Episode 14 Makan Siang

Keesokan paginya.

Zahra sudah terbangun dari tidurnya. Dan saat kesadaranya mulai kembali. Dia merasa kebingungan.

"Kenapa aku bisa tidur diranjang? Mungkinkah aku tidur sambil berjalan. Seingatku semalam sedang turun hujan lebat. Aku mendengar suara gemuruh petir dengan keras menyambar seketika lampu juga ikut padam. Aku begitu sangat ketakutan saat itu, sampai membuatku menangis dan berlari kepojok lemari. Tubuhku semuanya gemetar. Aku hanya bisa memeluk kedua kakiku dan membayangkan wajah Abah yang selalu ada untuku. Tapi kenapa aku merasa bayangan Abah nampak begitu nyata. Aku seperti memeluk seseorang sungguhan. Bahkan dia juga bisa berbicara untuk menenangkanku. Bukankah dirumah hanya ada aku seorang. Lantas siapa yang memelukku semalam.?" Pemikiran Zahra.

Zahra segera mandi kemudian membuat sarapan. Namun saat hendak kedapur. Dia melihat, sudah ada sarapan diatas meja. Dan ada secarik kertas disamping piringnya. Kertas itu bertuliskan

"Aku lihat semalam, keadaanmu kurang baik jadi sudah kusiapkan sarapan diatas meja. Makanlah dan habiskan. Badanmu terlalu kurus untuk seorang wanita. Aku sudah berangkat kerja, tak usah mencariku." Pesan dari Azka.

"Ternyata semalam orang yang memeluk dan menenangkanku adalah Mas Azka. Rupanya Mas Azka pulang semalam. Terima kasih Mas." Ucap Zahra dalam hati.

Dengan hati senang dan bahagia Zahra melahap sarapan yang disiapkan Azka. Ini yang pertama kalinya Azka membuat sarapan untuknya. Zahra menghabiskanya tanpa ada sisa. Dia pun berangkat kekampus.

Disisi lain Azka yang berada dikantor, terus kepikiran tentang Zahra. Dia penasaran dengan keadaaan Zahra sekarang.

"Apakah dia sudah lebih baik? Apa dia makan sarapan yang aku siapkan. Bisakah dia untuk masuk kampus hari ini?" Begitu banyak pertanyaan yang mengusik pikirannya.

"Sejak kapan aku mulai mencemaskanya. Sebenarnya apa yang terjadi padaku. Kenapa aku mulai merasakan perasaan aneh yang sering muncul saat aku bersamanya. Sebaiknya nanti aku menemui Rere untuk menormalkan kembali pikiranku."

Gerutunya dalam hati.

Saat jam makan siang, Azka pergi dari kantor. Ia mengendarai mobil tanpa tahu kemana arah tujuanya. Tanpa sadar ia sudah berada didepan kampus Zahra.

"Apa aku sudah gila? kenapa aku datang kesini? Ini kan kampusnya si Zahra. Untuk apa aku datang kemari.

Haiis... sepertinya memang aku sudah gila saat ini." Mengacak-acak rambutnya.

Beberapa detik kemudian Zahra keluar dari kampus. Ia naik mobil Sisi.

"Bukankah itu Zahra, mau kemana dia?" Mengikuti secara diam-diam.

Zahra dan Sisi sampai di Panti Asuhan yang biasa mereka kunjungi.

"Ini kan Panti Asuahan, mau ngapain dia datang kemari?" Azka yang merasa penasaran

Mereka berdua membawa begitu banyak makanan dan mainan. Dan seperti biasanya anak-anak mulai mengerubungi mereka.

Sementara Azka secara diam-diam masih mengawasi Zahra dari kejauhan.

Zahra dan Sisi bermain, bercanda dengan anak-anak panti. Anak-anak panti begitu terlihat senang dan gembira bersama mereka berdua. Disaat Zahra masih bercanda dengan anak-anak, Hendra datang menghampirinya.

"Zahra, ternyata kamu sering banget datang kemari." Ucap Hendra.

"Iya Mas, soalnya kalau datang kesini hati rasanya adem. Makanya saya jadi keseringan datang kemari." jelas Zahra.

"Kamu sungguh luar biasa. Jarang-jarang cewek cantik suka datang ke Panti Asuhan. Palingan yang sering mereka kunjungi juga salon atau paling tidak belanja ke Mall."

"Ah.... Mas Hendra terlalu sering memuji saya. Bisa-bisa saya jadi besar kepala loe."

"Aku tidak memujimu tapi aku berbicara kenyataan. Jadi, kalau kamu besar kepala itu wajar. Jadi... kapan kamu punya waktu untukku, mentraktirmu makan siang?"

"Em... Sebenarnya hari ini aku lumayan luang waktu sie..."

"Bagus donk kalau gitu. Hari ini kita bisa pergi untuk makan siang.

" Iya sie Mas, kalau gitu saya akan memberitahu teman saya dulu. Supaya dia tidak menunggu saya saat pulang."

"Baiklah, aku akan menunggu diluar."

Diluar Azka melihat Zahra yang sedang berbincang dengan seorang laki-laki.

"Siapa laki-laki itu? kenapa dia terlihat begitu akrab dengan Zahra. Apakah dia tidak malu mendekati seorang wanita yang sudah bersuami. Dasar laki-laki tak tau diri." Azka berbicara sendiri.

Azka begitu merasa jengkel melihat Zahra yang dekat dengan laki-laki lain. Ia tidak senang melihatnya. Namun ia masih mengikuti kemana Zahra pergi.

"Kamu sudah memberitahu temanmu?" tanya Hendra.

"Sudah Mas, katanya ia akan segera pulang setelah ini. Jadi gak apa-apa bila saya pergi sekarang."

"Baiklah kalau begitu. Mari kita mencari tempat makan siang dulu. Kamu mau makan apa?"

"Kalau saya sih. Apa aja Mas, yang penting halal."

"Okey kalau gitu, kamu masuk dulu. Aku tahu tempat yang terkenal masakanya  paling enak. Aku yakin kamu pasti suka." Hendra membukakan pintu mobil untuk Zahra.

"Terima kasih mas."

"Sama-sama."

"Apa-apaan mereka. Pakai acara dibukain pintu segalak. Emangnya suting drama apa." Ucap Azka dari dalam mobilnya.

Hendra dan Zahra pun pergi untuk makan siang. Mereka begitu banyak mengobrol saat diperjalanan. Dan Azka mengikuti mereka dari belakang.

"Wah Mas, apa gak terlalu berlebihan tempanya, hanya untuk sekedar makan siang?"

"Kamu tenang aja. Tempat ini milik temanku. Jadi bisa makan sepuasnya."

"Tapi Mas....."

"Sudahlah... Ayo masuk." Masuk kedalam mendahlui Zahra.

"Tunggu Mas." Zahra menyusul masuk kedalam.

"Bukankah ini restoran milik Hendra. Rupanya cukup berani juga laki-laki ini, membawa seorang wanita makan ditempat mewah. Tapi tetap saja yang dia ajaknya adalah istri orang."

Azka mengikuti masuk kedalam Restoran.

"Oh ya mas, bolehkah saya bertanya sama Mas?"

"Tentu, apa yang mau kamu tanyakan?"

"Kenapa mas sebegitu perhatiannya dengan Laras. Apakah sebelumnya Mas mengenal kelurganya?"

"Sebenarnya aku tak mengenal sama sekali keluarganya. Tapi ada seorang temanku yang memiliki nasib yang sama seperti Laras. Saat melihatnya aku jadi teringat temanku itu. Dia begitu menderita dan kesepian. Maka dari itu aku begitu perhatian dengan Laras. Karena aku ingin sedikit mengurangi rasa penderitaannya. Hanya itu yang dapat aku katakan."

"Wah memang Mas Hendra orang yang baik, beruntung sekali Laras dapat bertemu Mas."

"Seharusnya aku yang beruntung dapat bertemu denganmu."

"Bertemu dengan saya tidak dapat dikatakan sebuah keberuntungan, malah bisa jadi sebaliknya." ucap Zahra

"Apakah kamu percaya takdir?"

"Tentu saja saya percaya."

"Baiklah kita anggap pertemuan kita sebuah takdir. Yang semua orang tidak bisa tau atau pun menebak takdir itu sendiri. Sekarang giliranku bertanya?"

"Okey, pertanyaan apa yang mas mau tanyakan?"

"Apakah kamu memiliki seorang kekasih?"

"Uhuk...uhuk..." Zahra yang tiba-tiba tersedak karena mendengar pertanyaan Hendra.

"Kamu gak apa-apa?" Hendra menyodorkan gelas berisi air.

"Em... Gak apa-apa Mas. Saya hanya sedikit terkejut dengan pertanyaan Mas tadi. Tapi mengapa Mas Hendra menanyakan itu?" Meletakkan gelas

"Hanya pertanyaan iseng saja. Kalau kamu gak jawab juga gak apa-apa."

"Saya sudah menikah. Kurang lebih sudah 2 bulan ini." Ungkap Zahra

"Pengantin baru rupanya. Tapi kenapa kamu tidak memakai cincin dijarimu?"

"Oh itu, cincinnya sedikit kebesaran. Karena takut aku menghilangkanya, makanya tidak aku pakai." Jelas Zahra sambil tersenyum.

"Sebenarnya apa yang mereka bicarakan. Kenapa wajah mereka begitu bahagia." Azka yang hampir mati penasaran. Dia pun lebih mendekat ketempat mereka berdua.

"Tunggu dulu.... Sepertinya laki-laki itu nampak tak asing untukku." Lebih mendekat untuk melihatnya.

"Hendra..... Kenapa dia bisa kenal Rere? Perasanku aku belum pernah mengenalkan Zahra padanya. Apakah dia tahu kalau Zahra istriku." Batin Azka.

Setelah makan siang Hendra hendak mengantar Zahra pulang. Namun Zahra menolaknya. Karena Zahra masih ada urusan, dia hanya mau diantar Hendra sampai dihalte bus.

"Apakah tidak apa-apa kamu turun disini.?"

"Kan saya yang minta diturunkan disini. Mas kalau mau pergi, pergi saja. Saya gak apa-apa kog."

"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu. Kamu hati-hati."

"Iya Mas, terima kasih untuk makan siangnya."

"Sama-sama. Aku harap lain kali kita bisa makan bersama lagi."

"Insyaallah Mas, dilain kesempatan."

"Ya sudah aku pergi dulu."

"Iya Mas Hendra."

Hendra pun berlalu pergi.

Azka yang melihat kepergian Hendra, dia juga ikut pergi.

Dia pergi kerumah Rere.

"Ting tong." Suara bel pintu.

"Azka akhirnya kamu datang juga." Rere memeluk Azka yang baru saja datang.

"Ayo masuk" Ajak Rere.

Azka masuk dan duduk disofa.

"Tunggu sebentar, aku akan buatkan minuman dulu untukmu." Rere berjalan menuju dapur.

"Kamu gak kecaffe hari ini?" Tanya Azka.

"Enggak, hari ini aku tahu kamu pasti datang. Makanya aku gak kecaffe hari ini. Malam ini kamu nginepkan?"

"Aku gak tau, kepalaku pusing."

"Justru itu, karena kamu lagi pusing, makanya ada aku yang selalu menjadi obatmu. Jadi aku akan membuatmu sembuh." Rere datang membawa minuman. Dia duduk disamping Azka. Tangannya mulai mengelus-elus kepala Azka.

"Aku jamin kalau kamu disini sakit kepalamu pasti sembuh." Tangan kiri Rere yang mencoba meraba dada Azka.

Sementara dipikiran Azka saat ini hanya dipenuhi dengan bayangan Zahra. Begitu banyak pertanyaan yang mengganggunya tentang hari ini. Yang paling membuat Azka masih bertanya-tanya sebenarnya, ada hubungan apa Hendra dengan Zahra.

Rere masih menggoda Azka. Dia mulai naik kepankuan Azka dan menciumnya. Azka yang tersadar dari lamunanya mendorong tubuh Rere.

"Ada apa denganmu Azka."

"Maaf Rere, aku harus pergi sekarang."

Beranjak dari tempat duduknya.

"Apakah kamu akan meninggalkanku begitu saja."

"Maafkan aku Rere."

Azka berlalu pergi.

"Sebenarnya apa yang sedang terjadi padanya. Gak biasanya dia seperti ini." Ucap Rere yang ditinggal pergi Azka.

Azka sudah sampai dirumah. Dia masuk dengan tergesa-gesa. Dia mencari keberadaan Zahra. Sampai dia menemukannya didapur.

"Mas Azka sudah pulang. Aku baru saja, selesai memasak makan malam."

Azka tak menghiraukan perkatan Zahra. Dia terus berjalan menuju kearah Zahra berada. Azka memojokkan tubuh Zahra kedinding.

Dia menahan dan mengunci tubuh Zahra. Sampai Zahra tidak bisa bergerak sama sekali.

"Mas, apa yang mas lakukan?" Tanya Zahra yang sedikit takut dengan sikap Azka saat ini.

"Ada hubungan apa sebenarnya kamu dengan Hendra?" Tanya Azka yang masih mengunci tubuh Zahra.

"Mas Hendra dengan saya tidak ada hubungan apa-apa Mas. Mas Hendra dengan saya cuma berteman, itu saja." Zahra mencoba meronta dari jeratan Azka. Namun sayang, tenaga Azka terlalu kuat untuk dilawan.

"Kamu kira aku bodoh apa. Mana ada seorang teman laki-laki yang mengajak teman perempuanya makan diRestoran mewah."

"Apa maksud Mas?"

"Sepertinya kamu masih tidak mau berbicara jujur. Maka jangan salahkan aku, bila aku menghukummu." Azka mencium paksa bibir Zahra.

Zahra yang merasa direndahkan mencoba menghidari ciuman Azka. Tapi tenaga Zahra tak sebanding dengan Azka. Sambil menangis Zahra menggigit bibir Azka sampai berdarah. Azka yang melihat Zahra menangis, menghentikan tindakannya itu. Dia melepaskan Zahra. Namun Zahra masih saja menangis.

"Aku gak perduli kalau kamu mau berhubungan dengan laki-laki manapun. Tapi jauhi Hendra. Aku gak mau kamu punya hubungan dengan dia. Jika kamu masih berhubungan denganya, hukumanmu akan jauh lebih parah dari pada ini." Azka melangkah pergi meninggalkan zahra yang masih dalam keadaan menangis.

Terpopuler

Comments

fitriani

fitriani

jgn2 azka ydh biasa nih main kuda2an dgn rere🤔🤔🤔🤔

2022-11-25

0

Rahmaditha

Rahmaditha

cemburu bilang bos

2021-05-15

0

evita19

evita19

terjawab sudah ternyata mmg temennya Azka kk, tp gk sk sm sikap Azka yg egois, dia bleh selingkuh sm Rere n ngapain2 terserah dia giliran Zahra aja dia marah2

