Bab 11

"Mati ?" Beo Cheri yg baru menemukan alur kasus ini setelah mendengar beberapa pemaparan para lelaki di hadapannya.

   Sontak saja ke enam lelaki tampan yg sejak tadi serius membahas misi ini menoleh ke arah Cheri. Sedangkan Cheri seolah menuntut jawaban.

"Iya Cher, kasus penculikan ini sedikit rumit Karna dilindungi klan mafia kelas dunia. Mereka menjalankan bisnis gelap yaitu perdagangan organ manusia. Dan kebetulan, kota ini lagi sial Karna disini tunawisma, ODGJ, dan pekerja seks sangat banyak dan kebetulan banyak juga yg tanpa keluarga alias sebatang kara." Kali ini Frey yg menjawab.

"Astaga !! Ja-jadi mereka di-diculik dan dibunuh untuk di ambil organ tubuh nya ? Kemudian dijual belikan ?" Tanya Cheri lagi. Dia benar-benar shock, ternyata ada kasus sekejam itu di kota ini.

"Yups betul sekali Queen nya king Arel." Frey memberikan 2 jempolnya ke arah Cheri.

   Arel menaikkan susuk bibirnya membentuk senyuman kecil, yg lainnya juga kembali terkekeh mendengar tuturan Frey. Sedangkan Cheri wajahnya sudah mulai memerah.

"Dih,,apasih ? Udah silahkan dilanjut." Ujar Cheri.

"Oke kita lanjut,,informasi dari kepolisian juga udah kita dapet. Soal testpack yg ditemukan di mess, itu benar milik Christie. Menurut tes DNA dan forensik, diperkirakan hamilnya masih sekitar usia 6-8 minggu." Tambah Ansel.

"Untuk di klub, keterangan dari salah satu pekerja disana bilang Christie ini udah semingguan gak ngelayanin tamu sampai masuk mess. Padahal dia salah satu cewe dengan tarif yg lumayan. Terakhir ngelayanin tamu sampai ke mess yaitu Minggu lalu. Christie juga sempat cerita ke beberapa teman, tamunya Minggu lalu gak sampai one night service melainkan hanya duduk ngobrol beberapa jam." Ini Clay yg menjelaskan.

"Hack CCTV klub dan cek rekaman seminggu lalu." Titah Ansel kepada Frey

   Frey mulai mengotak-atik laptop yg ada di pangkuannya. Frey sibuk dengan kode-kode hack di laptopnya, begitupun Arel. Arel juga nampak sedang sibuk dengan sesuatu.

"Njirr, CCTV Minggu lalu gak ada. Seperti udah di ambil trus salinan bahkan di trash juga bersih. Sehari sebelumnya dan sesudahnya juga gak ada." Ujar Frey menggebuu

"Bener gak bisa di pulihkan atau apa gitu ?" Tanya Darian

"Bisa sih, tapi butuh waktu lumayan lama."

"CCTV sekitar club , barat daya, arah jarum jam 11." Titah Arel

   Frey segera menuruti perkataan Arel. Beberapa menit Frey fokus dengan laptop di hadapannya.

"Ini....?" Frey keheranan. Menatap Arel ingin memastikan

"CCTV 360." Jawab Arel singkat

"Sepertinya mereka kecolongan yg satu ini." Ujar Frey diselingi dengan seringainya

"Ini sebenarnya hanya CCTV rumahan biasa. Jaraknya juga tergolong jauh. Jadi kita butuh tenaga juga buat lacak. Tapi setidaknya kita ada celah juga. Mereka sepertinya gak sadar kalo salah satu rumah warga yg lumayan jauh dr titik mereka , menggunakan CCTV yg bisa berputar. Dan beruntungnya kita, pergerakan CCTV sangat pas denga momen mereka turun dr mobil itu." Jelas Ansel kepada yg lainnya.

"Orang yg turun dr mobil itu kok kaya gak asing ya ?" Celetuk cheri yg memang duduk di belakang Arel sehingga terlihat dr laptop Arel rekaman CCTV yg mereka bahas.

   Sontak saja ke enam lelaki disana menoleh menatap ke arah cheri.

"Serius Cher ? Loe tau atau kenal ?" Tanya Clay

"Coba zoom pas turun mobil sebelum pake masker." Titah Cheri. Arel yg melakukannya dan memberikan laptop miliknya kepada cheri.

"Gue gak asing, tapi gue lupa pernah liat dimana." Ucap Cheri kemudian tapi raut wajahnya benar-benar berusaha berfikir dengan keras.

