Azka terbangun dari tidurnya. Dia terkejut, kenapa bisa dia tidur dikamar zahra.
"Bagaimana bisa gwe tidur disini." mencoba mengingat kembali apa yang telah terjadi kemarin.
*flash back*
Hari sudah semakin sore, Azka mengantar Rere pulang kembali kehotel tempatnya menginap. Setelah mengantarkan Rere, Azka kembali kehotel penginapanya sendiri. Saat dikamarnya, hati Azka merasa cemas.
Tiba-tiba saja bayangan zahra terlintas dalam fikiranya.
"Kira-kira cewek kampung itu udah pulang apa belum ya." batin Azka.
Dia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan jam 5 sore.
"Sebaiknya gwe ngecek kekamarnya deh." beranjak pergi kekamar zahra.
Didepan pintu kamar "tok....tok...tok.." Azka mengetuk pintu. Tapi tidak ada respon. Dia kembali mengetuk pintu namun masih tidak ada respon sama sekali. Azka mulai cemas, dia pun meminta kunci cadangan ke resepsionis.
Benar saja saat pintu kamar terbuka, kamar tersebut kosong. Zahra tidak ada disana.
"Dia tidak ada dikamar, terus kemana dia sekarang." Azka menelepon pemandu tur yang menemani zahra. Namun jawaban yang diterimanya tidak memuaskan.
Pemandu tur menjelaskan bahwa dia berpisah dengan zahra saat dijalan. Tiba-tiba saja zahra berlari meninggalkannya ditempat. Saat pemandu tur mengejarnya ia sudah kehilangan jejaknya. Ia mencoba menunggunya selama 2 jam, tapi zahra tak kunjung datang. Pemandu tur berfikir kalau zahra sudah kembali kehotel jadi dia putuskan untuk pulang. Pemandu tur itu bilang bahwa tempat ia berpisah dengan zahra dicaffe Florian dekat dengan Piazza San Marco. Tanpa pikir panjang Azka lansung menuju tempat tersebut. Sampai ditempat, Azka mencari keberadaan zahra. Ada suatu hal yang membuat Azka tersadar. Tempat ini berdekatan dengan tempat ia bertemu dengan Rere.
"Mungkinkah dia tau kalau aku bersama dengan Rere?"pertanyaan yang
tiba-tiba muncul dalam benaknya.
"Sudahlah yang terpenting sekarang gwe harus menemukannya." ucap azka.
Azka sudah menelusuri tempat tersebut namun tetap saja ia tak dapat menemukannya. Ia mencari dengan jarak yang lebih jauh dari tempat tersebut, tiba tiba saja ia mendengar suara ribut dari sebuah gang. Azka penasaran hingga menghampiri asal suara keributan tersebut. Dan akhirnya digang tersebut ia menemukan zahra yang sedang diganggu oleh sekelompok pemuda. Azka langsung melesat melepaskan tangan pemuda yang memegang paksa tangan Rere. Tanpa memerlukan waktu lama sekelompok pemuda tersebut melarikan diri meninggalkan azka dan zahra. Melihat kondisi zahra yang kurang baik, azka menggendong zahra dipunggungnya, membawa zahra kembali kehotel. Sampai dikamar zahra, azka menurunkannya diatas ranjang.
"Loe bodoh atau apa. Kan gwe udah bilang sama loe, sebelum jam 4 sore loe sudah harus kembali kehotel. Tapi loe masih berkeliaran diluar sana sampai diganggu pemuda brengsek tadi. Sebenarnya apa sie mau loe?"
ucap azka yang sedang marah.
"Maafkan saya" zahra menangis dengan tangan yang masih gemetar.
"Loe tau kan, kalau sampai terjadi sesuatu sama loe, gwe juga yang repot."
"maaf."
"Maaf, maaf, maaf gak bisa kah lo bicara selain kata itu." Azka melihat tubuh zahra yang gemetaran sehingga ia jadi tidak tega. melihatnya yang seperti ini membuat azka sedikit merasa agak bersalah.
"Sudahlah, gwe ambil obat dulu buat ngobatin loe." beranjak pergi mengambil obat.
Sementara zahra masih merasa sedikit tergunjang dengan kejadian tadi. ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya kalau saja mas azka tidak datang waktu itu. Namun ia merasa bersyukur dia masih bisa selamat.
Azka kembali dengan membawa kotak obat ditangannya.
"Biar gwe lihat dulu luka loe." ucap azka.
memegang kaki zahra yang terluka.
"Sebenarnya apa yang terjadi kenapa loe bisa sampai terpisah dengan pemandu tur?." tanya azka
"Saya hanya mencoba menolong seorang anak kecil yang sedang terjatuh."
