Keesokan paginya.
Zahra sudah terbangun dari tidurnya. Dan saat kesadaranya mulai kembali. Dia merasa kebingungan.
"Kenapa aku bisa tidur diranjang? Mungkinkah aku tidur sambil berjalan. Seingatku semalam sedang turun hujan lebat. Aku mendengar suara gemuruh petir dengan keras menyambar seketika lampu juga ikut padam. Aku begitu sangat ketakutan saat itu, sampai membuatku menangis dan berlari kepojok lemari. Tubuhku semuanya gemetar. Aku hanya bisa memeluk kedua kakiku dan membayangkan wajah Abah yang selalu ada untuku. Tapi kenapa aku merasa bayangan Abah nampak begitu nyata. Aku seperti memeluk seseorang sungguhan. Bahkan dia juga bisa berbicara untuk menenangkanku. Bukankah dirumah hanya ada aku seorang. Lantas siapa yang memelukku semalam.?" Pemikiran Zahra.
Zahra segera mandi kemudian membuat sarapan. Namun saat hendak kedapur. Dia melihat, sudah ada sarapan diatas meja. Dan ada secarik kertas disamping piringnya. Kertas itu bertuliskan
"Aku lihat semalam, keadaanmu kurang baik jadi sudah kusiapkan sarapan diatas meja. Makanlah dan habiskan. Badanmu terlalu kurus untuk seorang wanita. Aku sudah berangkat kerja, tak usah mencariku." Pesan dari Azka.
"Ternyata semalam orang yang memeluk dan menenangkanku adalah Mas Azka. Rupanya Mas Azka pulang semalam. Terima kasih Mas." Ucap Zahra dalam hati.
Dengan hati senang dan bahagia Zahra melahap sarapan yang disiapkan Azka. Ini yang pertama kalinya Azka membuat sarapan untuknya. Zahra menghabiskanya tanpa ada sisa. Dia pun berangkat kekampus.
Disisi lain Azka yang berada dikantor, terus kepikiran tentang Zahra. Dia penasaran dengan keadaaan Zahra sekarang.
"Apakah dia sudah lebih baik? Apa dia makan sarapan yang aku siapkan. Bisakah dia untuk masuk kampus hari ini?" Begitu banyak pertanyaan yang mengusik pikirannya.
"Sejak kapan aku mulai mencemaskanya. Sebenarnya apa yang terjadi padaku. Kenapa aku mulai merasakan perasaan aneh yang sering muncul saat aku bersamanya. Sebaiknya nanti aku menemui Rere untuk menormalkan kembali pikiranku."
Gerutunya dalam hati.
Saat jam makan siang, Azka pergi dari kantor. Ia mengendarai mobil tanpa tahu kemana arah tujuanya. Tanpa sadar ia sudah berada didepan kampus Zahra.
"Apa aku sudah gila? kenapa aku datang kesini? Ini kan kampusnya si Zahra. Untuk apa aku datang kemari.
Haiis... sepertinya memang aku sudah gila saat ini." Mengacak-acak rambutnya.
Beberapa detik kemudian Zahra keluar dari kampus. Ia naik mobil Sisi.
"Bukankah itu Zahra, mau kemana dia?" Mengikuti secara diam-diam.
Zahra dan Sisi sampai di Panti Asuhan yang biasa mereka kunjungi.
"Ini kan Panti Asuahan, mau ngapain dia datang kemari?" Azka yang merasa penasaran
Mereka berdua membawa begitu banyak makanan dan mainan. Dan seperti biasanya anak-anak mulai mengerubungi mereka.
Sementara Azka secara diam-diam masih mengawasi Zahra dari kejauhan.
Zahra dan Sisi bermain, bercanda dengan anak-anak panti. Anak-anak panti begitu terlihat senang dan gembira bersama mereka berdua. Disaat Zahra masih bercanda dengan anak-anak, Hendra datang menghampirinya.
"Zahra, ternyata kamu sering banget datang kemari." Ucap Hendra.
"Iya Mas, soalnya kalau datang kesini hati rasanya adem. Makanya saya jadi keseringan datang kemari." jelas Zahra.
"Kamu sungguh luar biasa. Jarang-jarang cewek cantik suka datang ke Panti Asuhan. Palingan yang sering mereka kunjungi juga salon atau paling tidak belanja ke Mall."
"Ah.... Mas Hendra terlalu sering memuji saya. Bisa-bisa saya jadi besar kepala loe."
"Aku tidak memujimu tapi aku berbicara kenyataan. Jadi, kalau kamu besar kepala itu wajar. Jadi... kapan kamu punya waktu untukku, mentraktirmu makan siang?"
"Em... Sebenarnya hari ini aku lumayan luang waktu sie..."
"Bagus donk kalau gitu. Hari ini kita bisa pergi untuk makan siang.
" Iya sie Mas, kalau gitu saya akan memberitahu teman saya dulu. Supaya dia tidak menunggu saya saat pulang."
"Baiklah, aku akan menunggu diluar."
