
60
Episode 50
61
Episode 51
62
Episode 52
63
Episode 53
64
Episode 54
65
Episode 55
66
Episode 56
67
Episode 57
68
Episode 58
69
Episode 59
70
Episode 60
71
Episode 61
72
Episode 71
73
Episode 63
74
Episode 64
75
Episode 65
76
Episode 66
77
Episode 67
78
Episode 68
79
Episose 69
80
Episode 70
81
Episode 71
82
Episode 72
83
Episode 73
84
Episode 74
85
Episode 75
86
Episode 76
87
Episode 77
88
Episode 78
89
Episode 79
90
Episode 80
91
Episode 81
92
Episode 82
93
Episode 83
94
Episode 84
95
Episose 85 Perjuangan Azka
96
Episode 86 Nafsu Makan
97
Episode 87 Menyelinap Masuk
98
Episode 88 Hari pertama Check Up
99
Episode 89
100
90 Pengakuan Milea
101
Episode 91 Pembicaraan Azka dan Leo
102
Episode 92 Tamu
103
Episode 93 Rere
104
Episode 94 Kembalinya ingatan Zahra
105
Episode 95 Membalut luka Azka
106
Episode 96 Aksi Nekat Azka
107
Episode 97 Azka yang Merasa Kesal
108
Episode 98 Kejutan Reka
109
Episode 99 Bercandak
110
Episode 110 Mama Sisi
111
Episode 111 Kecemasan Zahra
112
Episode 112 Kena Batunya
113
Episode 113 Kabar buruk
114
Episode 114 Pulang ke Rumah
115
Episode 115 Kesal karena Cemburu
116
Episode 116 Menelepon Kak Reka
117
Episode 117 Akhirnya Zahra yang mau cerita
118
Episode 118 Krim Kue
119
Episode 119 Menjenguk
120
Episode 120 Pembicaraan
121
episode 121 Area Permainan
122
Episode 122 Sisi yang bersembunyi
123
Episode 123 Anak Kecil yang Menggemaskan
124
Episode 124 Kebiasaan Azka
125
episode 125 Pagi
126
Episode 126 Pencarian Sisi 1
127
Episode 127 Pencarian Sisi 2
128
Episode 128 Azka yang Merasa Tergoda
129
Episode 129 Es krim
130
Episode 130 Es Krim part 2
131
episode 131 Pesta Part 1
132
Episode 132 Pesta Part 2
133
Episode 133 Pesta Part 3
134
Episode 134 Mengikuti Sisi
135
Episode 135 Berbicara dengan Milea
136
Episode136 Telepon
137
Episode 137
138
Episode 138 Terbongkarnya Rahasia Milea
139
Episode 139 Pengejaran Milea
140
Episode 140
141
Episode 141 Kekalahan Milea
142
Episode 142 Membawa Sisi ke rumah sakit
143
Episode 143 Di Rumah Sakit
144
Episode 144 Azka Zahra
145
Episode 145 Keadaan Sisi
146
Episode 146 Rahasia
147
Episode 147
148
Episode 148 Sel Penjara
149
Episode 149 Sel Penjara 2
150
Episode 150 Berkumpul Bersama
151
Episode 151 kopi panas
152
Episode 152 Mengobati luka
153
Episode 153 Kedatangan Ibu yang Mendadak
154
Eoisode 154 Kucing dan Tikus
155
Episode 155 Permintaan Terakhir
156
Episode 156 Akhir Cerita (the end)
157
Episode tambahan
158
(Musim Ke 2)
159
Mabuk
160
Pertikaian
161
Teringat Masa Lalu
162
Pembicaraan
163
Makan Siang
164
Ingatan Masa Lalu
165
Rumah Sisi
166
Ice Skating
167
Alasan di balik semuanya
168
Wanita yang kemarin
169
Marah
170
Apartemen
171
Kembali teringat
172
Mengendap-ngendap
173
video
174
Hukuman di batalkan
175
Kelakuan aneh Clara
176
Meminta Motor
177
Toilet wanita
178
Menggambar seseorang
179
Tak sengaja menguping
180
Ruang Kesehatan
181
Pergi Ke Kantor
182
Hubungan yang semakin membaik
183
Salah paham
184
Kalung
185
Tak terkendali
186
Ditolong Rio kembali
187
Keganjilan
188
Aisyah 1
189
Aisyah 2
190
Pesan dari Rio
191
Bipolar
192
Bertolak belakang
193
Makan Malam
194
EPISODE 194
195
Pemaksaan
196
Ke perusahaan Relive
197
Anak Kecil Penjual Bunga
198
Cafetaria kantor
199
Kejadian yang di alami Milea
200
Mencari seorang Wanita
201
Tante Bunga
202
Pernyataan Cinta Rio
203
Pernikahan
204
Tidak sesuai ekspektasi
205
Amplop coklat
206
Pembahasan tentang Zahra
207
Bulan Madu
208
Sebuah titik terang
209
Melapor ke Kantor Polisi
210
Kembali ke hotel
211
Yanti yang kembali
212
Orang-orang mencurigakan
213
Pulang ke Rumah
214
Penjelasan Yanti
215
Kiss
216
Bertemu seseorang
217
Clara yang memasak
218
Brangkas Rahasia
219
Apakah sebuah pilihan yang benar?
220
Clara yang pergi
221
Sambal
222
Kelaparan
223
Masuk ke kamar Adam
224
Reza mengenal Arum?
225
Prasangka Rio kepada Paman Sam
226
Panti Asuhan Palangi
227
Vidio Call
228
Kejujuran yang memperburuk
229
Hobi Clara yang suka ngilang
230
Siapa laki-laki itu?
231
Azka yang tahu, siapa Rio sebenarnya?
232
Kecoa vs Cicak
233
Diawasi
234
Meminta bantuan
235
Berunding
236
Terbawa mimpi masa lalu
237
Mogok Makan
238
Kabur
239
Hati yang kembali berdebar
240
kedatangan yang tak diinginkan
241
Ciuman kejutan
242
Azka yang tergesa-gesa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!