"Jadi tuan Anggara belum berhasil menangkap gadis itu ?" Tanya Ravo kepada asisten pribadinya.
"Belum boss, anak buah tuan Anggara pernah menyerang dan kalah dengan nona Cheri. Dan sekarang tuan Anggara masih pergi ke Singapura menyelesaikan pekerjaannya." Jawab Neal.
"Kau, kirim orang untuk menyeret gadis tidak tau diri itu ke hadapanku ! Biar aku yg membawanya ke hadapan tuan Anggara." Perintah Ravo kepada Neal yg dijawab hanya dengan anggukan.
Ravo sudah lama tak mendengar kabar dari anak gadisnya itu. Dirinya berfikir bahwa Cheri sudah menikmati waktunya dengan Anggara. Tapi nyatanya tidak ! Hal ini jelas menjadi suatu ancaman untuk Ravo. Anggara sudah pasti akan menagihnya kepada Ravo jika saja ia gagal mendapatkan Cheri.
Ravo mempercayakan tugas menangkap anak gadisnya itu kepada asisten kepercayaannya. Tidak harus saat ini juga, ravo membiarkan orang-orang suruhannya untuk menyusun rencana agar dengan mudah membawa Cheri ke hadapannya.
***
"Langsung pulang ?" Tanya Arel kepada cheri.
"Mau gue traktir dulu gak ? Kan gue baru dapet duit banyak." Cheri justru memberi pertanyaan lain kepada Arel.
"Lain kali." Jawab Arel singkat kemudian mengambil alih motor sport yg digunakan cheri.
Sesuai janjinya, Arel mengantarkan cheri untuk belapan. Dan seperti yg sudah-sudah, cheri selalu pulang dengan hadiah yg fantastic. Sama halnya dengan malam ini, cheri yg baru saja berkenalan dengan motor sport milik Arel bisa dengan mudah mengendalikannya saat balapan tadi.
Malam ini jarum jam masih menunjukkan angka 10. Tapi Arel sudah mengajak cheri untuk pulang, terkesan terburu-buru.
"Istirahat." Titah Arel. Mereka sudah sampai apartemen cheri.
"Loe kenapa sih ?" Bukannya menurut, cheri justru melempar pertanyaan lain kepada Arel.
Arel hanya mengangkat salah satu alisnya dengan ekspresi penuh tanya.
"Kenapa, hm?" Tanya Arel kemudian duduk di samping cheri.
"Yaa, loe kenapa ? Daritadi buru-buru terus !"
"Gak ada." Jawab Arel singkat.
Cheri mendengus kesal. Entah kenapa rasanya aneh dengan sikap Arel yg sedari tadi terburu-buru. Dan lebih sebalnya lagi cheri penasaran ada apa sebenarnya, Karna Arel tidak mengatakan apapun.
"Ckk, yaudah sana pergi !" Usir cheri sebal.
Cheri menghadap ke arah lain berusaha membelakangi Arel yg duduk di sebelahnya. Arel ? Sudah jelas menyunggingkan senyum tipisnya yg super mahal itu Karna gemas melihat tingkah gadis nya itu.
"Harus cepet balik, sayang ! Malam ini black Eagle bakal nyelesain misi." Jelas Arel lembut dengan mengusap surai halus cheri.
Blushhh
Seketika cheri merasakan wajahnya mulai memanas, dirinya masih mempertahankan posisi membelakangi Arel. Sebisa mungkin cheri menyembunyikan wajahnya yg mulai memerah Karna ucapan Arel tadi.
"Misi yg kemarin itu ?" Tanya Cheri setelah merasa normal kembali.
"Heemmm"
"Pelakunya udah ketemu ?"
"Belum"
"Trus ? Kenapa bilang mau diselesaikan sekarang ?" Cheri bertanya serius.
"Kita tau markasnya."
"Oia ? Gue boleh ik....."
"No !" Sela Arel memotong ucapan Cheri.
Spontan Cheri berubah raut wajahnya. Jelas, Arel semakin gemas melihat cheri mengerucutkan bibirnya.
"Istirahat."
"Ckk, iya iya ! Udah deh, sana buruan balik. Kasian yg lain pasti nungguin." Ucap Cheri akhirnya.
***
Jarum jam sudah menunjukkan di angka 11 malam. Angin berhembus tenang, tapi udara dingin seolah menusuk sampai ke tulang. Suasana begitu hening, menemani aktivitas yg tengah berlangsung oleh sekomplotan manusia.
"Apa semua berjalan baik ?"
"Semua baik tuan. Tapi kita butuh waktu lumayan lama, Karna dokter Henry menggunakan dosis yg relatif rendah."
"Baiklah, atur sebaik mungkin ! Sebelum fajar, aku harus pergi dengan membawa pesanan client."
"Baik tuan."
Tepat setelah percakapan itu berakhir, seorang dokter ahli bedah yg baru saja di sebut dokter Henry masuk ke dalam ruangan itu.
"Apa tuan Lexi pergi ?" Tanya dokter Henry.
"Tidak ! Dia menunggu di ruangannya."
"Baiklah...hanya menunggu sekitar 20 menit lagi. Setelah itu, kita bisa melakukannya." Ujar dokter Henry
"Tugas kali ini sedikit menyebalkan ! Aku tidak bisa bersenang-senang, dan justru menjadi asistenmu saja."
"Beristirahatlah untuk kali ini, Pedro. Pembunuh bayaran sepertimu juga butuh istirahat ! Selanjutnya kau bisa bersenang-senang lagi. Objek kita kali ini adalah ibu hamil yg organnya pun rentan, jadi kita harus melakukannya dengan hati-hati."
"Seharusnya aku pulang saja tadi." Ucap seseorang yg bernama Pedro. Lalu melenggang meninggalkan ruangan itu.
Merekalah komplotan yg saat ini menjadi incaran polisi dan anggota Black Eagle. Mereka tengah berada di suatu tempat yg sudah pasti aman untuk melakukan eksekusi kepada korban mereka saat ini.
Tidak diragukan lagi, mereka dilindungi oleh klan mafia salvatrucha yg saat ini sedang menjalani bisnis ilegal. Dan salah satu utusan klan Salvatrucha adalah Lexi ! Dialah yg mengatur semua rencana selama ini. Lexi pun telah mengetahui bahwa dirinya dan anggotanya tengah di buru polisi dan anggota gangster muda dari Black Eagle.
Tapi untuk kali ini, Lexi yakin bahwa pekerjaannya akan berjalan lancar. Sebab sejak awal pergudangan tak terpakai di arah selatan kota hanyalah sebuah pancingan. Dan kenyataan nya berhasil ! Black Eagle pun mengira seluruh aktivitas pembunuhan sampai transaksi ilegal mereka terjadi di pergudangan pabrik itu.
Dokter Henry berjalan bersama Pedro kembali menuju ruangan eksekusi Karna waktunya sudah tiba. Dirinya yakin, korbannya sudah lemas dan siap untuk di permainkan oleh berbagai alat. Namun, baru saja membuka pintu besi sebuah ruangan tempat mengeksekusi,,dokter Henry dan Pedro dibuat terkejut dan panik bersamaan.
"Dimana wanita itu ?" Pekik Pedro saat melihat brankas diruangan itu kosong.
"Tidak mungkin dia kabur. Obat itu mematikan seluruh kerja syarafnya." Jawab doker Henry panik.
"Apa ada penyusup yg membawa kabur korban kita ?"
"Mana mungkin? Pintu ini saja memiliki kode sandi yg rumit."
Henry dan Pedro bertambah panik. Mereka mengelilingi ruangan itu berusaha mencari Christie. Walaupun tidak mungkin Christie bisa berjalan sendiri. Mereka hanya terlanjur panik sehingga fikiran mereka tiba-tiba saja buntu dan susah untuk berfikir.
Setelah puas berkeliling ruangan itu dan tidak menemukan apapun, dokter Henry memutuskan menghubungi Lexi di ruangannya. Sedangkan Pedro sedang berusaha mengecek CCTV.
"Bagaimana ? Siapa yg masuk ke ruangan ini ?" Tanya dokter Henry pada Pedro yg masih sibuk dengan komputer di hadapannya
"Shit ! Semua CCTV error' secara bersamaan." Geram Pedro.
"Bagaimana ? Kalian kebingungan?"
"Sialan ! Bagaimana bisa ?" Dokter Henry menatap nyalang kepada seseorang yg baru saja bertanya.
"Cihhh,,kalian fikir kami sebodoh itu ?"
"Lebih baik kalian menyerah ! Lexi sudah kami bereskan,dan tidak ada perlindungan lagi untuk kalian !"
"Dasar bocah tengik ! Kalian terlalu berani menghadapi kami." Pekik Pedro kepada 3 lelaki tampan di hadapannya.
Darian, Jarvis, dan Ansel.... Merekalah yg saat ini berada di ruangan itu berhadapan dengan Pedro sang pembunuh bayaran dan dokter Henry. Bagaimana bisa ?
- Flashback On -
"Siap?" Tanya Arel yg baru saja sampai di markas Black Eagle.
"Go ! Kita selesaikan malam ini juga." Jawab Clay penuh semangat.
"Wait ! Laptop gue error tib.....eh?" Frey heboh sendiri
"Ada apa ?" Tanya Ansel melihat ekspresi wajah Frey yg berubah seketika.
"Lihat !" Frey segera menunjukkan laptopnya kepada kelima sahabatnya.
"Ini ?" Clay merasa janggal dengan apa yg dia lihat saat ini.
"Yaps, laptop gue dihack dan tiba-tiba ada salinan CCTV ini. Dan jelas, ini bukan di area gudang terbengkalai itu." Jelas Frey kepada yg lain.
"Governate!" Celetuk Arel singkat
"Maksud Arel, mungkin saja ini kiriman dari ahli IT klan Governate. Mungkin mereka menerima email kita dan bermaksud membantu kita." Jelas Ansel kepada yg lain.
"Cabut ! Sambil dipikir dijalan." Cetus Darian.
Mereka pun bergegas pergi entah kemana tujuan mereka. Karna saat ini, belum terpikirkan sedikitpun tempat yg akan mereka tuju.
Benar,,sesaat sebelum mereka berangkat menuju area pergudangan pabrik yg sudah beroperasi, mereka mendapat sebuah kiriman salinan CCTV yg mereka duga itu dari klan mafia Governate yg beberapa waktu lalu merekapun sempat meminta bantuan kepada klan tersebut.
Betapa terkejutnya mereka karena yg mereka perhatikan dari potongan CCTV itu adalah saat dimana beberapa orang sedang menarik paksa Christie kesebuah gedung tua tinggi dengan beberapa lantai lebih mirip dengan apartemen terbengkalai. Dan sudah jelas itu bukan di area pergudangan
Mereka benar-benar terkecoh kali ini. Yang dimana, para musuh sudah bisa membaca pergerakan mereka dari sebelumnya. Dan tugas mereka saat ini adalah segera mencari bangunan di dalam rekaman CCTV itu.
"Shit !"
Arel mengumpat dan mendadak memberhentikan mobil yg mereka tumpangi. Saat ini mereka memang lebih memilih membawa mobil agar lebih praktis membawa perbekalan senjata atau apapun yg mereka butuhkan. Agar Frey juga bisa dengan tenang memantau dari dalam mobil saja. Dan saat ini, Arel lah yg memegang kemudi mobil tersebut.
"Ada apa rel ?"
Tanpa menjawab, Arel kembali melajukan mobilnya putar balik dengan kecepatan diluar nalar. Untung saja jalanan malam itu tidak padat, sehingga dengan lancar mobil yg ditumpangi Arel beserta anggota inti Black Eagle lainnya melaju ke tempat yg entah dilajukan kemana oleh ketua Black Eagle itu.
"Ini arah apartemen cheri kan ?"
"Eh iya njir, ngapa malah ke apartemen cheri ?"
"Ckk,,Bucin mah Bucin, tapi gak saat misi penting gini dong. Eh...?"
"Lah kok dilewatin apartemennya ?"
Arel terus melajukan mobilnya ke arah Utara dari apartemen cheri. Sampai ke perbatasan pinggir kota dengan sebuah tanah lapang yg sudah di tumbuhi banyak pohon-pohon dan semak-semak belukar yg tinggi.
"Ini?" Tanya Clay keheranan
"Markas mereka !" Jawab Arel singkat lalu turun lebih dulu dari mobil.
"Loe tau ?" Tanya Jarvis lagi setelah mereka sama-sama turun dari mobil.
"Hubungi tim !" Titah Arel yg dijawab anggukan oleh Ansel dan melirik Darian.
Arel berjalan terlebih dahulu kemudian disusul kelima lelaki lainnya. Mereka berjalan pelan lurus sampai mereka melihat bangunan tua terbengkalai mirip apartemen namun hanya beberapa lantai saja.
Kelima anggota anggota inti Black Eagle lainnya terkesiap melihat gedung tua di hadapan mereka. Gedung ini benar-benar mirip dengan rekaman CCTV yg mereka lihat tadi. Sungguh menakjubkan ketua mereka, otaknya benar-benar dapat di andalkan.
Mereka berhenti lumayan jauh Karna melihat banyaknya penjaga di luar gedung itu. Jadilah Frey duduk di tengah-tengah rumput dan ilalang tinggi sehingga tidak terlihat jika tidak dari jarak dekat. Frey mengakses CCTV di tempat itu untuk mencari celah masuk yg sekiranya aman. Sedangkan yg lain mulai mengatur strategi.
-Flashback Off -
Dokter Henry dan Pedro saling tatap. Entah apa yg ada di fikiran mereka, yg pasti saat ini mereka sedang terpojok di ruangan itu berhadapan dengan 3 anggota Black Eagle itu.
Tapi entah keberanian darimana, Pedro dengan gerakan cepat berlari menerjang ke arah Darian. Sigap, Darian menghindar dan menendang tepat mengenai tulang kering Pedro.
Aaaakkkkhhhh....
Pedro memekik sakit dan sedikit terduduk menahan nyeri di kakinya. Jarvis tidak diam, dia berjalan menghampiri dokter Henry yg sedang panik. Jelas saja, Karna dirinya tidak terlalu bisa bela diri.
"Diam di tempatmu !" Perintah dokter Henry mengangkat salah satu tangannya mencari-cari apapun yg bisa dijadikan senjata.
"Iihhh,, atuttt. Dokter jangan tegang dong." Jarvis masih terus melangkah sambil terkekeh.
"Jangan mendekat atau kulumpuhkan sarafmu !" Ujar dokter Henry dengan mengangkat tangannya yg memegangi sebuah suntikan.
Suntikan yg berisi obat racikan untuk melumpuhkan organ syaraf manusia dan hewan. Dan entah bagaimana, saat ini Jarvis telah berada tepat di depan dokter Henry dan mencekal dua pergelangan tangan dokter Henry.
Sedangkan Pedro yg berbadan besar dan tegap masih berusaha melawan Ansel dan Darian bergantian.
Di ruangan lainnya, Lexi bangkit dari kursinya dan terburu-buru ingin ke ruangan eksekusi. Yaa, baru saja ia menerima panggilan dari Pedro, betapa terkejutnya saat Pedro menjelaskan keadaan dan target mereka yg tiba-tiba menghilang dan CCTV mereka yg error' secara mendadak. Maka dari itulah, Lexi ingin memastikan sendiri apa yg sedang terjadi.
Saat membuka pintu dah hendak keluar dari ruangannya di lantai 4, Lexi terperanjat Karna di depan ruangannya, Arel dan Clay sedang bersandar di tembok dengan bersedekah dada dengan tatapan tenang dan siap menerkam. Sedangkan seluruh anak buahnya yg berjaga sudah terkapar. Bagaimana bisa ? Bahkan Lexi tak mendengar sedikitpun keributan di balik pintu ruangannya.
"Shit !"
"Kau akan menyerah Lexi ?" Tanya Clay dengan seringai liciknya.
"Cuiihh,,aku tidak akan menyerah hanya Karna sekomplotan bocah ingusan seperti kalian !" Jawab Lexi dengan tatapan meremehkan.
"Begitukah tuan Lexi ? Kau masih bisa menyombongkan diri ?" Clay masih memancing Lexi.
"Tak usah banyak bicara ! Aku tidak akan kalah, transaksi ini akan tetap berjalan. Tuanku akan mengirimkan bantuan, dan kalian bersiaplah hancur seperti debu karena telah berani bermain-main dengan klan kami." Ucap Lexi berapi-api.
Bukannya takut, Clay justru tertawa keras dan Arel hanya menarik sudut bibirnya sedikit mendengar jawaban angkuh Lexi. Tak berapa lama terdengar notifikasi benda pipih milik Lexi, tapi dirinya enggan untuk memeriksa.
"Silahkan dilihat dulu Lexi ! Kami tidak akan menyerang saat kau tengah sibuk." Lagi-lagi Clay yg berbicara.
Masih enggan, tapi kemudian dengan ragu Lexi merogoh saku celananya untuk melihat benda mahalnya itu. Dengan mata melotot menatap layar benda pipih itu, Lexi berteriak panik.
"No ! Ini tidak mungkin." Teriak Lexi.
"Apa kau terkejut ? Klan Governate sudah turun tangan, dan kau masih menyombongkan diri ?"
"Bastard !" Ucap Lexi sinis.
Sedetik kemudian Lexi sudah menodongkan pistol ke arah Clay. Bertepatan dengan Jarvis, Darian, dan Ansel yg tiba di lantai tersebut. Tanpa memberi aba-aba, Lexi menarik pelatuk dan menembak ke arah Clay.
"Awassss !"
Slupp
Dugghh
Dor
Aarrrkkkhhh
"Anjir, kenapa nendang kaki gue sih ?" Maki Clay kepada Arel.
Arel tak menjawab, matanya hanya terfokus pada seseorang yg sedang terluka di hadapannya. Lexi lah yg terluka di bagian pergelangan tangannya terkena lemparan belati kecil milik Arel. Tepat saat Lexi menembakkan peluru ke arah Clay, Arel melemparkan belati yg selalu ia bawa ke arah Lexi dan bersamaan dengan itu Arel menendang kaki Clay sehingga Clay spontan menunduk.
Jadilah tembakan Lexi meleset dan Lexi lah yg terluka. Darian, Jarvis, dan Ansel berlari ke arah arel dan Clay bertepatan dengan Lexi yg masih berusaha bangkit menyerang Arel. Lexi mencabut belati di tangannya dan melemparkan ke arah Arel.
"Rel, awas !" Pekik Ansel
Arel hanya memiringkan badannya dengan santai. Kemudian berjalan mendekati Lexi yg sudah berdiri dan siap menerjang Arel. Arel yg memiliki kekuatan dan kepekaan tinggi, tidak terlalu mengeluarkan banyak tenaga. Hanya beberapa pukulan saja, Lexi sudah tak sadarkan diri.
"Sisanya, biar polisi yg mengurusnya." Ujar Ansel setelah mendekat dan melihat Lexi.
"Lexi ?" Tanya Clay kemudian.
"Serahkan pada Governate!" Jawab Arel lalu berjalan meninggalkan tempat itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments