“Apa?”
Suci seperti tersambar petir di siang bolong mendengar penuturan Ashraf. Baru saja seminggu yang lalu Bianca dan Gilang bercanda padanya, mengatakan untuk berhati-hati jangan sampai Ashraf sudah memiliki calon di kampung halamannya. Dan ternyata itu memang benar terjadi.
Wajah Ashraf pun tak kalah sendu. Selama dua tahun ini dia sudah menjalin hubungan dengan Suci. Di matanya Suci adalah gadis yang baik dan yang diinginkannya menjadi pendamping hidupnya. Namun takdir berkata lain. Sekembalinya ke kampung halaman, ternyata kedua orang tuanya sudah menyiapkan jodoh untuknya.
Junaida, calon yang dipersiapkan kedua orang tuanya adalah anak dari kerabat jauh keluarga ayahnya. Dulu mereka memang sudah sepakat untuk menjodohkan kedua anak mereka. Ayah Junaida adalah salah satu pejabat di pemerintah daerah. Dia juga yang membantu Ashraf mendapatkan pekerjaannya sekarang.
Ketika bertemu dengan Junaida, sebenarnya Ashraf sudah bersiap untuk membatalkan perjodohan mereka. Namun ternyata Junaida adalah gadis yang solehah. Selain sudah menutup aurat, dia juga senantiasa menjaga diri ketika bergaul dengan lawan jenis. Sejak di bangku sekolah menengah atas, dia sudah diberitahu kalau akan dijodohkan dengan Ashraf. Dan sejak itu pula dia senantiasa menjaga diri sampai sekarang. Gadis itu baru saja menyelesaikan pendidikannya sebagai guru SD.
Melihat Junaida, Ashraf tidak tega untuk membatalkan perjodohan. Namun begitu dia tetap mengatakan pada kedua orang tuanya kalau sudah memiliki tambatan hati di Bandung. Orang tua Ashraf menyerahkan semua keputusan padanya. Dan di sinilah dia sekarang, berada di hadapan Suci untuk mengakhiri hubungan mereka.
“Aku minta maaf, Suci. Sebenarnya aku sudah berusaha memperjuangkan hubungan kita. Aku juga sudah mengatakan pada kedua orang tuaku tentang hubungan kita, tapi entah kenapa ketika bertemu dengan Junaida, aku tidak sanggup untuk membatalkan perjodohan. Dia tidak salah apa-apa, begitu juga kamu.”
Wajah Ashraf nampak frustrasi ketika mengatakan itu. Di tengah kegalauannya, Ashraf memasrahkan semua keputusan pada Sang Pemilik Kehidupan. Dia selalu bangun di sepertiga malam untuk meminta petunjuk. Dan dapat dirasakan hubungannya dengan Junaida semakin lama justru berkembang lebih cepat.
“Aku ngga tahu harus ngomong apa, Ci. Selama ini aku selalu berdoa. Aku ngga pernah lepas shalat tahajud, shalat istikharah dan jawaban yang kudapat, aku menjadi lebih dekat dengan Junaida dan tidak bisa menolak perjodohan. Mungkin jodohku memang dia, bukan kamu. Sebanyak apa pun aku meminta dirimu, tapi selalu Junaida yang hadir dalam mimpiku.”
Suci hanya terbungkam mendengar penuturan Ashraf. Ingin rasanya dia memaki pria itu di depannya yang seenaknya saja mengakhiri hubungan mereka. Namun ternyata dia tidak mampu melakukan itu. Melihat ekspresi Ashraf yang terlihat sedih, kemarahannya seakan menguap.
“Junaida, apa dia tahu soal kita?” akhirnya Suci membuka mulutnya.
“Iya, sebelum berangkat ke sini, aku sudah memberitahunya.”
“Apa aku boleh berbicara dengannya?”
Awalnya Ashraf ragu, namun akhirnya Ashraf mengabulkan permintaan Suci. Dia mengambil ponselnya lalu menghubungi Junaida. Suci meminta Ashraf melakukan panggilan video. Untuk beberapa saat pria itu masih menunggu sampai akhirnya Junaida menjawab panggilannya.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumussalam. Apa kamu sedang sibuk?”
“Tidak. Apa abang sudah di Bandung?”
“Iya. Aku sedan bersama Suci sekarang. Dia mau bicara denganmu.”
“Boleh, bang.”
Ashraf memberikan ponsel di tangannya pada Suci. Wajah calon istri Ashraf kini sudah bisa dilihat oleh Suci. Junaida memiliki kulit kuning langsat, dan wajahnya juga cantik. Walau baru sekali bertatap muka, namun Suci bisa melihat kalau Junaida adalah gadis yang baik.
“Aku, Suci.”
“Aku Junaida. Bang Ashraf sudah menceritakan tentangmu. Maafkan aku, Suci. Maaf kalau aku masuk di antara kalian. Aku sudah bilang sama bang Ashraf, kalau dia mau membatalkan perjodohan ini, silakan saja. In Syaa Allah aku ikhlas.”
Harusnya Suci senang mendengar ucapan Junaida, namun entah kenapa dia justru tidak ingin membatalkan perjodohan Ashraf dengan gadis yang sedang berbicara dengannya.
“Ngga, kalian ngga perlu membatalkan perjodohan. Mungkin Ashraf adalah jodohmu, bukan jodohku. Aku doakan semoga kalian bahagia.”
“Terima kasih, Suci. Bang Ashraf benar, kamu gadis yang baik.”
Hanya senyuman saja yang diberikan oleh Suci. Dia memberikan ponsel kembali pada sang empu. Kini Ashraf yang berbicara dengan Junaida.
“Ida, aku mau tinggal di sini dua hari. Kamu ngga apa-apa kan kalau aku mau jalan dulu dengan Suci. Anggap saja ini perpisahanku untuknya.”
“Iya, ngga apa-apa.”
“Terima kasih. Aku tutup ya, assalamu’alaikum.”
“Waalaikumusalam.”
Panggilan video segera berakhir. Ashraf menaruh ponselnya lalu kembali melihat pada Suci. Dia tahu kalau kekasihnya yang sebentar lagi akan menjadi mantan ini terluka karena keputusannya. Namun sebisa mungkin Suci bersikap tenang dan tetap tersenyum walau hatinya menangis.
“Ci.. terima kasih atas pengertian kamu. Aku boleh ketemu kedua orang tuamu, kan?”
“Untuk apa?”
“Aku mau pamit sekaligus minta maaf. Aku datang baik-baik waktu itu memperkenalkan diri sebagai pacar kamu. Dan sekarang aku juga mau pamit baik-baik. Ngga masalah kalau harus kena marah atau kena pukul papamu. Aku mau mengakhiri hubungan kita secara baik-baik.”
“Kalau kamu mau ketemu mama dan papa, besok aja.”
“Oke. Besok pagi gimana kalau kita jalan-jalan dulu?”
“Boleh. Anggap aja itu pesta perpisahan kita.”
Kepala Ashraf mengangguk pelan. Melihat Suci yang begitu tegar jutsru membuat perasaan Ashraf semakin teriris dan merasa bersalah.
🌵🌵🌵
Keesokan harinya, Ashraf menepati janjinya. Dia menjemput Suci di rumah lalu mengajaknya jalan-jalan. Ashraf membawa Suci ke Lembang, mengunjungi tempat wisata yang ada di daerah ini. mereka berjalan-jalan di Farm House dan menikmati makan siang di Floating Market. Ashraf benar-benar memanfaatkan waktu terakhirnya bersama dengan Suci.
Selepas dzuhur mereka kembali ke kota Bandung. Ashraf tidak langsung mengantar Suci pulang. Dia mengajak Suci berjalan-jalan di pusat perbelanjaan. Pria itu membawa Suci menuju toko yang menjual aneka boneka.
“Kamu mau boneka apa?” tanya Ashraf.
“Kita kan mau putus, ngapain kamu kasih aku boneka?”
“Emangnya ngga boleh? Aku kan pengen kasih kamu hadiah dari gajiku sendiri.”
Suci memandang sekeliling. Berbagai boneka beraneka bentuk terjajar rapi di hadapannya. Matanya kemudian tertuju pada boneka monyet dengan bulu hitam pekat. Suci mengambil boneka monyet tersebut.
“Aku mau ini aja.”
“Ngga salah kamu milih boneka monyet?”
“Emangnya kenapa?”
“Ngga apa-apa.”
Ashraf segera membayar boneka yang dipilih oleh Suci. Dia menawarkan Suci untuk membeli barang lain, namun gadis itu menolaknya. Dia mengajak Ashraf langsung pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah Suci, sesuai janjinya, Ashraf menemui kedua orang tua Suci. Dilara menyambut kedatangan Ashraf. Wanita itu memang sudah cukup akrab dengannya. Dilara kemudian memanggil Ezra karena Ashraf ingin menemui keduanya. Suci duduk di samping mamanya ketika Ashraf mulai mengatakan maksudnya bertemu dengan Dilara dan Ezra. Dengan jujur dia mengakui alasannya mengakhiri hubungan dengan Suci.
“Kalau itu memang sudah keputusan kalian, om dan tante tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Om apresiasi kejujuranmu. Dan om doakan semoga pernikahanmu nanti langgeng, sakinah, mawaddah, warohmah.”
“Terima kasih om, tante. Maaf kalau selama berhubungan dengan Suci, saya melakukan kesalahan.”
“Sama-sama, om dan tante juga minta maaf padamu. Kapan pulang ke Bangka?”
“Besok pagi, om. Malam ini aku mau ke Jakarta.”
“Naik apa?”
“Travel, om.”
“Hati-hati dan sampaikan salam kami pada orang tuamu.”
“Iya, om. Kalau begitu, aku permisi dulu. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Ashraf mencium punggung tangan Dilara dan Ezra bergantian. Suci mengantarkan pria itu sampai ke dekat mobil. Pria itu melihat dulu sebentar pada Suci. Sebisa mungkin Suci memaksakan untuk tersenyum. Ashraf masuk ke dalam mobil. Dia menurunkan kaca jendela, melambaikan tangannya pada Suci baru kemudian melajukan mobilnya.
Mata Suci berkaca-kaca setelah Ashraf meninggalkannya. Rasa sakit dan perih seketika menghantamnya. Tanpa dapat ditahan, airmatanya mengalir. Sambil menghapus airmatanya, Suci masuk ke dalam rumah.
“Mama…”
Suci langsung menghambur pada Dilara, lalu menangis terisak. Ezra mengusap puncak kepala anaknya yang masih menangis dalam pelukan istrinya. Juna dan Nadia yang baru kembali dari kediaman Abi terlihat bingung ketika mendapati cucunya menangis. Tanpa suara, Juna bertanya pada Ezra. Anak sulungnya itu mendekat lalu berbisik pelan di telinga Juna.
“Biarkan dia menangis malam ini sepuasnya, biar perasaannya plong.”
“Iya, pa.”
Dilara mengajak anak bungsunya itu ke dalam kamarnya. Anak gadisnya tengah merasakan patah hati. Sebagai seorang ibu, Dilara sebisa mungkin menjadi pelipur lara untuk Suci dan menguatkannya agar bisa menjalani hari ke depannya tanpa tangisan lagi.
🌵🌵🌵
Sudah dua hari lamanya Suci mengurung diri di kamarnya. Dia masih belum bisa menghilangkan kesedihannya pasca berpisah dari Ashraf. Bianca datang dan hendak menghiburnya, namun sia-sia. Kesedihan Suci tidak berkurang sedikit pun.
Suci meraba-raba ruang kosong di sebelahnya, mencari ponselnya yang digeletakkan begitu saja di atas kasur. Beberapa dentingan terdengar dari benda pipih persegi miliknya. Dengan malas Suci membuka pesan dari grup tugas fotografi. Gara-gara patah hati, dia sampai lupa kalau hari ini mereka akan mengerjakan tugas fotografi bersama Attar. Begitu wa grup terbuka, nampak pesan dari teman-temannya sudah masuk.
[Hari ini kita ketemu di mana?]
[Kata pak Attar kita hunting foto di Braga.]
[Jam 9 udah di TKP ya.]
[Oke.]
[Ci.. kamu bisa kan?]
Suci terdiam sebentar, lalu jarinya mulai mengetik pesan balasan.
[Sorry, gue ngga bisa ikut. Lagi ngga enak badan.]
[Oke. Buat tugas lo nanti hubungi pak Attar aja.]
[Syafakillah, Ci.]
[Get well soon.]
[Thanks.]
Suci meletakkan kembali ponsel ke atas kasur. Dia kembali memejamkan matanya. Malas untuk pergi-pergi apalagi mengerjakan tugas fotografi.
🌵🌵🌵
Tiga hari berturut-turut berdiam diri di rumah, membuat Suci bosan juga. Akhirnya dia memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri. Suci memilih untuk menggunakan taksi online. Gadis itu ingin menenangkan pikiran ke tempat berudara sejuk. Suci pergi ke Orchid Lembang seorang diri.
Setelah membeli tiket, dia langsung masuk ke dalam tempat wisata yang terkenal dengan aneka tanaman anggreknya. Kacamata hitam menghiasi wajahnya. Matanya masih sembab karena banyak menangis. Setelah melihat-lihat koleksi anggrek yang ada di Orchid House, gadis itu kemudian menuju wood bridge.
Jembatan sedikit bergoyang ketika gadis itu melintasi jembatan. Dia berhenti sebentar di tengah-tengah jembatan. Matanya melihat ke depan. Nampak beberapa pengunjung sudah datang dan berlalu lalang di bawah sana.
Asik melamun, Suci tidak menyadari ada seorang pria yang sedari asik dengan kegiatannya. Sebuah kamera SLR tergantung di lehernya. Sesekali dia mengarahkan kamera di tangannya. Attar menurunkan kameranya saat tidak sengaja lensanya mengarah pada Suci. Nampak gadis itu tengah berdiri melamun. Attar segera mendekatinya.
“Suci..”
🌵🌵🌵
Eaaaa... Suci ketemu Dogan (Dosen Ganteng)🤭
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Mur Wati
ga pa pa cari yg lain tuh ada dosen baru ci pepet aja kan dia bilang masih jomblo
2024-12-21
1
DhilaZiya Ulyl
daaah.... dapet gantinya Cii.... samber Cii jgn smpe kesukuan ma yg laen🤣🤣🤣
2024-11-03
1
Noora Iyyah
yg selalu q syuka dr karyamu...puanjang lek nulis
2025-01-16
1