Jam dinding menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Semua orang masih tertidur pulas dengan mimpi mimpi mereka. Namun Zahra terbangun dari tidurnya.Ia merasakan ada sesuatu yang menindih kedua kakinya.
"Kenapa kakiku terasa berat, seperti ditindih sesuatu." batin zahra. Zahra pun membuka selimutnya.
Terlihat sebuah kaki diatas kedua kakinya. ia pun membalikkan tubuhnya.
"Mas Azka... bukanya semalam tidur disofa, kenapa jadi tidur diranjang.? mungkinkah semalaman ia tidur disampingku?" pertanyaan yang muncul dihati Zahra. Ini kali pertama ia dapat melihat wajah sang suami dengan begitu dekat. ia dapat melihat setiap guratan diwajah suaminya.
"Bahkan saat tidur saja mas Azka masih terlihat sangat tampan." ucap zahra dalam hati. Azka yang tidur dengan begitu pulas tak menyadari istrinya yang memandanginya saat tertidur.
Zahra dengan pelan-pelan memindahkan kaki suaminya. Ia berusaha agar tidak membangunkan Azka. Setelahnya Zahra melangkah pergi kekamar mandi, mengambil wudhu untuk bersiap sholat tahajud. Didalam setiap doa yang dipanjatkan seusai ia sholat. zahra tak lupa menyebutkan nama suaminya. Dan memohon kelanggengan untuk rumah tangganya.
Setelah masuk waktu subuh dan selesai sholat. zahra bergegas menuju kedapur untuk membuat sarapan. Ia sengaja memasak lebih awal, karna semua keluarga Azka ada disini. Ia ingin membuat sarapan yang sepesial untuk mereka semua. Dan sampai akhirnya masakan Zahra telah matang. Menyusun dengan rapi diatas meja.
"Kak Zahra sedang membuat sarapan?" tanya Ratna yang baru turun dari tangga.
"Iya Ratna, kakak baru saja selesai membuat sarapan." balas zahra.
"Kakak kenapa gak bangunin aku, aku kan bisa bantuin kakak tadi."
"Gak apa apa, kakak gak mau ngrepotin kamu, lagian ini juga udah selesai kog."
"ih... kak zahra, aku kan juga mau belajar masak sama kakak. Besok-besok lagi kalau kak Zahra masak harus wajib ngajak aku loh." pinta Ratna.
"Iya Ratna, kakak juga kan gak tau kalau kamu mau belajar masak. Entar kalau kakak masak lagi pasti kakak ngajak kamu deh."
"Oke...Kalau gitu Ratna panggil mama sama papa buat sarapan ya kak"
"Ya, kakak juga mau manggil Mas Azka dulu."
"Tok....tok....tok.."
"Masuk"
"Mas sarapanya udah siap."
"Ya,bentar lagi gwe turun." Azka yang masih sibuk merapikan pakaianya.
"Mas Azka mau dibuatkan minuman apa?" tanya Zahra.
"Kopi dengan sedikit gula."
"Kalau begitu saya kebawah dulu."
"Em.."
Semua telah berkumpu dimeja makan.
"Jadi apakah kalian sudah memutuskan mau berbulan madu kemana??" tanya papa.
"Belum pa" jawab Azka.
"Ehem....hem.. Begini Azka mama papa sudah memutuskan selama kalian belum berbulan madu kami akan tetap tinggal disini. Jadi mama harap kalian tak terlalu terburu-buru."
" Ayolah mah, gak perlu berlebihan kayak gitu." ucap Azka.
"Berlebihan bagaimana mama kan cuma pengen lebih deket sama menantu mama apakah itu salah."
"Ya gak salah si ma, tapi kan mama papa sudah punya rumah sendiri yang lebih mewah, jadi untuk apa tinggal disini."
"Ratna setuju sama mama, Ratna juga baru mau belajar masak sama kak zahra jadi gak masalah mau tinggal disini lebih lama"
"Tu kan adekmu aja setuju."
"Diem aja kamu ceking. Gak usah ngikut-ngikut."
"Iiihhh kak azka.... Kakak sendiri tu yang ceking, makanya ngaca donk...!! Lagian kak zahra juga gak keberatan kenapa kakak harus ngotot."
