"Mama sama papa yakin gak nunggu mas Azka pulang dulu."
"Gak perlu, dia juga lagi ngambek sama Papa Mama. Jadi biarkan saja dia." Ucap Mama
"Iya nak Zahra, kami sudah paham betul sikap Azka yang seperti ini. Dia gak akan pulang kalau masih ngambek seperti itu. Paling-paling nanti malam juga dia nginep dirumah temannya. Jadi kamu tidak perlu menunggunya." Jelas Papa
"Iya sayang, benar yang dikatakan Papa. Dia selalu bersikap seperti itu bila sedang ngambek atau marah. Jadi kamu tidak perlu menunggunya malam ini. Kalau sudah hilang ngambeknya pasti dia pulang sendiri kerumah. Jadi jangan terlalu mengkhawatirkannya. Kamu mengerti?"
"Iya ma, Zahra paham."
"Oh iya soal Ratna, nanti ada sopir yang menjeputnya untuk mengambil barang-barangnya. Kalau kamu merasa kesepian, kamu bisa meminta Ratna untuk menemanimu malam ini. Sekarang Papa Mama mau pergi dulu ya sayang."
"Iya mah, hati-hati dijalan."
"Kamu juga baik-baik dirumah. Kami pergi dulu ya. Daaa... Sayang."
"Daaa ma...."
Sekarang Zahra sendirian dirumah. Setelah kepergian Papa Mama rumah terasa sepi kembali. Padahal Zahra sudah sangat senang bila mereka bisa tinggal disini. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi keputusannya Mas Azka. Jadi Zahra tidak bisa untuk menentangnya. Zahra kepikiran tentang perkataan Mama tadi.
"Akankah Mas Azka tidak pulang malam ini?" Pertanyaan yang muncul didalam benaknya.
"Mungkin dia hanya membutuhkan waktu untuk sendiri. Sebaiknya aku tidak terlalu berpikiran yang aneh-aneh." Zahra yang sedikit gelisah.
Mungkin nanti setelah Ratna datang dia terpikir untuk meminta Ratna menemaninnya malam ini.
Jadi untuk mengisi waktu luangnya Zahra ingin membuat kue.
"Lumayan untuk cemilan nanti malam bersama Ratna. Lagian Ratna kan paling suka kue." Dalam pikiran Zahra
Didapur, Zahra begitu bersemangat membuat kue. Terlihat tidak ada beban pikiran saat ia membuat kue. Mungkin memasak memang cara jitu untuk Zahra menghilangkan beban pikirannya.
Setidaknya dapat sejenak untuk melupakannya. Setelah 1 jam lebih Zahra bergulat didapur. Akhirnya kuenya matang juga.
"Tung ting" Suara nada pesan masuk.
Pesan dari Ratna. "Tadi Mama sudah menelepon Ratna kak, dan memintaku untuk menemani Kak Zahra malam ini. Tapi maaf Kak Zahra, aku ada tugas kelompok jadi aku nginep dirumah teman. Aku harap Kak Zahra tidak apa-apa untuk ini?"
"Tentu saja tidak apa-apa. Tugas kamu lebih penting. Jadi belajarlah dengan rajin. Kakak juga sudah terbiasa dirumah sendiri. Jadi kamu tidak perlu khawatir." Membalas pesan Ratna.
"Terima kasih kak. Kak Zahra memang yang terbaik." Pesan dari Ratna.
Zahra sedikit merasa kecewa. Tapi apa boleh buat. Ratna memang tidak bisa datang. Tiba-tiba saja dia teringat Sisi. Zahra pun menelponnya.
"Assalamualikum Sisi" Zahra
"Waalaikumsalam. Tumben kamu meneleponku, ada apa? Kangen ya?" ucap Sisi.
"Udah gak usah bercandak. Kamu sibuk gak malam ini?"
"Malam ini?? Em.....Kalau gak salah, mama minta aku buat nganterin kerumah nenek. Mungkin juga aku nginep disana. Memangnya ada apa kamu nanya itu?"
"Begitu ya. Gak apa-apa sie cuma nanya aja. Tapi besok kamu masuk kuliah kan?"
