Ketika cuaca mendung musim dingin yang berkabut menyelimuti kota, tak menghentikan kemeriahan Festival topeng yang diselenggarakan. Warna warni dan musik ikut hadir memeriyahkan festival kali ini. Di St Mark's Square tampak atraksi dari para pemain lempar api, juggler dan para pemakai kostum kesatria kuno.
Begitu banyak orang yang berkumpul untuk ikut serta dalam festival. Mereka berbondong-bondong untuk datang dengan mengenakan kostum dan topeng yang begitu menarik. Banyaknya hiburan yang dipertunjukkan kali ini membuat penonton tak bosan untuk terus berdatangan. Cahaya lilin-lilin dari
istana-istana pada zaman Renaissance memperindah suasana festival. Para penonton pun terlihat begitu mempesona dengan kostum mereka. Azka yang datang bersama Rere ikut terhanyut dalam kemeriyahan Festival. Sedangkan zahra, ia memutuskan untuk tidak ikut pergi kefestival.
Sebelum datang kefestival. Azka menemui zahra.
"Loe yakin gak mau ikut kefestival?" ucap Azka.
"Iya saya yakin mas, saya dihotel saja." balas zahra.
"Kalau begitu gwe pergi sekarang. Tapi jika nanti loe berubah pikiran, gwe udah tinggalin kostum diatas meja. Kamu bisa minta keresepsionis untuk seseorang mengantarkanmu."
"terima kasih mas."
"Sama-sama, gwe pergi dulu."
"iya mas."
Azka pergi menjeput Rere. Mereka berdua bersama-sama menghadiri festival topeng yang meriyah. Saking ramainya para penonton Azka dan Rere terpisah. Azka mencari-cari keberadaan Rere. Namun tidak dapat menemukanya. Sampai tiba-tiba saja kepala Azka mulai terasa pusing. Ia duduk ditempat yang sepi dari keramaian untuk beristirahat. Disaat azka istirahat datang sekelompok orang yang tak dikenal menggunakan topeng yang menyeramkan menyerang azka. Dengan kondisi azka yang sekarang sangat mustahil baginya untuk bisa melawan. Mereka mengeluarkan sesuatu dari balik kostum. Sebuah senjata tajam, mereka mengarahkannya kearah azka untuk mengancamnya. Kini azka berada dalam situasi yang genting. Namun sebuah pertolongan datang. Seseorang dengan kostum perempun lengkap dengan topeng memukul salah satu dari mereka yang membawa senjata dari arah belakang. Orang itu pun menarik tangan azka dan berlari. Dia berlari menuntun azka untuk menaiki sebuah gondola. Ia berusaha bersembunyi mencoba menghidar dari para penjahat yang menyerang azka. Penjahat itu pun pergi tanpa menyadari bahwa azka berda diatas gondola. Gondola tersebut telah dihiasi dengan berbagai hiasan jadi tak sulit untuk bersembunyi diatasnya. Azka pun mulai angkat bicara.
"Who are you?"
Namun orang tersebut tidak menjawab azka. Dia hanya diam.
Sepertinya Festival telah sampai dipuncaknya. Parade diatas armada kapal dan gondola sepanjan Grand Canal telah dimulai. Tiba-tiba saja gondola yang dinaiki azka dan orang tersebut bergerak. Dengan hanya diterangi kerlip ribuan lilin dan kembang api yang bermekaran membuat azka sejenak terpukau akan keindahanya. Malam ini kota venesia seakan dibungkus dengan kerlipan dan kilauan kembang api yang begitu indah. Gondola telah berhenti dengan sekejap saja orang itu langsung lari tanpa sempat azka mengucapkan terim kasih. Tapi tunggu apa ini, Azka menemukan sebuah anting-anting mungkin saja milik orang tersebut. Namun anting-antingnya hanya sebelah. Pasti tak sengaja jatuh saat bersembunyi. Azka pun menyimpanya.
"Azka..."
"Terdengar seperti suara Rere." Benar saja itu Rere.
"Kenapa kamu bisa ada disini? aku sudah mencarimu kemana-mana." ungkap Rere.
"Maaf membutmu khawatir. Tapi sepertinya kita harus pulang sekarang, Aku sedikit gak enak badan."
"Kamu sakit??"
"Sudahlah ayo kita pulang." Rere membatu azka keluar dari gondola.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan mengantarkanmu kembali kehotel." memapah azka.
Setelah sampai hotel Rere membatu azka untuk kembali kekamarnya.
"Lebih baik kamu pulang sekarang, sudah larut malam."
"Gak bisa, kamu kan lagi sakit mana mungkin aku ninggalin kamu sendirian."
"Sudahlah aku gak apa-apa, sebaiknya kamu pulang saja, aku gak ingin kamu ketularan sakit juga." jelas azka.
"ya sudah kalau begitu aku pulang. Tapi kalau ada apa-apa kamu harus hubungi aku, oke?"
"Iya aku pasti hubungin kamu. kamu tenang saja."
"Kalau gitu aku pulang dulu." Rere mencium pipi Azka.
Beberapa menit kemudian.
"tok...tok...tok.." azka membuka pintu.
"Zahra?? kenapa kamu belum tidur?" tanya Azka.
"Belum mas, saya kesini cuma mau tahu mas azka sudah pulang apa belum."
"Seperti yang loe lihat sekarang, kalau gak ada yang lain, sebaiknya loe kembali kemarmu."
"Apa mas sakit? wajah mas kelihatan pucat sekali."
"Gwe gak apa-apa cuma sedikit pusing."
"Coba saya cek suhu tubuh mas." mengulurkan tangan untuk memegang dahi azka.
"Sudah gwe bilang, gwe gak apa-apa" menepiskan tangan zahra.
"Tapi badan mas begitu panas. Mas sedang demam."
"Gak usah sok perhatian deh loe. Gwe bisa urus diri gwe sendiri. Sebaiknya loe kembali kekamar loe. Gak usah peduliin gwe." Saat hendak menutup pintu tiba-tiba saja azka terjatuh.
"Mas...mas Azka...." zahra memapah tubuh Azka, merebahkanya diatas ranjang. Tubuh Azka mengelurkan begitu banyak kringat membuat bajunya basah. Sehingga terpaksa Zahra harus mengaganti bajunya.
"Maaf Mas, tapi saya harus mengganti baju mas." zahra mulai melepaskan setiap kancing lalu melepakan baju azka. Terlihat
otot-otot azka yang kekar setelah bajunya terlepas. Namun zahra tidak tergoda sama sekali, ia hanya memikirkan kesembuhan untuk Azka.
Zahra mengelap tubuh Azka yang berkringat.
Kemudian memakaikan kembali baju yang agak sedikit tipis.
Melihat Azka yang demamnya lumaya tinggi Zahra mengambil air untuk mengompresnya.
Bahkan zahra semalaman hampir tidak tidur hanya untuk selalu mengganti kompresnya.
Dinginya malam telah berganti dengan hangatnya sang surya. Malam yang petang sudah menjadi pagi yang begitu cerah.
Azka terbangun dari tidurnya, sepertinya demamnya juga sudah turun. Dia melihat zahra yang sedang tertidur sambil duduk disampingnya. Mungkin zahra kelelahan semalaman menjaga azka yang sedang demam.
"Dasar gadis bodoh, sudah tau gwe usir tapi tetep saja masih mau ngerawat gwe. Pasti loe semalaman gak tidur." batin Azka.
Azka dengan perlahan turun dari ranjang mencoba tidak membangunkan zahra.
Azka pun mengangkat tubuh kecil zahra memindahkanya keatas ranjang. Kemudian menyelimutinya. Azka melihat wajah zahra yang sedang tertidur. "Lihat...betapa lugu dan lucunya dia saat tertidur. Sepertinya gwe terlalu keterlaluan kepadanya." ucap azka dengan suara lirih. "Seandainya loe tahu hubungan gwe sama Rere. Mungkin loe gak bakal sebaik ini sama gwe. Atau bahkan mungkin aja loe malahan benci sama gwe. Jadi gwe harap kedepanya loe gak perlu baik sama gwe atau gwe akan semakin merasa bersalah sama loe. Gwe harap loe bisa mengerti." berbicara lirih.
Zahra pun terbangun. "Kenapa saya bisa tidur diatas ranjang. Bukanya semalam saya sedang merawat mas Azka." pertanyaan yang tiba-tiba muncul dalam benaknya zahra.
"Loe udah bangun. Sebaiknya loe buruan cuci muka, gwe udah siapin sarapan buat kita. Cepetan... keburu dingin nie makanan!" suruh azka yang duduk santai disofa.
"Iya mas, Tapi apakah mas sudah sembuh?"
"Gak perlu banyak nanya, buruan kekamar mandi sana..!"
"Iya...iya mas."
Mereka pun sarapan bersama.
"ehem...hem... Terima kasih semalem loe udah ngerawat gwe." ucap azka.
"Sama-sama mas. Lagian mas juga sedang sakit, jadi mana mungkin saya diam saja."
"Seinget gwe selama disini sepertinya loe belum sempat jalan-jalan bekeliling kota venesia secara keseluruhan. Bagaimana kalau sebagai rasa terima kasih gwe, besok gwe temenin loe untuk berkeliling gimana?"
"Tapi mas kan baru aja sembuh, apa gak terlalu memaksakan diri?"
"Tenang aja. Gwe sudah lebih baik kog, besok juga pasti sudah segar bugar seperti biasanya. Jadi gimana?"
"Jika begitu, baiklah mas saya mau. Tapi kalau mas kembali gak enak badan kita harus langsung pulang."
"iya gwe tau."
"tok...tok..tok.." suara seseorang mengetuk mengetuk pintu.
"Loe terusin aja makannya biar gwe yang bukain pintu."
"iya mas."
Azka berjalan menuju pintu.
"Rere" ucap azka yang membuka pintu.
"Aku sengaja kemari bawain bubur buat kamu sarapan, kemarin kamu kan lagi sakit. Aku takut kamu kenapa-kenapa makanya aku cepet-cepet datang kemari. Apakah kamu masih sakit??"
"Seharusnya kamu gak perlu repot-repot seperti ini. Lagian aku juga udah sembuh kog."
"Benarkah, syukur deh kalau gitu. Bolehkah aku masuk?"
"wah gawat kalau Rere sampai tahu zahra ada didalam. Mendingan gwe bikin alibi deh." batin azka
"Em... Re. Sepertinya aku masih butuh banyak istirahat, jadi sebaiknya kamu pulang aja deh. Soal buburnya terima kasih pasti aku makan."
"Tapi kan... aku kesini buat kamu, lagian aku juga gak bakalan ganggu istirahat kamu kog."
"Tapi aku memerlukan waktu istirahat sendiri, jadi aku mohon kamu bisa mengarti."
"Yah... jika itu yang membuatmu lebih baik, okelah aku akan pulang tapi jangan lupa dimakan buburnya ya!"
"Iya pasti aku makan."
Rere telah pergi meninggalkan azka.
"Huuuhf.. akhirnya bisa diatasi." azka yang merasa lega. Dia pun kembali kedalam menemui Zahra.
"Siapa mas?"
"Itu... cuma pelayan hotel."
"Oh.... Berhubung mas sudah baikkan sebaiknya saya kembali kekamar saya sendiri. Terima kasih untuk sarapannya."
"iya sama-sama"
Zahra pun kembali kekamarnya dengan perasaan yang sedikit bahagia. Akhirnya azka mau mengajaknya untuk berjalan-jalan. Ini yang pertama kali baginya dikota venesia ini. Sebelumnya saat berjalan-jalan dengan mas azka selalu saja ada persoalan yang membuat perasaannya terluka. Semoga besok tidak terjadi seperti kejadian yang sebelum sebelumnya. Zahra yang penuh harap.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
Yuyun
pasti pelakornya ngikut
2020-12-12
0
BadjukaNurain
pasti zahra yg bantu
2020-10-21
0
Andhina
lanjutin lagi
2020-09-13
1