Pacar Dadakan

“Mana ada!”

Mata Bianca melotot namun tangannya terus menyuapkan makanan dan mulutnya terus mengunyah. Jarvis kembali tersenyum melihat ekspresi gadis di hadapannya. Tanpa sadar sore ini dia sudah banyak tersenyum dan tertawa. Semua karena kehadiran Bianca. Harus diakui gadis itu memang memiliki pesona yang sulit dijelaskan.

Acara makan keduanya selesai. Jarvis kembali memeriksa usulan penelitian milik Bianca. Kali ini dia menjelaskan dengan detil apa saja yang harus ditambahkan dan mana yang harus dibuang. Kepala Bianca mengangguk tanda mengerti. Dia yakin di pertemuan selanjutnya tidak aka nada revisi lagi dan Jarvis akan langsung menanda tangani usulan penelitiannya.

“Kamu butuh waktu berapa lama buat revisi?” tanya Jarvis usai memberikan bimbingannya.

“Ehm.. empat hari.”

“Yakin?”

“Yakin, pak.”

“Oke, empat hari lagi kamu serahin hasil revisi. Kalau tidak ada yang perlu diperbaiki lagi, saya akan langsung tanda tangan.”

“Oke, pak.”

“Ayo, saya antar pulang.”

Bianca berdiri dari duduknya, lalu mengikuti langkah Jarvis. Sekarang gadis itu sudah lebih bersemangat. Usulan penelitiannya sudah selesai diperiksa, Jarvis menjelaskan dengan sangat detil tentang apa saja yag harus dirubahnya. Dan yang terpenting perutnya sudah kenyang sekarang. Walau menyebalkan namun Jarvis bukan pria pelit. Dia selalu membelikan makanan di saat Bianca dilanda kelaparan.

*

Usai menunaikan shalat maghrib di Zicko Coffee, Jarvis dan Bianca pun meninggalkan kedai kopi tersebut. Sebelum pulang, Jarvis mampir ke toko buku dulu, ada yang hendak dibelinya. Pria itu menarik rem tangan setelah mobilnya terparkir.

“Kita ke toko buku dulu ngga apa-apa?” tanya Jarvis sambil melepas sabuk pengaman.

“Ngga apa-apa, pak.”

Keduanya segera turun dari mobil lalu masuk ke dalam toko buku. Jarvis langsung menuju rak yang memajang buku yang hendak dibelinya. Saat Jarvis sedang mencari buku, Bianca menyibukan diri mencari buku lain.

“Bang Jarvis..”

Kepala Jarvis menoleh ketika sebuah suara memanggilnya. Begitu pula dengan Bianca yang berdiri tidak jauh dari pria itu. Nampak seorang perempuan berdiri di depan Jarvis sambil melemparkan senyumannya. Jarvis memandangi perempuan di depannya. Dia tidak menyangka bisa bertemu dengan Arneta lagi setelah dua tahun berlalu.

“Abang gimana kabarnya?”

“Baik,” jawab Jarvis malas.

Diam-diam Bianca mendengarkan pembicaraan Jarvis dengan Arneta. Atau lebih tepatnya Arneta yang banyak bicara, sementara Jarvis hanya menjawab ya dan tidak saja. Terlihat kalau Jarvis tidak nyaman dengan kehadiran wanita itu.

“Abang masih belum nikah? Jangan bilang kalau abang masih belum melupakan aku.”

Buset nih cewek pede banget. Muka cantik dempulan doang, tapi pedenya selangit.

Bianca mengambil asal buku di rak lalu mendekati Jarvis. Matanya memandangi Arneta yang masih berdiri di hadapan Jarvis.

“Sayang.. gimana kalau kita beli buku ini?”

Mendengar Bianca memanggilnya dengan kata sayang, tentu saja membuat Jarvis terkejut. Sontak dia melihat pada gadis di sampingnya. Bukan hanya Jarvis, tapi Arneta juga ikut terkejut. Padahal dia yakin sekali kalau Jarvis masih belum bisa berpaling darinya. Namun ternyata ada gadis lain di samping pria itu. Dilihat dari usianya, Bianca masih berada di bawahnya.

“Kamu siapa?” tanya Arneta sambil memperhatikan Bianca dari atas sampai bawah.

“Saya pacarnya pa.. ehm.. mas Jarvis, kenapa?”

“Pacar? Ngga salah?”

“Kenapa?”

Bianca mengernyitkan keningnya. Gadis itu kemudian berdiri di samping Arneta. Mencoba membandingkan dirinya dengan wanita di sebelahnya. Dari postur tubuh, Bianca lebih tinggi dibanding Arneta. Masalah body juga, tentu Bianca lebih unggul. Gadis itu memang tinggi semampai dan bodynya sudah seperti model. Rambutnya hitam panjang dan wajahnya juga lebih cantik dibanding Arneta.

Arneta tentu saja risih Bianca berdiri di sampingnya. Dengan begitu Jarvis bisa melihat perbedaan dirinya dengan Bianca. Melihat reaksi Bianca, Jarvis tidak mengatakan apa pun. Dia menikmati saja sambil menunggu apa yang dilakukan mahasiswi bimbingannya itu. Dengan adanya Bianca menguntungkan juga untuknya. Arneta pasti tidak akan berpikiran kalau dia masih mengharapkannya.

“Ngapain kamu berdiri di samping saya?” sewot Arneta.

“Cuma membandingkan aja. Supaya mas Jarvis bisa melihat dengan jelas perbedaanmu denganku. Saya harap kamu ngga usah ganggu mas Jarvis lagi. kita juga sudah merencanakan untuk menikah.”

“Siapa juga yang mengharapkan dia? Asal kamu tahu aja, pacar kamu ini belum move on dari saya.”

“Oh ya? Apa buktinya?”

“Buktinya sampai sekarang dia masih belum nikah.”

“Suka-suka dia dong mau kapan nikah, kenapa jadi situ yang repot? Lagian dia juga udah punya saya sekarang. Jadi ngga usah dibikin pusing. Urus aja hidupmu sendiri. Ayo sayang.”

Jarvis menurut saja ketika Bianca memintanya untuk mengikuti gadis itu. Arneta mengikuti Jarvis dan Bianca melalui sudut matanya. Lamunannya buyar ketika mendengar suara deringan ponselnya. Setelah menjawab panggilan, wanita itu bergegas keluar dari toko buku.

“Terima kasih kembali,” ujar Bianca pada Jarvis.

“Emang saya harus bilang terima kasih?” tanya Jarvis santai.

“Haruslah. Kan saya udah nolong bapak.”

“Saya ngga minta.”

“Emang bapak ngga minta. Tapi saya berinisiatif untuk menolong. Coba kalau saya ngga berinisiatif pasti dia ngeledek bapak habis-habisan karena masih jomblo.”

“Biarin aja, saya ngga peduli.”

“Saya ini berniat baik loh, pak.”

“Kamu kenapa nolong saya? Jangan-jangan kamu tertarik sama saya ya?”

“Mana ada!”

Mata Bianca membulat, pipinya menggembung. Lagi-lagi gadis itu terlihat seperti ikan buntal di mata Jarvis. Bibir Jarvis nampak berkedut, menahan tawa yang hendak keluar. Pria itu mengeluarkan ponselnya lalu membuka kameranya. Dia memperlihatkan wajah Bianca yang menurutnya lucu.

“Lihat muka kamu udah kaya ikan buntal.”

“Isshh… bapak nyebelin!”

“Hahaha..”

Sambil tertawa Jarvis berjalan meninggalkan Bianca. Pria itu menuju kasir untuk membayar buku yang dibelinya. Di belakangnya, Bianca mengekor. Tanpa sadar gadis itu masih memegang buku yang tadi diambilnya secara asal.

“Kamu mau beli buku itu? Sini sekalian saya bayarin,” ujar Jarvis seraya melirik buku di tangan Bianca.

Dengan malas Bianca melihat buku di tangannya. matanya membelalak ketika melihat judul buku yang diambilnya, KIAT SUKSES MEMBINA RUMAH TANGGA HARMONIS. Lagi-lagi Jarvis tersenyum.

“Kamu beneran pengen nikah sama saya?”

“Ngga!” jawab Bianca cepat.

“Itu buktinya pake beli buku kiat menikah segala.”

Buru-buru Bianca menuju rak tempat di mana dia mengambil buku tersebut. Lalu gadis itu keluar dar toko buku. Lebih baik dia menunggu Jarvis di luar daripada terus dibikin malu oleh pria itu. Lima menit kemudian Jarvis keluar setelah membayar bukunya.

“Ayo pulang.”

Tanpa mengatakan apa pun Bianca mengikuti Jarvis. Dia langsung duduk di bagian belakang mobil. Sepanjang perjalanan, gadis itu hanya mengatupkan mulutnya saja. Jarvis langsung mengarahkan mobilnya menuju rumah Aric. Walau baru sekali mengantar Bianca, namun dia sudah hafal jalannya. Pria itu kemudian menghentikan mobilnya di depan rumah Aric.

Setelah Bianca keluar dari mobil, Jarvis pun ikut keluar. Dia mengikuti langkah Bianca memasuki pekarangan rumahnya. Sadar kalau Jarvis mengekor, gadis itu langsung membalikkan badannya.

“Bapak ngapain ngikutin saya?”

“Saya mau mengantarkan kamu sampai depan pintu rumah.”

“Ngga usah.”

“Ini demi sopan santun.”

“Waktu awal nganterin juga langsung pulang.”

“Hari ini kamu sudah nolong saya. Anggap ini bayaran atas pertolongan kamu.”

Di tengah perdebatan, pintu rumah terbuka. Naya terkejut melihat seorang pria tampan tengah bersama anaknya. Dari sekali lihat, wanita itu sudah tahu kalau sang pria adalah Jarvis. Dia memang pernah melihat Jarvis saat pernikahan Zayn.

“Ini siapa, Bi?” tanya Naya berpura-pura tidak tahu.

“Kenalkan bu, saya Jarvis dosen pembimbingnya Bianca. Maaf kalau mengantarkan Bianca agak malam. Sepulang bimbingan, dia mengantar saya membeli buku dulu.”

“Ngga apa-apa. Terima kasih sudah mengantarkan Bian. Dia ngga nyusahin kan?”

“Mama..” potong Bianca setengah merajuk.

Jarvis hanya tersenyum saja menjawab pertanyaan Naya. Pria itu segera berpamitan seraya mencium punggung tangan Naya. Bianca kembali dibuat terbengong, ternyata Jarvis sangat bersikap sopan pada mamanya. Setelah berpamitan, Jarvis kembali ke mobilnya.

“Kamu habis bimbingan apa kencan?” goda Naya.

“Ish.. mama apaan sih.”

Buru-buru Bianca masuk ke dalam rumah. Naya hanya tersenyum saja. Rasanya tidak akan butuh waktu lama baginya dan Meta untuk menyatukan anak-anak mereka.

Sementara itu Jarvis yang sedang melajukan mobilnya, terpaksa menghentikan kendaraannya untuk menjawab panggilan ponselnya. Sang penelpon adalah ketua prodinya. Setelah berbicara sebentar, pria itu mengirimkan pesan pada Bianca.

[Bimbingan ditunda dulu. Saya ada tugas keluar kota. Nanti saya berikan jadwal terbaru setelah pulang dari luar kota.]

Usai mengirimkan pesan, Jarvis melajukan kendaraannya lagi.

Bianca yang baru saja masuk ke dalam kamarnya, segera mencari ponselnya ketika mendengar suara berdenting. Gadis itu bersorak senang setelah membaca pesan dari Jarvis.

Akhirnya gue ngga ketemu dia beberapa hari. Artinya gue punya waktu lebih banyak buat ngerjain revisi. Alhamdulillah ya Allah, Engkau kabulkan doa-doa hamba untuk menjauh dari dosen menyebalkan itu.

🌵🌵🌵

Cieee.. Ngaku pacar🤭

Terpopuler

Comments

Mur Wati

Mur Wati

idih pede bgt nih cewek emang cakepnya gak ada yg ngalahin ya😡

2024-12-21

1

Mur Wati

Mur Wati

sebel aku mah kalo ada orang liat dari atas sampai bawah

2025-01-09

1

serafika andriana

serafika andriana

ya bedalah, yg satu tumbuh ranum karena pakai pupuk organik kualitas premium, yang atunya pakai pupuk karbitan kualitas pestisida

2024-11-05

1

lihat semua
Episodes
1 Calon Untuk Dipa
2 Kencan
3 Bocil Bikin Menggigil
4 Biar Takdir Bicara
5 Dosen Pembimbing Killer
6 Pesona Dosen Baru
7 Kamu Bukan Jodohku
8 Hadirmu Alihkan Duniaku
9 Bertemu Calon Grandpa
10 Oppa
11 Kencan Salah Sasaran
12 Yolanda
13 Kena Bully
14 Berganti Taktik
15 Mulai Jinak
16 Bawaan Orok
17 Perjodohan Terselubung
18 Ikan Buntal vs Frankenstein
19 Pacar Dadakan
20 Namaste
21 Annoying Dipa
22 Kencan 24 Jam
23 Istri Tua dan Istri Muda
24 Kencan 24 Jam, Batal!
25 Rival
26 Dia Milikku
27 Raja Gombal
28 Kegalauan Keira
29 Jadi Sahabat atau Kekasih?
30 Jangan Merindukanku
31 Berburu Informasi
32 Jarvis Sakit
33 Bimbingan atau Pendamping?
34 Panas.. Panas.. Panas.. Hati ini
35 Sebuah Rasa
36 Penolakan Tegas
37 Pertengkaran
38 Perjaka Formalin
39 Di Luar Prediksi
40 Baju Couple
41 Mas dan Saya
42 Akting atau Nyata?
43 Hadiah Tanjakan dan Turunan
44 Kado Istimewa
45 Icih dan Kemod
46 Ganti Profesi
47 Detektif Arnav
48 Ketua Perserikatan Jomblo
49 Bocil Meresahkan
50 Seperti Monyet Lupa Kacangnya
51 Sepupu Durjana
52 Kejutan Dari Jarvis
53 Atasan Tak Terduga
54 The Clever, Emma
55 Calon Menantu
56 Melewati Batas Maksimum
57 Penerjemah Bikin Pusing
58 Ribut Lagi
59 Konferensi Meja Bundar
60 Bad News
61 Fortune Cookies
62 Ketegangan di Meja Makan
63 Boyband
64 Penghulu Bikin Malu
65 Memulai Lebih Dulu
66 Kecanduan Kamu
67 Solusi
68 Sarange
69 Persiapan Calon Pengantin
70 Berharap Cemburu
71 Pria Dewasa
72 Adu Kecepatan
73 Pantang Menyerah
74 Seragam Bikin Geram
75 Duet Calon Besan
76 Celetukan Bikin Malu
77 Belajar Mesra
78 Sedikit Bicara, Banyak Bekerja
79 Romantis Ala Jarvis
80 Pukulan Telak
81 Penyesalan Mendalam
82 Tak Ada Kebohongan yang Abadi
83 Suami Mandiri
84 Bumil yang Manja
85 Rahmat Bukan Rahman
86 Sumpah Gilang
87 Pretty Woman
88 Pawang Emma
89 Bandulan Bertemu Celengan Semar
90 Dendam Salah Alamat
91 Pertarungan
92 Takut Kehilangan
93 Ibu Tiri Kejam
94 Penyesalan Mendalam
95 Embel-embel
96 Menuju Hari H
97 Jalan-jalan
98 Keinginan Ibu Hamil
99 Lawan Seimbang
100 Akhir Bahagia
101 Bonus Chapter : Everlasting Happiness
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Calon Untuk Dipa
2
Kencan
3
Bocil Bikin Menggigil
4
Biar Takdir Bicara
5
Dosen Pembimbing Killer
6
Pesona Dosen Baru
7
Kamu Bukan Jodohku
8
Hadirmu Alihkan Duniaku
9
Bertemu Calon Grandpa
10
Oppa
11
Kencan Salah Sasaran
12
Yolanda
13
Kena Bully
14
Berganti Taktik
15
Mulai Jinak
16
Bawaan Orok
17
Perjodohan Terselubung
18
Ikan Buntal vs Frankenstein
19
Pacar Dadakan
20
Namaste
21
Annoying Dipa
22
Kencan 24 Jam
23
Istri Tua dan Istri Muda
24
Kencan 24 Jam, Batal!
25
Rival
26
Dia Milikku
27
Raja Gombal
28
Kegalauan Keira
29
Jadi Sahabat atau Kekasih?
30
Jangan Merindukanku
31
Berburu Informasi
32
Jarvis Sakit
33
Bimbingan atau Pendamping?
34
Panas.. Panas.. Panas.. Hati ini
35
Sebuah Rasa
36
Penolakan Tegas
37
Pertengkaran
38
Perjaka Formalin
39
Di Luar Prediksi
40
Baju Couple
41
Mas dan Saya
42
Akting atau Nyata?
43
Hadiah Tanjakan dan Turunan
44
Kado Istimewa
45
Icih dan Kemod
46
Ganti Profesi
47
Detektif Arnav
48
Ketua Perserikatan Jomblo
49
Bocil Meresahkan
50
Seperti Monyet Lupa Kacangnya
51
Sepupu Durjana
52
Kejutan Dari Jarvis
53
Atasan Tak Terduga
54
The Clever, Emma
55
Calon Menantu
56
Melewati Batas Maksimum
57
Penerjemah Bikin Pusing
58
Ribut Lagi
59
Konferensi Meja Bundar
60
Bad News
61
Fortune Cookies
62
Ketegangan di Meja Makan
63
Boyband
64
Penghulu Bikin Malu
65
Memulai Lebih Dulu
66
Kecanduan Kamu
67
Solusi
68
Sarange
69
Persiapan Calon Pengantin
70
Berharap Cemburu
71
Pria Dewasa
72
Adu Kecepatan
73
Pantang Menyerah
74
Seragam Bikin Geram
75
Duet Calon Besan
76
Celetukan Bikin Malu
77
Belajar Mesra
78
Sedikit Bicara, Banyak Bekerja
79
Romantis Ala Jarvis
80
Pukulan Telak
81
Penyesalan Mendalam
82
Tak Ada Kebohongan yang Abadi
83
Suami Mandiri
84
Bumil yang Manja
85
Rahmat Bukan Rahman
86
Sumpah Gilang
87
Pretty Woman
88
Pawang Emma
89
Bandulan Bertemu Celengan Semar
90
Dendam Salah Alamat
91
Pertarungan
92
Takut Kehilangan
93
Ibu Tiri Kejam
94
Penyesalan Mendalam
95
Embel-embel
96
Menuju Hari H
97
Jalan-jalan
98
Keinginan Ibu Hamil
99
Lawan Seimbang
100
Akhir Bahagia
101
Bonus Chapter : Everlasting Happiness

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!