"Gak usah dipaksa !" Ujar Arel lembut. Tangannya sudah bergerak mengusap lembut surai Cheri.

"Kalo mau bucin-bucinan ntr aja, anying !" Jarvis sudah sewot setengah mati.

"Oke-oke,, kita cukup sampai disini dulu. Kita masih harus terus mencari tambahan bukti. Darian dan Jarvis,,kalian yg ke TKP ! Cari jalan tikus yg di maksud tadi. Kalau memang ada, cari bukti apapun di sekitar jalan itu. Frey,,lacak mobil yg di CCTV itu dan jangan lupa kirim email informasi yg kita dapat hari ini pada Tito. Sisanya,,kita masih harus sering mencari informasi sekitar klub dan minta kepolisian lebih memperhatikan seluruh tunawisma, ODGJ, anak jalanan, dan pekerja seks dikota ini." Beber Ansel kepada anggota inti Black Eagle.

***

"Pergi lagi, boy ?" Tanya Kaisan kepada putra satu-satunya yg kini baru saja keluar dr lift.

"Ya, dad."

"Gadismu itu, tidak kau kenalkan pada daddy ?"

   Langkah Arel terhenti, detik berikutnya Arel menatap sang ayah. Masih diam, Arel tidak bertanya apapun tapi sorot matanya seolah menuntut jawaban. Sedang Kaisan hanya menyimpulkan senyumnya

"Dad, bukan tidak setuju. Hanya saja, bukankah daddy perlu berkenalan dengan kekasihmu itu ?" Ujar Kaisan dengan senyum hangatnya.

"Daddy tau ?"

"Hal apa yg Daddy tidak tau, son ?"

   Arel mendengus mendengar ucapan ayahnya itu. Tidak salah ! Kaisan Anzaga, akan selalu mengetahuin apapun terlebih lagi juga menyangkut sang anak. Bahkan, banyak hal yg Kaisan tau terlebih dahulu dibandingkan Arel.

"Tidak ada yg lebih pantas selain gadis itu !" Ucap Kaisan lagi sambil menepuk pundak putranya itu.

   Arel terdiam sejenak kemudian tersenyum singkat sambil melangkahkan kakinya keluar dr mansionnya. Tujuan Arel adalah apartemen Cheri. Arel pulang hanya untuk mengganti pakaiannya, dan malam ini dirinya akan kembali menginap di apartemen itu.

   Sedangkan di tempat yg berbeda, cheri sedang sedang duduk bersandar ditemani Aurel. Aurel tengah sibuk mengganti channel televisi di hadapannya, sedangkan Cheri masih berusaha keras menggunakan otaknya untuk memikirkan suatu hal.

"Loe kenapa sih ? Muka loe beneran persis orang prestasi tau gak." Senggol Aurel ke arah lengan Cheri.

"Prestasi gundulmu. Depresi ogeb !" Sergah cheri.

"Udah ganti ya ?"

"Ckk, jangan ganggu." Ucap Cheri

"Biadab !! Mending gue gangguin ya,,daripada loe kesurupan tuyul ?" Aurel melotot meninggikan suaranya.

"Ishh,,gue lagi mik--"

 Tok..tok..tok...

   Belum selesai dengan kata-kata nya, pintu kamar Aurel diketuk beberapa kali. Dengan cepat Aurel berjalan ingin membukakan pintu itu

"Pasti Arel !" Kata Aurel yg berjalan ke arah pintu.

Ceklek

"Cher, gue balik yaa ? Clay juga Dateng nih." Pamit Aurel saat melihat Arel datang bersama Clay.

"Eh,? Gak duduk dulu ?" Tanya Cheri

"Kita langsung ajah. Gue mau ngajakin Aurel jalan dulu soalnya." Ini Clay yg menjawab

"Yaudah,, hati-hati bawa temen gue. Jangan dipulangin pas laper, khodam macannya keluar ntr." Ujar Cheri.

"Sialan loe !" Aurel menatap Cheri tajam. Detik berikutnya Aurel dan Clay meninggalkan apartemen Cheri.

   Sedangkan Arel yg dari tadi masih berada di sisi pintu, berjalan menghampiri Cheri yg tengah duduk di kaki ranjang sedang menonton TV. Arel hanya duduk disamping cheri dan memandang lekat wajah gadis cantiknya.

   Cheri awalnya santai, tapi semakin lama semakin tak nyaman di pandangi mata tajam Arel.

