Penyelidikan 2

Di tempat yg berbeda, Arel bersama Ansel dan ditemani seorang anggota detektif dari kepolisian sedang berada di salah satu mess untuk seluruh pekerja malam  Vinoteca klub. Tempat ini lebih mirip kost-kostan, penampakan dibalik pagar terdapat lorong panjang dengan belasan pintu kamar.

Tito, seorang anggota detektif kepolisian berjalan paling depan diikuti Ansel kemudian Arel di paling belakang. Arel mengamati sekitar,seolah mencari sesuatu. Suasana mess saat ini amat sepi, Karna sebagian besar penghuninya sedang bekerja di klub. Hanya ada beberapa yg tinggal, itupun Karna mereka sedang bekerja. Terdengar jelas dari suara desahan yg saling bersautan dari beberapa pintu kamar yg tertutup rapat.

Tito terus berjalan melewati satu persatu kamar hingga sampai di salah satu pintu dengan nomor 19. Ya,,kamar nomor 19 adalah kamar yg mereka tuju. Kamar itu adalah milik Christie, kamar yg akan mereka selidiki.

"Benar ini kamarnya tuan muda ?" Tanya Tito kepada dua anak muda di hadapannya.

"Menurut info dari Rani, kamarnya nomer 19. Berarti bener yg ini pak." Ansel yg menjawab. Sedangkan Arel masih fokus mengedarkan pandangan ke setiap sudut tempat.

"Apa boleh kita buka paksa?" Lagi Tito bertanya.

"Lebih simplenya sih gitu pak. Kuncinya gak ada." Jawab Ansel dengan senyum simpulnya

Detektif muda itu segera berusaha membuka pintu kamar Christie setelah mencari alat yg bisa digunakan dari dalam tasnya. Tak butuh waktu lama bagi seorang detektif itu, pintu pun terbuka.

Tak ada yg mencurigakan, sejauh ini yg terlihat nampak senormalnya kamar seorang wanita.

"Lemari !" Ucap Arel yg masih berdiri di ambang pintu. Ansel tanpa bertanya menuju ke arah lemari dan mulai menggeledahnya.

"Saya menemukan ini di tempat sampah dekat kamar mandi." Tito menunjukkan testpack dengan 2 garis merah.

"Berarti benar wanita itu sedang hamil." Beo Ansel

"Selidiki !" Titah Arel yg kemudian di angguki oleh Tito.

"Gue Nemuin ini." Seru Ansel kemudian sambil menunjukkan berkas-berkas ditangannya.

Hampir 40 menit mereka menggeledah kamar mess itu. Setelah dirasa cukup, mereka memutuskan untuk pulang dan kembali menelisik kasus ini lagi.

"Saya akan mencari informasi dan menyelidiki lebih dalam lagi di kantor." Ujar Tito saat mereka telah melewati pagar mess pekerja itu.

"Kami juga akan berdiskusi lagi pak. Segala yg kami temukan, nanti akan kami email." Jawab Ansel

"Baik tuan muda,,Terima kasih ! Saya permisi." Ucap Tito kemudian berlalu.

"Kita bahas malam ini ?" Tanya Ansel saat mereka telah duduk di dalam mobil.

"Besok."

"Kita balik ?" Tanya ansel lagi.

"Apart Cheri !"

"Baiklah..."

Ansel yg duduk di balik setir, mengemudikan mobil itu menuju apartemen Cheri sesuai permintaan Arel. Arel hanya diam entah apa yg ada di benaknya.

***

"Gue nginep disini ya Cher ?" Tanya Aurel yg saat ini sedang berbaring di sebelah Cheri.

"Bonyok loe gak nyariin ?"

"Masih diluar kota. Lagian walaupun mereka ada, gue bakal tetep nginep sini tau. Loe itu lagi lumpuh sementara, gak mungkin kan loe ngesok ke kamar mandi ?" Cerocos Aurel.

"Sialan ! Loe doain gue lumpuh ?"

"Dihh,,loe kan emang kaga bisa jalan ogeb."

"Tapi gak lumpuh juga !" Sewot Cheri.

"Lagian gue takut sama Arel, kan dia yg nyuruh gue jagain loe."

"Hufftt.....jadi loe jagain gue bukan Karna loe nganggep gue temen, tapi cuma Karna takut sama Arel ?" Sinis Cheri sambil menatap tajam ke arah Aurel.

"Heh betina !! Gue bela-belain disini Karna gue khawatir yaa,loe itu udah gue klaim bestie gue ! Dan lagi, Arel juga ngasih mandat ke gue buat nemenin loe ditambah dukungan dari calon suami gue !" Omel Aurel yg sudah duduk, melipat kedua tangannya di dada.

"Iya...iya... Gak usah --"

Tok...tok...tok....

Suara ketukan pintu terdengar memotong perdebatan dua gadis. Cheri dan Aurel saling menatap

"Ini bukan ketukan pintu luar, tapi pintu kamar ini." Ucap Cheri

"Anjiirr,, siapa yg tau kode apart loe ? Kok tiba-tiba bisa masuk ?" Aurel bergidik ngeri.

"Lah, mana gue tau." Cheri mengedikkan bahunya."udah Sono liat !"

"Iihhh,,gue takut Cheri." Rengek Aurel

Tok...tok...tok...

Suara ketukan pintu kamar cheri kembali terdengar. Setelah saking berdebat, mau tidak mau akhirnya Aurel berjalan untuk membukakan pintu. Dengan amat sangat ragu Aurel membuka sedikit pintu kamar Cheri, dan mengintip siapa manusia dibalik pintu itu.

"Ooohhh Arel..." Pekik Aurel dan membuka lebar pintu kamar itu.

Arel tak menyahut apapun. Lelaki tampan bertubuh jangkung itu berjalan melewati Aurel mendekat ke arah tempat tidur dimana cheri beristirahat. Sedangkan Cheri hanya memasang wajah datarnya.

"Kalian cuma berdua ? Clay gak ikut ?" Tanya Aurel kepada Ansel. Mereka duduk di sofa, memutuskan untuk menunggu diluar memberi ruang untuk Arel dan Cheri.

"Clay dan yg lain lagi di klub nyelesain misi." Jawab Ansel yg di jawab anggukan oleh Aurel.

Sedangkan di dalam kamar, Arel duduk di tepi ranjang memperhatikan keadaan Cheri.

"Loe mau apalagi Ar ? Gue udah bilang, jauhin gue!"

"Gue gak akan jauhin loe !"

"Jangan egois !! Gue kaya gini Karna cewe loe." Ujar Cheri sinis

"Cewe gue cuma loe." Arel menjawab dengan nada rendahnya.

"Tapi gue gak mau balik sama loe, Ar !"

"Kita gak pernah putus,,loe tetep cewe gue. Loe gak pernah berpaling, begitupun gue. Perasaan gue gak berubah."

"Arel...."

"Cinta lama gue kembali, dan saat ini gue berusaha genggam biar gak lepas lagi." Ujar Arel tulus

Blushhh....

Cheri memalingkan wajahnya. Pipinya mulai memanas, mungkin saat ini wajahnya sudah memerah hanya dengan mendengar pernyataan dari Arel.

"Gak usah ngomong gitu, gak cocok sama muka datar loe." Ujar Cheri dengan wajahnya yg masih menghadap ke arah lain.

Arel terkekeh melihat gadis yg dicintainya itu. Bagaimana tidak, sejak tadi cheri membuang pandangannya ke arah lain. Menyembunyikan wajahnya yg merona Karna menahan salting.

"Lihat sini, sayang !" Suara Berat Arel tapi terdengar merdu di pendengaran cheri.

"Isshh,,apaan sih."

"Sini duduk." Arel membantu cheri duduk bersandar pada headboard ranjang."Kenapa, hm?" Tanya Arel lagi.

"Gak ada." Jawab Cheri singkat

"Dengerin gue ! Gue tau loe cewe kuat, dan gue bakal jagain loe dengan semua masalah yg terjadi di hidup loe. Jadi, gue juga minta loe kuat ngadepin masalah yg bakal Dateng Karna gue." Hening di antara keduanya. Arel lalu meraih tangan Cheri."Bukan berarti gue mau ngasih loe masalah. Sebisa mungkin gue selesaikan masalah gue sendiri. Tapi, kalau ada cewe yg obses ke gue dan nyerang loe, loe boleh ngelakuin apa ajah. Gue tau kemampuan loe." Jelas Arel panjang lebar

Arel memegangi rahangnya dan sedikit memijatnya. Cheri yg menyaksikan itu sempat ternganga sepersekian detik kemudian tersenyum.

"Capek ya ngomong panjang ?" Tanya Cheri yg di angguki Arel.

"Makanya jangan kebanyakan ngomong,,udah tau gak biasa ngomong panjang, malah bacot ! Pegel kan tuh rahang." Cibir Cheri.

"Jangan ngejauhin gue."

"Biarin gue ngeyakinin hati. Gue mau nyari dulu, perasaan gue ke loe masih ada atau udah ilang."

Bukan tersinggung, justru Arel tersenyum tipis mendengar penuturan Cheri. Setidaknya cheri tidak menolak kehadirannya. Sepertinya Arel akan terus berjuang, seperti halnya berjuang memecahkan misi...kali ini dirinya berjuang mempertahankan cinta lamanya yg kini datang kembali.

***

Langit sudah mulai menampakkan cahaya fajar, Arel juga sudah terjaga Karna mendengar suara benda terjatuh dari kamar Cheri. Yaa,,malam tadi setelah hubungan mereka kembali membaik, Arel memutuskan untuk menginap di apartemen Cheri. Arel tidur di sofa luar dengan pintu kamar cheri yg terbuka (agar jika terjadi sesuatu Arel bisa sigap membantu). Ansel dan Aurel ? Mereka sudah pulang sejak semalam atas permintaan Arel.

Awalnya cheri menolak Arel untuk menginap, tapi dengan perdebatan panjang dan sudah pasti Arel yg tidak akan pernah mau di tolak, beginilah endingnya. Arel benar-benar menjaga cheri.

"Mau kemana, hm?" Tanya Arel yg sudah berada di samping tempat tidur.

"Gue mau ke kamar mandi."cicit Cheri sambil menggeser tubuhnya ke pinggiran kasur.

Tanpa kata, Arel mengangkat tubuh ramping Cheri ala bridal style dengan entengnya. Cheri yg terkejut hanya bisa membelalakkan matanya namun tak bisa berontak. Arel mendudukkan cheri dengan hati-hati di closet dan berdiri begitu saja di samping nya.

"Yaudah sana keluar...ngapain masih disini ? Loe jangan modus ya." Ucap Cheri galak yg hanya dibalas kekehan oleh Arel

"Kalau udah, panggil !" Ujar Arel kemudian melangkah keluar kamar mandi.

Arel menunggu Cheri di balik pintu kamar mandi. Dirinya juga nampak sibuk memesan makanan untuk sarapan dan setelahnya mengabari sahabat-sahabatnya. Setelah Cheri selesai, Arel kembali merebahkan tubuh cheri di tempat semula.

"Loe gak sekolah?" Tanya Cheri. Arel baru saja kembali dengan segelas air di tangannya.

"Engga."

"Sekolah sana ! Gue bisa jaga diri sendiri. Lagian gue bukan lumpuh ya." Masih pagi tapi cheri sudah mengomel. Arel hanya mengusap lembut kepala Cheri.

"Black Eagle absen semua."

"Kenapa ?"

"Misi urgent."

"Kasus apa ?"

"Pinjem ruang tamu buat meeting ?" Bukan menjawab, Arel justru bertanya balik.

"Disitu ?" Tunjuk cheri ke arah luar kamarnya

"Hmm,,biar bisa sambil jaga loe." Jawab Arel dengan tangannya mengusap pipi Cheri.

"Boleh ! Tapi gue ikut meeting ya ?" Tanya Cheri penuh harap. Arel yg mendengar permintaan gadisnya itu hanya mengangkat sebelah alisnya seolah menuntut jawaban.

"Gue dengerin doang,,Kepo sama kasususnya. Gue gak bakal ganggu."

"Heemmm."

***

Waktu menunjukkan pukul 09.00 pagi, waktu dimana aktivitas di sekolah sedang berlangsung. Namun lain halnya dengan ke enam anggota inti Black Eagle yg saat ini tengah duduk santai di sofa ruang tamu apartemen Cheri. Mereka semua berangkat seperti biasa dari kediaman mereka masing-masing menggunakan seragam. Namun bukan sekolah tujuan mereka, melainkan apartemen Cheri.

Sesuai permintaan Arel, mereka akan melanjutkan membahas misi mereka di apartemen Arel. Ini semua agar Arel bisa menyelesaikan 2 pekerjaan dalam waktu bersamaan yaitu meeting dan menjaga cheri.

Arel berjalan menuju ruang tamu dengan menggendong cheri. Mendudukkan cheri di sofa, dan yg lain duduk melingkar di lantai.

"Gimana keadaan loe Cher ?" Tanya Clay yg duduk bersebrangan dengan Cheri.

"Iya Cher, kaki loe gimana ?" Jarvis menimpali dengan pertanyaan lain.

"Gue udah baik kok, kaki gue juga udah bisa diajak jalan walaupun pincang dikit." Jawab Cheri dengan senyumnya

"Loe tenang ajah, si Retina udah kita urus. Besok-besok kalau bikin ulah lagi, tinggal loe smackdown!" Ujar Frey menggebu

"Si Retina siape ? Bola mata loe ?" Beo Darian cengo, begitupun yg lainnya mengerutkan kening seperti bertanya-tanya.

"Onoh,,yg kemaren ngebully Cheri." Jawab Frey santai

"Eh biji kenari,, gue silet juga tuh lidah. Nama orang Revina loe ganti Retina ! Dipikir biji bola mata loe ?" Clay memukul kepala belakang Frey dengan keras, sedangkan yg lain sudah terbahak-bahak.

Mereka sudah tertawa dan berguling memegangi perut mereka masing-masing. Bahkan Ansel yg biasanya kalem, berusaha menahan tawanya hingga air matanya menyerah dan mengalir begitu saja. Begitupun dengan Cheri juga tertawa keras, sedangkan Arel hanya menarik sudut bibirnya tipis menatap gadisnya itu.

Tidak cheri sangka, anggota Black Eagle yg disegani, selalu tampil dengan wibawa, bawaannya yg tenang, bisa sekocak ini ketika berkumpul. Namun tak lama kemudian, Cheri bisa melihat sisi yg lain lagi dari mereka ketika sedang mode serius membahas sebuah misi. Detektif di televisi pun kalah keren dibanding mereka, batin cheri.

"Udah perut gue kram. Cepet kita bahas misi aja." Ujar Darian ketika tawa mereka sudah mulai mereda.

"Ekhemm...Frey ? Ansel ?" Arel berdehem dan mengode Frey dan Ansel.

Hanya sedetik saja tampang kocak mereka lenyap digantikan dengan wajah tampan dan tegas anggota Black Eagle yg biasanya orang lain lihat. Ansel mengangguk ke arah Frey, tanda untuk Frey menjelaskan terlebih dahulu.

"Oke, kemaren petunjuk, informasi, CCTV, dan yg lainnya udah gue kumpulin. CCTV juga udah gue retas semua. Informasi dari kepolisian juga udah gue pelajari. Jadi bener Christie Velani adalah korban penculikan. Dia udah hilang sejak 4 hari yg lalu. Karna terakhir Christie terdeteksi CCTV disekitar,  mess itu 4 hari lalu tepatnya di jam 16.15 sore. Itu tepat saat Christie hendak berangkat ke klub untuk bekerja. Selebihnya, seluruh CCTV yg ada dr arah mess menuju klub di jam itu, seperti terpotong beberapa detik aja."

Ctak

Hening beberapa saat. Frey mengirimkan 6 rekaman CCTV dari tempat berbeda pada jam yg sama ke masing-masing laptop anggota inti Black Eagle. Selama beberapa menit hanya ada keheningan.

"Gak ada yg aneh, bagian mananya yg kepotong ?" Tanya Jarvis kebingungan.

"Iya bener, udah berkali kali gue pantengin yg aneh cuma CCTV 2 dan 3 doang." Darian menanggapi

"CCTV 2 ! Last , 5 second, slowly !" Kali ini arel yg mengakhiri. Memandangi Ansel dan Frey yg dijawab anggukan oleh keduanya.

"Arel bener ! CCTV ke dua, tepat di akhir rekaman. Kalian perhatikan detik terakhir rekaman video itu,, sedikit lebih lambat dibanding dengan CCTV lainnya. Itu Karna di akhir rekaman, waktunya sudah di cut 5 detik." Ansel yg memang biasa menjadi translator Arel yg irit bicara, menjabarkan hasil dari CCTV itu.

"Anjirr bener lagi ,, " gumam Clay

Cheri yg daritadi hanya memperhatikan keseriusan mereka, sempat tertegun. Ia menatap kagum ke arah Arel. 'Gila,, jenius bener otaknya ! Pantes jadi ketua Black Eagle' batin cheri.

"Cuma 5 detik ? Gimana bisa nyulik cuma 5 detik ?" Tanya Frey kemudian.

"Jalan tikus." Jelas Arel lagi.

"Nanti kita cek di jalan yg ada di CCTV 2. Arel menduga, ada jalan kecil disitu. Kemungkinan, 5 detik itu hanya digunakan hanya untuk menarik korban agar keluar dari pengawasan CCTV. Setelahnya, jalan tikus itu yg mereka gunakan untuk mencari tempat aman untuk kemudian membawa lari korban." Bener Ansel lagi.

"Rangkaian penculikannya basic, tapi cara mereka bener-bener bersih !" Ujar Frey kemudian.

"Dari mess tempat Christie, kita nemuin berkas dan itu hanya ijazah Sekolah dasar. Gak ada berkas-berkas penting lainnya. Tapi dari ijazah itu, kita tau alamat korban dan sedikit identitasnya. Frey udah cari tau, Christie sudah hidup sebatang kara sejak lulus SD. Itu alasannya dia gak ngelanjutin sekolah dan malah ke kota ini untuk kerja. Dan ternyata, Christie masih dibawah umur ! Usianya baru 16 tahun, maka dari itu polisi tidak menemukan kartu identitas apapun. Itulah alasan besar Christie di culik ! Mati sekalipun gak akan ada keluarga yg mencari dan melaporkan kehilangan."

"Mati ?" Beo Cheri yg baru menemukan alur kasus ini setelah mendengar beberapa pemaparan para lelaki di hadapannya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!