Perjalanan dari sekolah menuju apartemen Cheri memerlukan waktu kurang lebih 30 menit. Hal itu Karna apartemen Cheri berada cukup jauh dari pusat kota J. Setelah Arel menanyakan alamat Cheri, tidak ada percakapan lagi di antara mereka. Hanya suara kendaraan lalu lalang di sekitar merekalah yg terdengar.
Ketika sampai di komplek apartemen yg tidak terlalu ramai, Cheri turun dan segera melepas helm fullface di kepalanya yg kemudian ia kembalikan pada Arel. Sedang Arel sendiri nampak menyatukan kedua alisnya nampak heran.
"Thanks . Gue masuk dulu."
Setelah mengucapkan terima kasih, Cheri bergegas melangkah menuju lobby apartemen itu. Saat hendak memasuki lift, Cheri sadar jika Arel sedang mengikutinya.
"Loe mau ngapain ?" Tanya Cheri heran. Karna Arel mengikutinya masuk ke dalam lift.
"Gue anter" jawab Arel singkat
Cheri menghela nafasnya. Ingin membantah atau mengusirnya, tapi mana mungkin Arel akan menuruti. Sedikit banyak, Cheri tau sifat watak mantan kekasihnya itu. Cheri hanya diam, kemudian menekan tombol lantai 5.
Benar-benar tidak ada percakapan. Arel hanya mengikutinya sampai ke depan unit apartemennya.
"Sampe sini aja. Gue tinggal sendiri, so sorry gak bisa ngajak loe mampir."
"Heemmm." Arel menjawabnya hanya dengan gumaman.
Tak ingin membuang waktu terlalu lama dengan Arel, Cheri berbalik dan membuka pintu unitnya. Saat akan menutup pintunya kembali, Cheri mengangkat kedua sudut bibirnya sekilas. Namun detik berikutnya Cheri menyesal memberi senyuman singkat untuk Arel.
Dugghh ....
Arel menahan daun pintu yg akan Cheri tutup. Tangan kekarnya bertahan memegang pintu unit itu. Cheri hanya menatap penuh tanya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Balik sama gw !!"
- Hening -
"Gw lama nyari lo"
- Hening -
"Cherika..." Nada suara Arel makin sendu.
Tangan Arel beralih dari daun pintu bergerak mengusap pipi Cheri. Sontak saja Cheri terkejut dengan aksi Arel saat ini.
Gleekk....
Cheri makin susah menelan salivanya. Pasalnya tangan Arel kini berada di dagunya dan memaksa Cheri untuk menatap Arel. Sepersekian menit Cheri dan Arel saling menatap lekat. Seolah banyak hal yg ingin Cheri utarakan. Begitupun dengan Arel, begitu banyak pertanyaan yg ingin ia tau jawabannya dari gadis di hadapannya.
"Loe balik aja Ar." Perintah Cheri dengan melepas tangan Arel dari dagunya. Sedangkan Arel tersenyum tipis, sangat tipis sehingga tidak akan ada orang yg menyadari jika lelaki itu tengah tersenyum. Ada rasa senang saat Cheri menyebutkan nama panggilan yg hanya Cheri bisa menyebutkan nama itu.
"Loe milik gue !! Jangan pergi dan jangan pernah nolak." Ujar Arel lembut tapi penuh penekanan.
"Gue...."
"Gue masih nyimpen rasa yg sama buat loe. Dari dulu, dan gak akan berubah sedikitpun." Cepat Arel memotong kalimat yg akan Cheri lontarkan. Jadilah cheri tak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Gue balik." Arel beranjak pergi setelah mengusap halus pucuk kepala Cheri.
Semakin jauh dan akhirnya Arel hilang di balik lift. Cheri masih mematung di tempatnya, menetralkan degub jantungnya yg tak beraturan.
'Sialan !! Jantung gue gak aman.'
Cheri terduduk di sofa setelah melemparkan tas ranselnya ke sembarang arah. Berkali kali Cheri menarik nafas panjang dan membuangnya dengan berat. Bukan masalah dengan sang ayah yg Cheri fikirkan saat ini, melainkan ucapan Arel lah yg mengganggu fikiran dan hatinya sejak tadi.
'gue harus gimana ?'
'Nolak juga gak bisa'
'Dia gak akan mau di tolak dan akan tetep ngejar gue'
'Mau Nerima lagi gue ragu'
'Aaarrrkkkkhhhh.....'
Cheri memekik pelan sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. Gila !! Hanya dengan beberapa kalimat dari Arel, membuat dirinya tak tenang sedikitpun. Arel yg biasanya irit bicara, tidak akan berlaku jika di hadapan Cheri.
Sebenarnya hubungan Arel dan Cheri tidak benar-benar kandas, Karna tidak ada kalimat putus terlontar di antara keduanya. Tidak ada masalah serius juga antara mereka. Namun kepindahan Cheri yg tiba-tiba, nomor handphone Cheri yg juga tidak aktif, membuat hubungan mereka akhirnya tidak baik-baik saja.
2 tahun lalu,, Arel selalu berusaha menghubungi Cheri. Mencari tahu alamat barunya juga. Tapi hasilnya nihil. Cheri menghilang bak ditelan puting beliung. Saat itu Arel belum mengambil alih jabatan ketua Gangster dari sang ayah.
Sehari sebelum kepindahan Cheri, Arel sempat menemui Cheri di rumahnya. Namun bukannya bertemu dengan Cheri, justru lelaki itu bertemu dengan Ravo ayah Cheri. Dan dengan terang-terangan Ravo melarang Cheri memiliki hubungan dengan Arel. Dan keesokan harinya Cheri tiba-tiba menghilang dan dikabarkan pindah sekolah.
Selama 2 tahun ini Arel masih memiliki rasa yg sama. Mungkin ini juga yg menyebabkan Arel begitu begitu dingin, Cuek, dan malas berdekatan dengan lawan jenis. Karna perasaan Arel masih tertinggal hanya untuk Cheri.
***
~ Markas Black Eagle ~
Sesaat setelah Arel sampai, rapat bersama anggota inti Black Eagle lainnya dimulai. Tanpa berganti seragam, Arel menuju sebuah ruangan yg di jadikan markas Black Eagle.
Frey masih sibuk dengan laptop di hadapannya. Masih berusaha mengulik informasi yg dibutuhkan. Sedangkan anggota lainnya hanya menunggu dan sibuk dengan handphone mereka masing-masing. Mereka yakin Frey bisa menanganinya sendiri.
Sedangkan Arel, lelaki itu juga tengah sibuk dengan laptop di hadapannya. Bukan untuk membantu Frey, tapi sedang mencari informasi detail tentang Cheri yg tidak ia ketahui selama 2 tahun ini. Arel sebagai ketua, dia juga amat sangat menguasai semua elemen anggotanya termasuk dengan IT.
Tidak sulit untuk Arel meng-akses informasi tentang Cheri. Dengan teliti lelaki itu membaca seluruh kabar, informasi, bahkan sampai informasi Cheri yg menjadi buronan Anggara. Arel mengetahui ya lebih dulu dibandingkan dengan targetnya sendiri yaitu Cheri. Rahang Arel mengeras, wajahnya tegas menahan sedikit emosi.
"Rel, are you okay?" Tanya Ansel ketika menyadari mimik muka Arel.
"Heemmm. Kita mulai.!" Titah Arel kemudian.
Tanpa basa-basi mereka siap dengan laptop masing-masing. Mereka fokus menatap layar pipih di hadapannya.
Ctak...
"Udah gue sambungin ke laptop kalian. Bisa kalian baca dulu." Ujar Frey setelah selesai menekan tombol enter.
Hening sejenak, ke enam lelaki di ruangan itu sedang fokus membaca layar laptop yg ada di hadapan mereka masing-masing.
"Apa ini bakal sama kasusnya kaya di sekolah kita dulu ?" Clay memulai percakapan setelah selesai mempelajari titik masalah.
"Hampir sama, bedanya yg sekarang lebih susah ajah." Jawab Frey
"Lebih susah ?" Beo Darian dan Jarvis bersamaan
"Kasus ini hampir sama dengan kasus yg kita selesaikan setahun lalu. Bedanya yg sekarang bukan jual beli manusia untuk dijadikan pekerja sex, lebih tepatnya jual beli organ manusia. Ini bisnis dunia gelap yg mendunia, dan kebetulan mereka mencari mangsa di indonesia." Ujar Frey panjang lebar.
"Berarti penculiknya hanya sebatas anggota ? Bukan dalangnya ?" Kali ini Clay yg bertanya.
