Keesokan harinya setelah kejadian semalam. Azka dan Zahra sudah bersiap untuk pergi ke Bandara. Hari ini Mereka akan kembali ke Indonesia.
"Tunggu sebentar. Ada sesuatu yang ingin gwe omongin sama loe." Menghentikan langkah zahra.
"Apa yang ingin Mas bicarakan?"
"Tentang kejadian semalam. Gwe minta sama loe jangan kasih tau mama sama papa soal hubungan gwe sama Rere. Gwe tahu apa yang gwe lakuin ini gak bener. Tapi kita sama-sama tahu bahwa pernikahan kita hanyalah hubungan atas dasar keterpaksaan. Jadi sangat tidak memungkinkan untuk kita bisa dapat bersatu. Aku harap loe bisa mengerti untuk hal ini." jelas azka.
"Iya mas, saya mengerti tentang apa yang Mas katakan. Tapi cuma satu yang ingin saya luruskan untuk Mas. Didunia ini tidak ada yang namanya tidak mungkin. Jika allah sudah menghendaki maka yang tak mungkin pasti akan menjadi mungkin. Soal hubungan mas dengan mbk Rere, Mas tenang saja. Saya akan merahasiakanya. Jadi mas gak perlu khawatir. Sebaiknya sekarang kita segera pergi. Kalau tidak bergegas, takutnya akan ketinggalan pesawat."
"Baiklah jika begitu, aku harap aku bisa memegang kata-katamu."
Meraka akhirnya bergegas pergi kebandara.
Selama dipesawat mereka hanya saling diam tanpa berbicara satu sama lain. Mereka berdua sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Sampai setelah pesawat mendararat, Azka baru mulai angkat bicara.
"Saat sampai dirumah, kita harus bersikap normal seperti biasanya didepan mereka. Jangan sampai mama papa mencurigai hubungan kita."
"Saya mengerti Mas."
Sesampainya dirumah.
"Ma.... Pa....kami pulang." Suara Azka saat memasuki rumah.
"Assalamualikum Ma...Pa..." Ucap zahra.
Terlihat sekali perbedaan kepribadian mereka. Antara Azka dan Zahra. Zahra yang selalu mengucapkan salam ketika memasuki rumah dan Azka yang selalu sesuka hatinya sendiri.
"Walaikumsalam, kalian sudah pulang rupanya. Kenapa gak telpon Mama dulu.
Mama kan bisa jemput kalian dibandara."
"Untuk apa Mama susah-susah peegi ke Bandara, kalau kita sudah sampai disini." Azka tersenyum menggoda sang Mama.
"Uu.... Anak Mama yang satu ini, sudah pintar bicara ternyata. Ya sudahlah, kalian pasti lelah. Sebaiknya istirahat dulu dikamar. Besok baru kita bicara." Ucap Mama
" Iya ma"
"Kakak." Suara Ratna yang tiba-tiba muncul sambil berlari menghampiri Azka.
"Ternyata kakak sudah pulang. Mana oleh-olehnya?"
"Emang dasar kamu setan kecil. Kakaknya baru dateng gak disambut.
Eh.... Ini malah nagih oleh-oleh. Gak ada perhatiannya sama sekali."
"Iya iya Kakak. Selamat datang kembali Kakakku yang tercinta.
I miss you. Udah kan, sekarang mana oleh-olehnya.?"
"Gak ada oleh-oleh. Sudah sana kembali tidur!"
"Ihh.... Dasar kakak kejam, kakak jelek, kakak gak punya perasaan. Nyesel tadi Ratna bilang kayak gitu kekakak."
Ratna berjalan dengan
menghentak-hentakkan kakinya dengan keras.
"Kamu itu lo, suka sekali kalau gangguin adekmu."
"Hehehe.... Soalnya dia lucu mah, makanya Azka suka gangguin dia." ucap azka sambil tersenyum.
"Tapi kan kasian mas, Ratnanya."
"Gak apa-apa dia udah tahan banting. Tenang aja."
"Ya sudah kalian istirahat sana, mama juga udah ngantuk nie mau tidur."
"Iya ma."
Azka dan zahra kembali kekamar mereka.
"Gwe mau mandi dulu. Kalau loe ngantuk tidur aja duluan." Ucap Azka
"Iya Mas."
Setelah pulang kerumah semuanya kembali normal. Zahra pun melakukan rutinitas kegiatan hariannya. Dia bangun pagi untuk membuat sarapan pagi. Tapi kali ini dia tidak sendiri, dia ditemani seorang asisten cantik. Siapa lagi kalau bukan Ratna, yang begitu antusias untuk belajar memasak.
"Wah... Sepertinya kamu sudah lumayan jago masak Ratna." Puji Zahra.
"Yah kak Zahra, mana bisa dibilang jago. Kalau cuma bisa masak sayur sederhana kayak gini."
"Tapi, walau pun sederhana setidaknya rasanya enakkan. Jadi untuk membuat masakan yang lainnya kan bisa menyusul. Menurut kakak kamu sudah cukup baik."
"Terima kasih sudah memujiku kak. Oh ya kakak cerita donk, sewaktu kakak diluar negri kemarin."
"Cerita apa yang harus kakak ceritakan padamu."
"Ya apa aja, kakak jalan-jalan kemana, trus nglakuin apa aja, dan hal menarik apa aja yang bisa dilakuin disana."
"Jika seperti itu, malah terdengar seperti sebuah laporan bukan. Baiklah kakak akan sedikit bercerita. Waktu kakak disana, banyak sekali tempat-tempat indah yang kakak kunjungi. Yang paling membuat kakak kagum waktu disana, ada sebuah pulau yang sangat terlihat indah dan menawan. Ya walau pun hanya pulau kecil tapi,
bangunan-bangunan disana penuh dengan warna yang membuat mata tak bosan untuk terus melihatnya. Apalagi dengan sungainya yang berwarna kehijauan menambah kesan menawan untuk pulau itu."
"Wah kelihatanya mengasikkan. Ratna jadi pengen kesana."
"Ya lain kali bila keluarga kita ada waktu, kita bisa membujuk Mas Azka untuk liburan keluarga kesana."
"Em...Ide bagus itu kak."
"Tapi sewaktu Kak zahra ada disana, apakah kak Azka bersikap romantis kepada kakak?"
"Kamu ini ya, kalau nanya suka yang aneh-aneh."
"Bukan begitu, Ratna hanya penasaran saja. Karena kak Azka kan orang yang nyebelin apa mungkin kakak juga bisa bersikap romantis dengan seorang wanita. Itu saja."
"Sudahlah sebaiknya kamu, panggil yang lainnya untuk sarapan. Biar ini kak zahra yang beresin."
"Baiklah kak. Ratna tinggal dulu."
"Iya"
Mereka sekeluarga telah berkumpul diruang makan untuk sarapan.
"Seperti yang kita sepakati tempo hari. Setelah kalian pulang bulan madu, Papa sama Mama akan kembali kerumah. Mungkin nanti siang Papa sama Mama akan pergi. Jadi Papa berharap akan segera menerima kabar baik dari kalian." Ucap Papa
"Kabar baik? Apa yang Papa maksud." Tanya Azka
"Begini, kalian kan baru saja berbulan madu jadi, kami pikir menantu kami zahra tercinta ini pasti akan segera memberikan cucu untuk papa sama mama. Makanya kami gak sabar untuk menantikan kabar baik dari kalian."Jelas Mama
"Kenapa Papa sama Mama membahas persoalan ini lagi. Kita kan sudah sepakat tempo hari untuk tidak
terburu-buru. Ini sama saja Mama sama Papa menekan aku dan Zahra."
"Papa sama Mama tidak menekan kalian berdua. Kami cuma bilang, jika kami menantikan kabar baik dari kalian. Apakah itu salah." Ucap Mama
"Sudahlah Azka mau berangkat sekarang."
"Tapi Mas, Mas Azka kan baru makan sedikit." tahan Zahra.
"Tiba-tiba saja Mas sudah kenyang. Mas berangkat dulu."
"Iya Mas." Zahra mencium tangan suaminya. Sementara Azka tertegun melihat Zahra yang melakukan hal itu.
"Ehem...hem..." Ratna yang sengaja pura-pura batuk.
Karena batuknya Ratna, Azka pun tersadar.
"Oh ya untuk kamu setan kecil. Oleh-oleh yang kamu inginkan ada dikamar, minta saja zahra untuk menunjukkannya. Kalau begitu aku pergi dulu."
"Hore.... Terima kasih Kakak."
Azka melangkah pergi meninggalkan kelurganya yang masih duduk diruang makan.
"Kenapa harus sebegitu marahnya dia, cuma gara-gara kita membahas itu." Ucap Mama.
"Maafkan sikap Mas Azka Ma. Akhir-akhir ini perasaanya sedang tidak enak, makanya Mas Azka sedikit sensitif."
"Uuuh.... Kamu memang menantu Mama yang paling perhatian. Buat Mama sikap Azka itu sudah biasa. Jadi Mama gak terlalu khawatir. Sebaiknya kamu memikirkan dirimu sayang. Lihatlah kamu mulai agak kurusan sekarang. Jadi makanlah lebih banyak."
"Baik Ma."
Zahra sudah datang ke Kampus. Yang pertama kali ia lakukan adalah mencari keberadaan temannya Sisi. Akhirnya ia bertemu sisi di Kantin.
"Sisi." Panggil Zahra sambil menghampiri Sisi.
"Zahra, akhirnya kamu sudah masuk kampus juga. Aku kangen tau, gak bertemu kamu beberapa hari ini."
"Maaf deh, membuatmu merindukanku."
Zahra tersenyum.
"Is okey, Tapi gimana hasil dari bulan madu kalian. Apakah berjalan sukses.?"
"Apaan sie kamu. Tau-tau nanya kayak gitu."
"Ya penasaran aja, karna aku kan belum menikah." Sisi tertawa senang.
"Dasar kamu. Oh iya Sisi nanti sepulang kuliah temenin aku lagi kepanti yuk!"
"Siap boss. Aku juga udah rindu sama anak-anak manis itu."
"Sama aku juga. Udah yuk kekelas sudah hampir masuk nie."
"Okey baby. Let's go."
Selesai kuliah Zahra dan Sisi pergi ke Panti Asuhan. Saat mereka tiba sudah banyak anak yang mengrubungi mereka. Zahra mencari keberadaan Laras. Ia hampir mengelilingi panti, namun tak dapat menemukannya, sampai ia melihat seorang anak perempuan bersama seorang laki-laki yang duduk dibawah pohon besar dibelakang panti.
Anak perempuan itu adalah Laras dan ia sedang bersama Mas Hendra. Apa yang sedang mereka lakukan disana? Pertanyaan yang muncul dibenak Zahra.
Zahra pun menghampiri mereka.
"Assalamualaikum." Zahra memberikan salam.
"Walaikumsalam" Jawab Hendra
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Zahra.
"Kita sedang mencoba menggambar alam. Kebetulan juga cuacanya sedang bagus jadi sayang kalau dilewatkan begitu saja. Bergabunglah dengan kami." Ajak Hendra.
"Apakah boleh?"
"Tentu saja, kemarilah!" Ucap Hendra.
Mereka bertiga terlihat begitu akrab. Laras pun mulai mau berintetaksi dengan Zahra. Sambil mengawasi Laras yang masih menggambar, Zahra dan Hendra mengobrol.
"Zahra bolehkah aku bertanya padamu?"
Ucap Hendra.
"Tentu saja, apa yang ingin Mas Hendra tanyakan?"
"Apa yang membutmu untuk datang ke Panti Asuhan ini?"
"Sebernarnya untuk bisa berbuat baik itu tidak memerlukan sebuah alasan. Begitu juga untuk hal yang saya lakukan sekarang ini. Saya hanya ingin berbagi sedikit kebahagian kepada mereka. Mengingat Abah saya yang selalu mengajakan saya untuk selalu berbagi dengan sesama. Apakah itu cukup untuk menjawab pertanyaan Mas Hendra tadi?"
"Tentu saja. Tidak hanya sekedar cantik, hatimu juga sangat baik Zahra. Aku kagum padamu."
"Mas Hendra ini terlalu memuji. Bagaimana dengan Mas Hendra sendiri. Apa yang membuat Mas Hendra kemari?"
"Aku hanya ingin berterima kasih kepada seseorang yang telah berjasa untukku. Maka dari itu aku ada disini."
"Bila seperti itu Mas Hendra juga termasuk orang baik, karena Mas tidak melupakan seseorang yang berjasa dalam hidup Mas Hendra."
"Terima kasih untuk pujianmu. Tapi bolehkah aku untuk mentraktirmu makan sianng?"
"Em....bagaimana ya?"
"Ayolah, hanya sekedar makan siang. Anggap saja sebaigai tanda terima kasihku karena hari ini kamu mau menemani aku dan laras."
"Baiklah saya mau, tapi dilain waktu gak apa-apa kan? Soalnya sekarang ini saya harus segera pulang."
"Is okey. Lain kali bila kamu sudah ada waktu kabari aku. Tapi sepertinya kita belum bertukar no telepon. Bolehkah aku tau no teleponmu?"
"Oh iya Mas, tentu saja." Zahra memberikan no teleponnya.
Saat zahra hendak berdiri kakinya tidak sengaja tergelincir. Dia pun hampir saja terjatuh. Namun Hendra berhasil menangkap tubuhnya sebelum menyentuh tanah. Tanpa sengaja Hendra bertatapan dengan Zahra. Dia melihat kedua mata cantik Zahra dengan jarak dekat. Sejenak Hendra terpesona dengan kedua matanya. Zahra yang menyadarinya segera bangun dan berdiri.
"Maaf Mas Hendra, tadi saya tidak sengaja. Kalau begitu, saya pamit pulang dulu."
"Oh iya, hati-hati dijalan."
"Asalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Sisi mengantarkan Zahra pulang kerumah.
Tapi selama diperjalanan Zahra banyak melamun. Sisi pun menyadarinya dan mulai mengkhawatirkan Zahra.
"Kamu gak apa-apa Zahra?"
"Ha...tentu saja. Aku tidak apa-apa."
"Kamu yakin?"
"Tentu saja. Aku masuk dulu.
Dan terima kasih untuk hari ini."
"Sama-sama. Nanti kalau ada apa-apa, kamu bisa telepon aku. Aku akan siap datang buat kamu."
"Iya terima kasih, kamu begitu perhatian padaku."
"Tentu saja, kita kan teman."
"Iya iya, aku tahu. Kalau begitu aku masuk dulu."
"Em...."
Sisi pun pergi meninggalkan rumah Zahra.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
evita19
penasaran ini Hendra sahabatnya Azka bukan sich
2021-04-07
0
Andhina
lanjut
2020-09-13
2
Adam Adam
buat Azka cemburu Thor...
2020-09-08
3