2021-04-07

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 Pesta Pernikahan
2 Episode 2 Sarapa Pagi
3 Episode 3 Perayaan Penyambutan
4 Episode 4 Teman Baru
5 Episode 5 Kunjungan Papa Mama
6 Episode 6 Panti Asuhan
7 Episode 7 Membeli Kue
8 Episode 8 Bulan Madu
9 Episode 9 Kilas Balik
10 Episode 10 Festival Topeng
11 Episode 11 Jalan-jalan
12 Episode 12 Pulang ke Rumah
13 Episode 13 Suara Petir
14 Episode 14 Makan Siang
15 Episode 15 Pergi Ke Mall
16 Episode 16 Azka yang kembali Marah
17 Episode 17 Teraktiran
18 Episode 18 Rencana Hendra
19 Episode 19 Zahra yang Ingin bicara
20 Episode 20 Pesta Opening Resort
21 Episode 21 Zahra yang Menghilang
22 Episode 22 Anting-anting
23 Episode 23 Sikap Zahra
24 Episode 24 Kemarahan Azka
25 Episode 25 Kabar dari Desa
26 Episode 26 Menanam Padi
27 Episode 27 Candaan Azka
28 Episode 28 Malam penyatuan
29 Episode 29 Ayunan
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 30
41 Episode 31
42 Episode 32
43 Episode 33
44 Episode 34
45 Episode 35
46 Episode 36
47 Episode 37
48 Episode 38
49 Episode 39
50 Episode 40
51 Episode 41
52 Episode 42
53 Episode 43
54 Episode 44
55 Episode 45
56 Episode 46
57 Episode 47
58 Episode 48
59 Episode 49
60 Episode 50
61 Episode 51
62 Episode 52
63 Episode 53
64 Episode 54
65 Episode 55
66 Episode 56
67 Episode 57
68 Episode 58
69 Episode 59
70 Episode 60
71 Episode 61
72 Episode 71
73 Episode 63
74 Episode 64
75 Episode 65
76 Episode 66
77 Episode 67
78 Episode 68
79 Episose 69
80 Episode 70
81 Episode 71
82 Episode 72
83 Episode 73
84 Episode 74
85 Episode 75
86 Episode 76
87 Episode 77
88 Episode 78
89 Episode 79
90 Episode 80
91 Episode 81
92 Episode 82
93 Episode 83
94 Episode 84
95 Episose 85 Perjuangan Azka
96 Episode 86 Nafsu Makan
97 Episode 87 Menyelinap Masuk
98 Episode 88 Hari pertama Check Up
99 Episode 89
100 90 Pengakuan Milea
101 Episode 91 Pembicaraan Azka dan Leo
102 Episode 92 Tamu
103 Episode 93 Rere
104 Episode 94 Kembalinya ingatan Zahra
105 Episode 95 Membalut luka Azka
106 Episode 96 Aksi Nekat Azka
107 Episode 97 Azka yang Merasa Kesal
108 Episode 98 Kejutan Reka
109 Episode 99 Bercandak
110 Episode 110 Mama Sisi
111 Episode 111 Kecemasan Zahra
112 Episode 112 Kena Batunya
113 Episode 113 Kabar buruk
114 Episode 114 Pulang ke Rumah
115 Episode 115 Kesal karena Cemburu
116 Episode 116 Menelepon Kak Reka
117 Episode 117 Akhirnya Zahra yang mau cerita
118 Episode 118 Krim Kue
119 Episode 119 Menjenguk
120 Episode 120 Pembicaraan
121 episode 121 Area Permainan
122 Episode 122 Sisi yang bersembunyi
123 Episode 123 Anak Kecil yang Menggemaskan
124 Episode 124 Kebiasaan Azka
125 episode 125 Pagi
126 Episode 126 Pencarian Sisi 1
127 Episode 127 Pencarian Sisi 2
128 Episode 128 Azka yang Merasa Tergoda
129 Episode 129 Es krim
130 Episode 130 Es Krim part 2
131 episode 131 Pesta Part 1
132 Episode 132 Pesta Part 2
133 Episode 133 Pesta Part 3
134 Episode 134 Mengikuti Sisi
135 Episode 135 Berbicara dengan Milea
136 Episode136 Telepon
137 Episode 137
138 Episode 138 Terbongkarnya Rahasia Milea
139 Episode 139 Pengejaran Milea
140 Episode 140
141 Episode 141 Kekalahan Milea
142 Episode 142 Membawa Sisi ke rumah sakit
143 Episode 143 Di Rumah Sakit
144 Episode 144 Azka Zahra
145 Episode 145 Keadaan Sisi
146 Episode 146 Rahasia
147 Episode 147
148 Episode 148 Sel Penjara
149 Episode 149 Sel Penjara 2
150 Episode 150 Berkumpul Bersama
151 Episode 151 kopi panas
152 Episode 152 Mengobati luka
153 Episode 153 Kedatangan Ibu yang Mendadak
154 Eoisode 154 Kucing dan Tikus
155 Episode 155 Permintaan Terakhir
156 Episode 156 Akhir Cerita (the end)
157 Episode tambahan
158 (Musim Ke 2)
159 Mabuk
160 Pertikaian
161 Teringat Masa Lalu
162 Pembicaraan
163 Makan Siang
164 Ingatan Masa Lalu
165 Rumah Sisi
166 Ice Skating
167 Alasan di balik semuanya
168 Wanita yang kemarin
169 Marah
170 Apartemen
171 Kembali teringat
172 Mengendap-ngendap
173 video
174 Hukuman di batalkan
175 Kelakuan aneh Clara
176 Meminta Motor
177 Toilet wanita
178 Menggambar seseorang
179 Tak sengaja menguping
180 Ruang Kesehatan
181 Pergi Ke Kantor
182 Hubungan yang semakin membaik
183 Salah paham
184 Kalung
185 Tak terkendali
186 Ditolong Rio kembali
187 Keganjilan
188 Aisyah 1
189 Aisyah 2
190 Pesan dari Rio
191 Bipolar
192 Bertolak belakang
193 Makan Malam
194 EPISODE 194
195 Pemaksaan
196 Ke perusahaan Relive
197 Anak Kecil Penjual Bunga
198 Cafetaria kantor
199 Kejadian yang di alami Milea
200 Mencari seorang Wanita
201 Tante Bunga
202 Pernyataan Cinta Rio
203 Pernikahan
204 Tidak sesuai ekspektasi
205 Amplop coklat
206 Pembahasan tentang Zahra
207 Bulan Madu
208 Sebuah titik terang
209 Melapor ke Kantor Polisi
210 Kembali ke hotel
211 Yanti yang kembali
212 Orang-orang mencurigakan
213 Pulang ke Rumah
214 Penjelasan Yanti
215 Kiss
216 Bertemu seseorang
217 Clara yang memasak
218 Brangkas Rahasia
219 Apakah sebuah pilihan yang benar?
220 Clara yang pergi
221 Sambal
222 Kelaparan
223 Masuk ke kamar Adam
224 Reza mengenal Arum?
225 Prasangka Rio kepada Paman Sam
226 Panti Asuhan Palangi
227 Vidio Call
228 Kejujuran yang memperburuk
229 Hobi Clara yang suka ngilang
230 Siapa laki-laki itu?
231 Azka yang tahu, siapa Rio sebenarnya?
232 Kecoa vs Cicak
233 Diawasi
234 Meminta bantuan
235 Berunding
236 Terbawa mimpi masa lalu
237 Mogok Makan
238 Kabur
239 Hati yang kembali berdebar
240 kedatangan yang tak diinginkan
241 Ciuman kejutan
242 Azka yang tergesa-gesa
Episodes

