Cherika berjalan santai di koridor utama menuju gedung IPS SMA Bina Nusantara. Keadaan sekolah masih tenang, Karna belum banyak murid yg datang. Sengaja cheri datang pagi sekali agar Arel tak menjemputnya. Dirinya bahkan sudah mengirimkan pesan kepada Arel saat berada di angkutan umum tadi.
Setelah sampai di kelasnya, Cheri hanya mendudukkan dirinya dan diam saja memikirkan bergelut dengan fikirannya sendiri. Entah apa yg sedang Cheri fikirkan hingga dirinya tak sadar keadaan kelas sudah ramai bahkan sebentar lagi bel tanda masuk akan berbunyi.
"Cheri, are you okay?" Tanya Aurel yg baru saja duduk di sebelah Cheri.
"Ha..? Eh..? Udah Dateng loe ?" Cheri tersentak gelapan.
"Astaga ! Ha he ho ajah loe ? Kenapa sih ?"
"Gak apa-apa." Jawab Cheri singkat.
"Ishh,, gitu ya loe ? Kalo ada masalah tuh cerita, jangan loe Pendem sendirian. Ntar kalau loe Pendem, bisa tumbuh tuh masalah."
"Sialan loe ! Dikata tanaman bisa tumbuh ?"
"Lagian,,udah keliatan banget tuh muka kebanyakan masalah masih aja loe bilang gak apa-apa." Cibir Aurel
Cheri menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar. Agak sesak rasanya, bukan pening Karena masalah tapi lebih tepatnya sesak karena masalah.
"Bantuin gue cari kerjaan part time dong." Ujar Cheri akhirnya.
"Loe mau kerja ? Yakin ?" Tanya Aurel
"Gue gak bisa terus ngandelin uang jajan dari Abang sepupu gue. Dan gak bisa juga tiap hari gue terus ikut balapan buat dapetin uang. Jadi gue harus kerja ! walaupun gak seberapa, setidaknya gue bisa save duit buat keperluan dan bayar sekolah."
"Pewaris perusahaan tapi masih mati-matian cari duit loe."
"Yaa tapi keadaannya gak mudah seperti yang loe fikirkan, Rel."
"Okedeh oke,, ntar gue bantuin cari inpo loker."
Pembicaraan mereka pun terhenti karena suara bel bersamaan dengan masuknya guru mata pelajaran di jam pertama. Keadaan kelas perlahan tenang dan berfokus pada pembelajaran.
Sedangkan di tempat lainnya, Arel sedang berada di kelasnya yang sudah pasti bersama dengan kelima sahabatnya. Arel dan Ansel sibuk dengan benda pipih di tangannya, Frey masih berfokus pada layar laptopnya, Jarvis dan Darian sedang bergosip entah apa, dan Clay sedang menyusuri alam mimpinya.
"Rel, laptop gue masih tersambung sama handphone bapaknya si Cheri. Nah, barusan ada aktifitas mencurigakan nih." Ujar Frey tiba-tiba sambil menunjukkan laptopnya.
Arel menoleh dan segera menegakkan tubuhnya dan memperhatikan laptop Frey. Kedua alisnya menyatu, tanda bahwa Arel sedang mencerna dan menerka apa yang sebenarnya terjadi.
"Botolinum ?" Tanya Darian yang baru saja bergabung.
"Termasuk racunkah ?" Jarvis menimpali pertanyaan juga.
"Hemm." Gumam Arel
"Apa Cheri yg mau diracun ?" Tanya Jarvis lagi.
"Sepertinya bukan, transaksi seperti ini udah beberapa kali gue temuin di handphone tuan Ravo. Dari 10 tahun yang lalu dan terakhir 3 tahun lalu." Jelas Frey
"Lah, ini racun jenis apaan ?" Tanya Darian
"Ada delapan jenis racun botulinum, yaitu tipe A, B, C, D, E, F, G dan H. Tipe A dan B dapat mengakibatkan penyakit pada manusia dan juga dimanfaatkan dalam bidang kedokteran.Tipe C–G lebih jarang ditemui, tipe E dan F dapat mengakibatkan penyakit pada manusia, sementara tipe-tipe lainnya dapat mengakibatkan penyakit pada hewan. Tipe H dianggap yang paling mematikan di dunia. Racun tipe A dan B digunakan dalam bidang kedokteran untuk mengobati kejang otot serta penyakit yang memiliki gejala otot yang terlalu aktif. Bisa digunakan dalam bidang kecantikan untuk botox biasanya." Ansel menjelaskan panjang lebar.
"Trus kira-kira buat apaan bapak ya cheri beli begituan ? Gak cuma sekali juga. Gak mungkin buat botox kan ?" Celetuk Clay yang ternyata daritadi mendengarkan walaupun matanya terpejam.
"Efek samping dari penggunaan Botolinum yg tidak sesuai takaran bisa menyebkan lemah otot di area yang disuntik, Sulit menelan atau sesak napas." Lanjut Ansel
"Nah, sepertinya ini yang paling mungkin. Jangan-jangan tuan Ravo beli nih racun buat ngelumpuhin orang. Tapi siapa ya ?" Ujar Jarvis berangan.
"Pantau terus !" Titah Arel kemudian di angguki oleh Frey.
Ke enam lelaki tampan itu nampak berfikir dan menerka-nerka apa yg sebenarnya rencana Ravo. Terutama Arel, dirinya nampak duduk dengan tenang, sorot matanya tajam, namun otak dan fikirannya menjelajah mencari sebuah kemungkinan.
***
Teng...teng...teng...
Suara yang dinantikan seluruh murid pun terdengar. Tanpa dipandu, sudah banyak murid yg berhamburan keluar kelas. Begitupun Cherika dan Aurel, mereka berjalan berdampingan menuju kantin sekolah. Sedari dikelas kali, perut Cheri benar-benar sudah tak bisa dikondisikan. Karna datang terlalu pagi, Cheri tidak sempat sarapan di apartemennya.
Saat memasuki area kantin, Cheri dan Aurel tak sengaja melangkah bersamaan dengan Revina dan Angel.
"Bitch !" Ucap Revina lirih tapi masih bisa di dengar oleh cheri dan Aurel.
"Sinting !" Balas Aurel sambil melangkah ingin menjambak rambut Revina.
Namun aksi Aurel dicegah oleh Cheri. Cheri hanya menggeleng , tanda melarang Aurel untuk meladeni Revina dan Angel.
"Gausah di ladenin ! Cewe haus notice ya gitu. Sayangnya kita lebih waras, jadi ngelah ajah." Ujar Cheri sambil menarik tangan Aurel menjauh.
"Breng*ek !" Umpat Revina dengan tatapan yg tidak dapat di artikan.
Revina akhirnya mengurungkan niatnya untuk memasuki kantin, kemudian pergi bersama Angel. Kejadian bertemunya Revina dan Cheri sudah pasti tak lepas dari gonjang-ganjing dari seluruh pengunjung kantin tak terkecuali anggota Black Eagle.
"Ckk, cewe gila kaya si Revina ngapa gak di DO ajah sih. Kesel gue,,pengen gue cabik-cabik tuh muka!" Geram Aurel setelah duduk di pojok kantin tempat favoritnya bersama Cheri
"Udah biarin ajah,, orang macam si Revina itu gak akan kapok sebelum dapet karma. Jadi gausah kepancing, kecuali udah main kekerasan baru dilawan." Jawab Cheri santai.
Ting
Ponsel Cheri berbunyi menandakan ada pesan masuk. Cheri merogoh sakunya dan membuka pesan yg masuk.
Areliano: [Pulang bareng gue !]
Ting
Areliano: [Tanpa penolakan !]
Cheri menggaruk kepalanya frustasi. Benar-benar tidak ada celah untuk menjauh dari lelaki tampan yg mengejarnya ini.
Sedangkan Arel yg berada di area kantin juga, hanya tersenyum tipis melihat kelakuan Cheri setelah membaca pesannya itu.
***
"Loe pulang bareng Arel?" Tanya Aurel sambil membereskan buku-bukunya.
"Heemmm"
"Gak niat kabur-kaburan lagi kan loe ?"
"Ckk,,gimana caranya gue kabur kalo tuh cowo udah standby di Sono." Jawab Cheri dengan mengarahkan pandangannya ke arah pintu.
Aurel mengikuti arah pandang Cheri. Di pintu kelas mereka sudah berdiri Arel bersama kelima temannya. Keberadaan Arel jelas saja mengundang bisik-bisik dari banyak teman sekelas Cheri. Bagaimana tidak? Arel yang jarang terlihat di sekolah, tiba-tiba saja rutin menampakkan diri di depan kelas mereka hanya untuk seorang gadis.
"Tips dong biar di bucinin Arel?" Tanya salah seorang gadis bernama Wika yg duduk di sebrang tempat duduk cheri dan Aurel.
"Tipsnya jangan gatel dan pakai baju yang cukup bahan !" Bukan Cheri yg menjawab, tapi Aurel.
"Sialan !" Umpat Wika
Bukan tanpa alasan, Aurel mengatakan itu karena sudah menjadi rahasia umum Wika adalah siswi Bina Nusantara yang penampilannya amat sangat mencolok. Selain karena senang menempel dengan lelaki manapun , Wika juga sangat hobby memakai baju atau seragam yg ketat dan kurang bahan.
"Udah Rel, loe hobby banget dah ngeladenin mulut-mulut kotor." Ucap Cheri melerai adu mulut antara Wika dan Aurel.
Wika hanya mendengus kesal lalu berjalan ingin meninggalkan kelas. Begitupun Cheri dan Aurel, mereka berjalan di belakang Wika yang Solah sengaja melenggang meliukkan tubuhnya bak model berjalan di catwalk. Namun bagi Cheri terutama Aurel, Wika bukan seperti model melainkan lebih mirip dengan cacing kepanasan.
Saat sudah mencapai pintu kelas, hal yang tak disangka terjadi. Wika, yang seharusnya berbelok ke kiri justru berjalan menghampiri Arel yg berdiri santai dengan tangan berada di dalam sakunya. Wika mengibaskan rambut lurusnya dan tersenyum manis ke arah Arel.
"Hai Arel ?" Sapa Wika saat berada dihadapan Arel bahkan sangat dekat dengan tubuh Arel.
Perlakuan Wika ini jelas saja membuat kelima sahabat Arel terkaget-kaget. Aurel pun juga memberi ekspresi yg sama. Bahkan matanya sudah melotot lebih lebar lagi, benar-benar tidak habis fikir dengan kelakuan gila Wika.
Bagaimana dengan Cheri ? Cheri pun sama terkejutnya, bahkan ada hal aneh yang dia rasakan. Dadanya mulai memanas dan sesak, Cheri tak suka melihat pemandangan di depan matanya itu. Namun Cheri dengan cepat mengendalikan ekspresi wajahnya. Seolah tak peduli Cheri, melangkah santai meninggalkan kerumunan manusia di depan kelasnya itu.
Arel yang melihat Cheri berjalan menjauh hanya mengangkat satu alisnya penuh heran. Sedetik kemudian, Arel mencekal pergelangan tangan Wika yang menggandeng lengannya lalu memelintirnya kuat. Lalu menepisnya kuat membuat sang pemilik tangan tersungkur ke lantai. Lalu berlalu pergi hendak menyusul gadisnya.
Aaakkkhhhh
Wika memekik keras. Rasanya tulang tangan Wika sudah patah akibat pelintiran Arel. Namun entah keberanian darimana, Wika bangkit dan berusaha meraih lengan Arel dengan tangannya yg lain.
"Eiiitttss,,mau ngapain loe, uget-uget?" Cegah Jarvis dengan memegangi kerah belakang seragam Wika.
"Lepasin !" Teriak Wika
"Dih, udah gatel pake acara sok galak lagi." Sergah Clay yg merangkul pundak kekasihnya.
Karena sudah merasa jengah dengan gerakan Wika yg berusaha melepaskan cengkraman Jarvis di kerah seragamnya bak memegangi anak kucing, Jarvis pun melepas cengkeramannya dan melangkah mendekati Wika.
"Ma-mau a-apa loe ?" Wika seketika panik karena pandangan Jarvis berubah dengan cepat.
"Kalau takut, jangan coba-coba bikin ulah sama anggota Black Eagle!" Ucap jarvis mengintimidasi.
"Jadi cewe tuh mahal dikit, jangan obral sana sini. Gak semua cowo doyan ikan asin ! Apalagi Arel, mana mau ? Dia mah doyannya salmon." Celetuk Aurel sinis dan kemudian menarik pergelangan tangan Clay agar segera meninggalkan tempat itu.
Setelah Clay dan Aurel beranjak pergi, yang lainnya pun mengikuti untuk meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Wika yang masih memegangi pergelangan tangannya yang sakit. Dan tentu saja meninggalkan Wika dengan emosinya yang berada di puncak.
Sedangkan di lain tempat, Arel masih berusaha membujuk Cheri agar tetap mau pulang bersamanya. Dengan perdebatan panjang dan jelas dengan paksaan Arel, akhirnya Cheri hanya bisa menurut dan saat ini sedang berbonceng di belakang Arel.
Sepanjang perjalanan menuju apartemen Cheri, tak ada obrolan apapun keduanya hanya diam. Jadi Arel hanya berfokus pada jalanan yang lumayan padat siang menjelang sore ini.
"Kenapa,hm?" Tanya Arel saat sudah sampai di apartemen Cheri. Keduanya sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Gak kenapa-kenapa. Udah sana pulang !"
"Ngusir?"
"Iya !" Jawab Cheri ketus, lalu ingin beranjak meninggalkan Arel. Namun kalah cepat dengan gerakan Arel yg sudah menarik Cheri agar kembali duduk bahkan lebih dekat dengan Arel.
"Areliano !!" Sentak Cheri kesal.
"Iya, sayang ?"
Blusshhh
Cheri memalingkan wajahnya cepat agar Arel tak melihat wajahnya yg memanas dan yakin pipinyaulai memerah. Bukan tidak tahu, Arel justru sudah paham saat Cheri merasa blushing. Arel hanya terkekeh melihat tingkah Cheri yang menurutnya menggemaskan.
"Kenapa,hm? Cemburu ?" Tanya Arel kemudian.
"Ishhh, engga ya ! Gausah Ge-eR deh." Pekik Cheri, gagal menampilkan ekspresi santainya.
"Jadi boleh peluk cewe lain?"
"Gak tau malu !" Sentak Cheri dengan memelototkan matanya.
Bukan tersinggung, Arel justru terkekeh melihat gadis dihadapannya ini. Tangannya sudah terulur membenahi helaian rambut Cheri yang menutupi wajahnya.
"Lebih hati-hati ya sekarang !" Ucap Arel tiba-tiba.
"Kenapa ?" Tanya Cheri heran dengan mengangkat salah satu alisnya.
"Aku curiga, ada hal membahayakan yg dilakukan tuan Ravo."
"Papa ?"
"Heemmm, aku dan yg lain masih mencari tahu."
"Eh ? Ke-kenapa jadi aku Aku-an ? Tanya Cheri yang baru sadar dengan bahasa yg Arel gunakan.
"Masa sama pacar ngomongnya gue - loe ?"
"Haisshh...loe bener-bener jago bikin gue lemah jantung ya !" Kesal cheri.
"Aku-kamu, sayang." Ucap Arel lembut.
Blusshhh
Lagi-lagi Cheri blushing. Menyebalkan sekali lelaki dihadapannya ini. Selalu membuat degub jantungnya tidak aman sama sekali. Namun dengan cepat Cheri menormalkan dirinya.
"Jadi, papa kenapa ?"
"Racun Botolinum!" Ucap Arel singkat.
"Maksudnya, papa kedapatan beli racun Botolinum gitu ?"
"Heemmm. Belum tau untuk apa."
Cheri menggigit jari telunjuknya, matanya menatap lurus ke depan, sedang fikirannya kembali penuh memikirkan masalah sang ayah. Ada apa sebenarnya ?
"Gak usah dipikir terlalu keras. Biar Frey yang cari tau!" Titah Arel
"Loe...eh, kamu mau kan bantuin?" Tanya Cheri kemudian dengan memandangi wajah tenang Arel.
"Pasti !"
"Makasih." Balas Cheri dengan senyuman manis di bibirnya. Senyuman yang sudah lama Arel rindukan.
"Kamu bisa tenang selama ada aku." Ucap Arel sambil mengusap lembut kepala Cheri. Cheri hanya membalas dengan anggukan dan senyumannya yang masih belum luntur dari wajahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments