Clay dan Jarvis sudah duduk manis di kelas mereka. Gak bolos ? Tentu saja tidak, Karna setelah jam istirahat ini, kelas XII IPA 1 akan ada kuis evaluasi. Jadilah enam orang cogan yg biasanya membolos, detik ini mereka berdiam duduk manis di kelasnya.
Dua jam mata pelajaran Fisika yg diisi dengan kuis evaluasi sudah selesai. Arel segera beranjak dan keluar dari kelasnya menuju tempatnya berdiam diri di sekolah. Tanpa aba-aba, kelima sahabatnya pun beranjak juga dan menyusul sang ketua.
"Misi terakhir kita gimana ?" Pertanyaan Darian ketika mereka sudah duduk santai di saung belakang gudang sekolah.
"Target sudah terkunci." Ansel menjawab sembari membuka kaleng minuman di hadapannya. "Frey !! Ntr loe hubungin polisi, sisanya biar mereka yg selesaikan." Lanjut Ansel memberi instruksi.
"Ashiaappp" jawab Frey santai
"Kayaknya , kita bakal punya misi baru lagi." Kali ini Darian yg menuturkan.
"Misi apaan ? Polisi belum ada confirm tuh."
"Tunggu ajah, bentar lagi pasti komandan ngubungin loe atau Frey." Jarvis menjawab pertanyaan Clay.
"Emang kasus apaan ?" Ansel angkat suara juga.
"Orang hilang." Darian yg memberi tahu.
"Kasus orang hilang doang ? Polisi gak bisa nanganin ?"
"Masalahnya, ini gak sesederhana yg kita pikirin."
"Menurut berita dr kepolisian, dalam 2 Minggu terakhir ada laporan kasus orang hilang." Ini Darian yg membahas.
"Hilang gimana maksudnya?" Clay langsung memasang tampang seriusnya jika sudah berhubungan dengan misi.
"Jadi menurut info, sudah ada kurang lebih 5 orang menghilang. Di selidiki bahkan puluhan detektif tetep aja gak Nemu titik terangnya. Benar-benar bersih tanpa jejak. Jadi gak bisa disimpulkan orang hilang ini atas kemauan sendiri alias kabur atau justru diculik." Darian menjelaskan inti kasusnya. Kemudian menyeruput minuman di hadapannya sebelum melanjutkan penjelasannya "Dan korban yg hilang itu katanya 3 ibu hamil dan 2 anak kecil. Dan identitasnya lengkapnya gak ada"
"Frey ??" Arel melirik Frey
"Apaan ? Jangan manggil doang boss,, jelasin dikit ngapa sih? Mahal bgt suara loe." Frey bersungut ria Karna tak paham dengan maksud ketuanya itu.
Sedangkan Ansel menatap Arel sepersekian detik lalu mengangguk tanda mengerti. Ansel menatap Frey
"Maksud Arel, coba loe telusuri dan cari tau identitas korban."
"Oohhhh.....oke" jawab Frey sambil memberi simbol oke dengan jarinya.
"Kapan kita bahas Rel?" Ini Clay yg bertanya
"Tunggu polisi"
"Maksud loe, nunggu polisi minta bantuan kita gitu?"
" Hemmm" jawaban andalan Arel
***
Di tempat lainnya tepatnya di kelas XII IPS 1, sedang jamkos (jam kosong). Cheri sejak tadi susah untuk fokus Karna banyaknya pertanyaan di otaknya. Tapi semakin dia tahan, semakin tidak bisa. Ada sisi kepo juga dalam dirinya.
"Urel, gue boleh tanya sesuatu?" Cheri akhirnya bertanya saja. Daripada pening kepala daritadi
"Loe pasti mau nanya tentang Clay dan temen-temen nya kan ?"
"Ehh...." Cheri terkesiap mendengar tebakan Aurel. "kok loe tau?" Cheri keheranan
"Udah gue duga. Loe keliatan bgt Cher abis balik dari kantin, atau lebih tepatnya abis ketemu cowo gue loe jadi gak fokus." Aurel membeberkan tebakannya itu
"Keliatan bgt ya" Cheri meringis sambil menggaruk kepala yg sebenarnya tidak gatal.
"Mau nanyain apaan ? Atau loe kepo sama salah satu dr mereka ?"
"Gue cuma mau nanya, loe kok bisa pacaran sama si Clay? Trus kenapa mereka bisa pindah ke sekolah ini ?"
Aurel menarik nafasnya kemudian meletakkan benda pipih yg sejak tadi dia genggam di tangannya. Lalu menatap Cheri dan menjelaskan "mereka pindah kesini Karna sebuah misi. Waktu itu banyak murid disini yg jadi korban penculikan untuk dijual....."
"Dijual ?" Cheri terkejut dan membelalakkan matanya tak percaya
"Iya diculik trus dijual entah dijadiin pelacur atau dikirim ke luar negri. Dan salah satu korbannya waktu itu adalah gue."
Cheri makin shock mendengar cerita teman sebangkunya itu. Aurel hanya tersenyum melihat reaksi Cheri saat itu, laku melanjutkan ceritanya,
"Gue sempet di sekap, tapi untung belum sempat di apa-apain sama penculiknya. Pas gue di culik pulang sekolah, ternyata Clay sama si Frey yg liat trus ngikutin gue deh. Endingnya, yah bisa loe liat sendiri. Gue selamat tanpa kurang satu apapun trus dapet bonus cinta pandangan pertama sama my baby clay." Aurel terkekeh setelah menjelaskan kejadian yg terjadi di masa lalu.
Cheri melengos memutar bola matanya malas saat mendengar ending cerita Aurel.
"Trus korban yg lain gimana ?"
"Yg masih di sekap ya di bebasin. Sedangkan yg udah dijual....entahlah, mereka jadi urusan polisi waktu itu."
"Eh,,tapi kok bisa gampang bgt nyulik anak SMA sini ?"
"Gampang lah, malah ada yg ikut secara sukarela. Soalnya penculiknya nyamar jadi guru olahraga disini. Sempat jadi idola murid sini juga, soalnya muda dan ganteng."
"Astaga !!" Pekik Cheri setelahnya.
"Ya gitu deh pokoknya. Tuh guru, manfaatin ketenarannya buat deketin mangsa. Jadi korban kebanyakan dengan senang hati ngikutin."
"Gue yakin tuh penculik gak aman di tangan Black Eagle."
"Ekhemm,, kayaknya loe tau banyak tentang anak-anak Black Eagle ? Spill dikit boleh ?" Aurel mode kepo setelahnya
"Gue udah nanya nya, So,,Stop !! gausah bahas mereka lagi"
Aurel hanya mendengus kesal. Padahal dirinya juga sedang kepo dengan hubungan mereka di masa lalu. Ya, hubungan atau seberapa dekatnya cheri dan teman-teman dari kekasihnya. Aurel Menatap Cheri beberapa detik, kemudian beralih kepada benda pipih di hadapannya.
***
Cheri sudah berada di kamarnya. Menghempaskan tubuh rampingnya ke atas kasur ternyamannya. Pikirannya belum bisa fokus, entah apa yg sedang di fikirkan.
Tok...tok....tok....
Tiba-tiba saja suara ketukan pintu terdengar dr luar kamar cheri. Dengan langkah gontai cheri berjalan untuk membuka pintu kamarnya. Terlihat ketua pelayan yg sedang berdiri di depan kamar gadis itu.
"Maaf nona, tuan menunggu anda diruang kerjanya." Kata maid itu sambil menundukkan kepalanya
"Oke bi'..." Kemudian Cheri keluar dr kamarnya dan berjalan malas menuruni anak tangga menuju ruang kerja ayahnya.
'Ada apaan ya ? Kok tumben bgt'
Tanpa mengetuk pintu, Cheri membuka pintu ruangan kerja ayahnya dan berjalan masuk. Hening,,,,Cheri tidak menemukan keberadaan sang ayah di ruang kerjanya. Cheri melihat sekitar , tidak ada yg aneh. Hanya ada meja kerja dengan banyak berkas-berkas, rak buku besar dan banyak nya buku tersusun rapi, serta sebuah sofa besar di sudut ruangan.
-ceklek-
Cheri memutar kepalanya saat pintu ruangan itu terbuka. Disitulah Ravo, sang ayah masuk dan mulai melangkah ke arah kursi kebesarannya.
"Nanti malam jangan kemana-mana, berdandan lah dan temani saya untuk makan malam" ucap Ravo tanpa basa-basi
Cheri menyatukan alisnya seolah bertanya dan keheranan dengan permintaan ayahnya itu. Melihat bagaimana ekspresi cheri, Ravo berdehem lalu menatap lagi ke arah cheri
"Kita akan makan malam sekaligus bertemu dengan calon suamimu"
"Suami ?" Beo Cheri pelan
"Ya, saya akan menjodohkan kamu dengan putra tunggal penerus ElvoTech !!"
"Gila" Cheri melengos kesal kemudian kembali Menatap nyalang kepada pria paruh baya di hadapannya itu.
"Jaga ucapanmu Cheri !!" Ravo meninggikan suaranya. "Jangan membantah !! jika kamu masih ingin menikmati hasil dari Eileen group, maka menurutlah."
"Jangan menjual ku hanya untuk kepentingan pribadi papa !!"
Ravo menatap nyalang ke arah cheri, rahangnya mengeras. "Saya bilang Jangan membantah !!! Eileen group atas namamu , jadi berkontribusi lah sedikit. Selama ini saya yg bekerja keras mengembangkan perusahaan itu. Dan kamu hanya menikmati hasilnya saja."
"Cheri gak nyuruh papa buat ngurusin perusahaan itu."
"Tapi mama mu yg memberi mandat."
"Kalo gitu, papa gak usah capek-capek ngurusin perusahaan itu. Biarin bangkrut !!"
Ravo menghembuskan nafasnya dan mengusap wajahnya kasar. Menatap marah kepada anak gadis yg ada di hadapannya. Begitupun cheri, ia menatap tajam kepada sang ayah.
"Oke...kalau kamu menolak perjodohan ini dan tidak perduli dengan Eileen group,lebih baik kamu serahkan saja perusahaan itu kepada saya. Kita tunggu saat umurmu sudah 20 tahun, tanda tangani surat pengalihan perusahaan dan saya akan tetap memberikan kompensasi untukmu. Bagaimana ?" Ravo menyeringai licik pada akhirnya.
"Cheri gak akan Sudi, itu punya mama dan papa cuma manfaatin itu semua." Jawab Cheri cepat."Alih-alih buat ngehidupin aku, kenyataannya 90 persen hasil perusahaan hanya untuk kesenangan papa diluar sana !! Dada Cheri naik turun Karna emosi.
"Bahkan semenjak mama gak ada, dan papa yg pegang perusahaan,,,papa berubah jadi orang yg angkuh dan gak berperasaan!! Yg ada di fikiran papa cuma harta. Bahkan mengakui Cheri sebagai anak hanya sebagai formalitas papa aja. Pokoknya sampai kapanpun cheri gak mau di jodohin hanya untuk urusan kerja dan kesenangan papa !" Kali ini Cheri meninggikan nada suaranya.
Setelah menumpahkan rasa kesal dan marahnya, Cheri berjalan cepat meninggalkan Ravo di ruang kerjanya. Cukup lega bagi Cheri menumpahkan segala rasa kesalnya selama ini kepada sang ayah. Sedangkan Ravo ? Sudah dipastikan sedang menahan emosinya emosi.
"Anak kurang ajar!!!"
Teriakan Ravo masih terdengar saat Cheri mulai menaiki tangga menuju kamarnya di lantai 2. Cheri kesal, marah, benci, dan ...... Entahlah, rasanya campur aduk.
Sedangkan Ravo, dia menelpon ajudan kepercayaan nya
'Jaga kamarnya dan jaga rumah ini !! Pastikan nanti malam dia akan datang, jangan sampai dia kabur'
***
Cheri sudah berada di kamarnya. Dia duduk di depan meja riasnya. Pikirannya entah kemana, banyak hal yg sekarang gadis itu fikirkan. Lebih lagi, cheri benar-benar murka kepada ayahnya. Tak habis fikir, kenapa ayah yg sangat dia cintai bisa berubah seperti sekarang.
10 tahun yg lalu tepatnya, sikap ayahnya mulai berubah. Entah apa pemicunya,,, sang ayah menjadi mudah marah dan bahkan mulai sering main tangan kepada Cheri serta mamanya. Terlebih saat mama Cheri meninggal, sang ayah semakin menjadi-jadi sampai sekarang hubungannya dengan Cheri bak orang asing.
Kecewa ? Sudah pasti. Cheri begitu menyayangi ayahnya itu, tapi rasa kecewanya lebih besar. Ingin menangis, tapi rasanya air mata sudah kering Karna terlalu sering menangis.
'Gue udah gak bisa lagi tinggal disini !! Gue harus pergi !! Tabungan gue udah cukup, bahkan lebih'
Yah, cheri akhirnya memutuskan untuk pergi. Rasa kecewanya sudah tidak bisa dibendung lagi. Dia juga tidak ingin di jodohkan dengan siapapun apalagi nikah muda.
Cheri memasukkan semua barang yg sekiranya penting ke dalam ransel besar miliknya. Setelah selesai, dia berjalan ke arah nakas dimana terletak sebuah foto seorang wanita cantik.
'Ma, maafin cheri gak bisa pertahanin rumah mama ini. Tapi cheri janji, cheri bakal tetep rebut perusahaan mama. Cheri sayang mama'
Cheri memeluk foto itu sekilas lalu berjalan ke arah pintu. Sialnya saat mencoba membuka pintu kamarnya, ternyata pintu itu sudah terkunci dari luar
'shit !'
Cheri diam sejenak sembari berfikir bagaimana caranya dia bisa keluar dari rumah itu. Cheri berjalan ke arah balkon mengamati keadaan sekitar. Satpam rumah sedang berjaga di depan, sedangkan penjaga suruhan ayahnya masih belum nampak.
Cheri memanfaatkan keadaan itu. Dia mencari kain panjang yg sekiranya bisa membantu untuk turun dr balkon kamarnya. Kamar Cheri berada di samping bangunan rumah itu, sehingga masih memungkinkan untuk kabur tanpa di ketahui para penjaga.
Dengan kemampuan yg cheri miliki, dengan mudah ia memijak di lantai bawah. Dan segera ke arah halaman belakang. Cheri akan memanjat dinding untuk bisa kabur,,, agak susah memang, namun bukan cheri namanya jika ia menyerah begitu saja.
Tak butuh waktu lama, setelah berhasil keluar dari rumah nya Cheri berlari menjauh mencari jalan besar dan yg pasti tidak terlihat oleh penjaga rumah. Sebenarnya cheri menyayangkan upaya kaburnya tersebut, Karna mau tidak mau dia harus meninggalkan sepeda kuning kesayangannya.
Disaat keadaan seperti ini, Cheri hanya ingat sepupunya Reyshaka. Dengan cepat cheri menghubungi kakak sepupunya itu.
'Halo bang, loe dimana ?’
'Di markas gue, kenapa?'
'Bisa jemput gue? Di persimpangan pertama Deket rumah gue'
'Oke , gue otw'
Tak sampai 30 menit, Rey sudah sampai di tempat yg cheri sebutkan tadi. Tak banyak tanya, Rey membawa Cheri ke markas 'Star' terlebih dahulu sebelum nanti dia akan mengintrogasi adik sepupunya itu.
Sesampainya Rey dan Cheri di markas geng Star, mereka menuju salah satu ruangan disana. Sebelumnya cheri menyapa beberapa anggota yg dikenalnya.
"Loe kenapa?” Rey bertanya setelah mendudukkan dirinya di salah satu kursi di ruangan tersebut
"Gue mutusin buat pergi dr rumah bang." Cheri menjawab sembari menunduk menautkan jari-jari tangannya.
"Kenapa ? Udah masalah gede bgt sampe loe mutusin buat pergi?"
"Bokap mau jodohin gue sama anak tunggal pemilik ElvoTech buat kebutuhan bisnisnya."
"What ?? Gila yaa" Reyshaka benar-benar tak habis pikir.
"Lebih cocoknya sih gue dijual sih, biar perusahaan jalan terus. Kalo gue gak mau, gue disuruh tanda tangan pengalihan kepemilikan Eileen group." Cheri menarik nafasnya dan menghembuskan nya kasar
"Gak paham gue. Kenapa bokap loe jadi kaya gini." Reyshaka hanya bisa geleng-geleng.
Benar-benar tak menyangka, Ravo yg dulunya adalah orang yg sangat ramah dan sangat sayang pada Cheri sekarang justru seperti orang lain yg tak berperasaan hanya demi Harta.
"Loe yakin gak mau ngasih tau Opa ajah ?" Rey kembali bertanya
"Jangan bang, kasian Opa. Lagian gue masih bisa ngadepin sendiri."
"Ini udah keterlaluan Cheri...10 tahun loe di jahatin sama bokap loe sendiri."
"Santai aja bang. Gue masih mau pertahanin apa yg mama punya. Kalaupun gak bisa, lebih bagus Eileen group pailit daripada jatuh ke orang yg gak tepat." Reyshaka hanya menghembuskan nafasnya mendengar jawaban Cheri.
"Trus sekarang loe mau gimana ? Mau tinggal dirumah gue aja? Bunda juga pasti setuju kok."
"Engga bang, gue mau beli apart sederhana ajah atau ngontrak rumah"
"Kalo duit loe cukup, mending beli apart ajah. Jadi itu hak milik loe sendiri."
"Cukup kok, ada lebihnya malah. Buat biaya hidup sehari-hari."
"Biaya hidup loe gak usah pikirin. Ntr gue kasi, tapi ya gak banyak."
"Serius ?? Iihhhh,,, makasih abangku yg ganteng." Cheri beranjak hendak memeluk abangnya itu, namun Rey sudah duluan menahan langkah cheri dengan menahan pucuk kepala Cheri yg lebih pendek darinya.
"Tapi kayaknya gue bakal tetep nyari kerja part time deh bang. Gak mungkin bgt gue ngandelin minta ke loe Mulu."
"Gampang, pikirin entar belakangan." Jawab Rey sembari mengacak pelan rambut Cheri. "Ayo kalo mau nyari apart, biar loe bisa cepet istirahat." Ajak Reyshaka setelah melepaskan tangannya dr kepala Cheri
"Nyari apartnya yg tempatnya gak strategis ada gak ? Yg sekiranya susah dijangkau orang-orang gitu..."
"Kita langsung nyari ke agen properti nya aja langsung. Ntr mereka bakal ngasi rekomendasi"
"Okedeh.... Karna setelah ini gue yakin gak bakal hidup tenang. Orang-orang suruhan bokap pasti bakal nyari gue "
Cheri yakin akan menjari buronan ayahnya sendiri. Karna obsesi ayahnya tentang harta amat sangat ia ketahui. Maka cheri harus pintar-pintar mencari tempat persembunyian atau menghindar sebisa mungkin dari sang ayah.
Jadilah Reyshaka meluangkan waktunya seharian ini untuk menemani adik sepupunya mencari apartemen sesuai yg di inginkan. Mereka mendatangi beberapa agen properti sampai menemukan yg menurut Cheri cocok untuknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Lily
Terinspirasi banget!
2024-07-01
1