Selamat (1)

Deg

"Ke-kecelakaan?"

    Cheri bersandar di pintu apartemennya, kakinya serasa lemas seketika. Terkejut ? Tentu saja. Baru 15 menit yang lalu Arel berpamitan pulang meninggalkan apartemen Cheri, dan sekarang Cheri mendapat kabar buruk itu.

   Hal-hal manis seharian ini seketika memenuhi kepala Cheri. Bagaimana perlakuan Arel hari ini, sikap Arel hari ini. Entahlah, rasanya tenaga Cheri hilang seluruhnya dan Tubuhnya terasa lemas .

"Di-dimana kliniknya ?" Tanya Cheri berusaha mengembalikan kesadarannya.

"Mari saya antar saja kak"

"Gak perlu, saya bisa sendiri. Beri tau saja alamatnya" tegas Cheri

"Tapi keadaan kaka seperti ini. Taxi pun jarang jika sudah larut."

'Benar juga, nyetir motor sendiri gue gak yakin bisa. Gak salah kali ya gue terima niat baik nih orang' Batin Cheri

"Baiklah,,terima kasih sebelumnya" Ucap Cheri pada akhirnya.

   Pria itu hanya tersenyum, entah senyum dengan artian apa. Cheri dan pria tadi pun bergegas pergi menuju klinik yang digadang sedang menangani Arel yang baru saja mengalami kecelakaan. Cheri berusaha meredam rasa hawatirnya yang berlebihan, ia berusaha meyakini dirinya bahwa Arel hanya kecelakaan ringan dan tak terjadi hal-hal fatal.

   Cheri menaiki sebuah mobil milik pria yang mengantarnya itu. Dirinya tak duduk di sebelah sang pengemudi, cheri lebih memilih duduk di belakang saja. Sambil meremas ponsel milik Arel, Cheri berusaha mengirim pesan kepada salah satu sahabat Arel. Namun belum sempat menyelesaikan pesannya, tiba-tiba sebuah lengan kekar mengunci lehernya dari belakang.

Deg

'Sialan ! Gue ketipu'

'Tapi gimana bisa HP Arel ada di mereka?'

'Gue harus apa?'

   Cheri berusaha merogoh mencari ponselnya yang terjatuh di pangkuannya. Karna keadaan lehernya dilingkari sebuah lengan kekar, alhasil Cheri kesusahan untuk menunduk. Cheri berusaha menekan asal ponselnya itu, berharap dapat mengirim pesan apapun itu kepada seseorang. Namun dengan cepat tangan kekar itu membekapnya dengan selembar sapu tangan. Dan beberapa saat kemudian pandangan Cheri mulai kabur, dan kemudian gelap....

***

"Kau sudah sadar, sayang ?"

   Sebuah suara berat menyapa pendengaran Cheri saat matanya mulai terbuka. Sayup-sayup Cheri mendengar suara tawa di sekitarnya. Cheri berusaha mengembalikan kesadarannya. Namun setelah kesadarannya terkumpul, entah mengapa gerak Cheri terasa sangat terbatas.

   Detik berikutnya Cheri menyadari bahwa tangan dan kakinya sedang diikat, dan dirinya sedang meringkuk diatas sebuah ranjang king size di sebuah kamar hotel. Ya, Cheri yakin bahwa ini adalah sebuah kamar hotel.

"Lepas !" Cheri berusaha melonggarkan ikatan di tangannya.

"Kau ingin lepas, sayang ? Nanti dulu, saat obat nya sudah bereaksi aku akan melepas ikatanmu. Kita bisa bersenang-senang malam ini !" Ucapnya dengan tawa di akhir kalimatnya.

"Siapa loe ?"

"Aku ? Aku calon suami-mu cantik. Jadi kita bisa mencoba pemanasan dulu sebelum menikah nanti."

"Cuih,, aku tidak berniat menikah dengan mu !" Bentak Cheri

"Tapi aku sudah membeli mu cantik. Bahkan aku sudah membayar mahal kepada ayahmu !"

"Kau ? Anggara sialan !"

   Ya !! Yang sedang bersama Cheri saat ini adalah Anggara. Pria itu telah merencanakan matang-matang aksinya malam ini. Dan pasti tidak akan gagal lagi. Bahkan saat Cheri sedang tak sadarkan diri, Anggara sudah menyuntikkan obat per*ngs*ng ke tubuh Cheri.

   Cheri mulai belingsatan, gerakannya mulai tak terkontrol. Dirinya merasakan panas dikejur tubuhnya. Rasanya amat sangat panas, sehingga Cheri ingin melepaskan saja seluruh pakaiannya.

"Pa-panas"

"Obatnya sudah bekerja, sayang. Kita akan menikmati malam ini. Dan kupastikan, kau yang akan memohon kepadaku !" Ucap Anggara dengan senyum liciknya

"Tolong ! Ini sangat panas" Cheri masih berusaha bergerak melepaskan ikatannya.

   Anggara menghampiri Cheri dan mencengkram rahang Cheri. Lalu membelai pipi Cheri perlahan. Entah bagaimana rasanya, tapi Cheri tak bisa menolak. Bahkan Cheri menginginkan sentuhan itu lagi dan bahkan lebih banyak lagi sentuhan.

"Ku pastikan kau akan memohon malam ini, sayang." Bisik Anggara di telinga Cheri.

   Lalu Anggara bangkit menegakkan tubuhnya dan hendak meninggalkan Cheri. Namun Cheri menggeleng cepat menahan agar Anggara tak pergi.

"Tolong ! Ini sangat panas. Sentuhan itu, berikan lagi !" Lirih Cheri. Pandangannya mulai sayu

"As you wish, Honey."

   Anggara mulai melepaskan ikatan di tangan Cheri, kemudian turun melepas satu ikatan lagi di kaki. Anggara menatap Cheri dengan senyuman licik di bibirnya.

'Sebentar lagi, kau akan menjadi milikku sepenuhnya!' Batin Anggara 

   Setelah ikatan di tangannya terlepas, Cheri dengan cepat membuka 2 kancing atas kemeja yang digunakannya. Dan detik berikutnya, ia mengalungkan kedua tangannya pada leher Anggara. Anggara hanya tersenyum penuh kemenangan.

   Wajah putih Cheri sudah memerah, panas yang dirasakannya makin menjalar ke seluruh tubuhnya. Saat ini yang ia butuhkan hanya sentuhan bahkan lebih. Anggara makin mendekatkan wajahnya untuk mencium Cheri....

Brakkkk

Brengsek !

Buggghhh 

 Duggghhh

 Kretekk

 Aaakkkkhhhh

   Bunyi suara pukulan, tendangan dan bahkan tulang patah disusul dengan suara teriakan Anggara terdengar jelas di ruangan itu. Tubuh Anggara sudah sudah tergeletak kesakitan dilantai kamar.

"Rel, cukup ! Cheri butuh loe." Ucap Ansel yang masih berdiri di ambang pintu.

   Benar ! Arel lah yang datang dan mendobrak pintu kamar hotel itu. Saat pintu kamar itu terbuka, pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah Anggara yang akan mencium Cheri. Amarah Arel yang sudah membuncah, makin tak terelakkan lagi.

   Arel berlari ke arah Anggara, kemudian menendang, memukul bahkan mematahkan pergelangan tangan Anggara. Anggara mengerang kesakitan, namun emosinya pun tak dapat terelakkan juga.

"Brengsek kalian Bocah ingusan !"

"Kenapa ? Kaget ?" Cibir Clay ke arah Anggara.

"Kalian menghancurkan rencana ku !" Geram Anggara.

 - Flashback On -

"Loe kemana aja ?" Tanya Ansel saat melihat Arel baru saja membuka pintu markas Black Eagle.

     Arel tak menjawab, namun alis nya terangkat sebelah. Setelahnya Arel hanya mengedikkan bahunya dan berjalan ke arah salah satu sofa di ruangan itu.

 "Gue fikir loe lagi bareng sama Cheri" Ucap Clay setelahnya.

 "Sudah" Jawab Arel singkat.

 "Ohh yaudah. Kita fikir ada apaan tadi Cheri ngirim text gak jelas" Celetuk Darian.

 "Maksudnya?" Arel bertanya heran.

 "Iya tadi Cheri sempet ngirim message. Tapi huruf-huruf gak jelas gitu." Jelas Darian setelahnya.

      Arel segera merogoh kantong celananya, namun tak menemukan benda yang dicarinya.

 "Shit !"

 "Kenapa Rel ?" Tanya Jarvis yang menyadari raut wajah Arel mulai berubah.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!