"Sudah sudah ini kan lagi ada dimeja makan kenapa kalian jadi pada ribut. Seperti yang dibilang mama kalian kami akan tinggal disini sampai kalian pergi berbulan madu." lerai papa.
"Tapi pa, kami kan baru saja menikah. Jadi apa gak sebaiknya kalau papa sama mama memberikan waktu bagi kami berdua tinggal disini sendiri. Kami masih perlu waktu untuk mengenal satu sama lain." jelas Azka.
"Tenang aja mama sama papa gak bakalan ganggu kalian berdua. lagian mama sama papa juga pernah muda. Jadi mana mungkin ganggu kalian. Bener kan pa??" ucap mama.
"Bener yang diucapin mamamu. Jadi kalian berdua tenang saja." imbuh papa.
"Kalau sudah begini, Azka nyerah deh. Azka mau pergi kekantor dulu." ucap Azka.
" Kamu gak nganter zahra kekampus dulu??."
"Gk perlu ma, Zahra bisa pergi naik taksi kok. Nanti mas azka bisa telat kalau nganterin Zahra."
"Mas tunggu didepan" ucap Azka.
"Tapi mas.."
"Gak ada tapi tapian buruan nanti keburu macet."
"Iya mas. Saya ambil tas dulu."
"Mah pa, azka berangkat dulu ya."
"iya hati hati ya sayang."
"Zahra juga berangkat dulu ya mah. Assalamualaikum." sambil mencium tanga mama dan papa.
"Walaikumsalam."
Didalam mobil, Zahra hanya diam tanpa berkata kata. Sedangka Azka bersikap dingin seperti biasa.
"Jam berapa loe pulang kuliah??"
Tanya Azka menyapu keheningan.
"Sekitar nanti jam 1 siang, ada apa mas tanya seperti itu?"
"Berhubung mama sama papa masih tinggal dirumah, aq akan menjemputmu sepulang kuliah. Dan soal semalem, mendadak mama dateng kekamar, jadi kepaksa gwe tidur diranjang. So...untuk berjaga-jaga selama mama sama papa masih menginap, kita tidur seranjang. Terus jangan pernah sekali-kali lo mikir gwe suka tidur seranjang sama lo, itu semua cuma sekerdar sandiwara."
"Iya mas, saya mengerti."
"Bagus deh kalau lo paham"
Mereka kembali lagi pada keheningan sewaktu perjalanan. Sampai didepan kampus mobil berhenti.
"Jangan lupa nanti siang gwe jemput"
"Iya mas, terima kasih sudah mau nganterin."
Azka tanpa berbicara lagi langsung saja pergi. Begitu pula zahra berjalan memasuki kampus.
" Zahra, tunggu" suara seseorang memanggilnya
"Sisi"
"Oh ya, tadi gwe dari depan. Trus gwe liahat kamu dianterin sama cowok. Apakah itu suamimu??"
"Iya, itu Mas Azka."
"Wah...wah ..wah pantes aja hari ini wajahmu kelihatan lebih sumringah. Ternyata dianterin sang suami to."
"Kamu ini... paling jago kalau godain orang."
"Hehehe iya donk. Ya udah kekelas bareng yuk...!!" ajak Sisi.
"Em...."
1 jam sebelum Azka menjemput zahra.
"Sisi temenin aku yuk!!" ajak zahra.
"Emang kamu mau kemana??" tanya sisi.
"Udah lah nanti kamu juga bakal tau."
"Oke, berhubung kuliah udah selesai trus aku gak tau mau ngapain. Dengan senang hati aku mau nemenin kamu."
"Memang kamu yang terbaik."
"Iya donk. Siapa lagi kalau bukan aku." jawab sisi sambil tertawa.
"Ya udah, buruan yuk. Keburu Mas Azka jemput aku."
Dengan mobil Sisi mereka melesat ketempat tujuan.
"Berhenti" ucap zahra.
"Disini tempatnya??" tanya Sisi
"Iya disini tempatnya, terus bantuin aku untuk bawa barang-barang ini."
"Oke, biar yang itu aku bawain."
Mereka berdua masuk kedalam. Ditempat itu dipenuhi dengan anak-anak. Ada sebagian dari mereka yang bermain, kejar-kejaran, belajar dan masih banyak lagi. Zahra bertemu seseorang yang bertanggung jawab ditempat itu.
"Ada yang bisa saya bantu mbk??"
"Begini buk, sebelumnya saya minta maaf apabila kedatangan saya menggagu. Sebenarnya saya datang kesini punya niatan pengen sedikit berbagi dengan anak-anak dipanti asuhan ini. Jadi saya meminta persetujuan dari ibuk. Apakah ibu tidak keberatan untuk itu??"
"Tentu saja ibuk tidak keberatan sama sekali, justru ibu malah seneng dizaman sekarang masih ada orang-orang muda sepeti kalian perduli dengan anak-anak dipanti asuhan seperti ini. Sebelumnya kalian belum memperkenalkan diri, kalau boleh tau siapa nama mbak mbak ini??"
"Iya saya lupa memperkenalkan diri, saya Zahra sedangkan ini teman saya Sisi, kami mahasisawi dari universitas keperawatan."
"Panggil saja saya Ibu Nur, kalau begitu langsung saja kalian bisa bertemu anak-anak sekarang sambil memperkenalkan diri kalian."
"Baiklah buk Nur."
Sisi dan Zahra terlihat begitu bahagia bertemu dan bermain dengan anak-anak panti asuhan itu. Namun ada satu anak yang mencuri perhatian Zahra pada saat itu. Seorang anak perempuan yang duduk diayunan sambil memeluk boneka beruang. Sang anak hanya berdiam diri sendirian tanpa ikut bergabung dan bermain dengan yang lainya. Wajahnya tertutupi dengan aura kesedihan. Entah pristiwa apa yang telah menimpanya.
"Anak itu bernama Laras." Ibu Nur yang datang dengan tiba-tiba mengejutkan zahra.
"kedua orang tua dan keluarganya tewas karna pembunuhan dan hanya dia yang selamat. Karna tidak ada saudara yang mengurusnya dia dikirimkan kepanti asuhan ini 1 tahun yang lalu. Semenjak datang kesini dia jarang sekali berbicara, bahkan ia tidak bergabung dengan yang lainnya. Dia selalu nenyendiri dan memeluk boneka yang satu-satunya ia bawa kesini. Namun semenjak Mas Hendra datang dan berusaha berkomunikasi denganya ada sedikit kemajuan dari Laras. Laras selalu menunggu kedatanganya diayunan itu. Sepertinya kamu juga bisa mendekati Laras, cobalah bicara dengannya." menepuk pundah Zahra.
Zahra mencoba mendekati Laras.
"Hai apakah aku boleh duduk diayuna bersmamu?" tanya zahra.
Laras tak merespon pertanyaan Zahra.
"Kalau kamu diam saja, itu tandanya kamu tidak keberatan." seperti patung Laras tak merespon sama sekali.
"Namaku zahra, kalau nama adik siapa??"
"Namanya Laras, dia jarang berbicara, jadi aku harap kamu dapat memakluminya." jawab seorang laki-laki muda yang tiba-tiba saja muncul.
"Tentu saja, saya juga sudah diberi tahu sama ibu Nur tentang kondisi Laras."
"Jadi begitu, oh ya aku Hendra kalau gak salah tadi kamu bilang namamu zahra kan??"
"Iya nama saya zahra, ibu nur juga telah bercerita tentangmu kepada saya."
"Benarkah, sepertinya aku cukup populer untuk dibicarakan."
"Bu..bukan begitu, saya sedikit tertarik melihat Laras yang berdiam diri sendirin, dan Ibu Nur melihat saya, kemudian beliau menceritakan tentang Laras, berhubung kamu orang yang dekat dengan laras beliau juga bercerita tentang kamu. Itu pun cuma cerita kedekatanmu dengan Laras. cuma itu saja."
"Santai saja aku juga cuma bercandak kok."
Dia berjongkok dan menyodorkan sebuah coklat kepada Laras. Laras menerima coklat tersebut dan tak disangka ia mengatakan. "Terima kasih kak"
"Sama-sama" ardi tersenyum manis.
"Em.. sepertinya sudah waktuku untuk pergi sekarang. Saya senang dapat bertemu denganmu Laras begitu pula denganmu Hendra."
"Aku juga senang dapat bertemu wanita cantik sepertimu zahra. Semoga kita dapat bertemu kembali."
"Sepertinya kamu terlalu berlebihan. Kalau gitu saya pamit dulu. Daa... Laras." melambaikan tangan.
Zahra dan Sisi kembali kekampus, kebetulan jarak kampus dengan panti asuhan tadi berdekatan. Jadi tidak memerlukan waktu lama untuk kembali. Sesampainya di kampus zahra dan sisi berpisah. Sisi pulang duluan sedangkan Zahra menanti Azka untuk menjemputnya.
Sementara itu dikantor, Azka sedang menikmati makan siang dengan Rere. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran.
Rere memang sengaja membawakan makan siang untuk Azka. Diruang kerja yang hanya ada mereka berdua. Selayaknya seorang kekasih Rere menyuapi Azka begitu pula sebaliknya. Azka seakan melupakan tentang akan menjemput Zahra selepas kuliah. Terlihat dari jendela ruangan sepertinya cuaca diluar sedang tidak bagus. Mungkin saja akan turun hujan. Mereka berdua bermesraan didalam ruangan sedangkan Zahra diluar menunggu suaminya datang. Hujan mulai mengguyur bumi. Zahra mencari tempat untuk berteduh. Ia mencari tempat yang setidaknya suaminya dapat melihatnya. Jadi sang suami tak perlu keluar mobil untuk mencarinya. Hujan semakin deras disertai suara sambaran petir yang mengglegar. Zahra yang tinggal seorang diri didepan kampus mulai ketakutan. ia memang sedikit takut dengan suara petir yang menyambar. Namun ia tetap setia menunggu kedatangan Azka untuk menjemputnya. Mungkin sudah hampir 2 jam lebih ia menunggu. Tapi suaminya tak kunjung datang. Sebenarnya Zahra bisa pulang sendiri dengan taxsi namun itu pasti menambah masalah untuk suaminya. Ia tidak ingin suaminya kena marah oleh mama apalagi dengan keadaanya yang basah terkena air hujan seperti ini. Pasti mama akan sangat marah sama Mas Azka. Hari semakin sore, hujan pun tak kunjung reda. Tubuh Zahra mulai kedinginan. Dengan keadaannya yang seperti itu ia bisa jatuh sakit. Mendadak sebuah mobil berhenti didekatnya. Seseorang turun dari mobil lalu menghampirinya.
"Apa lo gila, kenapa lo masih ada disini. Semua orang cemas mikirin lo. Ayo pulang."
"Mas Azka... akhirnya kamu datang Mas." Zahra jatuh pingsan.
"Zahra...zahra... bangun zahra, kenapa jadi kayak gini si." Azka pun mengendong zahra masuk kemobil.
Sampai dirumah. Azka menggendong zahra.
"Ya allah..Aksa, apa yang terjadi pada zahra. Kenapa bisa kayak gini?" ucap mama yang khawatir.
"Cepet kak bawa masuk kak zahra." pinta Ratna.
Zahra dibawa masuk kekamar.
"Ratna kamu ambilin air hangat dulu." printah mama
"Zahra gak papa kan mah??" tanya Azka.
"Mama gak tau, sebaiknya kamu keluar dulu biar mama ganti bajunya. Terus tolong kamu telepon dokter untuk datang kemari, cepetan."
"Iya mah Azka telepon dulu dokternya."berjalan keluar kamar.
"Doc, apa yang terjadi pada menantu saya doc?" tanya mama.
"Ibu gak perlu terlalu khawatir, Dia hanya demam dan magnya sempat kambuh karena belum makan. Tubuhnya juga kelelahan jadi biarkan dia untuk beristirahan sementara waktu. Saya akan memberikan obat dan pastikan saja saat dia bangun nanti untuk makan terlebih dahulu lalu minum obatnya." jelas doctor.
"Syukurlah kalau begitu, terima kasih doctor."
"Sama-sama, kalau begitu saya pamit pulang dulu."
"Oh iya doc, silahkan saya akan mengantarkan doctor sampai kedepan. Azka jaga Zahra malam ini ingat kan apa yang doktet katakan."
"Iya mah ,Azka jagain."
"Dan kamu Ratna ayo keluar biarkan mereka berdua beristirahat."
