“Saya dengar ya!”
Bianca terjengit ketika mendengar suara Jarvis di belakangnya. Pelan-pelan dia membalikkan badannya. Nampak Jarvis sudah berdiri di hadapannya sambil melipat kedua tangannya. Tentu saja Bianca terkejut, dipikirnya Jarvis masih berada di dalam ruangan. Ternyata pria itu malah berjalan di belakangnya.
“Eh pak Deden.”
Bianca memanggil nama ketua prodi sambil melihat ke belakang jarvis. Sontak Jarvis menolehkan kepalanya ke belakang. hal tersebut dimanfaatkan Bianca untuk menyelamatkan diri. Gadis itu membalikkan badannya lalu berlari meninggalkan Jarvis.
Tahu Bianca sudah membohonginya, Jarvis membalikkan tubuhnya lagi. Namun ternyata Bianca sudah minggat dari hadapannya. Pria itu hanya menggelengkan kepalanya saja. Dari sekian banyak mahasiswi yang diajarnya, Bianca satu-satunya mahasiswi yang berani merutukinya. Bianca juga tidak segan berdebat dengannya jika diberi tugas. Berbeda dengan mahasiswi lain yang langsung manut saja.
Pria itu melanjutkan langkahnya. Kali ini dia menuju perpustakaan. Tiga orang mahasiswa bimbingannya sudah menunggu di sana. Dia memang akan langsung melakukan bimbingan untuk tiga orang sekaligus untuk menghemat waktu. Karenanya dia meminta mereka menunggu di perpustakaan.
Sementara itu, Bianca yang sudah berhasil melarikan diri dari Jarvis, berhenti untuk mengambil nafas. Dia menundukkan tubuhnya sambil memegangi lututnya. Tiba-tiba saja sebuah tepukan mendarat di pundaknya.
“A.. ampun pak. Saya cuma bercanda, swear.”
Takut-takut Bianca membalikkan tubuhnya. Namun ternyata orang yang menepuk bahunya bukanlah Jarvis, tetapi Suci, sepupunya. Gadis itu hanya melongo saja melihat reaksi Bianca tadi.
“Lo kenapa?”
“Suci.. ngagetin gue aja. Gue pikir pak Jarvis.”
“Lo kenapa lagi?”
“Sumpah gue bête banget!”
“Bete kenapa?”
“Ke kantin yuk. Gue perlu air buat pemadam.”
Tanpa menunggu jawaban Suci, Bianca menarik tangan Suci untuk mengikutinya. Keduanya segera menuju kantin. Bianca langsung memesan segelas minuman dingin sesampainya di kantin, sementara Suci memeriksa ponselnya yang berdenting. Sebuah pesan dari Attar masuk.
[Sudah selesai bimbingan?]
[Sudah.]
[Aku lagi di jalan, sebentar lagi sampai. Kita ke galeri, bisa kan?]
[Bisa. Aku tunggu di kantin.]
[Oke.]
Sebuah senyuman tercetak di wajah Suci. Beberapa hari ini hubungannya dengan Attar semakin dekat saja. Attar sudah resmi mengangkatnya sebagai asisten untuk membantu persiapan pameran di galeri miliknya. Bahkan pria itu sudah memperkenalkan Suci pada semua karyawan di galeri.
Bukan itu saja, Attar bahkan membantu Suci menyiapkan tugas skripsinya. Sedikit banyak dia tahu soal jurusan yang diambil Suci karena dia pun mengambil kuliah di fakultas yang sama. Hanya saja pria itu mengambil jurusan fotografi sebagai program studinya.
“Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Bianca sambil membawa gelas minumannya.
“Eh gue ngga bisa lama-lama temanin elo. Bentar lagi gue bakal dijemput Attar oppa.”
Minuman yang baru saja masuk ke mulut Bianca langsung keluar lagi. Semburannya bahkan mengenai pakaian Suci.
“Iewww.. Bian.. lo jorok banget sih,” Suci mengambil tisu kemudian membersihkan pakaiannya yang terkena semburan Bianca.
“Sorry.. gue kaget aja. Siapa Attar oppa?”
“Dosen fotografi gue yang baru. Anaknya om Denis. Mukanya kaya aktor Korea. Kata grandpa kalau lagi ngga di kelas, manggilnya jangan bapak. Terus grandpa kasih saran gimana kalau manggil opa. Dan sarannya oke juga.”
“Grandpa gaul juga ya, hihihi. BTW, emangnya doi ganteng?”
“Banget.”
“Jiaaahh.. cepet banget jawabnya. Ceritanya lo udah move on nih dari Sharmila?”
“Dia udah mau nikah sama orang lain. Ngga baik kan kalau gue ingat-ingat terus. Life must go on. Jangan karena dia gue malah jadi jomblo ngenes.”