Diluar Azka melihat Zahra yang sedang berbincang dengan seorang laki-laki.
"Siapa laki-laki itu? kenapa dia terlihat begitu akrab dengan Zahra. Apakah dia tidak malu mendekati seorang wanita yang sudah bersuami. Dasar laki-laki tak tau diri." Azka berbicara sendiri.
Azka begitu merasa jengkel melihat Zahra yang dekat dengan laki-laki lain. Ia tidak senang melihatnya. Namun ia masih mengikuti kemana Zahra pergi.
"Kamu sudah memberitahu temanmu?" tanya Hendra.
"Sudah Mas, katanya ia akan segera pulang setelah ini. Jadi gak apa-apa bila saya pergi sekarang."
"Baiklah kalau begitu. Mari kita mencari tempat makan siang dulu. Kamu mau makan apa?"
"Kalau saya sih. Apa aja Mas, yang penting halal."
"Okey kalau gitu, kamu masuk dulu. Aku tahu tempat yang terkenal masakanya paling enak. Aku yakin kamu pasti suka." Hendra membukakan pintu mobil untuk Zahra.
"Terima kasih mas."
"Sama-sama."
"Apa-apaan mereka. Pakai acara dibukain pintu segalak. Emangnya suting drama apa." Ucap Azka dari dalam mobilnya.
Hendra dan Zahra pun pergi untuk makan siang. Mereka begitu banyak mengobrol saat diperjalanan. Dan Azka mengikuti mereka dari belakang.
"Wah Mas, apa gak terlalu berlebihan tempanya, hanya untuk sekedar makan siang?"
"Kamu tenang aja. Tempat ini milik temanku. Jadi bisa makan sepuasnya."
"Tapi Mas....."
"Sudahlah... Ayo masuk." Masuk kedalam mendahlui Zahra.
"Tunggu Mas." Zahra menyusul masuk kedalam.
"Bukankah ini restoran milik Hendra. Rupanya cukup berani juga laki-laki ini, membawa seorang wanita makan ditempat mewah. Tapi tetap saja yang dia ajaknya adalah istri orang."
Azka mengikuti masuk kedalam Restoran.
"Oh ya mas, bolehkah saya bertanya sama Mas?"
"Tentu, apa yang mau kamu tanyakan?"
"Kenapa mas sebegitu perhatiannya dengan Laras. Apakah sebelumnya Mas mengenal kelurganya?"
"Sebenarnya aku tak mengenal sama sekali keluarganya. Tapi ada seorang temanku yang memiliki nasib yang sama seperti Laras. Saat melihatnya aku jadi teringat temanku itu. Dia begitu menderita dan kesepian. Maka dari itu aku begitu perhatian dengan Laras. Karena aku ingin sedikit mengurangi rasa penderitaannya. Hanya itu yang dapat aku katakan."
"Wah memang Mas Hendra orang yang baik, beruntung sekali Laras dapat bertemu Mas."
"Seharusnya aku yang beruntung dapat bertemu denganmu."
"Bertemu dengan saya tidak dapat dikatakan sebuah keberuntungan, malah bisa jadi sebaliknya." ucap Zahra
"Apakah kamu percaya takdir?"
"Tentu saja saya percaya."
"Baiklah kita anggap pertemuan kita sebuah takdir. Yang semua orang tidak bisa tau atau pun menebak takdir itu sendiri. Sekarang giliranku bertanya?"
"Okey, pertanyaan apa yang mas mau tanyakan?"
"Apakah kamu memiliki seorang kekasih?"
"Uhuk...uhuk..." Zahra yang tiba-tiba tersedak karena mendengar pertanyaan Hendra.
"Kamu gak apa-apa?" Hendra menyodorkan gelas berisi air.
"Em... Gak apa-apa Mas. Saya hanya sedikit terkejut dengan pertanyaan Mas tadi. Tapi mengapa Mas Hendra menanyakan itu?" Meletakkan gelas
"Hanya pertanyaan iseng saja. Kalau kamu gak jawab juga gak apa-apa."
"Saya sudah menikah. Kurang lebih sudah 2 bulan ini." Ungkap Zahra
"Pengantin baru rupanya. Tapi kenapa kamu tidak memakai cincin dijarimu?"
"Oh itu, cincinnya sedikit kebesaran. Karena takut aku menghilangkanya, makanya tidak aku pakai." Jelas Zahra sambil tersenyum.
"Sebenarnya apa yang mereka bicarakan. Kenapa wajah mereka begitu bahagia." Azka yang hampir mati penasaran. Dia pun lebih mendekat ketempat mereka berdua.
"Tunggu dulu.... Sepertinya laki-laki itu nampak tak asing untukku." Lebih mendekat untuk melihatnya.
"Hendra..... Kenapa dia bisa kenal Rere? Perasanku aku belum pernah mengenalkan Zahra padanya. Apakah dia tahu kalau Zahra istriku." Batin Azka.
Setelah makan siang Hendra hendak mengantar Zahra pulang. Namun Zahra menolaknya. Karena Zahra masih ada urusan, dia hanya mau diantar Hendra sampai dihalte bus.
"Apakah tidak apa-apa kamu turun disini.?"
"Kan saya yang minta diturunkan disini. Mas kalau mau pergi, pergi saja. Saya gak apa-apa kog."
"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu. Kamu hati-hati."
"Iya Mas, terima kasih untuk makan siangnya."
"Sama-sama. Aku harap lain kali kita bisa makan bersama lagi."
"Insyaallah Mas, dilain kesempatan."
"Ya sudah aku pergi dulu."
"Iya Mas Hendra."
Hendra pun berlalu pergi.
Azka yang melihat kepergian Hendra, dia juga ikut pergi.
Dia pergi kerumah Rere.
"Ting tong." Suara bel pintu.
"Azka akhirnya kamu datang juga." Rere memeluk Azka yang baru saja datang.
"Ayo masuk" Ajak Rere.
Azka masuk dan duduk disofa.
"Tunggu sebentar, aku akan buatkan minuman dulu untukmu." Rere berjalan menuju dapur.
"Kamu gak kecaffe hari ini?" Tanya Azka.
"Enggak, hari ini aku tahu kamu pasti datang. Makanya aku gak kecaffe hari ini. Malam ini kamu nginepkan?"
"Aku gak tau, kepalaku pusing."
"Justru itu, karena kamu lagi pusing, makanya ada aku yang selalu menjadi obatmu. Jadi aku akan membuatmu sembuh." Rere datang membawa minuman. Dia duduk disamping Azka. Tangannya mulai mengelus-elus kepala Azka.
"Aku jamin kalau kamu disini sakit kepalamu pasti sembuh." Tangan kiri Rere yang mencoba meraba dada Azka.
Sementara dipikiran Azka saat ini hanya dipenuhi dengan bayangan Zahra. Begitu banyak pertanyaan yang mengganggunya tentang hari ini. Yang paling membuat Azka masih bertanya-tanya sebenarnya, ada hubungan apa Hendra dengan Zahra.
Rere masih menggoda Azka. Dia mulai naik kepankuan Azka dan menciumnya. Azka yang tersadar dari lamunanya mendorong tubuh Rere.
"Ada apa denganmu Azka."
"Maaf Rere, aku harus pergi sekarang."
Beranjak dari tempat duduknya.
"Apakah kamu akan meninggalkanku begitu saja."
"Maafkan aku Rere."
Azka berlalu pergi.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi padanya. Gak biasanya dia seperti ini." Ucap Rere yang ditinggal pergi Azka.
Azka sudah sampai dirumah. Dia masuk dengan tergesa-gesa. Dia mencari keberadaan Zahra. Sampai dia menemukannya didapur.
"Mas Azka sudah pulang. Aku baru saja, selesai memasak makan malam."
Azka tak menghiraukan perkatan Zahra. Dia terus berjalan menuju kearah Zahra berada. Azka memojokkan tubuh Zahra kedinding.
Dia menahan dan mengunci tubuh Zahra. Sampai Zahra tidak bisa bergerak sama sekali.
"Mas, apa yang mas lakukan?" Tanya Zahra yang sedikit takut dengan sikap Azka saat ini.
"Ada hubungan apa sebenarnya kamu dengan Hendra?" Tanya Azka yang masih mengunci tubuh Zahra.
"Mas Hendra dengan saya tidak ada hubungan apa-apa Mas. Mas Hendra dengan saya cuma berteman, itu saja." Zahra mencoba meronta dari jeratan Azka. Namun sayang, tenaga Azka terlalu kuat untuk dilawan.
"Kamu kira aku bodoh apa. Mana ada seorang teman laki-laki yang mengajak teman perempuanya makan diRestoran mewah."
"Apa maksud Mas?"
"Sepertinya kamu masih tidak mau berbicara jujur. Maka jangan salahkan aku, bila aku menghukummu." Azka mencium paksa bibir Zahra.
Zahra yang merasa direndahkan mencoba menghidari ciuman Azka. Tapi tenaga Zahra tak sebanding dengan Azka. Sambil menangis Zahra menggigit bibir Azka sampai berdarah. Azka yang melihat Zahra menangis, menghentikan tindakannya itu. Dia melepaskan Zahra. Namun Zahra masih saja menangis.
"Aku gak perduli kalau kamu mau berhubungan dengan laki-laki manapun. Tapi jauhi Hendra. Aku gak mau kamu punya hubungan dengan dia. Jika kamu masih berhubungan denganya, hukumanmu akan jauh lebih parah dari pada ini." Azka melangkah pergi meninggalkan zahra yang masih dalam keadaan menangis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
fitriani
jgn2 azka ydh biasa nih main kuda2an dgn rere🤔🤔🤔🤔
2022-11-25
0
Rahmaditha
cemburu bilang bos
2021-05-15
0
evita19
terjawab sudah ternyata mmg temennya Azka kk, tp gk sk sm sikap Azka yg egois, dia bleh selingkuh sm Rere n ngapain2 terserah dia giliran Zahra aja dia marah2
2021-04-07
0