“Mau grandpa bantu?” tanya Juna lagi ketika Attar belum menjawab pertanyaannya.
Pertanyaan Juna tentu saja mengejutkan Attar. Namun begitu dia juga sangat senang. Tidak disangka, dukungan langsung didapatkan olehnya sebelum pria itu mengutarakan isi hatinya. Juna masih sabar menunggu jawaban dari pria yang menurutnya cocok untuk mendampingi cucunya.
“Ehm.. grandpa serius?”
“Serius dong. Menurut grandpa, kamu itu cocok buat jadi pendamping Suci. Apalagi sekarang dia udah sendiri. Kamu suka kan sama Suci?” tebak Juna.
“Eh.. i.. iya, grandpa.”
Attar mengusap tengkuknya untuk mengurangi rasa malu yang menderanya. Wajahnya pun nampak memerah. Juna hanya tersenyum saja melihat tingkah pemuda di sampingnya. Percakapan keduanya terhenti ketika melihat Suci datang membawakan minuman dan juga camilan untuk mereka berdua.
“Silakan diminum, pak.”
“Eh.. tadi grandpa bilang apa?”
“Hehehe.. udah kebiasaan manggil pak, grandpa. Enaknya dipanggil apa atuh?”
“Terserah kamu aja. Tapi mukanya Attar tuh udah mirip kaya aktor Korea. Kenapa kamu ngga panggil oppa aja?” goda Juna.
“Eh jangan grandpa. Aku yang malu kalau dipanggil oppa,” sergah Attar.
“Eh tapi usulnya grandpa bagus juga. Aku panggil oppa aja ya? Biar beda gitu.”
“Nah cocok tuh. Uji coba dulu. Grandpa mau dengar.”
“Oppa..” panggil Suci malu-malu. Bukan hanya Suci, tapi Attar juga malu mendengar panggilan untuknya.
“Nah bagus itu.”
Juna kemudian mempersilakan Attar mencicipi minuman dan camilan yang sudah disediakan oleh Suci. Pria itu kemudian mulai bertanya-tanya tentang kesibukan Attar. Tentu saja pria itu ingin mencari peluang bagaimana caranya lebih mendekatkan sang cucu dengan Attar.
“Galerinya suka disewa juga?”
“Disewakan, grandpa.”
“Agenda terdekat apa?”
“Mau ada pameran lukisan. Lukisan yang dipamerkan adalah finalis dari ajang lomba melukis dengan tema naturalisme. Peserta harus melukis tentang keindahan alam Indonesia. Nantinya lukisan yang menang akan digunakan untuk mempromosikan tempat wisata yang dijadikan objek lukisan.”
“Penyelenggaranya pemerintah atau swasta?”
“Gabungan, grandpa.”
“Oh gitu. Kamu sendiri yang mengurus soal galeri?”
“Ada karyawan yang bantu. Tapi aku juga terjun langsung.”
“Kamu kan kerja juga di Style magazine. Apa ngga repot? Ditambah sekarang ngajar juga.”
“Lumayan repot sih, grandpa.”
“Harus punya asisten kalau gitu.”
“Maunya sih. Tapi belum ada waktu buat nyari.”
“Gimana kalau grandpa rekomendasikan asisten buatmu?”
“Boleh, grandpa.”
“Ngga jauh-jauh. Ini ada Suci. Dia kan masih nganggur sambil cari inspirasi buat skripsi. Gimana kalau Suci aja?”
Refleks keduanya langsung melihat pada Juna. Entah mengapa Attar merasa apa yang dikatakan Juna adalah jalan yang diberikan oleh pria itu agar dirinya bisa lebih sering berinteraksi dengan Suci. Sementara Suci hanya terbengong saja sambil memandangi wajah sang grandpa. Tidak ada angin, tidak ada hujan, Juna langsung merekomendasikan namanya.
“Kalau Suci tidak keberatan, ya ngga apa-apa,” jawab Attar.
“Gimana, Ci? Kamu mau kan? Siapa tahu kalau kamu punya kesibukan, kamu bisa lebih cepat melupakan Ashraf.”
“Ehm.. boleh deh. Tapi digaji kan?”
“Pasti. Kamu mau gaji berapa?”
“Gajinya dirapel aja, nanti dikasihkannya di waktu yang tepat,” sela Juna.
“Dirapel sama apa?” tanya Suci polos.
“Dirapel sama uang belanja dari Attar.”
“Uang belanja?” tanya Suci lagi.
“Iya. Kalau kamu jadi istrinya Attar, pasti tiap bulan dikasih uang belanja.”
Memerah wajah Suci mendengar ucapan frontal Juna. Attar yang sedang menyeruput minumannya sampai terbatuk saking terkejutnya. Berbeda dengan Juna yang terlihat santai.
“Grandpa pasti cuma bercanda, jangan diambil hati,” ujar Attar untuk menenangkan Suci yang nampak terkejut.
“Soal kerjaannya jadi ngga?” tanya Suci.
“Kalau kamu mau, boleh aja.”
“Oke, deh. Nanti kasih tahu aja aku harus ngapain.”
“Ok. Kalau begitu aku permisi dulu. Terima kasih buat minuman dan camilannya. Grandpa, aku pulang dulu. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumussalam.”
Attar mencium punggung tangan Juna kemudian segera keluar dari rumah. Juna meminta Suci mengantarkan Attar keluar. Gadis itu melambaikan tangannya ketika mobil yang dikendarainya mulai melaju. Setelah mobil Attar tidak terlihat lagi, barulah Suci masuk ke dalam rumah.
“Attar ganteng ya?” goda Juna.
“Grandpa apaan sih.”
“Tinggal bilang iya, apa susahnya. Udah ganteng, baik, soleh, mapan dan juga bertanggung jawab. Kurang apa coba?”
“Aiih.. grandpa udah kaya tukang obat yang lagi promosi. Udah ah, aku mau ke kamar dulu.”
Suci bergegas meninggalkan Juna yang masih bertahan di ruang tengah. Gadis itu langsung masuk ke kamar. sejenak dia berdiri sambil menyenderkan punggungnya ke pintu. Entah mengapa hari ini dia bahagia sekali. apa karena pertemuan tak terduganya dengan Attar atau karena perkataan Juna? Dia memegangi pipinya yang tiba-tiba terasa panas.
“Oppa..” gumamnya pelan sambil menyunggingkan senyuman.
🌵🌵🌵
TOK
TOK
TOK
Pintu ruang kerja Dipa terketuk. Tak lama kemudian pintu terbuka. Gilang masuk ke dalam ruangan dan langsung mendaratkan bokongnya di kursi yang ada di depan meja kerja Dipa.
“Tumben ke sini, ada apaan?” tanya Dipa tanpa melepaskan pandangan dari laptop.
“Iseng aja. Emangnya ngga boleh? Kali aja ada yang bening di mari.”
“Kalau ada yang bening udah gue embat duluan.”
“Bang.. gimana kencan sama Cyntia?”
Pertanyaan Gilang sukses menarik perhatian Dipa. Dia melihat kalender duduk yang ada di meja kerjanya. Kemudian pria itu menepuk keningnya. Hampir saja dia lupa kalau sore ini ada janji temu dengan Cyntia.
“Untung diingetin, sore ini ketemuannya.”
“Nah untung kan gue ingetin. Kalau ngga, bisa dikutuk jadi blender sama grandpa.”
“Lo temenin gue ya?”
“Dih ogah banget. Masa gue jadi kambing congek.”
“Masalahnya gue trauma kencan buta kaya gini. Yang pertama, ketemu cewek yang pedenya naudzubillah. Yang kedua ketemu bocil. Nih yang ketiga, gue ngga tahu bakal gimana. Makanya elo ikut aja.”
“Wani piro?”
“Lo mau apa, nanti gue beliin.”
“Deal!! Jangan ditarik lagi ya janjinya.”
“Iya.”
Kepala Gilang mengangguk tanda setuju. Dia langsung berpikir apa yang akan dimintanya pada kakak sepupunya ini sebagai bayaran menemaninya melakukan kencan buta.
🌵🌵🌵
Mobil yang dikendarai Dipa memasuki pelataran parkir sebuah café. Di belakangnya menyusul kendaraan milik Gilang. keduanya keluar bersamaan dari dalam mobil, kemudian segera masuk ke dalam café. Mata Dipa berkeliling mencari keberadaan Cyntia. Lalu dia menangkap seorang gadis melambaikan tangan padanya. Bersama dengan Gilang, pria itu segera mendekat.
“Cyntia?” tanya Dipa ketika sudah sampai di meja yang ditempati gadis itu.
“Iya. Bang Dipa ya?”
“Iya.”
Keduanya saling bersalaman. Mata Cyntia lalu melihat pada Gilang yang berdiri di samping Dipa. Melihat arah pandang Cyntia, Dipa langsung mengenalkan Gilang.
“Kenalin, ini adik sepupuku.”
“Gilang.”
“Cyntia.”
Keduanya bersalaman sambil menyebutkan nama masing-masing. Cyntia berpamitan hendak ke toilet, meninggalkan Dipa dan Gilang.
“Gimana bang?” tanya Gilang.
“Buka tipe gue,” jawab Dipa pelan.
“Yang benar?”
“Iya. Alamat zonk lagi ini mah.”
Percakapan keduanya terhenti ketika Cyntia mendekat. Dia sudah kembali dari toilet dan kembali mendudukkan diri di tempat semula. Dipa mulai berbasa-basi dengan Cyntia. Dia menanyakan apa saja kesibukan gadis itu. Namun selama percakapan, beberapa kali Dipa menangkap Cyntia mencuri lihat pada Gilang.
“Ehm.. kalau Gilang masih jomblo?” tanya Cyntia yang tiba-tiba mengalihkan pembicaraan pada Gilang.
🌵🌵🌵
Untuk scene kemarin ada yang salah ya. Yang tinggal sama Juna itu, Alisha sama Viren. Mohon maaf akunya lagi oleng. Makasih buat yang sudah mengingatkan di kolom komentar. Anggap aja bab kemarin adegan di rumah Ezra ya. Juna sama Nadia lagi berkunjung ke sana🤭
Mohon maaf buat ketidak nyamanannya. Dan terima kasih atas koreksinya🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Ayuna
Lah yg kencan siapa nyantolnya kemana😂🤭
2025-01-17
1
Mur Wati
sambil menyelam minum es jeruk ini mah 😃😃
2024-12-21
1
ˢ⍣⃟ₛ 𝘊𝘰𝘦ˢ☠️⃝⃟ⱽᴬ 𝐀⃝🥀
cieee yg udah punya oppa....tar siap2 tumpengan, dah dapat lampu ijo tuh ma grandpa nya suci🤣🤣🤣
2024-08-30
2