Buggh

   Cheri memukul lengan Arel dengan salah satu tangannya yg tak terluka lumayan keras.

"Gue colok juga tuh mata ya ?" Sewot Cheri

"Gak boleh kasar, sayang."

Blushhh

"Apaan sih ? Jangan ngomong gitu !" Ujar Cheri dengan suaranya yg mulai meninggi.

"Kenapa, hm?"

"Jantung gue gak aman." Bisik cheri yg masih bisa terdengar oleh Arel.

   Cheri memalingkan wajahnya berlawanan arah dr Arel. Pipinya mulai memanas, ia yakin wajahnya sudah merah bak kepiting rebus. Sedangkan Arel hanya terkekeh melihat ekspresi menggemaskan dr gadis dihadapannya.

"As you wish, nona." Jawab Arel kemudian.

   Mendengar ucapan Arel itu, membuat Cheri terdiam beberapa saat. Otaknya dengan spontan bekerja. Arel yg menatap wajah Cheri, bertanya-tanya ada apa dengan ekspresi wajah gadis ini.

B"Gue inget !! Gue inget pernah liat dia dimana." Pekik Cheri tiba-tiba. Tangannya sudah reflek merangkul lengan Arel.

   Hening sejenak. Arel menatap wajah Cheri dengan lekat. Sudut bibirnya sudah terangkat membentuk senyuman tipis.

"Eh..? So-sorry,,reflek gue." Gumam Cheri lirih. 'ishh,,bego bgt gue. Nih tangan gatel bgt pegang-pegang Arel.' batin cheri.

  "Peluk juga boleh." Ucap Arel datar.

Bugghh

"Itusih loe yg modus !" Sewot Cheri yg lagi tangannya reflek memukul lengan Arel.

"Ada apa ?"

"Eh iya,,gue inget orang yg tadi di CCTV itu. Gue pernah liat dia dulu."

"Dimana?"

"Rumah gue !"

"Hah..?"

"Dulu,,sekitar 10 tahun yg lalu. Tuh orang sempat jadi bodyguard papa. Cuma sekitar sebulan sih, soalnya abis papa kecelakaan pulang dinas, tuh bodyguard gak keliatan lagi. Gue kira udah meninggoy,,ternyata nampak lagi." Cheri menjelaskan.

   Arel menyerngit dan hanya diam. Fikirannya bekerja keras saat ini. Cheri juga masih diam, menatap Arel penuh tanya. Ada apa sebenarnya ini ? Arel kemudian merogoh ponsel di salah satu sakunya.

"Selidiki aktivitas ponsel tuan Ravo !" Titah Arel saat sambungan teleponnya berbalas.

'bapaknya si Cheri ?’

"Heemmm...10 tahun lalu."

'Sinting ! Itu udah lama bgt njir."

"Selidiki ponsel dan aktivitas pekerjaannya!"

  'Ckk,,iya-iya ! Gue butuh waktu. Loe bantu juga."

   Tanpa menjawab, Arel mematikan sambungan teleponnya bersama Frey. Yaa,,yg Arel telepon baru saja adalah Frey.

"Kenapa papa gue berhubungan sama orang jahat ya ?" Tanya Cheri saat Arel selesai dengan sambungan teleponnya.

"Kita selidiki dulu." Ucap Arel sambil mengusap rambut Cheri.

"Gue mau sekolah besok."

"Istirahat dulu."

"Gue udah gak kenapa-kenapa,, udah bisa sekolah."

   Cheri benar-benar kekeh dengan keinginannya. Sedangkan lawan bicaranya masih terdiam menatap dirinya. Arel menghembuskan nafasnya, kemudian menarik sudut bibirnya.

"Oke ! Jangan jauh dari gue, berangkat dan pulang bareng gue !" Ucap Arel kemudian.

"Ckk, kalo kaya gini sih orang-orang tambah yakin kita ada hubungan husus." Cheri mencebikkan bibirnya.

"Loe cewe gue ! Loe milik gue ! Dan gue gak Nerima penolakan."

"Cihh,,otoriter bgt sih loe."

"Tapi gue bisa tau, loe juga punya rasa yg sama disini !" Ucap Arel dengan tangannya menunjuk ke arah dada Cheri.

Blushh

   Cheri dengan cepat memalingkan wajahnya berusaha menyembunyikan wajahnya yg sudah pasti memerah. Arel benar-benar pandai membuat jantung Cheri tidak aman. Padahal seingat cheri, Arel dua tahun yg lalu tidak semanis sekarang sikapnya .

"Istirahat, sayang !" Ujar Arel menahan senyumannya. Ia sangat senang melihat wajah malu gadis dihadapannya ini.

"Aaaaa......Arel sialan ! Bisa mati muda gue kalo gini." Cheri berteriak dan melempar bantal ke arah Arel yg sedang berjalan ke arah sofa ruang tamu.

   Cheri bersiap untuk tidur, pintu kamarnya akan terbuka jika Arel menginap disini. Masih terlihat oleh Cheri, lelaki yg ia yakini telah berstatus menjadi kekasihnya lagi itu tengah sibuk dengan laptop di hadapannya. Wajahnya terlihat serius dan beberapa kali terlihat sedikit terkejut. Tapi yg lebih membuat Cheri betah berlama-lama memandangi Arel adalah wajahnya, huffttt~ gantengnya no kaleng-kaleng!

***

"Maaf tuan, beberapa hari ini kami menyelidiki tapi memang sepertinya nona Cheri sedang tidak masuk sekolah."

"Apa gadis itu baik-baik saja ?"

"Menurut informasi, nona Cheri mengalami cidera di bagian lengan dan kakinya akibat perundungan. Tapi semua baik-baik saja tuan."

"Segera bertindak !"

"Maaf tuan, kalau saya boleh mengusulkan lebih baik tuan selesaikan pekerjaan tuan di Singapore terlebih dahulu. Karna Kita harus menyusun rencana matang terlebih dahulu."

"Ada apa ?"

"Tuan,,selain nona Cheri yg tidak bisa di remehkan, menurut informasi lain..nona Cheri sedang dekat dengan seorang pemuda. Dan pemuda itu bukan orang sembarangan tuan, dia adalah ketua geng Black Eagle."

"Ketua Black Eagle ? Keluarga Anzaga?"

"Benar tuan."

"Sialan !" Pria itu bangkit dari duduknya. "Kalau begitu kalian atur sebaik mungkin, waktu kalian menyusun rencana matang cukup lama. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku di Singapore dulu." Ucap Anggara kepada asisten kepercayaannya.

   Saat ini di kediaman Anggara, seluruh anak buah dan bawahannya tengah berkumpul. Seperti biasa, mereka akan melaporkan segala sesuatu kepadanya termasuk soal gadis cantik incarannya.

   Sebenarnya Anggara sudah tidak sabar untuk mendapatkan dan bermain-main dengan gadisnya itu, tapi Karna informasi yg dia dapat akhirnya harus menekan keinginannya lagi. Anggara yg biasanya gegabah, kali ini dia ingin bermain cantik. Selain Karna ingin berhati-hati dengan Cheri, dirinya juga mempertimbangkan orang yg tengah dekat dengan gadisnya itu.

   Siapa yg tak kenal dengan ketua Black Eagle? Terlebih lagi embel-embel keluarga Anzaga! Orang yg berpengaruh dan kekuatannya tidak bisa di ragukan. Jadilah Anggara memilih bersabar dan ingin menyusun rencana matang-matang kali ini. Keinginannya sudah bulat, Cheri harus menjadi nyonya muda Taniel (istri Anggara Taniel)

"Bagaimana dengan pengecut itu?" Tanya Anggara kepada asisten pribadinya

"Tuan Ravo masih dengan kegilaannya dengan pekerjaan tuan. Pengakuannya yg mengatakan bahwa dirinya berusaha mencari nona Cheri hanya bualan."

"Ckk,,ayah macam apa yg rela menjual anaknya sendiri hanya demi sejumlah uang ? Bahkan anak gadisnya menghilang, dia masih bisa bersantai ? Bawa dia ke hadapanku sebelum aku berangkat ke Singapura !"

"Baik tuan."

   Yaa,, Ravo selalu melaporkan kepada asisten pribadi Anggara bahwa dirinya juga mencari Cheri namun hasilnya selalu nihil. Tanpa diketahui, anak buah Anggara juga memata-matai Ravo untuk memastikan. Dan ternyata memang benar, Ravo yg bergelar sebagai ayah Cheri tidak menunjukkan pergerakan apapun dalam mencari Cheri. Bahkan dirinya memilih sibuk bekerja dan menikmati uang dari Anggara untuk bersenang-senang dan berjudi.

Terpopuler

Comments

Neneng Dwi Nurhayati

Neneng Dwi Nurhayati

gak ada otak nih bpak

2024-08-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!