Updated 242 Episodes

1
Episode 1 Pesta Pernikahan
2
Episode 2 Sarapa Pagi
3
Episode 3 Perayaan Penyambutan
4
Episode 4 Teman Baru
5
Episode 5 Kunjungan Papa Mama
6
Episode 6 Panti Asuhan
7
Episode 7 Membeli Kue
8
Episode 8 Bulan Madu
9
Episode 9 Kilas Balik
10
Episode 10 Festival Topeng
11
Episode 11 Jalan-jalan
12
Episode 12 Pulang ke Rumah
13
Episode 13 Suara Petir
14
Episode 14 Makan Siang
15
Episode 15 Pergi Ke Mall
16
Episode 16 Azka yang kembali Marah
17
Episode 17 Teraktiran
18
Episode 18 Rencana Hendra
19
Episode 19 Zahra yang Ingin bicara
20
Episode 20 Pesta Opening Resort
21
Episode 21 Zahra yang Menghilang
22
Episode 22 Anting-anting
23
Episode 23 Sikap Zahra
24
Episode 24 Kemarahan Azka
25
Episode 25 Kabar dari Desa
26
Episode 26 Menanam Padi
27
Episode 27 Candaan Azka
28
Episode 28 Malam penyatuan
29
Episode 29 Ayunan
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 30
41
Episode 31
42
Episode 32
43
Episode 33
44
Episode 34
45
Episode 35
46
Episode 36
47
Episode 37
48
Episode 38
49
Episode 39
50
Episode 40
51
Episode 41
52
Episode 42
53
Episode 43
54
Episode 44
55
Episode 45
56
Episode 46
57
Episode 47
58
Episode 48
59
Episode 49
60
Episode 50
61
Episode 51
62
Episode 52
63
Episode 53
64
Episode 54
65
Episode 55
66
Episode 56
67
Episode 57
68
Episode 58
69
Episode 59
70
Episode 60
71
Episode 61
72
Episode 71
73
Episode 63
74
Episode 64
75
Episode 65
76
Episode 66
77
Episode 67
78
Episode 68
79
Episose 69
80
Episode 70
81
Episode 71
82
Episode 72
83
Episode 73
84
Episode 74
85
Episode 75
86
Episode 76
87
Episode 77
88
Episode 78
89
Episode 79
90
Episode 80
91
Episode 81
92
Episode 82
93
Episode 83
94
Episode 84
95
Episose 85 Perjuangan Azka
96
Episode 86 Nafsu Makan
97
Episode 87 Menyelinap Masuk
98
Episode 88 Hari pertama Check Up
99
Episode 89
100
90 Pengakuan Milea
101
Episode 91 Pembicaraan Azka dan Leo
102
Episode 92 Tamu
103
Episode 93 Rere
104
Episode 94 Kembalinya ingatan Zahra
105
Episode 95 Membalut luka Azka
106
Episode 96 Aksi Nekat Azka
107
Episode 97 Azka yang Merasa Kesal
108
Episode 98 Kejutan Reka
109
Episode 99 Bercandak
110
Episode 110 Mama Sisi
111
Episode 111 Kecemasan Zahra
112
Episode 112 Kena Batunya
113
Episode 113 Kabar buruk
114
Episode 114 Pulang ke Rumah
115
Episode 115 Kesal karena Cemburu
116
Episode 116 Menelepon Kak Reka
117
Episode 117 Akhirnya Zahra yang mau cerita
118
Episode 118 Krim Kue
119
Episode 119 Menjenguk
120
Episode 120 Pembicaraan
121
episode 121 Area Permainan
122
Episode 122 Sisi yang bersembunyi
123
Episode 123 Anak Kecil yang Menggemaskan
124
Episode 124 Kebiasaan Azka
125
episode 125 Pagi
126
Episode 126 Pencarian Sisi 1
127
Episode 127 Pencarian Sisi 2
128
Episode 128 Azka yang Merasa Tergoda
129
Episode 129 Es krim
130
Episode 130 Es Krim part 2
131
episode 131 Pesta Part 1
132
Episode 132 Pesta Part 2
133
Episode 133 Pesta Part 3
134
Episode 134 Mengikuti Sisi
135
Episode 135 Berbicara dengan Milea
136
Episode136 Telepon
137
Episode 137
138
Episode 138 Terbongkarnya Rahasia Milea
139
Episode 139 Pengejaran Milea
140
Episode 140
141
Episode 141 Kekalahan Milea
142
Episode 142 Membawa Sisi ke rumah sakit
143
Episode 143 Di Rumah Sakit
144
Episode 144 Azka Zahra
145
Episode 145 Keadaan Sisi
146
Episode 146 Rahasia
147
Episode 147
148
Episode 148 Sel Penjara
149
Episode 149 Sel Penjara 2
150
Episode 150 Berkumpul Bersama
151
Episode 151 kopi panas
152
Episode 152 Mengobati luka
153
Episode 153 Kedatangan Ibu yang Mendadak
154
Eoisode 154 Kucing dan Tikus
155
Episode 155 Permintaan Terakhir
156
Episode 156 Akhir Cerita (the end)
157
Episode tambahan
158
(Musim Ke 2)
159
Mabuk
160
Pertikaian
161
Teringat Masa Lalu
162
Pembicaraan
163
Makan Siang
164
Ingatan Masa Lalu
165
Rumah Sisi
166
Ice Skating
167
Alasan di balik semuanya
168
Wanita yang kemarin
169
Marah
170
Apartemen
171
Kembali teringat
172
Mengendap-ngendap
173
video
174
Hukuman di batalkan
175
Kelakuan aneh Clara
176
Meminta Motor
177
Toilet wanita
178
Menggambar seseorang
179
Tak sengaja menguping
180
Ruang Kesehatan
181
Pergi Ke Kantor
182
Hubungan yang semakin membaik
183
Salah paham
184
Kalung
185
Tak terkendali
186
Ditolong Rio kembali
187
Keganjilan
188
Aisyah 1
189
Aisyah 2
190
Pesan dari Rio
191
Bipolar
192
Bertolak belakang
193
Makan Malam
194
EPISODE 194
195
Pemaksaan
196
Ke perusahaan Relive
197
Anak Kecil Penjual Bunga
198
Cafetaria kantor
199
Kejadian yang di alami Milea
200
Mencari seorang Wanita
201
Tante Bunga
202
Pernyataan Cinta Rio
203
Pernikahan
204
Tidak sesuai ekspektasi
205
Amplop coklat
206
Pembahasan tentang Zahra
207
Bulan Madu
208
Sebuah titik terang
209
Melapor ke Kantor Polisi
210
Kembali ke hotel
211
Yanti yang kembali
212
Orang-orang mencurigakan
213
Pulang ke Rumah
214
Penjelasan Yanti
215
Kiss
216
Bertemu seseorang
217
Clara yang memasak
218
Brangkas Rahasia
219
Apakah sebuah pilihan yang benar?
220
Clara yang pergi
221
Sambal
222
Kelaparan
223
Masuk ke kamar Adam
224
Reza mengenal Arum?
225
Prasangka Rio kepada Paman Sam
226
Panti Asuhan Palangi
227
Vidio Call
228
Kejujuran yang memperburuk
229
Hobi Clara yang suka ngilang
230
Siapa laki-laki itu?
231
Azka yang tahu, siapa Rio sebenarnya?
232
Kecoa vs Cicak
233
Diawasi
234
Meminta bantuan
235
Berunding
236
Terbawa mimpi masa lalu
237
Mogok Makan
238
Kabur
239
Hati yang kembali berdebar
240
kedatangan yang tak diinginkan
241
Ciuman kejutan
242
Azka yang tergesa-gesa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!