“Setuju. Gitu dong, move on. Udah cukup lo nangisin dia. Sekarang waktunya lo menatap ke depan. Sharmila pergi, sekarang ada oppa sebagai pengganti.”
“Apaan sih.. orang kita baru kenal juga.”
“Baru kenal bukan berarti ngga jodoh.”
Bianca menaik turunkan alisnya, menggoda sepupunya. Suci hanya menggelengkan kepalanya saja. Namun tak ayal wajahnya memerah juga. Attar memang sangat baik. Bersama dengannya membuat Suci dengan mudah melupakan kesedihannya ditinggal menikah oleh kekasihnya.
“Lo sendiri kenapa?”
“Kesal gue sama pak Jarvis.”
Tanpa harus ditanya lagi, Bianca langsung menceritakan kekesalannya pada Jarvis. Suci menyimak curhatan sepupunya itu. Kalau dirinya menjadi Bianca, belum tentu dia kuat menghadapi dosen pembimbing seperti Jarvis.
“Kalau lo kaya gitu mulu, pasti pak Jarvis malah tambah nindas elo. jadi lo harus ganti strategi.”
“Ganti strategi gimana?”
“Lo jangan kebanyakan protes. Jangan debat terus kalau dia nyuruh elo ini, itu. Terus yang paling penting, muka lo harus senyum bin sumringah kalau bimbingan sama dia. Jangan ditekuk terus tuh muka, dia juga males kali lihatnya.”
“Dih ogah banget.”
“Harus. Biarkan dia melihat sisi manis dan menggemaskan elo biar pikirannya sama elo berubah. Yakin deh, dia yang tadinya mau jutek bakalan berpikir ulang kalau lihat lo imut kaya gitu.”
“Masa sih?”
Bianca masih belum yakin dengan apa yang dikatakan oleh Suci. Tapi masukan sepupunya itu masuk akal juga. Memang benar jika hendak bimbingan, Bianca selalu memasang wajah masam. Apa yang dikatakan Jarvis sudah terdengar seperti genderang perang untuknya.
Sementara itu, mobil yang dikendarai Attar memasuki pelataran kampus. Setelah memarkirkan kendaraannya, Attar segera turun. Pria itu langsung menuju kantin untuk menjemput Suci. Wajah pria itu nampak senang. Jalan yang dibuat oleh Juna dimanfaatkan sebaik mungkin olehnya untuk mendekati Suci.
Saat memasuki kantin, matanya langsung menangkap Suci yang tengah duduk bersama seorang gadis. Attar juga mengenali gadis itu, dia masih keluarga dari Suci. Dia pernah melihatnya saat pernikahan Zayn dan Fabian. Pria itu langsung menuju meja yang ditempati Suci.
“Lama nunggunya?” tanya Attar begitu sampai.
“Eh oppa udah datang. Ngga kok, baru aja sepuluh menitan. Ini lagi dengarin curhatan neng rombeng. Aduh..”
Sebuah tendangan diberikan Bianca pada Suci, membuat sang empu mengaduk kesakitan. Bianca melemparkan senyum manisnya pada Attar. Suci segera mengenalkan keduanya. Mereka bersalaman sambil menyebutkan namanya masing-masing.
“Oh iya, oppa pasti kenal sama pak Jarvis kan?” tanya Suci.
“Bang Jarvis? Iya, kenal. Kenapa?”
“Pak Jarvis itu dosen pembimbingnya Bian. Kasihan dia ditindas mulu. Ada resep ngga buat menghadapi pak Jarvis?”
“Ehm.. apa ya? Dia emang rada jutek. Tapi aslinya baik kok. Kalau kamu bimbingan sama dia, intinya jangan sok tahu. Kalau ngga ngerti tanya aja. Minta bantuan langsung sama dia, ngga usah gengsi. Dia malah senang kalau ada mahasiswa yang minta bantuannya.”
“Masa? Kok ke aku kesannya kaya nindas ya?”
“Mungkin karena kamunya menganggap dia musuh. Makanya bawaannya ngelawan aja. Nah sama dia tuh kamu harus lebih luwes. Kalau kamu keberatan atau merasa susah dengan tugas yang dikasih, ngomong aja langsung. Tapi ngomongnya baik-baik. Jujur aja apa kesultan kamu dan minta bantuannya.”
“Aku udah bilang kok.”
“Kamu bilangnya baik-baik atau pakai nada protes? Itu kan beda.”
“Nah ingat yang gue bilang tadi. Bicara baik-baik, ngga usah ngegas dan full senyum. Gue cabut dulu ya.”
Suci mengambil tasnya kemudian segera pergi meninggalkan Bianca yang masih terbengong di tempatnya. Apa dia sanggup melakukan hal yang disarankan oleh Suci dan Attar? Sementara setiap melihat Jarvis, dia langsung merasa kesal. Jangankan bersikap manis, bertemu dengannya pun malas. Tapi demi kesuksesan tugas akhirnya, dia akan mempertimbangkan usulan mereka berdua.
🌵🌵🌵
Waktu seminggu yang diberikan Jarvis sudah habis. Bianca berusaha menyelesaikan usulan penelitiannya secepat mungkin. Selama seminggu gadis itu tidak keluar rumah dan hanya berkutat dengan laptop, buku-buku dan lembaran informasi dari kantor sang ayah, tempat di mana dia melakukan penelitian.
Walau masih banyak kekurangan, namun mau tak mau Bianca tetap harus menyelesaikan usulan penelitiannya. Dia juga akan mempraktekkan apa yang disarankan oleh Suci dan Attar. Semoga saja kali ini Jarvis lebih lunak dan memperlakukan dirinya lebih manusiawi lagi.
Dengan membawa map dokumen, gadis itu berjalan menuju ruangan Jarvis. Gadis itu menarik nafas panjang dulu sebelum mengetuk pintu. Setelah terdengar suara jawaban dari dalam, barulah dia membuka pintu.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumussalam. Masuk!”
Bianca melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan. Dia segera mendudukkan diri di depan Jarvis sambil mengeluarkan lembaran kertas dari dalam map lalu memberikannya pada Jarvis. Tanpa banyak bicara, Jarvis langsung membaca usulan penelitian yang diberikan oleh Bianca.
“UP kamu acak-acakan begini.”
“Maaf, pak. Sebenarnya saya ngga ngerti kalau harus buat tiga variabel. Ini saya buat semampunya aja. Pasti masih banyak salah, mohon bimbingannya, pak. Mana saja yang harus dikoreksi.”
Sebisa mungkin Bianca berbicara dengan nada lembut dan penuh ketenangan. Semoga saja apa yang dilakukannya sekarang bisa sedikit melunakkan hati Jarvis.
“Semuanya harus direvisi.”
Bianca menarik nafas panjang. Dia berusaha meredam emosinya yang hampir saja naik mendengar jawaban Jarvis.
“Iya, pak. Mohon bimbingannya.”
Bianca melihat pada Jarvis seraya mengedip-ngedipkan kedua matanya. Tak lupa dia juga melemparkan senyuman semanis gula. Kening Jarvis mengernyit melihat perubahan yang terjadi pada Bianca.
“Kamu cacingan?” tanya Jarvis ketika melihat mata Bianca berkedip-kedip.
Ya salam, nih orang benar-benar nyebelin. Gue menggemaskan kaya gini disebut cacingan.
“Mata saya kelilipan, pak.”
Bianca mengucek matanya, berpura-pura kalau sedang kelilipan. Jarvis mengambil tisu yang ada di mejanya lalu memberikan pada Bianca.
“Jangan pakai tangan, nanti malah iritasi. Ini pake tisu aja.”
Eh.. tumben baik. Ternyata dia bisa juga bersikap seperti manusia.
“Terima kasih, pak.”
Bianca menerima tisu dari Jarvis kemudian mengusapkan ke matanya. Gadis itu melirik Jarvis yang tengah mencorat-coret usulan penelitiannya. Semua halaman sudah diberi coretan untuknya. Kemudian dia menyodorkan satu lembar kertas yang terdapat petikan teori di dalamnya.
“Ini cara penulisannya salah,” jari Jarvis menunjuk pada paragraf berisi petikan teori.
“Salah di mananya, pak? Itu udah satu spasi, terus jaraknya juga dibuat menjorok. Ngga sama kaya paragraf di atasnya.”
“Jarak dari tepi garis itu harus delapan karakter. Ini kamu kelebihan.”
Astaga itu hurufnya dihitung juga sama dia. Ampun deh gue bimbingan sama dia. Sabar Bian.. sabar..
“Baik, pak. Saya akan perbaiki.”
“Satu minggu harus sudah beres revisinya.”
“Seminggu, pak? Terus saya harus revisinya gimana? Tolong diperjelas pak.”
Jarvis tidak menggubris ucapan Bianca. Dia membereskan buku-bukunya di atas meja, kemudian mengambil tas kerjanya. Pria itu berdiri lalu berjalan menuju pintu, sementara Bianca masih terpaku di tempatnya. Jarvis berhenti di depan pintu kemudian menoleh ke arah Bianca.
“Kamu ngapain diam di situ? Ayo ikut saya!”
🌵🌵🌵
Ngikut kemana nih? KUA bukan?🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Mur Wati
lah pak dosen gak ngomong main pergi ya gak tau bian
2025-01-07
1
Mur Wati
bukan menggemaskan bian malah aneh
2024-12-21
1
Mur Wati
😃😃😃🤦🤦 sabar bian terima nasip
2025-01-07
1