"Betul !! Penculiknya sebagai anggota yg dibayar. Tapi bukan mereka yg meng-eksekusi korban. Ada kelompok gangster, pembunuh bayaran, dan satu dokter bedah yg sudah tidak bertugas sebagai eksekutor. Mereka juga bawahan, mereka dilindungi oleh sebuah klan mafia, dan kaln mafia itu lah dalangnya dan mereka juga yg mengatur penjualan organ manusia." Penjelasan Frey kali benar-benar membuat yg lain terhenyak.
"Misi kali ini gak kaleng-kaleng cuy."
"Gue lanjutin,, korban-korban yg berhasil polisi identifikasi ada 5 orang. 3 ibu hamil, dan 2 anak-anak. Mereka main bersih, semua korban itu merupakan tunawisma, ODGJ, dan anak jalanan. Mereka gak punya identitas lengkap dan terpenting mereka gak punya keluarga. Jadi kehilangannya bisa tersamarkan dan tidak akan ada yg mencari."
"Gimana Rel ?" Ansel akhirnya bertanya kepada Arel.
"Salvatrucha." Jawab Arel singkat dan menatap Ansel. Yg ditatap hanya mengangguk singkat
"Klan mafia yg melindungi segala jenis alur dan transaksi bisnis gelap ini adalah klan Salvatrucha." Jelas Ansel kemudian
Frey segera mengetikkan nama salvatrucha di layar laptopnya untuk mencari informasi tentang kapan mafia tersebut.
"Bukan mafia besar sih, tapi emang mereka klan mafia yg terbentuk Karna pekerjaan kotor dan transaksi ilegal." Jelas Frey setelah mengetahui klan mafia salvatrucha.
"Governate." Lagi lagi Arel hanya menyahut singkat.
Frey segera mencari informasi kemudian ditunjukkannya ke Ansel. Anselnya yg akan menjelaskan.
"Governate itu klan mafia terbesar dan nomer 1 yg di segani di dunia. Jadi kita bisa urus masalah yg terjadi di Indonesia dan mengumpulkan bukti akurat. Bukti itu kita kirim ke klan Governate, kita bisa minta bantuan mereka untuk urusan salvatrucha. Bener gitu Rel ?"
"Heemm."
"Jadi kita hanya butuh menyiapkan diri untuk ngadepin gangster dan pembunuh bayaran yg bekerja sama kan ? " Pertanyaan dari Darian kemudian.
"Gue rasa kita sanggup, walaupun butuh waktu lumayan lama sepertinya. Darian, Jarvis, kalian siapin semua anggota divisi." Titah Clay setelahnya.
"Kita tunggu komandan. Setelah beliau konfirmasi, kita meeting lagi dan langsung gerak."
"Oke , sambil nyari tambahan informasi lagi. Meeting kita stop disini dulu."
Setelah itu lah mereka bubar. Bukan bubar untuk pulang, tapi masih sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Begitupun Arel, pikirannya sudah terpecah memikirkan beberapa masalah. Untung saja Tuhan menakdirkan Arel dengan kecerdasan di atas rata-rata, jadi Arel ingin menyelesaikan nya dengan cepat dan tepat.
Tak berselang lama Arel beranjak dr kursinya dan berjalan menghampiri Frey yg sedang sibuk dengan laptopnya.
"Cari tentang Eileen group." Yg di ajak bicara mendongak menatap Arel.
"Loe pengen gue cari tau tentang Eileen group gitu ?" Tanya Frey memperjelas ucapan Arel.
"Heemm,,"
"Ada masalah sama Eileen group?"
"Gak, untuk pribadi."
"Ohhhh,, oke."
Setelah mendapat jawaban dari Frey , Arel melangkah lebar menuju kamarnya. Lelaki tampan mapan itu sungguh ingin mengistirahatkan tubuh dan otaknya yg penuh. Sedang di ruangan markas, kelima anggota Black Eagle masih terpaku dan penasaran. Ada urusan apa Arel dengan Eileen group?
***
Pagi ini keadaan sedang ricuh di SMA Bina Nusantara, pasalnya kemarin ada murid ekskul yg memergoki Cheri dan Arel sedang berboncengan saat pulang. Foto itu dengan cepat menyebar se seantero sekolah.
Cheri yg baru saja sampai di sekolah, otomatis mendapat banyak tatapan penuh tanya dan intimidasi dari berbagai sudut sekolah. Ada yg penasaran, ada pula yg memuji kecocokan mereka, dan banyak juga yg iri tak suka. Cheri bukannya bodoh, hanya berusaha cuek dan tidak perduli dengan gosip yg beredar (bukan gosip tapi fakta, kan emang pulang bareng)
'Ckk,,ini Karna Arel gak bisa ditolak ! Sialan emang.'
Berkali-kali Cheri membuang nafasnya kasar. Gadis itu terus berjalan melewati koridor utama menuju gedung IPS tanpa memperdulikan banyak pasang mata yg menatap ke arahnya.
"Cherikaaa...!!! Gue nungguin loe." Suara cempreng Aurel menyapa Cheri yg baru saja memasuki kelasnya.
"Apaan sih? Berisik !" Cheri menduduki tempatnya persis di sebelah Aurel. Sekali lagi di mengamati sekeliling, dan yaa.... teman-teman sekelasnya pun menatap sambil membicarakan cheri yg pulang bersama Arel.
"Sekarang jelasin ke gue !!"
"Jelasin apa njirr ?
"Eh monyet, loe gausah ngelak . Loe itu udah jadi tranding topic pagi ini di Bina Nusantara !"
"Aakkkhhh...... gara-gara si Arel sialan !!" Cheri mengacak rambutnya dengan suara tertahan.
"Loe balikan ya sama Arel ?" Bisik Aurel agar teman sekelasnya tidak mendengar.
"Gatau ahh,, "
"Loe beneran balik bareng Arel ?"
"Iyaa !! Puas ? Dan gue dipaksa !" Ujar Cheri dengan wajah masam.
Aurel mengembangkan senyum lebarnya penuh arti. Menarik turunkan alisnya , kemudian memicingkan mata menatap Cheri dalam.
"Kenapa loe ? Mata loe kena radiasi?" Tanya Cheri melihat tingkah temannya itu.
"Isshhh, gue sentil juga mulut loe." Aurel berdecak sebal. "Bener dugaan gue, fix Arel masih gak bisa move on !"
"Udah gausah dibahas. Gue MALES !"
Percakapan mereka terhenti bertepatan dengan masuknya Guru mata pelajaran di jam pertama. Tanpa komando, seluruh murid 12 IPS 1 senyap siap mengikuti pelajaran.
Teng...teng....teng.....
Bel tanda jam istirahat pertama telah terdengar. Seluruh siswa berhamburan keluar dr kelas masing-masing dengan tujuan yg berbeda. Begitupun Cheri dan Aurel, mereka sepakat akan ke kantin untuk mengisi perut. Walaupun Aurel harus memaksa Cheri dulu, Karna Cheri malas mendengar bisikan-bisikan tentang dirinya.
'Tuh murid baru yg kemaren balik bareng Arel'
'Iihhh...kok bisa sih mereka sedeket itu? Kan tuh cewe baru semingguan disini'
'Tapi cocok euy, Cantik dan ganteng maksimal'
'Gak lah, Arel lebih cocok sama gue'
'Dia yg ganjen kali,, secara Arel kan ga pernah tuh deketin cewe'
'Duuhh,, suami kita direbut anjay'
Begitulah bisikan-bisikan yg Cheri dengar sepanjang perjalanan nya sampai ke kantin. Dan masih banyak lagi yg Cheri dengar. Begitupun di area kantin, semua pasang mata seolah tak lepas menelisik gerak gerik Cheri yg kini sedang duduk di meja pojok kantin.
"Huffttt......sebegitu di puja nya Arel sama murid-murid sini. Dia yg maksa, gue yg jadi bulan-bulanan cegilnya." Cheri bergumam lirih dengan hembusan nafasnya kasar.
"Emang di sekolah yg dulu gak di puja-puji?" Aurel yg mendengar ucapan lirih Cheri, langsung balik bertanya.
"Sama sih, bahkan dari SMP dia udah jadi Idol yg di rebutin dan di Halu-in Cegil-cegilnya."
"Berat bgt kaya nya berhubungan sama Arel." Aurel mengusap pundak teman dekatnya itu.
"Ckk,, gue kudu jauh-jauh dari dia !! Gue mau sekolah yg bener, mau idup tenang ." Ujar Cheri penuh semangat dengan mengepalkan satu tangannya bak merdeka.
Namun sepertinya keberuntungan tidak berpihak pada Cheri. Pasalnya saat sedang menggebu dengan ucapannya ingin menjauh dari sang ketua Black Eagle, justru yg di bicarakan sedang berjalan memasuki area kantin dan menuju ke arah meja yg tengah Cheri tempati.
Kepalan tangannya turun otomatis dan kepalanya pun tertunduk dengan sendirinya. Cheri benar-benar merutuki nasibnya sendiri. Saat ini seluruh pengunjung kantin tengah mencuri tatap ke arah Arel yg dengan santainya duduk di hadapan Cheri. Meja yg awalnya hanya di huni Cheri dan Aurel, kini ramai dengan anggotan black Eagle lainnya.
Arel, yg dikagumi banyak gadis di sekolah bahkan diluar sekolah kini tengah memandangi seorang wanita cantik. Pantas seluruh murid penasaran ada hubungan apa diantara mereka. Karna selama ini yg mereka tau, Arel tidak pernah sekalipun memiliki hubungan dengan lawan jenis. Jangankan hubungan, bahkan sekedar berurusan dengan wanita saja tak pernah.
Sreekk.....
Arel menggeser handphone nya ke arah Cheri yg ada di depannya. Cheri hanya mendongak menatap Arel sekilas dan kemudian menggeser kembali benda pipih itu ke arah sang pemilik.
"Loe jago ! Cari sendiri." Cheri menjawab saat sadar mendapapat tatapan penuh tanya dari lelaki tampan di hadapannya.
Interaksi aneh mereka jelas mengundang gelak tawa dari anggota Black Eagle lainnya.
"Anjay' si Cheri ternyata lebih pro dari Ansel." Ujar Frey disela-sela tawanya.
"Lah kok gue ?”
"Loe pinter, tapi kadang oon. Jelas Cheri lebih Pro, biasanya Arel harus ngomong satu atau dua kata baru loe bisa terjemahan." Kini Clay menimpali.
"Trus hubungan nya sama Cheri ?"
"Ansel mode lemot ya begini." Ujar Jarvis.
"Begini ya Bang Jenius,, loe gak liat si Cheri ? Bahkan tanpa Arel ngeluarin sepatah katapun, dia bisa ngerti apa yg di mau Arel ." Jelas Darian kali ini.
"Bener-bener pasangan Uniq !" Celetuk Aurel tiba-tiba yg langsung mendapatkan tatapan maut dari Cheri.
"Mereka dulu pacaran pake bahasa batin sayang, gausah heran ." Jawab Clay yg kemudian disambut dengan tawa lebih keras dari yg lain.
Arel hanya melirik temannya sebal, sedangkan Cheri sedang disibukkan dengan fikirannya sendiri. Cheri tengah berfikir bagaimana caranya kabur secepat kilat dari kerumunan manusia-manusia tampan ini.
"Pulang bareng gue !" Suara berat Arel terdengar kembali saat Cheri tengah bersiap bangkit.
"Ckk,, gausah !! Dan gausah deket-deket gue! loe cuma duduk santai, sedangkan gue jadi topic gosip Cegil-cegil loe." Jawab Cheri ketus sambil beranjak meninggalkan kantin dengan menarik tangan Aurel.
Jawaban Cheri inilah mengundang atensi seluruh manusia di kantin. Pikir mereka, Cheri amat sangat Gila berani berbicara ketus kepada Arel.
"Buahahaha ...... Arel di tolak cok ." Clay terbahak memegangi perutnya yg sakit Karna tertawa.
"Seganteng Arel di tolak, gimana gue ?" Keluh Jarvis yg masih berharap kepada Cheri.
"Badas bener Cheri....cuma dia dr dulu yg bisa bikin Arel jadi budak tikus." Frey ikut menimpali.
Yang kemudian mereka tertawa tak bisa berhenti, merasa puas Karna akhirnya ada yg berani menolak pesona ketua Black Eagle itu.
"Sialan !"
Arel mendengus kesal dan dengan cepat beranjak meninggalkan kantin menuju tempat ternyamannya di sekolah. Kepergian Arel masih meninggalkan gelak tawa dari sahabat-sahabat nya itu. Dan yg pasti meninggalkan rasa heran dari seluruh murid Bina Nusantara yg berada di kantin. Benar-benar baru kali ini ada seorang gadis yg berani terhadap Arel.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments