“Kamu ngapain diam di situ? Ayo ikut saya!”
“Eh.. iya pak.”
Sontak Bianca berdiri. Dia segera membereskan lembaran skripsi miliknya lalu memasukkan ke dalam map dokumen. Selanjutnya dia bergegas menyusul Jarvis yang sudah pergi lebih dulu. Bianca terpaksa berlari agar bisa menyusul Jarvis.
“Kamu bawa mobil?” tanya Jarvis setelah Bianca berhasil mensejajarkan diri.
“Bawa pak.”
“Kamu ikuti aja mobil saya.”
“Kita mau kemana, pak?”
“Ngga usah banyak tanya.”
Jarvis segera meninggalkan Bianca lalu menuju mobilnya. Lagi-lagi Bianca hanya bisa menarik nafas panjang seraya mengusap dadanya. Gadis itu bergegas menuju mobilnya. Setelah dilihatnya mobil milik Jarvis mulai bergerak, dia pun melajukan kendaraannya.
Cukup lama Bianca mengikuti mobil Jarvis. Dari arah yang diambil, sepertinya pria itu menuju hotel Yudhistira. Benar saja, mobil milik pria itu berbelok memasuki pelataran parkir Yudhistira hotel. Bianca memarkirkan kendaraannya di samping mobil Jarvis. Kemudian gadis itu turun dan mengikuti sang dosen masuk ke lobi hotel.
Jarvis berjalan mendekati tangga. Dia memilih menuju lantai dua menggunakan tangga daripada lift. Pria itu terus berjalan menuju meeting room. Di depan meeting room Yodheya nampak sebuah meja dengan dua buah kursi. Dua orang gadis muda duduk di sana. mereka bertugas sebagai penerima tamu. Mata Bianca langsung memandangi seminar kit yang ada di dekat meja. Rupanya Jarvis akan menghadiri seminar.
“Selamat datang pak Jarvis,” sapa salah satu gadis muda itu.
“Materi saya sudah dibuat copy-nya?”
“Sudah, pak. Dan sudah dibagikan juga pada peserta.”
“Oke.”
“Silakan masuk, pak. Acara akan dimulai sebentar lagi.”
“Ini asisten saya. Bisa tolong kasih dia seminar kit?”
Gadis itu menganggukkan kepalanya. dia mengambilkan seminar kit lalu memberikannya pada Bianca. Setelah mengucapkan terima kasih, Bianca langsung mengikuti Jarvis masuk ke dalam ruangan.
“Saya jadi pembicara di seminar ini. Kamu ambil tempat duduk, dan simak jalannya seminar. Tema seminar kali ini bisa jadi bahan referensi skripsi kamu.”
“Iya, pak.”
Sesuai perintah, Bianca segera mengambil kursi di bagian depan. Sementara Jarvis terus berjalan menuju sudut ruangan. Salah satu panitia langsung menyambutnya. Tak sampai lima menit acara seminar mulai dibuka. Bianca membuka seminar kit yang diberikan tadi. Di dalamnya terdapat lembaran materi dari para pembicara, salah satunya adalah Jarvis. Tema yang diusung dalam seminar ini adalah tentang beasiswa. Sama seperti judul penelitiannya.
“Ternyata pak Jarvis baik juga. Secara ngga langsung dia bantuin gue,” gumam Bianca pelan.
Suasana menjadi hening ketika pembicara mulai menyampaikan materinya. Jalannya seminar terbagi atas tiga termin dan Jarvis akan memberikan materi di termin kedua. Bianca menyimak dengan serius jalannya seminar. Sesekali tangannya mencatat apa yang disampaikan pembicara.
Setelah Jarvis menyampaikan materinya, para peserta dipersilakan untuk istirahat sambil menikmati coffee break. Bianca memanfaatkan waktu untuk mengambil minuman dan camilan. Nampak Jarvis berjalan mendekati dirinya.
“Bapak mau kopi?” tawar Bianca.
“Boleh.”
“Kopi hitam atau pake krim?”
“Kopi hitam, gulanya sedikit aja.”
Dengan cepat Bianca mengambilkan kopi untuk Jarvis. Dia memasukkan sedikit gula kemudian mengaduknya. Diberikannya cangkir berisi kopi hitam pada dosen pembimbingnya. Jarvis mengambil kopi tersebut kemudian menemui pria yang tadi juga menjadi pembicara. Sementara Bianca kembali ke kursinya.
Setelah acara seminar berakhir, Jarvis tidak langsung pulang. Dia mengajak Bianca duduk di lobi. Pria itu mulai menerangkan apa saja yang harus diubah dalam usulan penelitiannya. Bianca menyimak dengan seksama penjelasan Jarvis.
“Kamu jelaskan dulu satu per satu variabel dalam penelitian kamu. Jangan lupa masukkan juga data yang kamu dapat dari perusahaan. Seperti jumlah penerima beasiswa setiap tahunnya dan juga pemagang. Jumlah berkurang atau bertambah.”
“Tapi kan penerima beasiswa dan pemagang jumlahnya tetap tiap tahun.”
“Iya, tapi yang melamar untuk magang atau untuk seleksi beasiswa tiap tahunnya ada perkembangan atau ngga. Lalu bagaimana sistem seleksinya, kamu cantumkan. Nanti coba kamu analisi apa ada trouble selama proses seleki, kalau ada apa sudah ditangani? Kalau belum bagaimana penanganannya?”
“Siap, pak.”
“Jangan lupa, cari teori yang sesuai dengan penelitian kamu. Buat kerangka pemikirannya juga.”
“Iya, pak.”
Bianca mencatat apa saja yang dikatakan oleh Jarvis. Ternyata bimbingan dengan dosen jutek itu lumayan menyenangkan juga. Pria itu menerangkan dengan begitu juga poin per poin hingga mudah bagi Bianca untuk menangkap apa yang diinginkan oleh Jarvis.
“Seminggu lagi kamu ketemu saya. Harus sudah selesai usulan penelitiannya.”
“Iya, pak.”
“Kalau masih ada kesalahan, nanti kita koreksi sama-sama.”
“Siap.”
“Kamu bisa pulang sendiri kan?”
“Bisa pak.”
“Ya udah, saya mau ke kampus lagi. Ingat, seminggu lagi harus sudah selesai.”
“Siap.”
Jarvis mengambil tasnya lalu keluar dari lobi hotel. Bianca masih berdiam di tempatnya. Dia masih mempelajari apa yang dikatakan Jarvis tadi. Tangannya mengetuk-ngetuk kertas di tangannya dengan pensli sambil bergumam pelan. tak lama kemudian, Dia membereskan barang-barangnya lalu meninggalkan lobi.
🌵🌵🌵
Baru tiga hari berjalan, Bianca sudah dipanggil lagi oleh Jarvis. Gadis itu segera menuju kampus dan langsung menuju perpustakaan. Setibanya di sana, sudah ada beberapa mahasiswa bimbingan Jarvis di sana. Rupanya kali ini Jarvis akan melakukan bimbingan masal. Total ada sepuluh bimbingannya. Ada yang sudah menyelesaikan UP dan sedang menyusun draft skripsi, ada juga yang baru menyusun usulan penelitian seperti Bianca.
Ke sepuluh orang tersebut menyimak apa yang disampaikan Jarvis. Rupanya pria itu tidak memberikan bimbingan untuk skripsi, tapi lebih kepada untuk memotivasi bimbingannya agar menyelesaikan tugas akhir dengan cepat.
“Musuh utama saat mengerjakan skripsi itu adalah rasa malas. Makanya kalian harus terus tekankan pada diri sendiri untuk melawan rasa malas itu. Kenapa saya selalu member target pada kalian untuk menyelesaikan tugas akhir, itu untuk memacu kalian semua dan membuat kalian melawan rasa malas yang melanda. Karena sekali saja kalian berhenti, maka cukup sulit untuk memulainya lagi.”
Kepala salah seorang mahasiswa mengangguk-angguk. Dia adalah kakak tingkat Bianca. Pria itu sudah mengajukan usulan penelitian sejak setahun lalu. Namun setelah menjalani usulan penelitian, dia menghilang. Awalnya ingin bersitirahat sejenak, namun akhirnya malah bablas dan vacuum. Ketika berniat melanjutkan skripsinya, ternyata pembimbingnya terdahulu melemparkannya pada Jarvis.
“Manaf, coba ceritakan tentang apa yang terjadi padamu.”
Pria bernama Manaf tersebut menceritakan apa yang menyebabkan skripsinya sampai tertunda selama setahun. Karena tidak ada yang mengingatkan, pria itu sampai tidak mempedulikan skripsinya lagi. Sampai akhirnya keluar ancaman dari orang tuanya untuk segera menyelesaikan skripsi.
“Jujur aja, saya bersyukur pembimbing saja diganti jadi pak Jarvis. Jadinya saya termotivasi lagi untuk menyelesaikan skripsi secepat mungkin.”
“Sekarang kamu sudah sampai mana?”
“Alhamdulillah sudah beres, pak. Tinggal revisi kalau bapak acc, saya langsung daftar sidang.”
Senyum terbit di wajah Jarvis. Untuk sesaat Bianca terpana melihat Jarvis. Bukan terpana melihat wajah tampannya, namun apa yang dilihatnya adalah momen langka. Belum pernah dirinya melihat Jarvis tersenyum.
“Oke sekian pertemuan hari ini. Yang sudah punya janji untuk menyetor, jangan lupa. Temui saya di ruang kerja saya sesuai waktu yang sudah saya tentukan.”
“Iya, pak.”
“Kalau bapak ngga ada di kampus, saya boleh ke rumah bapak?” tanya salah satu mahasiswi.
“Tidak usah. Kamu taruh saja di ruangan saya.”
“Siap, pak.”
Karena tidak ada yang perlu disampaikan lagi, Jarvis pun mengakhiri pertemuan. Bianca membereskan barang bawaannya lalu segera meninggalkan perpustakaan. Dia akan kembali ke rumah, melanjutkan pekerjaannya, menyusun usulan penelitian.
🌵🌵🌵
Waktu yang diberikan Jarvis sudah genap seminggu. Bianca kembali datang untuk memberikan hasil kerja kerasnya selama seminggu. Walau tidak yakin usulan penelitian yang dibuatnya sudah sempurna, tapi setidaknya lebih baik dari yang pertama. Gadis itu langsug menuju ruangan Jarvis.
Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, Bianca segera masuk ke dalam ruangan. Dia masih harus menunggu mahasiswa yang masih melakukan bimbingan. Setelah selesai, barulah dia mendekati meja Jarvis lalu mendudukkan diri di depannya. Bianca menyerahkan hasil usulan penelitiannya.
“Untuk latar belakang sudah bagus. teorinya juga sudah cukup. Hanya saja untuk kerangka pemikirannya harus direvisi lagi. Kamu harus cantumkan indikator yang digunakan.”
“Iya, pak.”
“Lalu buat metode penelitiannya, metode sampling yang mau kamu pakai kurang tepat.”
“Jadinya gimana pak?”
“Populasinya sudah ditentukan kan? Mereka yang memperoleh beasiswa dan pemagang di Maeswara Dunia. Jadi lebih baik kamu pakai sistem cluster. Cluster terbagi dua, dan pemilihannya bisa dibuat berdasarkan asal kampus mereka. Kamu bisa ambil sebagian atau bisa semua dengan mengambil perwakilan yang sama jumlahnya.”
“Oh oke, pak.”
“Perbaiki selama seminggu. Kalau tidak ada yang salah, saya langsung acc dan kamu bisa langsung seminar UP.”
“Siap, pak.”
KRIUK…
🌵🌵🌵
Perut siapa yang bunyi?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Ayuna
Baca aja aku pusing semangat Bianca
2025-01-17
1
DhilaZiya Ulyl
perutku mamake.... smoga pakJarvis gak ngeh🤣🤣😂😂
2024-11-04
1
mio amore
akhirnya bian kau bsa jga klo pun blm kelar
2024-10-08
1