"Jika itu penyebabnya, kenapa sampai bisa pemandu tur tak dapat menemukanmu. Bukankah seharusnya kamu masih di sekitar sana." sambil mengobati kaki zahra.
"Mungkin saya berlari terlalu cepat makanya dia tak dapat menemukan saya." jelas zahra.
"Sebaiknya lain kali loe dapat sedikit berhati-hati. Loe tau kan kalau loe bisa saja tersesat."
"Iya mas, lain kali saya akan lebih berhati-hati. Apakah mas baik-baik saja?"
"Bukanya pertanyaan itu lebih tepat untuknya, kenapa malah menanyakanya kepadaku." ucap azka dalam hati.
"Tentu aku baik-baik saja, memang ada apa denganku."
"Itu... Bibir mas berdarah, mungkin karna terkena pukulan pemuda tadi."
"Ini.... cuma luka kecil. Gak perlu khawatir."
"Tapi... tetap saja harus diobati. Bisakah mas
azka agak sedikit lebih mendekat, biar saya mengobatinya." mengambil obat dalam kotak.
Azka pun tak bisa menolak zahra. dengan perlahan dan hati-hati zahra mengobati luka azka. Sambil meniup-niupi lukanya zahra tak menyadari wajahnya yang begitu dekat dengan wajah azka. Azka dapat melihat kedua bola mata indah milik zahra. Wajahnya yang kecil, dengan bulu mata yang panjang dan hitam. Membuat azka tanpa sadar telah mengamati wajah zahra dengan sendirinya. Pipinya yang merona, hidung yang mancung serta bibir mungil yang berwarna pink membutnya seperti putri tidur yang menantikan seorang pangeran datang untuk menciumnya.
"Sudah selesai mas" Azka tak menyadari bahwa zahra sudah selesai mengobatinya.
"Mas... Mas Azka.." Azka masih saja memandangi wajah zahra.
"Mas...."
"Ya...ada.. apa?" azka menjawab dengan gagap.
"Sudah selesai mas."
"Oh ya...baiklah begitu. Sepertinya kita belum sempat makan malam, jadi gwe akan pesan makanan buat dianter kekamar." mencoba mengalihkan situasi.
Pesanan makanan telah datang. mereka menikmati makan malam bersama sama. setelah makan malam Azka tertidur disofa. sementara zahra tak tega untuk membangunkanya. Akhinya Azka bermalam dikamar zahra.
Setelah selesai mengingat dan kesadarannya telah kembali.
"Sebaiknya gwe kembali kekamar gwe sendiri." Azka beranjak pergi.
Azka baru saja selesai mandi, ia berencana memesan makanan untuk diantar kekamar zahra. Mengingat kemarin dia sedang terluka. Meski dia selalu bersikap buruk kepada zahra, namun sebenarnya azka memiliki hati yang lembut. Ia tak tega melihat seorang perempun yang terluka.
Kring..kring ada telepon masuk.
"Rere" azka mengangkat teleponnya.
"Ada apa Re?"
"Kok ada apa sie. Kamu gak seneng ya aku telepon?"
"Bukan begitu, aku hanya...." tidak meneruskan bicara.
"Hanya apa?? Kamu lupa ya? Kemarin kita kan sudah janjian akan bertemu hari ini.?"
"Oh iya gwe kemarin kan udah janjian sama Rere. Sial kenapa gwe bisa lupa." batin azka.
"Enggak kok, ini aku juga udah mau berangkat jemput kamu." Ucap azka
"Serius..., kalau gitu aku tunggu didepan hotel. Jangan lama-lama ya."
"Iya sayang, sampai nanti." memutus telepon.
"Gimana ini gwe udah terlanjur janji gak mungkin kan gwe batalin. Terus masak gwe ninggalin zahra yang lagi sakit, gak punya perasaan donk gwe. Aaahh....bingung gwe." mengacak acak rambutnya.
Azka mendatangi kamar zahra.
"Tok...tok...tok.." zahra membuka pintu.
"Mas Azka....silahkan masuk mas."
"Bagaimana keadanmu??"
"Alhamdulilah mas jadi lebih baik ketimbang kemrin."
"Syukur deh kalau gitu."
"Oh ya mas,saya mau berterima kasih kemarin mas Azka sudah menolong saya. Kalau gak ada mas, saya gak tau apa yang akan terjadi kepada saya. Dan terima kasih juga untuk sarapan yang mas pesen pagi ini." tersipu malu.
"Gak perlu bertrimakasi selama kita disini loe jadi tanggung jawab gwe. Jadi wajar aja gwe nolongin loe. Hari ini loe istirahat saja dihotel. Kalau mau keluar tunggu besok saja. Setelah loe benar-benar sembuh, jika loe perlu sesuatu telopon saja pada pelayanan hotel.
" Iya mas."
"Hari ini gwe mau pergi keluar. Loe perlu sesuatu untuk nanti gwe belikan?" tanya azka.
"Tidak ada mas."
"Loe gak apa-apa kan gwe tinggal.?"
"Gak apa-apa kog mas, mas azka pergi aja."
"Baiklah kalau gitu gwe pergi dulu."
"iya mas, hati-hati."
Azka berjalan pergi.
Tepat didepan hotel Rere sudah menunggu azka. Sebuah mobil berhenti. Dan itu adalah azka.
"Azka.... akhirnya kamu datang juga." masuk kedalam mobil.
"Mana mungkin aku gak datang, aku kan sudah janji sama kamu."
"Ya udah, kita langsung jalan aja."
Saat didalam mobil.
"Azka 2 hari lagi akan ada festival topeng. Maukah kamu pergi menemaniku?" Rere mencoba mengajak azka.
"Festival topeng?"
"Iya festival topeng. Kebetulan kita datang kesini pada hari mendekati festival jadi kita bisa berkesempatan untuk melihat festival itu. Gimana kalau kita beli costum dulu buat festivalnya."
"Oke tuan putri, saya akan menemani tuan putri untuk membeli costum. Tapi sebagai gantinya maukah tuan putri mencium pangeran ini?" tersenyum menggoda.
"Ih... dasar pangeran nakal." Rere mendekat lalu mencium pipi azka.
"Sudah. Itu sebagai pembayaran dimuka. Kalau kamu berhasil membuat tuan putri ini merasa puas hari ini, kamu akan mendapatkan hadiah yang lebih istimewa lagi." jelas Rere.
"Benarkah itu tuan putri?"
"Tentu saja."
"Kalau begitu saya sudah tak sabar untuk menunggu."
Akhirnya mereka pun bersenang senang memilih costum untuk festival. Mereka menikmati hari ini dengan penuh suka cita. Tanpa merasakan rasa bersalah karena meninggalkan zahra sendiri dihotel.
Hari sudah mulai malam. Membuat Rere dan azka kembali untuk pulang. Sesampainya didepan hotel Rere. Didalam mobil.
"Azka terimakasih untuk hari ini. Aku merasa sangat bahagia bisa bersamamu."
"Aku juga bahagia bila kamu bahagia."
Rere mendekatkan diri kearah azka. Meraih wajah azka lalu kemudian mencium bibirnya.
"Cup...."
Azka membalas ciuman dari Rere, membuat ciuman itu terasa panas.
"Itu hadiah untuk hari ini. Karna kamu berhasil membuat tuan putri puas."
"Terima kasih tuan putri atas hadiahnya." tersenyum manis.
"Baik lah kamu hati-hati dijalan."
"Siap tuan putri".
Azka meninggalkan tempat Rere.
Pagi harinya Azka mengajak zahra sarapan diluar.
"Hari ini kita akan belanja sekalian buat
oleh-oleh yang ada dirumah. Tapi kaki loe beneran udah sembuh kan?" tanya azka.
"Iya mas, alhamdulilah."
"Kalau gitu sehabis sarapan kita langsung berangkat saja."
"Iya mas."
Ditengah-tengah disaat mereka berdua sedang sarapan, Rere tiba-tiba saja muncul.
"Azka..Zahra... Kalian disini?"
"Rere?" azka sedikit terkejut.
"Iya Mbk."
"Kebetulan sekali bisa bertemu kalian disini. Apakah kalian datang kemari untuk berbulan madu?"
"Uhuk..." Azka tersedak.
"Kita hanya sedang berlibur kog mbak. Sedangkan mbak Rere sendiri?"
"Oh aku..., hanya menemani seorang teman datang kemari. Kalau begitu bolehkah aku bergabung dengan kalian.?" tanya Rere
"Tentu saja mbk, silahkan." zahra mempersilahkan untuk bergabung.
"Kamu bilang kamu sedang menemani seorang teman tapi dimana temanmu sekarang?" tanya Azka.
"Temanku..? dia sedang PDKT dengan seseorang jadi aku tak mau mengganggunya."
jelas Rere.
"Tentu saja." ucap azka.
"Setelah ini rencana kalian mau kemana??"
"Kita mau belanja oleh-oleh buat dibawa pulang." jawab Azka.
"Kebetulan aku juga ada sesutu yang ingin aku beli, belehkah aku bersama kalian?"
"Tentu saja. Mbk Rere kan juga temanya mas Azka jadi gak masalah kalau mbk Rere ikut bergabung. Saya juga butuh pendapat dari Mbk Rere untuk nanti barang yang akan saya beli." jelas zahra.
"kamu terlalu polos zahra, bagaimana bisa kau membiarkan seseorang yang dicintai suamimu untuk bergabung. lihat saja nanti.. kamu akan melihat seberapa suamimu mencintaiku" batin Rere.
"Kamu baik sekali zahra." puji Rere.
"Terima kasih mbk." sambil tersenyum
"Sebenarnya apa yang kamu rencanakan Re?" batin Azka.
Disalah satu pusat perbelanjaan mereka pergi untuk berbelanja. Rere sengaja menunjukkan baju dengan warna kesukaan Azka. Ia memcoba menserasikan ukuranya kepada tubuh azka. Zahra yang sadar akan hal itu hanya mampu diam tanpa berkata-kata. Karna ia juga tau hubungan mas azka dengan Rere. Zahra bahkan sengaja menjauh dari mereka berdua. Ia tak ingin hatinya semakin terluka melihat kebersamaan mereka.
Azka menarik tangan Rere ketempat yang sedikit sepi.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya azka dengan suara lirih.
"Kamu lihat sendiri kan aku sedang apa."Rere mebalikkan pertayaan.
"Aku minta agar kamu bisa sedikit untuk menahan diri, biasanya kamu gak kayak gini sebenarnya ada apa denganmu?"
"Ada apa denganku?? bukankah sudah sangat jelas untukmu tahu, kalau aku gak suka kamu deket-deket sama zahra. Ya..walau pun aku tahu dia istri kamu. Tapi tetep saja aku gak bisa menahanya kalau aku gak suka."
"Ayolah Re, jangan seperti ini. Kamu kan tahu sendiri bahwa hubungan kita jangan sampai diketahui oleh zahra maupun keluarga. Kalau itu sampai terjadi sumuanya bakalan jadi runyam. Aku mohon padamu ya?"
"Baiklah akan aku fikirkan."
Semuanya telah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Membeli barang-barang sesuai keinginan. Mereka melanjutkan dengan mencari tempat untuk makan siang. Setelah itu, Mereka berjalan-jalan sebentar mengelilingi kota venesia.
Rere mengajak Azka untuk menaiki gondola. Zahra hanya bisa mengikuti kemana mereka pergi. Azka mengulurkan tangan untuk membantu Rere menaiki gondola. Begitu pula kepada Zahra. Namun saat menaiki gondola tubuh zahra kehilangan keseimbangan. Sepontan Azka menarik tubuh zahra agar tidak jatuh. Sekarang terlihat Azka dan zahra seperti seorang yang sedang berpelukan. Melihat itu Rere sedikit cemburu. Sesaat mereka saling bertatapan. Mata Azka melihat kedua mata zahra yang dalam. Mereka pun tersadar dan mulai melepaskan diri.
"ehem..ehm... kamu gak apa-apa?" tanya Azka.
"Saya gak apa-apa mas. Terima kasih." balas zahra
"Sama-sama"
Terlihat Azka dan Zahra yang masih terlihat malu-malu akan kejadian tadi. Rere tidak tinggal diam, dia pun mendekati Azka. Mencoba mengalihkan perhatian Azka kepadanya. Zahra pun hanya bisa mengalihkan pandanganya untuk melihat pemandangan disekelilingnya.
Sampai akhirnya mereka mengakhiri
perjalanan mereka untuk hari ini.
Rere diantar pulang kehotelnya. sedangkan Azka dan zahra kembali juga kehotel tempatnya menginap. Azka tak bisa
berkata-kata untuk apa yang telah terjadi hari ini. Mereka berdua sama sama diam. Walau pun sudah sampai dikamar hotel mereka tetap saja diam.
Saat Zahra memasuki kamarnya. Entah kenapa dadanya terasa sesak. Hatinya pun merasakan sakit yang luar biasa. Membuat air mata keluar membasahi pipinya. Malam itu pun menjadi malam yang panjang untuknya meratapi kesedihanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
Suri Ani
buatlah azka menyesal , serta buatlah zahra melawan dong thor 🙏🏻🙏🙏🏼
2021-03-23
0
Nona Cherry Jo
apa hendra yg di maksud waktu di panti asuhan itu adlah teman aska yg di amrik ya thoor...
2021-03-22
0
elisabeth sembiring
dikehidupan nyata, pelakor banyak, sudah tau ada istri nasih mendekat ke suami orang, alasan cinta, makan tuh cinta.
gantian posisi, kalau pelakor diselingkuhi, suka kali ya. miris memang, saya pernah lihat seorang perempuan pelakor tanpa rasa malu menjadi istri kesekian dan istri pertama oh masih bertahan
2021-01-14
0