"iya mah."
semua orang telah keluar, menyisakan Azka dan Zahra didalam kamar.
"Perempuan bodoh, kenapa gak pulang saja. Sudah tau hujan tapi masih saja menunggu.
Sebegitu berharapnya ya lo untuk gwe jemput. Kalau akhirnya begini kan jadi tambah repot." duduk dikursi sebelah ranjang.
"kenapa gwe jadi merasa bersalah gini sie, itu kan salahnya sendiri, kenapa gak pulang aja. Ngapain masih nungguin gwe. Aaah... udahlah makin pusing gwe mikirnya." Azka menatap wajah zahra yang sedang tertidur.
"Kalau diperhatiin lumayan cantik juga nie cewek...aaaahh gila apa gwe. Bisa bisanya gwe mikir kayak gitu. Mendingan gwe tidur biar otak gwe normal kembali." gerutunya dalam hati. Azka tertidur dikursi didekat zahra.
Mulai terdengar suara Azan, zahra pun terbangun dari tidurnaya.
"Ah.... kepalaku pusing sekali"
Azka yang berada didekatnya pun ikut terbangum.
"Lo udah bangun. kalau gitu lo makan dulu deh. Eeh... lo mau kemana?" tanya azka.
"Saya mau sholat subuh dulu."
"Ya udah deh sebaiknya gwe panasin dulu buburnya habis itu lo makan ya, sekalian minum obat."
"Iya Mas"
Setelah sholat, Azka menyodorkan bubur kepada zahra.
"Ini makan udah gwe angetin."
"makasih mas"mengambil semangkok bibur yang Azka sodorkan
"Gwe gak habis pikir sama lo, kenapa lo kemarin masih ada disana. Kalau gwe gak dateng-dateng seharusnya lo pulang, gak usah nungguin gwe."
"Iya seharusnya saya pulang waktu itu, tapi saya gak mau kalau mas kena marah mama. Jadi saya meyakinkan diri saya kalau Mas Azka akan datang. Karna saya percaya sama Maz Azka. Makanya saya masih bertahan disana."
"Perasaan apa ini. kenapa jatung gwe berdetak semakin cepat. sepertinya gwe ketularan sakit nih..." batin Azka.
"Kalau gitu sebaiknya lo istirahat dulu dirumah. Soal kuliah biar nanti gwe mampir kekampus buat izinin lo. Ya sudah gwe mau mandi dulu buat siap-siap pergi kekantor."
"Iya Mas."
Beberapa menit kemudian Azka keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk dibagian bawahnya. Memperlihatkan bentuk tubuh Azka yang sipex. Menyisakan tetesan tetesan air yang masih menempel pada tubuhnya. Otot-otot yang mengintip dari balik kulitnya yang putih. menamba kesan maskulin padanya.
"Astagfirullahhaladim"
"Belum pernah lihat cowok telanjang dada?" goda Azka.
"Sebaiknya saya keluar dulu." Zahra beranjak dari ranjang. Namun Tak sengaja Kaki zahra tersandung membuat badannya tak seimbang dan akan jatuh. Azka yang tak jauh dari zahra
menangkap tubuh kecil tersebut. Mengakibatkan tubuh zahra jatuh diatas tubuh Azka. Kedua mata mereka saling bertemu, membut zahra tersipu malu.
"Setidaknya lo bisa kan lebih berhati hati sedikit"
"Maaf mas."
"Cepetan bangun"
"Iya" zahra pun bangkit dan berdiri
"Lo gak usah keluar kamar, nanti gwe suruh Ratna buat nganterin sarapan buat lo."
"Iya Mas."
Azka pun sudah berangkat kekantor. Sedangkan Zahra hanya bisa berbaring diranjang seharian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
Kumur-kumur
sixpack Thor bukan sipex
2021-04-18
0
Muhayati Imuh
ralat thor bukan sipex tapi six pack
2021-03-08
0
Raidoh Salmaz
maaf thor kalau boleh ngasih masukan, tlg tulisan istigfarnya di benarin ya yg bagian blkangnya jgn gunakan huruf "D" tapi pakai huruf "Z,atau Zal" itu yg benar biar g menyalahi maknanya
2021-02-06
0