Setelah kejadian semalam. Mereka sama-sama tidak bisa tidur. Azka yang sengaja berangkat kekantor pagi-pagi sekali, agar dia tidak bertemu dengan Zahra. Sedangkan Zahra sudah terbiasa dengan ketidak adaan Azka dirumah. Seperti biasanya Zahra tetap berangkat kuliah. Walau pun matanya terlihat begitu sembab karena menangis semalaman. Tapi untuk menutupinya, Zahra bisa menggunakan kacamata kekampus. Setidaknya sembab dimatanya tidak terlihat begitu jelas.
"Zahra...disini" Sisi melambaikan tanganya.
"Kamu, pagi sekali sudah datang?"
"Em... toko lagi tutup, jadi libur bantuin mama hari ini. Ngomon-ngomong tumben banget kamu pakai kaca mata. Apa matamu sedang sakit?"
"Ooo ini, memang agak sakit.
Jadi jaga-jaga biar gak nularin kelainnya."
"Begitu. Denger-denger hari ini dosennya gak masuk. Kemungkinan jam kosong. Kita keluar yuk.!" Ajak Sisi.
"Yang bener, entar cuma kabar burung lagi."
"Seriusan, katanya juga udah ada konfirmasi dari dosennya juga. Udah deh percaya sama aku. Lagian mana mungkin sie aku bohongin kamu."
"Ya udah, kebetulan juga. Aku lagi butuh udara segar. Tapi kita mau kemana?" Tanya Zahra
"Em.... Gimana kalau ke Mall. Lagian udah lama juga kita gak kesana. Sekalian kita shoping. Sesekali mah, gak apa-apa yang penting gak keterusan. Gimana?"
"Baiklah, ayo kita jalan."
"Ah siap komandan."
Sampainya di Mall. Zahra dan Sisi mulai bersenang-senang. Meraka mondar mandir kesana kemari, pilih sana pilih sini. Melakukan semua hal yang meraka suka tak terkecuali
menimbang-nimbang barang mana yang sebaiknya mereka beli. Sebenarnya Zahra tak begitu menggilai belanja, ia hanya mengikuti Sisi. Dia juga ingin sedikit menyegarkan pikirannya atas kejadian semalam.
"Zahra coba lihat..!" Pinta Sisi
"Lihat apa?"
"Itu... Setelan jas. Bukankah setelan jas itu sangat keren, bagaimana kalau kamu membelikan itu untuk suamimu?" Saran Sisi.
"Iya jas itu terlihat bagus."
"Kalau begitu, kamu cepat belikan untuk suamimu. Aku jamin deh, suamimu pasti suka."
"Tapi...."
"Tunggu apa lagi, ayo cepat kesana." Sisi menarik tangan Zahra menuju salah satu toko.
Saat Zahra akan mengambil setelan jas itu, ada seorang yang secara bersamaan juga mengambil setelan jas tersebut.
"Zahra"
"Mbak Rere" Ucap Zahra.
"Kamu ada disini juga."
"Iya mbak, kebetulan lagi jalan-jalan sama temen."
"Ow...terus temen kamu kemana?" Tanya Rere
"Mungkin dia sedang melihat-lihat yang lain. Mbak Rere kesini sendirian?"
"Oh aku, sebenarnya aku sedang ada janji dengan seseorang. Tapi mungkin orangnya akan datang terlambat. Makanya aku mau melihat-lihat dulu." Jelas Rere
"Em...begitu. Kalau mbak mau, mbak bisa gabung bersama kita." Tawar Zahra
"Terima kasih sebelumnya karena sudah mengajakku. Tapi sepertinya tidak untuk kali ini, karena aku akan segera pergi. Aku harap kalian bersenang-senang." Penolakan Rere
"Mbak Rere juga. Selamat bersenang-senang."
Rere meninggalkan Zahra yang masih didalam toko.
"Hay Zahra.... Kenapa kamu malah melamun. Kamu gak jadi beli." Ucap Sisi yang mengagetkan Zahra
"Oh...tentu saja jadi, ini juga mau kekasir."
"Aku laper, makan dulu yuk.." ajak Sisi.
"Em... Sama aku juga."
Mereka mencari tempat untuk makan. Namun saat Zahra hendak duduk. Dia tanpa sengaja melihat Azka sedang makan bersama Rere. Itu membuat Zahra jadi teringat kejadian semalam. Hatinya kembali terluka. Perasaannya pun jadi tidak karuan.
"Sisi sebaiknya kita makan ditempat lain saja." Ajak Zahra
"Kenapa, disini makanannya enak kok." Ucap Sisi
"Sudahlah ayo, kita pergi." Paksa Zahra
"Baiklah kita cari tempat lain."
Sisi menyadari ada yang aneh dari sikap Zahra.
"Kamu gak apa-apakan?"
"Aku gak apa-apa, cuma sedikit pusing saja."
"Kalau begitu kita pulang saja. Agar kamu bisa beristirahat." Saran Sisi
"Tapikan kita...." Ucap Zahra yang dipotong Sisi
"Masih ada lain hari. Kita bisa bersenang-bersenang lagi. Ayo kuantar pulang."
Saat berada ditempat parkir. Tiba-tiba saja ada seorang jambret yang mengambil tas milik Zahra.
"Woy.... Jambret jangan lari loe..!" Ujar Sisi dengan sangat keras.
"Tolong....ada jambret." teriak Zahra.
Ada seorang pria yang berlari mengejar jambret tersebut.sementara Zahra dan Sisi hanya bisa menunggu dan berharap penjabretnya bisa tertangkap.
Setelah beberapa menit kemudian, pria itu krmbali dengan membawa tas milik Zahar.
"Ini tasnya. Cek dulu isinya masih utuh apa gak." Si pria memberikan tas kepada Zahra.
"Gak ada yang hilang, masih utuh semua. Terima kasih mas sudah menolong saya."
"Sama-sama, tapi... sepertinya aku pernah melihatmu disuatu tempat. Tapi dimana ya...?" Mencoba mengingat.
"Mungkin Mas hanya salah lihat. Saya baru pertama kali ini bertemu dengan Masnya. Ini ada sedikit dari saya, anggap saja sebagai tanda ucapan terima kasih saya. Saya mohon Mas mau menerimanya." Zahra menyodorkan sesuatu untuk si pria.
"Wow.....Gwe gak terima hal semacam ini. Tapi kalau loe mau berterima kasih. Loe bisa teraktir gwe makan. Gimana?" Menolak pemberian Zahra
"Loe jangan modus ya, Zahra kan udah bilang makasih terus udah mau kasih lo imbalan. Kenapa juga, harus mau traktir loe makan segala." Sisi yan tak terima.
"Gak mau ya udah, gwe kan gak maksa. Sebaiknya gwe pergi dari sini."
"Ya bener, sebaiknya loe pergi." Tegas Sisi
"Sisi jangan begitu, dia kan udah nolongin aku." Ucap Zahra pada sisi.
"Tunggu... Saya akan mentraktirmu makan." ujar Zahra
"Okey, gwe tunggu loe besok di Restoran Signatures jam 2."
"Kenapa harus menunggu besok, bukankah sekarang juga bisa. Aku harap kamu tidak mempersulitku."
"Gwe gak mempersulit loe. Hanya saja sekarang gwe ada janji dengan seseorang, jadi gak mungkinkan gwe batalin. Itu semua juga terserah loe, besok mau dateng atau gak, gwe gak rugi. Gwe pergi dulu, !" Berlalu pergi
"Zahra, kenapa kamu mau ngeladenin pria kayak gitu sie. Kitakan baru ketemu dia, jadi gak tau dia orang yang seperti apa. Besok pokoknya aku harus temenin kamu kesana. Aku takut terjadi sesuatu denganmu."
"Iya iya, lagian cuma makan saja. Gak perlu ada yang dikhawatirkan. Aku setuju cuma untuk berterima kasih padanya. Jadi kamu jangan khawatir. Ayo pulang."
"Baiklah, ayo."
Sisi mengantarkan Zahra pulang.
Sementara itu. Azka masih bersama Rere.
"Rere sebenarnya ada apa kamu memintaku datang kemari?" Tanya Azka
"Aku hanya ingin bertemu denganmu." Memegang tangan Azka
"Tapi masih banyak pekerjaan yang belum aku urus dikantor. Setelah makan siang aku harus segera kembali."
"Yah.... Berhubung kita disini, apa tidak bisa kita berkeliling sebentar untuk melihat-lihat."
"Maaf Rere, aku beneran sibuk hari ini. Mungkin lain kali." Elak Azka
"Kamu berubah, kamu udah gak perhatian lagi seperti dulu."
"Ayolah Re, jangan seperti ini. Please!"
"Baiklah, temani aku membeli satu baju setelah itu kamu boleh pergi. Gimana?"
"Huuuh... Tapi hanya 15 menit. Setelah itu aku pergi, okey?"
"Okey, kalau begitu kita harus cepat."
Menarik tangan Azka dan berlalu pergi.
Setelah menemani Rere Azka kembali kekantor. Selama dikantor dia sibuk berkerja. Begitu banyak pekerjaan yang harus diurusnya. Sampai tanpa terasa malam telah tiba. Para karyawan sudah mulai pulang, meninggalkan beberapa yang masih lembur. Azka sudah mulai merasakan lelah. Dia tidak bisa pulang sekarang. Karena Zahra pasti masih belum tidur. Akhirnya ia putuskan untuk pergi ke tempat Alex.
Sampai ditempat. Azka teringat malam kejadian ia memperlakukan Zahra dengan buruk. Ia sedikit merasa bersalah karena perbuatannya.
"Mungkin aku harus sedikit minum untuk menghilangkan perasaan ini."
Azka masuk dan mencari Alex.
Saat didalam Azka melihat Alek bersama dengan Leo. Ia tidak melihat sama sekali batang hidung si Hendra.
"Lebih baik memang, bila dia gak ada" batin azka
Azka melempar tubuhnya disofa.
"Ada apa loe? Dateng-dateng wajah loe kisut kayak gitu, kayak jemuran belom disetrika?" Ledek Alex sambil tertawa.
"Bingung gwe?"
"Sebaiknya loe minum dulu. Ceritain sama kita pelan-pelan." Ucap Leo sambil menyodorkan segelas minuman.
Azka mengambil gelas itu dan meminumnya.
"Selama ini gwe belum pernah merasa bersalah sama cewe sampai kayak gini. Cuma gara-gara gwe nyium paksa tu cewek. Bukankah seharusnya dia seneng karena bisa dicium sama gwe. Tapi kenapa nie cewek malah nangis. Sampai gigit bibir gwe lagi. Menurut kalian gimana?" Tanya Azka.
"Kalau itu sie lihat-lihat dulu ceweknya. Jika yang lo cium cewek yang biasanya nemenin kita sie, okey-okey aja. Tapi kalau yang loe cium cewek baik, mana maulah dicium sama cowok play boy kayak elo. Apa lagi kalau dipaksa pasti seperti sebuah penghinaan baginya. Itu sie menurut gwe." Jelas Leo.
"Kali ini, gwe setuju sama Leo. Tapi apa cuma masalah kayak gini, yang bikin loe bingung? Sepertinya gak loe banget."
Ucap Alex.
"Gwe juga gak tau. Akhir-akhir ini gwe ngerasa seperti kayak orang gila."
"Bagus deh kalau loe mulai gila. Entar biar istri loe buat gwe okey." Canda Alex
"Sialan loe" Umpat Azka.
Malam semakin larut. Dan Azka minum sampai mabuk. Akhirnya membuat Leo mengantarkanya pulang.
Sesampainya didepan rumah Azka.
"Ting tong" Bunyi bel.
Zahra yang belum tidur segera membukakan pintu.
"Mas Azka." Ucap Zahra.
"Kamu....bukankah kamu cewek yang tadi siang kejambretan?" Leo yang kebingungan.
"Mas kan yang tadi siang nolong saya. Kenapa Mas bisa bersama Mas Azka?
"Kamu juga, kenapa kamu bisa ada disini? Jangan-jangan kamu...." Tidak meneruskan bicara.
"Saya istrinya Mas Azka. Mas sendiri siapa? Kenapa bisa sama Mas Azka?
Dan kenapa Mas Azka bisa seperti ini?"
"Udah dulu nanyanya. Kita bawa Azka masuk dulu. Gwe udah gak kuat nie." Ucap Leo
"Oh iya, langsung bawa kekamar aja." Suruh Zahra
Leo membawa Azka kekamar. Setelah merebahkannya diatas ranjang, Leo pun keluar.
"Lo gak usah takut. Gwe temennya Azka. Dan soal kejadian ini, kita bahas saat kita bertemu besok. Berhubung udah malem banget, gwe harus balik. Gwe pergi dulu. Sampai jumpa besok."
"Baiklah, terima kasih sudah mengantar Mas Azka pulang."
"Okey, sama-sama."
Leo pun berlalu pergi, meninggalkan rumah Azka.
Azka yang sedang mabuk terus saja mengoceh yang tak jelas. Zahra dengan tulus mengurus Azka yang sedang mabuk. Sebenarnya perasaan Zahra semakin sakit melihat kondisi Azka yang seperti ini. Namun mau bagaimana lagi Zahra hanya bisa menangis dalam diam. Dan berusaha untuk menahannya. Karena ini semua merupakan sebuah takdir yang harus dijalaninya dengan sabar dan ikhlas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
fitriani
tmn2nya qzka pada rebutin nih mw sama zahra... lah si laki ogeb malah lagi sibuk sm selingkuhannya🤦♀️🤦♀️🤦♀️🤦♀️
2022-11-25
0
Nona Cherry Jo
hhhhhh😀rasain lo azka... semua teman lo od suka sama zahra istri lo
2021-03-22
0
RimaicHzanfauzi Tjah Puncak Menoreh
temen e azka semua pd suka istri azka😆😄
2020-10-21
0