"Gak ada yang ketinggalan kan?" tanya mama.
"sepertinya gak ada ma. Sudah semuanya." jawab azka
"Kak jangan lupa oleh olehnya." gurau Ratna.
"ih dasar setan kecil. Iya entar kalau pulang kakak bawain yang banyak, sekalin sama beruang gunung biar kamu dijadiin cemilannya.(hahaha)" azka tertawa puas.
"Gak lucu tau" Ratna memonyongkan bibirnya.
"Zahra kalau kamu nanti diapa apain sama Azka bilang saja sama mama biar nanti mama kasih pelajaran keazka."
"Mama ini, namanya saja bulan madu pastilah kalau diapa-apain. Kalau gak diapa-apain ngapain juga pergi bulan madu." Sela papa
"Oh iya ya pa." mama tersenyum "Maksud mama kalau Azka berani nyakitin kamu kamu bilang saja kemama oke?"
"Iya ma, terima kasih atas perhatian mama."
"Ya udah ma pa, Azka sama zahra pergi dulu." melangkah pergi.
"Jangan lupa bawa cucu yang banyak buat mama sama papa ya!" ucap mama dengan nada suara sedikit keras.
"Ih.. mama ini malu maluin aja." kata azka dalam batinnya.
Azka dan Zahra pergi keVenesia- Italia untuk berbulan madu. Namun berbeda dengan bayangang kedua orang tuanya. Mereka hanya menganggap ini sebagai hiburan. Tak akan ada hal yang sepesial yang akan terjadi diantara mereka berdua. Azka sudah merancang untuk semuanya. Sesampainya dihotel Azka memesan 2 kamar untuk mereka berdua.
"Sebaiknya lo istirahat. besok paginya kita baru akan pergi keluar." jelas Azka.
"Iya mas." zahra masuk kedalam kamarnya.
Keesokan harinya. "tok tok tok" zahra membuka pintu. "Gwe tunggu lo dilobi, kita sarapan diluar." ucap Azka
"Baik mas"
Mereka berdua memasuki mobil menuju restoran untuk sarapan pagi. Tanpa adanya perbincangan mereka hanya duduk diam. Sampainya direstoran setelah Azka memesan, dia mulai membuka percakapan.
"Setelah sarapan kita jalan masing-masing. Terserah loe mau kemana yang terpenting sebelum jam 4 sore loe sudah harus kembali kehotel. Apa loe paham?" jelas Azka
"Iya mas saya paham. Tapi....mas... saya gak punya pengalaman untuk berjalan-jalan sendiri diluar negri, kalau boleh selama disini saya ingin bersama Mas Azka. Saya berjanji gak akan membuat Mas Azka kesulitan. Saya juga akan menjaga jarak dengan mas. Jadi mas gak perlu khawatir."
"Jika itu yang loe takutkan. Gwe udah siapkan pemandu tur buat nemenin loe jalan-jalan disini. Jadi loe gak perlu capek-capek ngintilin gwe pergi. Apa itu sudah cukup membatu?"
"Jika mas sudah memutuskan seperti itu, maka saya hanya bisa menerimanya. Dan terima kasih atas bantuan dari Mas Azka."
"Baiklah kalau begitu, gwe pergi dulu. Loe tunggu disini nanti ada seseorang yang akan menjeput loe. Selamat bersenang-senang." Berjalan pergi meninggalkan Zahra.
"Jika ini yang terbaik buat mas. Selama mas bahagia saya akan menanggung rasa sakit ini sendiri. Aku masih bisa bersyukur karena mas masih memberikan perhatian untuk saya." dalam batin zahra.
Setelah meninggalkan Zahra, Azka menelusuri venesia sendirian. Ia menikmati keindahan dari kota Vanesia. Kota diatas air ini memiliki daya tariknya sendiri.
Bangunan-bangunan tua yang memiliki arsitektur yang unik dengan nuansa lama tersendiri memberikan jepretan foto yang diambil tampak indah dan artistik seperti dalam sebuah lukisan. Maka tak heran jika kota Venesia disebut-sebut sabagai kota terindah dan romantis di Eropa. Azka kini sedang berada di St. Mark's Square (Piazza San Marco) atau alun-alun kota.
"Bruk" Azka bertabrakan dengan seseorang.
"Oh..I'm sorry. I accidentally"
"It's okay, no problem" ucap Azka
"Azka...???" ucap seorang yang azka tabrak.
"Rere..kenapa kamu bisa disini??" tanya Azka yang terkejut bertemu Rere.
"Aku menemani seorang teman yang sedang berlibur. Lalu kamu??" tanya balik Rere.
"Aku juga sedang belibur. Kebetulan sekali kita dapat bertemu disini. Mungkinkah ini takdir.??" tersenyum manis.
"Mungkin saja. Apakah kamu berlibur sendiri??"
"Andaikan saja bisa begitu." jawab Azka.
"Tunggu dulu.... Apa mungkin yang kamu maksud berlibur adalah berbulan madu?"
"Came on Rere, jangan membahas itu denganku saat ini."
"Aku tahu apa yang kamu inginkan. Tapi kemana istrimu?"
"Selama ada disini aku berpisah dengannya. Kita berjalan sendiri-sendiri."
"Kamu jahat Azka, membiarkan istrimu berkliaran sendirian. Apa kamu tidak takut akan terjadi sesuatu dengannya?"
"Untuk apa aku mengkwatirkan cewek kampung itu. Dia bisa menjaga dirinya sendiri. Yang terpentingkan ada kamu sekarang. Temani aku berkeliling."
"Dasar cowok nakal"
"Tapi kamu suka kan??" mencubit hidung Rere.
"Tentu saja." Tersenyum sambil merangkulkan kedua tangannya keleher Azka.
Mereka berdua berkeliling menelusuri kota Venesia bersama-sama.
Disisi lain Zahra memilih duduk disebuah Caffe Florian.
Kebetulan caffe tersebut tak jauh berada disekitar Piazza San Marco. Zahra duduk sambil membaca sebuah buku. Mencoba menikmati keindahan Kota Venesia dengan caranya sendiri.
Sekilas zahra seperti melihat keberadaan Mas Azka. Ia mencoba memastikan apakah benar seseorang itu adalah mas Azka.
Zahra melihat dengan jarak yang lebih dekat.
Tapi sebuah kenyataan pahit harus Zahra rasakan. Tak dapat dipungkiri. Ia melihat Mas Azka berpelukan dengan seorang wanita yang tak lain adalah Mbak Rere. Begitu sakit hati zahra dengan apa yang telah ia lihat sekarang ini. Terasa sesak dada zahra bahkan sampai sulit untuk bernafas.
Butiran bening tak mampu lagi ia bendung. Mengalir bersama rasa sakit yang ia rasakan sekarang ini. Ia berlari tanpa tau arah dan tujuan. Tak perduli kemana langkah kaki akan membawanya pergi. Zahra masih terus saja menangis. Langkahnya berhenti disebuah lorong kecil. Ia berjongkok sambil memeluk kedua lututnya. Mencoba menenangkan dirinya yang sedang kacau. Sudah cukup lama Zahra seperti itu. Tanpa sadar hari sudah mulai gelap. Zahra tak tahu sekarang ia ada dimana. Ia terus berjalan untuk menemukan jalan kehotel. Sampai disebuah gang sempit dan sedikit gelap langkah zahra dihentikan oleh sekelompok pemuda. Zahra mulai cemas. Tubuhnya bergetar takut.
"Ya Allah lindungilah hambamu ini." berdoa dalam hati.
"Are you lost, miss??" (apakah kamu sedang tersesat, nona?) tanya salah satu pemuda.
"Go leave me..!!" (pergilah tinggalkan saya)
"Let us take you home miss!!" (biarkalah kita untuk mengantamu nona!!)
"I don't need to go home alone." (Tidak perlu saya bisa pulang sendiri)
"Came on, you don't need to be embarrassed." (ayolah, kamu tak perlu malu) salah satu dari mereka mencoba untuk mendekat.
"Do not came close!!" (jangan mendekat!!)
"Came on" (ayolah) memegang tangan zahra.
"Please, let me go!"(saya mohon, lepaskan saya) zahra mulai menangis.
Tiba-tiba saja Azka datang melepaskan tangang pemuda yang memegang paksa tangan zahra. "Let him go." (lepaskan dia).
"Damn it, don't meddle with you" (Sial, jangan ikut campur kamu) melayangkan tinju kearah Azka.
Tak butuh waktu lama Azka membuat mereka kabur meninggalkan tempat tersebut.
"Lo gak apa apa kan?" tanya Azka
"Saya tidak apa apa."
Azka melihat tangan zahra yang masih bergetar dan wajahnya yang terlihat pucat.
"Baiklah kalau gitu, sekarang kita pulang" ucap Azka.
Saat zahra melangkahkan kaki pergelangan kakinya terasa sakit. Dia berjalan pincang. Azka pun menyadarinya.
"Naik lah, gwe gendong" Azka berjongkok untuk menggendong Zahra dipundaknya.
"Tidak perlu, saya bisa jalan sendiri." menolak tawara Azka.
"Cepetan naik, jangan sampai membuat gwe ninggalin lo disini." mengancam.
Zahra terpaksa menuruti perkataan Azka. Menaikki punggungnya untuk digendong.
Saat digendong azka, zahra merasa sesuatu perasaan hangat dan nyama. Ia merasa aman berdekatan dengan azka. Tapi ia tidak dapat mengelak tentang rasa sakit hatinya masih ada.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
fitriani
y allah sampai segitunya azka sm rere.... y allah aku sampe nangis baca bab ini... sakit bgt rasanya🥺🥺🥺🥺🥺😭😭😭😭
2022-11-25
0
Roza Pracintee
rere plakor
2021-06-19
0
evita19
pasti si Rere sengaja ngikuti Azka Sampek ke italy, pake acara ketabrak lagi, ,
begitu banyak orang knp bs si Rere yg ditabrak coba, kesel aku Thor
2021-04-07
0