Malam yang begitu menegangkan. Semuanya berkumpul dimeja makan. Mama dan papa yang datang secara mendadak membuat Azka dan Zahra cemas. Mereka berdua belum cukup persiapan untuk ini semua. Apalagi mereka berencana untuk menginap, sunggguh merepotkan.
"Sayang, apakah kamu sendiri yang memasak semua ini??" tanya ibu dengan melihat semua makanan yang telah tersaji.
"Iya ma, jadi mohon maaf kalau saja masakanya tidak seenak makanan yang ada direstoran-restoran."
"Apa kamu bercandak sayang, ini semua sudah lebih dari masakan restoran. Semua masakanmu ini begitu istimewa, mengingatkan mama pada saat dikampung halaman dulu." jelas mama
"Iya nak Zahra. Menurut kami makanan enak tidak datang dari restoran ternama atau termahal. Tapi masakan yang enak itu, bila dimasak penuh cinta dan dimakan bersama orang yang kita sayang itu sudah cukup membuat makanan itu terasa enak. Jadi kamu gak perlu merendah begitu." Tambah papa.
"Iya bener itu Pa. Lagian masakan mbak Zahra juga gak kalah sama masakan restoran. Bisa-bisa gendut Ratna bila tiap hari mbak Zahra yang masak. hehehe" Ucap Ratna yang tertawa pelan.
"Terima kasih papa mama dan juga Ratna. saya senang sekali kalian semua bisa menikmati masakan saya." Jawab Zahra sambil tersenyum senang.
Azka yang mendengar itu semua merasa tak senang. Namum dia tak dapat memperlihatkan ketidak senanganya didepan mereka semua. Dia berusaha untuk tetap tersenyum.
"Masakan apaan ini semua, begitu kampungan. Mendinangan juga masakan restoran lah. Trus ngapain mama papa
muji-muji dia segala, ini lagi si Ratna ikut-ikutan ." kata Azka dalam hati.
Namun apalah daya demi kesuksesan sandiwaranya Azka terpaksa memakan masakan Zahra, walau pun didalam pemikirannya penuh dengan penolakan.
Tapi saat satu suapan mendarat pada mulutnya, Azka merasakan ada sesuatu yang meledak dalam mulutnya.
Ia baru pertama kali merasakan masakan yang seperti ini.
"Sepertinya aku menarik kembali kata-kataku tadi untuk makanan ini. Sebenarnya makananya memang pantas untuk mendapatkan pujian." batin Azka yang meneruskan makan.
"Sepertinya kak Azka harus bersyukur mendapatkan istri seperti kak Zahra, bener kan kak??" goda Ratna
"Em... tentu saja. Aku begitu beruntung mendapatkan istri yang seperti zahra. Tak cuma cantik, dia juga jago memasak pula. Sungguh suatu hal yang patut untuk disyukuri." ucap Azka sambil meraih tangan Zahra yang berada disampingnya.
Sedangkan Zahra hanya tersenyum malu mencoba mengimbangi peranan yang dimainkan Azka.
"Oh ya sayang, bagaimana suasana dilingkungan sekitar sini? apakah kamu menyukainya?" tanya mama.
"Alhamdlilah ma, suasananya sangat enak, apalagi para tetangga juga lumayan
ramah-ramah. Cuman..." berhenti berbicara.
"Cuman..... apa sayang??"
"Cuman.... apa gak terlalu berlebihan rumah yang kami tempati sekarang ini? maksud zahra, yang tinggal kan cuman mas Azka dan saya, apa gak terlalu berlebihan memberikan hadiah rumah yang sebesar ini??" Terang Zahra.
"Oh tentu tidak sayang. Ini semua sudah kami persiapkan untuk kalian berdua jauh-jauh hari sebelum kalian menikah. Jadi buatlah
banyak-banyak cucu biar rumah ini tidak nampak besar untuk kalian berdua. hehehe" mama dengan senyuman jailnya.
"Sepertinya mama terlalu berharap berlebihan, apakah mama gak kasian kalau zahra kelelahan karna memiliki banyak anak?"
Ucap Azka.
"Begitukah menurutmu, kalau gitu mama akan
mempekerjakan setidaknya 100 orang untuk membatu kalian merawat calon cucu-cucuku bagaimana menurut kalian.?" Ide mama.
"Terima kasih untuk perhatian mama. Tapi sepertinya saya dan Mas Azka belum kepikiran sampai kesana. Jadi saya mohon untuk pengertiannya." jelas Zahra
"Baiklah mama mengerti. Mama akan bersabar untuk itu." balas mama
"Azka... kamu kan baru saja menikah, jadi menurut papa kamu akhir-akhir ini tak perlu terlalu serius dengan urusan kantor. Papa ingin kamu dan zahra pergi untuk berbulan madu, terserah kalian mau kemana. Sementara soal pekerjaan gak usah kuwatir, serahkan itu semua kepada sekertaris Roby. Papa yakin kamu gak kebetatan untuk itu?" kata-kata papa.
"Tapi pa, ada pekerjaan yang semestinya tidak aku tinggalin." Azka yang beralasan.
"Sudahlah...kamu tenang saja, papa percaya kalau Roby dapat mengatasi itu semua. Yang perlu kamu pikirkan sekarang adalah kemana kalian akan pergi untuk berbulan madu. Cukup simpelkan...?"
"Kalau itu yang papa inginkan, sepertinya aku sudah tak dapat untuk menolaknya. Baiklah Zahra dan aku akan memikirknya."
Acara makan malam telah selesai, mereka pun semua sudah cukup lama untuk mengobrol. Sedangkan sekarang, malam sudah semakin larut. Mereka putuskan untuk memasuki kamar masing-masing. Azka dan Zahra terpaksa tidur dikamar yang sama.
"Kalau bukan karna papa dan mama disini,
gwe gak bakalan mau satu kamar sama lo.
Jadi gwe harap lo dapat berhati-hati.
Berhubung gwe masih punya hati nurani, lo boleh tidur dikasur sedangkan gwe akan tidur disofa." jelas Azka.
"Iya Mas. Saya juga ngerti, jadi mas gak perlu kuwatir. Terima kasih juga mas sudah membiarkan saya untuk tidur diranjang."
"Sudahlah cepetan tidur sana." perintah Azka.
"Baik Mas."
Zahra merebahkan tubuhnya diatas ranjang. membiarkan rasa lelah memakan semua pemikiran dalam benaknya. Melepaskan beban dalam tidurnya. Bertahan dengan doa yang selalu ia panjatkan kepada tuhan yang selalu berada disisinya. Semoga mimpi indah tak segan untuk menghampirinya dalam tidur lelapnya.
Sedangkan Azka yang tidur disofa mulai kepikiran permintaan ayahnya sewaktu makan malam tadi. Menurutnya itu bukan perjalanan bulan madu tapi lebih tepatnya perjalanan madu beracun.
"Semakin lama semakin merepotkan" ucap Azka pelan.
"Kreet" suara pintu yang terbuka
"Apa kalian sudah tidur??"
"Mama ngapain malam-malam kesini? terus kenapa gak mengetuk dulu sebelum masuk?" ucap Azka yang sedikit terkejut dengan kedatangan mama.
"Mama tadi udah ngetuk pintu tapi kamunya aja yang gak denger. Mama kesini mau nanya dimana zahra menyimpan selimut. Badan mama terasa kedinginan jadi mau minta tambahan selimut. Trus kamu ngapain malah tiduran disofa?"
"Em.....soal itu. Azka tadi lagi baca buku trus gak tau malah jadi ketiduran. Mama mau cari selimutkan, sebentar biar Azka ambilin." berjalan mengambil selimut.
"Ini ma selimutnya." sambil mengulurkan selimutnya.
"Okey mama mau kembali kekamar dulu.
Oh ya...buat kamu Azka jangan keseringan ketiduran disofa, nanti mama gak bisa
cepet-cepet nimang cucu, inget itu." peringatan dari mama.
"Iya...ma..."
"Selamat tidur sayang"
"Selamat tidur ma"
Mama berjalan keluar meninggalkan kamar Azka. Disaat itu juga Azka merasa begitu lega. Mamanya tidak mencurigainya. Untuk berjaga-jaga, Azka memutuskan untuk tidur diatas ranjang bersama Zahra.
Tentu saja Azka tak mau melakukan itu, tapi mau bagaimana lagi. Dia tak mau ambil resiko bila
sewaktu-waktu mamanya datang dengan
tiba-tiba. Memang hanya dengan mengunci pintu kelihtanya cukup menyelesaikan masalah. Tapi dengan sifat mama yang begitu sangat dikenal Azka.
Tidak suatu hal yang mungkin untuk mama memiliki duplikat kunci kamar. Jadi dia putuskan untuk tidak ambil resiko dan tidur satu ranjang dengan Zahra.
Dimalam ini dikamar yang sama dan diranjang yang sama pula, mereka berdua menghabiskan malam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
Muhayati Imuh
ga segitu juga kali ampe 100 pekerja , ???
2021-03-08
0
Khusnul Maratus Soliah
bucin ntar lama2 si azka mah...
2020-09-16
2
Andhina
lanjut
2020-09-13
2