"Astaga !! ARELIANO !!" Teriak Cheri keras
"Iya, sayang ?" Arel menoleh saat mendengar suara teriakan kekasihnya itu.
"Bisa gak sih permisi dulu kalo kerumah orang !"
"Iya, maaf." Gimana Arel dengan santainya.
Kegaduhan ini disebabkan Arel yang tiba-tiba saja sudah duduk di sofa ruang tamu Cheri. Serumit apapun sandi pintu apartemen Cheri, Arel selalu bisa membobolnya. Seperti Minggu pagi ini, Arel sudah berhasil masuk k le dalam apartemen Cheri tanpa kesusahan.
Cheri yang baru saja bangun dari tidurnya dan berniat pergi ke dapur untuk mengambil segelas air sontak terkejut melihat keberadaan Arel disana. Ingin rasanya Cheri menghajar lelaki tampan di hadapannya itu, tapi hanya angannya saja karena sudah pasti Cheri akan kalah jika melawan Arel.
"Ngapain pagi-pagi udah nongkrong dirumah orang sih ?" Tanya Cheri ketus.
"Kangen."
Blusshh
"Gue tampol juga nih !" Cheri melotot galak. Pagi-pagi sudah dibuat blushing.
"Aku-kamu, sayang."
"Isshh,, udah deh gak usah gombal-gombal ! Gak cocok banget sama tuh muka. Mau ngapain ?" Tanya Cheri lagi.
"Katanya mau kerja ?" Ucap Arel menatap wajah alami Cheri bangun tidur.
"Udah dapet ? Seriusan ?" Cheri terlihat antusias.
"Hmmm"
"Aaaaaa,,makasih Arel." Teriak Cheri reflek merangkul lengan kekar Arel.
Deg
Arel sedikit terkejut dengan tingkah Cheri itu, namun detik berikutnya Arel tersenyum hangat ke arah Cheri. Senyum yang hanya ia tampakkan di hadapan Cheri.
"Eh..? So-sorry, tangan aku bandel emang kalo lagi seneng." Cheri segera melepas rangkulannya kala tersadar dengan tingkah nya itu.
"Mandi !"
Tanpa menjawab, cheri segera berlari masuk kembali ke kamarnya dan bergegas mandi sambil merutuki tingkah refleknya itu. Sedangkan Arel, dirinya dlsedang menormalkan degub jantungnya hanya karena rangkulan Cheri. Senyumnya melebar dan pastinya tidak ada yang melihat.
Dilain tempat, seorang pria mulai membuka matanya setelah semalaman terpejam. Dirinya merasakan sakit disekujur tubuh dan wajahnya. Setelah matanya terbuka sempurna, ia menyapu sekeliling.
"Tuan Jose sudah sadar ?"
"Ah,iya. Dimana tuan Ravo ?" Tanya Jose pada maid yang berada dikamar itu. Dirinya mengenali bahwa saat ini dirinya berada di kediaman tuan Ravo.
"Tuan masih berada di kamarnya, sebentar lagi mungkin turun."
"Baiklah, aku akan menunggu diruang tengah. Kau bisa lanjutkan pekerjaanmu !"
Maid itu hanya mengangguk tanda mengerti kemudian berlalu meninggalkan Jose sendiri dikamar. Jose segera membersihkan dirinya dan akan segera menuju ruang tengah untuk bertemu tuannya itu. Dirinya harus memberikan informasi penting tentang kejadian semalam. Walaupun badannya terasa nyeri dan memar di beberapa bagian, namun keadaannya tak separah dengan anak buahnya yang lain.
"Bagaimana bisa terjadi Jose ?" Tanya Ravo saat dirinya dan Jose sudah duduk di ruang tengah.
"Maaf tuan, seharusnya kami bisa membawa nona Cherika walaupun kami harus babak belur. Kemampuan nona Cheri tidak main-main tuan, namun yang membuat kami kalah adalah orang-orang yang membantu nona Cheri." Beber Jose kepada Ravo.
"Membantu ? Bukankah kalian menangkapnya saat sendiri ?"
"Benar tuan, tapi entah darimana datangnya ketiga pria itu datang dan membantu nona Cheri. Mereka dari sebuah geng Black Eagle tuan."
"Black Eagle?"
"Benar tuan, sepengetahuan saya Black Eagle saat ini sudah diteruskan kepada generasi kedua."
"Cari tau hubungan Cheri dengan mereka ! Kita tidak bisa main-main jika melawan black Eagle."
"Baik tuan."
Jose pun berlalu meninggalkan kediaman Ravo. Dia ingin beristirahat beberapa waktu saja untuk memulihkan tubuhnya.
***
"Loh, Darian disini juga ?" Tanya Cheri saat dirinya sampai disebuah cafe besar bersama Arel.
"Cafe ini punya keluarga Darian." Jawab Arel santai sambil menggenggam tangan Cheri memasuki cafe itu.
"Hah...?"
"Rel, nyampe juga. Hai Cheri ?" Sapa Darian saat melihat Arel dan Cheri sampai di cafe nya.
"Hemm"
"Eh iya,, hai yan."
"Langsung ke ruangan aja yuk, kita ngobrol disana !" Ajak Darian sambil berjalan terlebih dahulu.
Ketiga remaja itu berjalan ke arah lantai dua 'cafe Diamon' dimana ruang kerja cafe tersebut terletak. Ternyata disana sudah ada seorang pria paruh baya sedang duduk santai mengamati tumpukan kertas di hadapannya. Arga Diantaro, ayah dari Darian adalah pemilik cafe yang sedang Cheri singgahi saat ini. Pengusaha sukses di bidang FnB, dan memiliki banyak cabang restoran serta cafe.
"Oh hai son, duduk dulu !" Titah Arga kepada 3 remaja di hadapannya
Darian dan Cheri langsung mengambil tempat untuk duduk. Sedangkan Arel, ia menatap lekat Arga sesaat seakan memberi kode dengan matanya. Arga hanya mengangguk sekilas, barulah Arel duduk disamping Cheri.
"Ini pasti Cheri kan ? Saya Arga, ayahnya anak-anak Black Eagle, tapi yang sedarah cuma sama Darian." Ucap Arga dengan suara beratnya namun terdengar hangat.
"Iya om, saya Cherika."
"Arel dan Darian kemarin sudah bilang kalau kamu ingin bekerja paruh waktu, benar ?"
"Iya benar, om."
"Baiklah... karena kamu masih sekolah, saya hanya ingin kamu bekerja selama 5 jam/hari di cafe ini. Jadi sepulang sekolah kamu masih bisa beristirahat sebentar dan jam 4 sore kamu mulai bekerja sampai jam 9 malam saja. Dan kamu bisa libur sehari dalam seminggu di hari weekday. Bagaimana ?" Beber Arga ke arah Cheri.
"Cuma 5 jam ? Tapi kan kalau part time minimal 8 jam, om." Cheri merasa heran.
"Kan enak cuma 5 jam. Atau kamu mau yang 8 jam saja ?" Tanya Arga dengan senyum tengilnya.
"Eh, iya gak apa....-"
"5 jam aja, ayah !" Suara bariton Arel memotong kalimat cheri.
Arel pun bangkit dan menarik pergelangan tangan Cheri untuk segera pergi dari ruangan itu. Cheri tentu saja cengo, masih berusaha mencerna apa yang sedang terjadi.
"Dasar kulkas !" Ketus Arga ke arah Arel.
"Pulang dulu, Yah ?" Pamit Arel setelahnya.
Arga hanya mendengus kesal, sedangkan Darian sedang menertawakan ayahnya yang tengah kesal dengan sikap Arel.
Saat sampai diparkiran, Cheri berusaha melepaskan genggaman tangan Arel. Sontak saja Arel menunduk menatap Cheri yang memang tingginya terpaut jauh dengan Arel.
"Kenapa,hm?" Tanya Arel
"Ini pasti ulah kamu kan ? Kamu yang minta aku kerja cuma 5 jam kan ?" Cheri mencecar pertanyaan kepada kekasihnya itu.
"Hmmm"
" Ishhh,,kenapa sih ? Kan aku niat pengen kerja beneran, Ar."
"Yang bilang bohongan siapa ?"
"Tapi aku gak enak sama karyawan yang lain. Kaya berasa anak emas gak sih ? Ntar malah banyak yang gak suka sama aku." Keluh Cheri
"Gak akan, sayang."
"Tapi, tetep ajah nanti....."
Belum sempat cheri menyelesaikan kalimatnya, Arel sudah mendekatkan wajahnya ke wajah Cheri. Bahkan Arel mengikis jarak antara keduanya dengan melingkarkan lengan kekarnya di pinggang ramping Cheri.
Glek
Cheri kesusahan menelan salivanya sendiri. Jantungnya sudah tidak aman, ambyar sudah jantung Cheri.
"Ka-kamu mau-mau apa?" Tanya Cheri terbata-bata.
"Masih mau bawel,hm?" Suara Arel benar-benar terdengar mendayu-dayu saat ini.
"Eng-enggak."
"Bawel lagi, aku cium !" Ujar Arel setengah mengancam. Lalu melepaskan tangannya dari pinggang Cheri. Dan berjalan ke arah motornya terparkir.
"Arel, Omeeesss !" Teriak Cheri tanpa tahu malu.
Arel terus berjalan dengan senyum kamarnya mendengar teriakan Cheri. 'Sungguh menggemaskan' batin Arel.
***
Sudah 2 minggu Cheri menjalani aktifitas baru yang sudah tidak baru lagi. Pagi dia akan berangkat sekolah dengan motor sport kuning kesayangannya walaupun sesekali Arel akan memaksa menjemputnya, kemudian sekolah seperti biasa, dan setelahnya Cheri bekerja di Cafe Diamond milik keluarga Diantaro.
Cheri benar-benar berusaha membagi waktunya sebaik mungkin, karena dirinya pun sadar saat ini sudah duduk di kelas XII dimana sebentar lagi akan mendekati ujian kelulusan. Awalnya Cheri merasa akan biasa saja dengan semua kegiatannya ini, namun ternyata ada yang merasa lain. Siapa lagi ? Sudah pasti sang kekasih Arel.
Arel merasa waktunya bersama Cheri benar-benar tersita. Mereka hanya bisa bertemu di kantin sekolah, atau saat Arel memutuskan antar jemput Cheri ke sekolah sampai tempat kerjanya. Untuk itu Arel akan memanfaatkan waktu libur Cheri agar mereka bisa bertemu, seperti saat ini
"Udah siap ?" Tanya Arel saat Cheri baru saja keluar dari kamarnya.
"Udah nih, kita mau kemana sih ?"
"Ngabisin waktu bareng, sayang."
"Kenapa ?" Cheri menangkap ada yang berbeda dari nada bicara Arel.
"Kamu terlalu sibuk, Cheriku."
Blusshhh
Sebutan Cheriku yang dilontarkan Arel benar-benar membuat hatinya menghangat dan jelas saja membuatnya salting.
"Sorry ya,, namanya juga cewe mandiri. Aku kan harus bertahan dengan kerja kerasku sendiri." Jawab Cheri sendu.
"Nikah yuk, biar kamu gak usah kerja." Goda Arel
Buggghhh
"Ngawur !" Jawab Cheri sambil memukul keras lengan Arel.
Arel hanya terkekeh melihat wajah cemberut cheri. Setelahnya mereka lekas beranjak dan meninggalkan apartemen Cheri dan menuju tempat yang ingin Arel tunjukan. Entahlah, Cheri pun tak tahu.
Setelah sekitar 60 menit lamanya berkendara, Arel memarkirkan mobilnya disebuah parkiran cafe pinggir pantai. Arel masih tak berkata apapun, lelaki bertubuh tegap dan tinggi itu segera turun kemudian berjalan memutar untuk membukakan pintu Cheri.
"Kita mau ke cafe ?" Tanya Cheri setelah turun dari mobil.
"Nanti"
"Nanti ? Trus sekarang mau kemana ?"
Tanpa menjawab, Arel mengajak Cheri berjalan melewati cafe itu sampai di hamparan pasir dekat dengan pantai. Disana sudah banyak kursi pantai bahkan gazebo-gazebo untuk bersantai menikmati pantai.
"Duduk" titah Arel ketika mereka berdua sampai di sebuah gazebo yang paling dekat bibir pantai.
"Waahh,, cantiknya. Bentar lagi gelap, bisa liat sunset gak ?" Cheri terpukau melihat hamparan laut dengan air jernih begitu menyatu dengan langit yang tak kalah indah.
"Bisa" Jawab Arel singkat sambil merentangkan jaketnya untuk menutupi tubuh cheri.
"Eh...?"
"Dingin, sayang"
"Tapi kamu ?"
"Gak apa"
Cheri tak lagi mendebat, dirinya hanya menurut dan kembali menikmati indahnya pemandangan di hadapannya itu. Sejenak melepas penat dari kesibukannya memang perlu, dan Arel lah yang selalu mengerti.
Cheri tidak tau bagaimana masa depannya kelak, tapi yang pasti untuk saat ini keberadaan Arel sungguh menjadi penenang diantara banyaknya permasalahan hidup Cheri. Setidaknya, itulah yang ada di benak Cheri.
"Ar....makasih ya?" Ucap Cheri tiba-tiba.
Arel hanya menyerngit heran, mengangkat salah satu alisnya seolah bertanya maksud dari perkataan Cheri padanya.
"Makasih, Karna udah ngerti kalo aku butuh hiburan di sela-sela waktuku yang berantakan." Tatapan Cheri kini lekat menatap wajah tampan Arel.
"You're welcome, Queen" Jawab Arel dengan mengangkat tangannya dan mengusap lembut kepala Cheri.
"Udah mulai gelap nih, balik yuk !"
"Makan dulu"
Cheri dan Arel pun beranjak memasuki cafe dan memesan beberapa menu makanan untuk santapan mereka. Tak lama setelah itu mereka segera kembali , karena besok mereka masih harus sekolah. Maklum saja, karena libur kerja Cheri di Senin jadilah mereka berkencan setelah pulang sekolah. Dan setelah berkencan pun, keesekonnya mereka kembali ke rutinitas sebagai seorang siswa.
***
Ting....ting...
"Ada apa, Ar ? Ada yang ketingga...Eh? Siapa ya ?" Tanya Cheri terperangah ketika melihat seorang pria memakai kaos dan celana pendek dengan wajah panik berdiri di depan pintu apartemen cheri.
"Maaf kak, HP ini benar milik keluarga kaka?" Tanya pria itu sambil menunjukkan sebuah handphone dengan wallpaper foto Cheri dan Arel.
"Loh, ini punya pacar saya. Orangnya mana ?"
"Benar ya berarti, Karna panggilan daruratnya nama kaka, trus orang-orang lihat pemilik HP ini keluar dari apart ini. Saya tanya satpam di suruh kesini." Beber pria itu terkesan bertele-tele.
"Iya iya, ini jatuh ? Atau gimana ?" Tanya Cheri lagi
"Pemilik nya kecelakaan kak, sekarang keluarga saya yang bantu bawa ke klinik"
Deg
"Ke-kecelakaan?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments