Hari ini adalah hari ke empat Cheri menjadi siswi di sekolah Bina Nusantara. Tidak ada masalah serius, lingkungan sekolah elite itupun amat sangat nyaman untuk Cheri. Terlebih dia sudah memiliki seorang teman, yg menurut Cheri sangat cocok menjadi teman dekatnya.
Pagi ini Cheri baru saja sampai di sekolahnya. Sepertinya Cheri ingin membeli motor second untuk sarana transportasi nya datang dan pulang dr sekolah. Karna menurut Cheri, jika harus menggunakan angkutan umum amat sangat tidak efisien.
Cheri memang sudah meminta tolong kepada Reyshaka untuk mencarikannya motor yg harganya ramah dikantong. Tapi mungkin belum menemukan yg cocok sampai saat ini. Jadilah sampai detik ini Cheri masih harus berangkat lebih pagi untuk mencari kendaraan umum menuju sekolahnya yg lumayan jauh.
- koridor utama -
"Cherikaaa....."
Cheri berhenti dan menoleh saat suara teriakan memanggil namanya. Disana terlihat Aurel berlari dari arah gerbang menuju ke arahnya.
"Tumben gak mepet bel bunyi datengnya?" cheri langsung menembaki Aurel dengan pertanyaan.
"Gue abis nganterin bonyok ke bandara jadi langsung kesekolah."
"Gue kira kesambet malaikat makanya tetiba rajin." Aurel hanya hanya mencebikkan bibirnya.
"Ayo buruan ke kelas, gue mau curcol." Dengan semangat Aurel lalu menarik pergelangan tangan Cheri dan dengan langkah cepat ingin menuju ke kelas mereka.
Saat akan berbelok ke arah gedung kelas IPS, tiba-tiba tubuh cheri linglung dan seketika terjatuh Karna menabrak sesuatu yg keras.
Brugghh.....
"Aduhh...."
"Cher, loe gak apa kan ?" Aurel sigap membantu cheri untuk berdiri.
Setelah posisi Cheri dan Aurel berdiri, spontan Cheri mendongak menatap tubuh tinggi di hadapannya. Yah, sosok yg baru saja bertabrakan dengannya.
Wajah Aurel pasi, sedangkan Cheri mematung terkejut di tempatnya. Namun dengan segera cheri mengontrol rasa terkejutnya itu. Tidak hanya Cheri, sosok di hadapan Cheri pun tak kalah terkejutnya. Walaupun berusaha menutupi rasa saling terkejutnya, wajah mereka tidak bisa berbohong.
Arel,,, benar sekali !! Yg ada di hadapan Cheri dan Aurel saat ini adalah Arel sang idola hampir seluruh murid Bina Nusantara. Pria tampan, dengan tubuh tinggi tegap, hidungnya yg mancung bak perosotan TK, rahang tegas, tatapan tajam dengan bola mata hitam pekat sedang berdiri di hadapan Cheri dengan gaya khas nya memasukkan kedua tangannya kedalam saku.
"Cheri ? Loe Cheri kan ?" Frey membuyarkan lamunan Cheri dan Arel yg lekat saling menatap tajam. Atensi Cheri pun beralih kepada 5 pria tampan dibelakang Arel. Cheri hanya mengangguk tanpa menjawab.
"Ajegilee,, Cheri tambah cakep ajah. Loe baru pindah dr kayangan ya ?" Kali ini Darian yg bicara. Dan di sauti suara tawa dari Frey, Jarvis, Clay, dan senyuman dari Ansel.
Cheri hanya menarik sudut bibirnya sedikit. Sedangkan Arel, matanya benar-benar tidak bisa lepas dari memandangi gadis di hadapannya.
"Ekhemmm, kayaknya ada yg terpesona nih."
"Salah,,kayaknya ada yg jatuh cinta lagi nih."
"Gini yg bener, kayaknya ada yg bergetar nih."
Clay, Frey, dan Jarvis saling menyahuti saat melihat ekspresi ketua mereka. Sedangkan yg di goda, masih tetap menajamkan tatapannya pada Cheri.
"Gue duluan." Cheri akhirnya mengakhiri sesi tatapan itu dengan menarik tangan Aurel. Sumpah, fikirannya saat ini hanya ingin segera sampai kelas dan meng-istirahatkan tubuhnya yg mulai Tremor.
"Sayang, kita ketemu nanti ya ?" Kali ini Clay yg bicara sedikit berteriak ke arah Aurel. Aurel yg di tarik tangannya oleh cheri, hanya menoleh sebentar dan menjawab dengan kata 'OK'
Arel menetralkan tubuhnya yg tegang sejak tadi dan kemudian lanjut berjalan ke arah kelasnya yg berada di gedung IPA. Dengan langkah lebarnya, Arel menaiki tangga dan segera memasuki kelas. Begitupun dengan kelima lelaki tampan lainnya, mereka segera menyusul sang ketua.
Sungguh...sekuat apapun Arel ingin bersikap biasa saja, kenyataannya degub jantungnya justru semakin kuat. Hal itu benar-benar disadari oleh inti anggota Black Eagle lainnya.
"Ntr istirahat ke kantin ajah Rel,, Cheri pasti ada disana." Seloroh Clay tiba-tiba saat mereka ber enam sudah nyaman di tempat duduk kelas. Sontak saja keempat sahabatnya kecuali Jarvis menoleh dan menatap Clay penuh tanya.
"Loe kaya yg santai bgt? Loe udah tau ? Kok bisa ?" Frey menghujani pertanyaannya pada Clay.
"Gue tau lah !! Cheri sekelas sama Aurel,, bestian pula."
"Betul tuh, gue sama Clay udah ketemu Cheri sejak 4 hari lalu." Jarvis menambahkan pada akhirnya. Sontak saja Ansel, Frey, serta Darian mengarahkan tatapan tajam penuh tanda tanya kepada Jarvis dan Clay.
"Loe gak ada ngomong." Kata Ansel kemudian. Tatapannya kemudian beralih pada Arel yg semenjak tadi hanya terdiam. Sangat jelas mimik wajahnya mulai tegang kembali.
Clay dan Jarvis saling menatap kemudian tersenyum kikuk. "Lupa kita mau ngasi tau." Jawab Clay kemudian.
"Setelah 2 tahunan gak liat si Cherika, akhirnya sekarang bisa liat lagi. Gila ...gila... Tambah cakep njirr !!! Rasanya gw......."
Belum sempat Jarvis menyelesaikan kalimatnya, sebuah buku tebal melayang tepat mengenai kepalanya.
Duuugghhh.....
"Sshhhh,,sakit babi." Jarvis spontan mengumpat. Ingin membalas,,tapi setelah tau siapa pelakunya Jarvis mengurungkan niatnya dan kembali duduk di tempatnya.
Siapa pelakunya ? Ohh,, jelas sang ketua pelakunya. Arel masih manatap tajam tajam ke arah Jarvis. "Sorry Rel,, gak macem-macem gue. Sueerr !" Ucap jarvis sambil mengangkat 2 jarinya membentuk simbol peace dan tak lupa memberi senyuman termanisnya.
"Mampus loe..."
"Ekhemm,, roman-romannya ada yg panas hati nih." Celetuk Frey kemudian di susul dengan suara tawa Clay, Darian, Jarvis. Sedangkan Ansel hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.
"Diam kalo kalian masih mau punya mulut !!"
Tak perlu waktu lama,,,inti anggota Black Eagle itu langsung menutup rapat mulut mereka. Tak ingin mencari resiko membuat ketua mereka murka.
***
Saat ini jam istirahat kedua tengah berlangsung,, Aurel dan Cheri sedang duduk di kantin fokus mengisi perut mereka yg sejak tadi minta diisi. Karna jam istirahat pertama tadi mereka belum sempat ke kantin Karna harus menyelesaikan tugas.
Dr kejauhan, nampak Revina baru saja keluar dr kelasnya. Dia semakin girang saat melihat laki-laki incarannya sedang berjalan yg nampaknya menuju kantin. Tanpa basa-basi, Revina berlari kecil berusaha menyusul Arel.
"Hai Rel,,kita ke kantin bareng yuk." Ajak Revina saat sudah mensejajarkan langkahnya dengan Arel. Arel hanya diam, bahkan melirik pun Arel enggan. Bukan Revina namanya jika ia menyerah begitu saja. Spontan Revina tersenyum dan merangkul lengan kekar Arel.
Niat hati, Revina ingin pamer jika ia sedang dekat dengan ketua Black Eagle itu. Revina bergelayut manja di lengan kekar Arel untuk mencuri atensi seluruh siswa. Namun secara tiba-tiba Arel menepis kasar tangan Revina sehingga cekalan tangan Revina terlepas. Bahkan sangking kerasnya, Revina jatuh terduduk di lantai koridor.
"Jangan sentuh gue."
Hanya satu kalimat dari Arel. Tapi mampu membuat bulu kuduk Revina merinding. Revina menatap sendu ke arah Arel, namun nampaknya Arel benar-benar tidak perduli dan terus melangkah ke arah kantin.
"Makanya jangan kegatelan."
"Tau tuh, ketempelan ulat bulu loe."
"Nyari masalah sama si bos."
"Merayaplah menjauh wahai species gatal."
Ke empat anggota inti Black Eagle itu saling sahut menyahut mengejek Revina (yg pasti Ansel gak ikutan ya guys). Gelak tawa mereka menggema di sepanjang koridor. Revina hanya bisa mengumpat, tangannya terkepal nokuat, dan wajahnya memerah menahan amarah.
"Brengsek,, gue bakal buktiin, sebentar lagi Arel bakal bertekuk lutut dihadapan gue."
- Area Kantin -
Kantin yg sudah ramai semakin berisik Karna kehadiran enam cogan most wanted sekolah Bina Nusantara. Sungguh pahatan sempurna, ke enamnya tidak ada cela. Sungguh tidak adil bukan ? Bagaimana bisa 6 cowo ganteng, saling bersahabat, selalu bersama, semua pintar dan berbakat pula ?
Seluruh atensi para siswa-siswi di kantin tertuju pada ke enam pria tampan yg terus berjalan menuju ke arah meja yg ditempati 2 wanita Cantik. Secara spontan juga Clay mendahului Arel untuk segera mendatangi kekasihnya.
Sedangkan Arel ? Lelaki itu tiba-tiba saja duduk berhadapan dengan gadis berparas cantik. Siapa lagi kalo bukan Cherika. Sontak semua siswa terkejut dan bertanya-tanya,,ada apa antara Arel dan Cheri si cantik murid baru itu ?
Bisikan-bisikan terdengar dr berbagai sudut kantin yg ramai. Sungguh,, mereka penasaran ada apa antara keduanya. Pasalnya Arel tidak pernah dekat dengan seorang gadis manapun. Jangankan seorang gadis, seluruh jenis manusia di sekolah inipun tidak ada yg berani dekat dengannya kecuali Anggota Black Eagle.
Meninggalkan tatapan penuh tanya dari seluruh pengunjung kantin~
Arel masih menatap lekat ke arah Cheri. Bukan tatapan marah atau benci, justru tatapan sendu yg di pancarkan mata elang milik Arel. Sedangkan yg di tatap justru hanya asyik memainkan benda pipih di genggaman tangannya.
Lama juga Arel memandangi Cheri, membuat Cheri merasa risih pada akhirnya. Entah benar risih atau justru jantungnya yg tidak aman Karna di tatap sedemikiannya oleh Arel. Cheri pun akhirnya bangkit dan berjalan keluar dr area kantin.
"Gue permisi." Pamit Cheri singkat . Dan sudah pasti Aurel lebih memilih mengikuti Cheri dibandingkan harus berkumpul dengan anggota Black Eagle itu. Yaa walaupun ada kekasihnya disana, tetap saja Aurel tidak berani.
"Alamak,, suara Cheri bikin jedag jedug hati cok." Frey berkata sambil meletakkan kepalanya di meja seolah tak bertenaga setelah mendengar suara Cheri. Setelahnya ia mendapat tatapan tajam mengintimidasi dr Arel.
Bukannya takut, mereka justru menggoda Arel."Udah di depan mata,,,bukannya ngomong malah cosplay jadi batu." Celetuk Clay yg disusul tawa yg lain
"Ho'oh betoll. Butuh kita panggilin guru bahasa indo gak ?" Tanya Frey kemudian.
"Bakal apaan ?" Darian menyatukan kedua alisnya
"Biar si Arel bisa belajar ngomong ." Jawab Frey kemudian
"Wkwkwkw,, sialan !!! Loe pikir guru bahasa indo bisa ngajarin ngomong depan cewek?" Pecahlah suara tawa kelima sahabat Arel. Hanya Arel yg masih nampak datar sajah.
Arel berdecak kesal, sedetik kemudian ia bangkit dan berjalan meninggalkan kantin. Sedangkan kelima sahabatnya itu hanya bisa memandangi punggung Arel yg mulai berjalan menjauh dr keramaian kantin
***
"Gue gak mau tau dan gue kepo !! Loe harus cerita Cher...." Aurel merengek bak anak kecil yg memaksa meminta permen.
"Ckk,, cerita apaan Orel ?"
"Sini sini, kita duduk dulu." Aurel menarik pergelangan tangan Cheri, memaksa nya untuk duduk setelah mereka sampai di kelas. "Nah sekarang kasih tau gue, loe kenal bgt ya sama Arel ? Kenapa Arel bisa nyamperin loe gitu ? Trus kenapa Arel natap loe dalem bgt ? Trus ada hubungan apa loe sama anak-anak black Eagle?"
"Satu satu ege nanya nya."
"Gue gak peduli. Buruan jawab !"
Tak langsung menjawab, Cheri justru menghela nafas dan menghembuskan nya dengan kasar. Kegiatan itu ia lakukan beberapa kali membuat orang di hadapannya jengah
"Ckk,, jawab ege !! Malah kaya orang asma ajah loe, tarik napas buang napas dr tadi." Aurel berdecak sebal
"Udahlah gausah bahas itu. Kita cerita yg lain ajah oke ??"
"Ahh loe gak asik deh." Aurel melipat kedua tangannya di depan dada kemudian bangkit dari duduknya. "Yaudah, gue tanya sama my baby clay ajah. Pasti dia jawab sedetail-detailnya !! "
"Ehhhh jangan,, sini duduk dulu anak manis." Dengan cepat cheri menarik pergelangan tangan Aurel dan mendudukkannya di tempat semula. "Loe kepo bgt yaa ? Penting bgt gitu ?" Bukannya menjawab, cheri justru bertanya balik pada Aurel.
"Gue kepo Cherikaa ... "
"Arel mantan gue..."
"Whattt??"
"Ssstttt....jangan berisik ogeb !! Jari telunjuk Cheri reflek cepat bertengger di depan mulut Aurel yg baru saja memekik terkejut.
"Sorry.. sorry,, loe serius? Demi apa ? Ketiban duren dimana loe bisa beruntung bgt pacaran sama cowo spek dewa ?"
"Biasa ajah Orel,, lagian pacaran cuma beberapa bulan trus gue tinggal pindah sekolah." Jawaban Cheri jelas membuat Aurel shock.
"Gilaa !! Cowo modelan Arel loe tinggal ? Kalo gue sih, udah gue kurung, gue iket biar gak ada yg ngambil."
"Yaudah, si Clayro ajah loe iket Sono !!"
"Wait ... Wait... Gue penasaran, gimana cara Arel yg modelan kulkas nembak cewe ? Atau waktu itu loe yg nembak Arel ?"
"Dasar sinting ! Yakali, masa gue yg nembak."
"Kalo gue liat pas kita ketemu tadi, tatapan Arel beda bgt tau. Bukan tatapan dingin kaya biasanya. Kayanya Arel blom move on dari loe Cher." Aurel melanjutkan perkataan nya.
"Gausah ngaco."
Teng ..teng...teng....
Bel pertanda pulang sudah dibunyikan, membuat seluruh siswa segera merapikan buka dan alat tulis mereka bersiap untuk pulang. Tak terkecuali anggota inti Black Eagle yg sedari tadi berada tempat favorit mereka di sekolah.
Arel dan kelima sahabatnya, berjalan menyusuri koridor yg masih ramai. Sudah menjadi hal lumrah untuk anggota Black Eagle menjadi pusat perhatian. Seperti saat ini, perjalanan mereka menuju parkiran motor pun tak lepas dari tatapan memuja dr sebagian besar gadis-gadis.
Tengah asyik berjalan, tiba-tiba Arel melambankan langkahnya. Matanya memicing seolah meyakinkan diri dengan apa yg ia lihat. Sontak saja kelakuan Arel itu mendapat tatapan penuh tanya dari kelima sahabatnya. Dengan spontan, mereka mengikuti arah tatapan Arel.
"Samperin Rel !" Perintah Ansel menepuk pundak Arel.
"Iya bener, jangan di anggurin." Ucap Clay. Arel menoleh memandang kelima sahabatnya itu. Mereka mengangguk kompak.
"Kalian ke markas !"
Setelah mengucapkan kalimat seperti sebuah perintah itu, Arel melangkah lebar ke arah gerbang sekolah. Saat ini keadaan sekolah sudah nampak sepi, para siswa-siswi sudah banyak yg pulang. Arel lebih leluasa melangkah dengan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya.
"Gue anter."
Cheri terperanjat saat sebuah suara terdengar di belakang telinganya. Lebih terkejut lagi saat berbalik melihat asal suara itu.
"Gak usah makasih." Cheri menjawab cepat dan hendak berjalan menjauh.
"Gue gak Nerima penolakan." Saat Cheri hendak berlalu, Arel dengan sigap mencekal pergelangan tangan Cheri.
Cheri makin terperanjat saat Arel dengan cepat menarik pergelangan tangannya dan menuntun Cheri berjalan kembali ke arah parkiran motor. Ingin melepas paksa cekalan itu, namun Cheri sadar jika berhadapan dengan Arel akan susah untuk mengelak atau hanya sekedar menolak.
Kini cheri hanya pasrah mengikuti langkah Arel mendekati sebuah motor sport BMW S 1000 RR berwarna hitam. Saat di sudah di samping motor milik Arel, mereka tidak langsung menaikinya melainkan saling menatap. Lebih tepatnya Arel masih betah berlama-lama memandangi wajah gadis di hadapannya.
"Bisa lepas tangan gue ?" Cheri membuyarkan lamunan Arel.
"Sorry."
"Gue bisa pulang sendiri." Cheri masih bersikukuh ingin pulang sendiri.
"Sama gue." Tegas Arel saat sudah menaiki motor sportnya. "Naik !" Titah Arel kemudian.
Cheri tak langsung naik, gadis itu masih diam di tempatnya. Menetralkan degub jantungnya yg memalukan.
"Udah gak apa Cher, anggep ajah Arel kang ojek gratisan." Suara Clay dari arah belakang Cheri dan Arel.
Yaa,, kelima lelaki tampan lainnya memang tak langsung pulang. Mereka lebih tertarik melihat pertunjukan dari ketua Black Eagle yg sedang mendekati seorang gadis.
"Naik !!" Suara berat Arel sekali lagi terdengar ditelinga Cheri.
Setelah perdebatan dengan batinnya sendiri, akhirnya Cheri melangkah dan mengambil alih helm full face yg Arel ulurkan sedari tadi. Tidak langsung naik, Cheri menunduk menatap Rok nya sendiri. Arel mengikuti arah pandang Cheri, dengan sigap membuka blazer seragamnya dan melingkarkan di pinggang ramping Cheri.
"Ehh...." Cheri terkesiap dengan gerakan Arel.
"Ayo naik."
Cheri pun mengangguk sekilas kemudian menaiki motor tinggi itu dengan berpegangan pada bahu tegap milik Arel.
"Pegangan Cher ! Ntr terbang loe." Teriak Frey sedikit berteriak saat motor Arel mulai melaju.
Motor sport hitam itu mulai melaju meninggalkan are parkiran. Arel sedikit menggeber gas motor nya sebagai tanda pamit kepada sahabat-sahabatnya. Untung saja keadaan sekolah sudah sepi, hanya tersisa murid yg mengikuti ekstrakulikuler di dalam. Sehingga cheri merasa aman.
"Si tembok, gayanya cuek tapi act of service nya jalan."
"Abis ini tuh tembok roboh,, pawangnya udah ada." Darian menyahuti ucapan Clay.
"Udah 2 tahunan, Arel blom juga move on."
"Iyaa,, kan gajadi nikung Cheri gue. Berat kalo saingannya Arel." Kali ini Jarvis yg angkat bicara.
"Gausah nekat kalo masih pengen kepala loe itu masih ditempatnya."
"Ayo balik, ke markas sekarang." Ansel menengahi.
Kelima motor sport dengan pengendaranya yg tampan meninggalkan halaman parkir sekolah dan melesat menuju markas Black Eagle yg berada di mansion Kaisan (ayah Arel)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments