Dipagi yang cerah yang ditemani hangatnya sang mentari, Zahrah si pengantin baru masih disibukkan membuat sarapan untuk sang suami. Zahra tampak begitu ulet saat memasak. tak butuh waktu yang lama makanan sudah tertata diatas meja. Dia melangkah kekamar tamu tempat suaminya berada. Sesampainya didepan pintu langkah Zahra terhenti,ia merasa ragu-ragu apalagi mengingat perkataan suaminya semalam. ia berdiri mematung didepan pintu.
Setelah beberapa menit
"kreet" suara pintu terbuka. Terlihat sang suami yang sudah rapi dengan setelan jas.
"apa yang kamu lakukan" tanya Azka. memadang Zahra yang berdiri didepan pintu.
"Saya hanya ingin memberitahu mas kalau sarapanya sudah siap". jawab Zahra dengan sedikit perasaan gugup.
"Aku buru-buru, aku akan sarapan dikantor saja." balas Azka sambil melangkah pergi. Zahra hanya bisa melihat punggung suaminya dari belakang yang berlalu pergi.
Terdengar suara mobil, dan Azka sudah berangkat pergi kekantor.
Zahra yang sedikit sedih karna sarapan yang sudah disiapkannya tidak dimakan oleh sang suami. Ia duduk termenung melihat makanan diatas meja. Dan mencoba menikmati sarapannya seorang diri.
Setelah sarapan dan membereskan semua, ia melihat-lihat sekeliling rumah barunya. melihat sana dan sini, mencermati setiap sudut-sudut diluar maupun dalam.
Zahra begitu terpukau dan terheran. Diaterpukau karna begitu besar sekali rumah yang saat ini ia tempati dan terheran kenapa rumah sebesar ini hanya ditinggali ia dan suaminya. Bukankah terlalu berlebihan. Mengingat Zahra yang berasal dari kampung. Dan dia tidak mempunyai satu seorang pun teman dosini. namun jangn tanyakan soal pendidukanya. ia adalah mahasiwi keperawatan dari Bandung. Masih dalam proses memperoleh gelar s2. Dan kini ia sudah mengurus surat kepindahanya disalah satu universitas dijakarta. Mungkin tinggal menunggu beberapa hari lagi ia sudah bisa masuk kuliah.
Disisilain ada Azka yang sudah sampai dikantor. Semua karyawan menyambutnya dengan ucapan selamat karna pernikahanya.
Mereka memberikan senyuman manis yang seakan-akan membuat azka merasa jijik.
Menurut Azka pernikahanya adalah sebuah musibah untuknya. Bagaimana tidak,
gara-gara pernikahan konyol itu ia harus berpisah dengan kekasihnya. Dan dia harus menikahi perempuan kampung yang sama sekali tidak dia kenal, bahkan bisa jadi orang itu mulai dia benci.
Namun dia harus tetap berekting bahagia didepan semuanya, kalau tidak semua rencananya akan berantakan.
Azka memasuki ruang kerjanya. Ruang kerja bagi pemimpin(Ceo) perusahan terbesar dinegara ini. Azka sudah begitu sempurna dilihat dari semua aspek. Wajah yang tampan dengan tubuh yang proposional, pemimpin dari perusahaan terkenal, kecerdasan dan terlahir dikeluarga yang terpandang. Itu semua sudah membuat kaum wanita jatuh pingsan berhayal bersanding denganya, begitu juga kaum lelaki yang begitu iri akan kesempurnaannya.
Namun dilihat sesempurna apapun manusia itu pasti memiliki kekurangan. Dan Azka memiliki sebuah kekurangan yang tidak dapat dilihat oleh semua orang, hanya dirinyalah yang mengetahui kekurangan itu.
"tok...tok...tok..." suara ketukan pintu.
" masuk" Azka mempersilahkan seseorang yang mengetuk pintu untuk masuk.
"wah...wah... Apa ini... baru kemarin nikah sekarang udah masuk kerja aja. seharusnya pengantin baru itu dirumah. manja-manja sama istri. yah..ini malah manja-manja sama leptop. dasar orang gak normal." sambil tertawa meledek.
"Apaan si lo. pagi-pagi udah bikin ribut. mau ngapain lo kesini.??" tanya Azka yang sedikit jengkel.
"wih.. udah nikah gak tambah baik malah tambah galak aja lo. gwe kesini mau kasih tau kalau hendra udah balik dari amerika, ntar malem kita kumpul ditempat biasa buat ngrayain kepulanganya. lo harus dateng dan boleh juga tu ajak istri lo kenalin kekita-kita." tersenyum licik.
"Brengsek lo, udah tau dipaksa nikah masih aja lo ngledek gwe. minta dihajar lo ha." Azka mengacungkan tinju.
"Ampun...tuan ampun. saya hanya sedikit tertarik dengan istri tuan. bolehkah saya menjadi suami keduanya?? hahaha" tertawa puas.
"Haist... dasar lo beneran cari mati ya" berdiri menghampiri.
"Lo pokoknya harus dateng sekalian bawa istri lo jangang lupa ntar malem jam 8. Gwe cabut dulu, takut kelamaan disini bisa-bisa digigit macam rabies gwe. daa..sampai jumpa ntar malem." melarikan diri.
"Dasar rubah licik" ucap Azka dengan tersenyum.
"Mana mungkin gwe ngajak dia, bisa-bisa jadi bahan ledekan gwe sama mereka. mendingan gak usah deh." gumamnya dalam hati.
Azka pun kembali terfokus pada pekerjaannya yang sempat tertunda.
Hari semakin sore, pekerjaan juga udah selesai, sekarang waktunya pulang. Azka tak punya niatan pulang kerumah karna disana ada seseorang yang sangat tidak ingin dia lihat. Dia putuskan untuk pergi kecafe milik Rere.
Sampai ditujuan Azka menanyakan Keberadaan Rere kesalah satu karyawan.
Selang beberapa menit Rere sudah datang
menghampiri Azka.
"Udah lama nunggunya?" tanya Rere yang
duduk didepan Azka.
"gak juga, baru beberapa menit." jawab Azka.
"oke. apa ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan?" Rere kembali bertanya.
"Gak ada, cuma lagi pengen ketemu kamu aja" mencoba memegang tangan Rere diatas meja.
"apaan si kamu, kita kan baru ketemu kemarin dipesta pernikahanmu. apa kamu lupa??" dengan tersipu malu
"Apa gak boleh kalau aku ketemu kamu sekarang."
"Ya bukannya begitu, aku cuma sedikit merasa agak gak enak dengan istrimu. dia sepertinya istri yang begitu baik." jelas Rere.
"Mau baik atau buruk aku gak perduli, yang pengen aku perduliin cuma kamu. waktu ditaman juga kamu menciumku jadi sudah cukup buatku tau kalau kamu juga perduli denganku dan masih mencintaiku." ucap Azka dengan penuh penegasan.
"iya aku mengerti." sedikit tersenyum.
"Oh ya malam ini ada perayaan kepulangan Hendra kamu mau temenin aku kesanakan?" menatap kedua mata Rere.
"Apakah tidak apa-apa kalau aku menemanimu kesana??" sedikit terlihat raut wajah kekwatiran
"Tentu saja tidak apa-apa memangnya apa yang kamu takutkan.??"
"Kamu dan Hendra."
"Semua itu sudah menjadi masa lalu Re, dia pun sudah lama diamerika. pasti dia sudah melupakan semuanya. kamu tenang saja ya."mengelus dengan lembut tangan Rere.
" Em... Okey aku temenin kamu. tapi ada satu syarat..?"
"apa syaratnya??" ucap Azka dengan menaikkan satu alisnya.
"Kamu harus temenin aku beli baju biar aku gak malu-maluin kamu waktu disana, gimana?"
"Okey deal..."
Mereka berdua melangkah pergi meninggalkan cafe. Dengan senyum yang terukir diwajah mereka. Terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Berdua bergandeng tangan tanpa memikirkan Zahra yang sedang menunggu kepulangan sang suami dengan harapan suaminya bisa makan malam bersama dengan dirinya.
Azka Bramansta
Zahra Asfiya
Rere Ayunda
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
Fauzan Abdillah
wah...aku suka visual behinian...
nggak bisa dibandingin sama yg lain lg...
2021-04-06
0
Muhammad Qomar
kalo gua sih suka visualnya kartun soalnya ini juga novel dan kalo manusia Mulu bosen ngga sesuai dngn halusinasi
2021-03-29
2
Nona Cherry Jo
iy athoor gak seru masa visualnya kartun sih... di ganti ya... pleace🙏🙏🙏🙏
2021-03-22
0