"Tentu saja. Tapi sebenarnya ada apa sie, kamu nanya kayak gitu? Kamu lagi ada masalah ya?"
"Oh gak, gak kok. Sebenernya aku lagi masak kue. Niatnya mau kasih kamu juga. Tapi kelihatanya kamu gak bisa kesini untuk ngambilnya. Jadi aku akan bawakan besok kekampus."
"Oh....kamu baik banget. Aku jadi sedikit merasa bersalah."
"Kamu gak salah kenapa harus merasa bersalah. Kamu memang aneh."
"Ya....soalnya aku gak bisa kesana. Padahal kamu pasti udah susah payah buat kuenya."
"Apaan sie, kamu terlalu lebay. Lagian aku juga cuma iseng-iseng buat kuenya. Tahu gini jadinya, aku gak telpon kamu tadi. Ya sudah aku titip salam saja, untuk mama dan nenekmu. Semoga mereka sehat selalu. Dan sampai ketemu besok dikampus."
"Iya, pasti aku sampaiin keMama. Sampai ketemu besok."
"Assalamualaiku."
"Walaikusalam" Memutuskan telepon.
"Sepertinya aku memang harus sendirian malam ini." Batin Zahra.
Zahra pun membereskan dapur dan kembali kekamarnya.
Sementara diCaffe milik Rere.
Azka sedang mengobrol dengan Rere.
"Re.... sebaiknya kamu jujur deh sama aku."
"Memanganya aku bohong apa kekamu?" Rere yang memutar balikkan pertanyaan.
"Saat kamu di Venesia, itu bukan untuk menemani seorang teman liburan bukan? Apa yang sebenarnya kamu lakukan disana?" Tanya Azka
"Aku memang menemani seorang teman kog disana." Rere yang mencoba mengeles
"Sudahlah kamu gak usah berbohong lagi. Aku sudah tau semuanya." Ungkap Azka
"Okey...akan aku katakan yang sebenarnya. Aku memang sengaja kesana untuk gangguin rencana bulan madu kalian. Aku gak ingin kalian bersama. Apa lagi berduaan. Itu yang membuatku mengikuti kalian kesana." Jelas Rere
"Sebenarnya apa sih yang kamu fikirkan. Kamu tau sendiri kan, yang aku cintai cuma kamu. Sedangkan aku dan Zahra cuma bersandiwara sebagai pasangan. Aku kesana cuma untuk menuruti permintaan orang tua aku, gak lebih.
Apakah sekarang kamu mulai gak percaya dengan cintaku?"
"Bukan begitu. Aku cuma cemburu melihat kalian bersama. Dan aku takut semakin sering kalian bersama membuat cintamu kepadaku memudar. Aku gak mau kehilangan kamu."
"Baiklah aku mengerti perasaanmu. Tapi lain kali jangan melakukan sesuatu yang sejauh itu. Aku tidak ingin semuanya menjadi kacau. Kamu mengerti?" Pinta Azka
"Em... Aku mengerti." Rere memeluk erat tubuh Azka.
"Sepertinya akan turun hujan. Sebaiknya aku pulang sekarang." Ucap Azka
"Tapi aku masih ingin bersamamu." Rere yang mulai bersikap manja.
"Situasi dirumah sedang gak enak. Jadi aku gak bisa berlama-lama disini. Lain kali saja. Aku akan datang kerumahmu agar kita bisa lebih lama bersama."
"Benarkah itu...?"
"Tentu, mana mungkin aku membohongimu." Jawab Azka.
"Baiklah, aku akan melepasmu hari ini." Rere melepaskan pelukannya.
"Terima kasih sayang." Azka mengecup kening Rere.
"Ingat ..... Jangan sampai lupa apa yang kamu ucapkan tadi."
"Baik Boss." Azka mulai melangkah pergi.
"Azka.... Tunggu!" Tahan Rere
"Apa lagi?"
"Aku melupakan seauatu."
"Melupakan apa?"
Dengan tiba-tiba Rere mencium bibir Azka.
"Aku lupa untuk ciumanku. Baiklah sekarang kamu boleh pergi."
"Kamu ini..... Sungguh nakal." Mencubit hidung Rere.
"Kalau begitu aku pergi dulu." Ucap Azka
"Hati-hati dijalan." Pesan Rere.
Azka pun pergi meninggalkan Rere.
Dengan cuaca yang sangat mendung. Perlahan-lahan tetesan air hujan mulai turun. Hujan semakin lebat disertai angin yang sangat kencang. Kilatan petir menyambar terdengar begitu menggelegar. Hingga membuat terkejut orang yang mendengar. Azka yang masih dalam perjalanan pulang. Berusaha berhati-hati saat menyetir agar tak terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Sampailah azka didepan rumah. Tetapi ada yang aneh. Rumahnya terlihat begitu gelap, tanpa ada satu pun cahaya lampu yang menyala.
"Kenapa begitu gelap sekali. Apakah tidak ada orang dirumah?" Pikir Azka.
Azka melangkah memasuki rumah.
"Pintunya....kenapa tidak dikunci." Azka mulai sedikit cemas .
Dia mencari saklar lampu dengan dibantu cahaya dari HPnya.
"Ternyata listriknya sedang padam." Ucapnya dengan suara pelan.
"Tunggu dulu.....terus kemana si zahra?"
Pertanyaan yang tiba-tiba saja muncul.
"Zahra..." Azka yang mencoba memangil Zahra.
"Zahra, loe dimana?"
"Zahra" Azka memanggil kembali. Tapi tidak ada tanda-tanda respon darinya.
Sementara suara petir yang menyambar semakin menggelegar. Azka naik kelantai atas menuju kamarnya.
Samar-samar ia mendengar suara seseorang menangis. Azka mengikuti asal suara tangisan tersebut. Sampai dikamarnya, suara tangisan itu semakin jelas. Azka buru-buru masuk kedalam kamar. Ia melihat Zahra yang menangis sambil memeluk kedua kakinya dipojok lemari.
"Zahra" Ucap Azka.
Dia berlari menghampiri Zahra.
"Zahra, apa yang terjadi padamu?" Tanya Azka
"Jdaaaarrr" Suara keras petir yang menyambar.
"Aaaa...Abah Zahra ta...kut." Suara Zahra yang terdengar begitu ketakutan.
Zahra sangat ketakutan akan suara petir. Sampai tak menyadari keberadaan Azka yang ada didepannya. Melihat kondisi Zahra yang saat ini sangat ketakutan. Dengan sendirinya Azka langsung memeluk tubuh Zahra.
"Tenanglah, gwe ada disini. Loe gak perlu takut lagi." Mencoba menenangkan Zahra dalam pelukanya.
"Jdaaaarrr" Suara petir yang kembali terdengar.
"Aaaa...." Suara teriakan Zahra.
Dan tanpa sadar Zahra juga memeluk Azka dengan sangat erat.
"Jangan takut. Gwe akan jagain loe.
Jadi udah jangan menangis lagi." Tangan Azka mulai mengelus kepala Zahra.
Semakin lama tangisan Zahra sudah berhenti. Dan Akhirnya Zahra pun tertidur dalam pelukan Azka. Hujan juga sudah mulai reda. Lampu kembali menyala. Namun Azka masih tetap terjaga. Dia menatap Zahra yang tetidur dalam pelukanya. Azka mulai merasakan perasaan yang aneh didalam hatinya. Perasaan hangat dan nyaman saat ia memeluk Zahra. Dia menggendong Zahra kemudian merebahkanya diatas ranjang. Dia kembali menatap Zahra.
"Dasar wanita bodoh. Kenapa gak bilang kalau loe takut petir. Gwe gak tahu kalau loe bisa setakut itu. Ternyata loe gak sekuat yang gwe kira." Merapikan selimut Zahra.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
Lenny Marlina
tapi saya juga sangat penakut, trutama takut sama hantu🤫🤭
2021-04-04
0
Suri Ani
ternyata zahralah yang bodoh S2 knp pikiran tdk S2 mau saja dipecundangi si Aska yg dama bodohx 😄😃😁
2021-03-24
0
Leska Puspita
takut itu bukan berarti manja.
manusia emang ada yang penakut.
jiwa penakut itu sangat susah di buang...
2021-02-09
1