Biar Takdir Bicara

Meeting yang digagas Dipa untuk membahas tentang pembentukan girl band baru saja selesai. Dari hasil meeting disepakati kriteria yang harus dipenuhi oleh calon talent agar bisa diterima sebagai member. Girl band besutan J&J Entertainment akan terdiri dari lima gadis muda berusia 18-22 tahun. Selain memiliki kemampuan vocal, mereka juga harus bisa menari dan berpenampilan menarik. Pendaftaran akan dibuka minggu depan dan audisi secara langsung akan dilaksanakan seminggu setelah pendaftaran.

Dipa keluar dari ruang meeting dan kembali ke ruangannya. Pria itu menghempaskan bokongnya di kursi kerja. Tangannya mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Sebuah pesan dari Juna masuk. Pria itu mengirimkan foto Cyntia, Gadis yang akan dikenalkan Juna padanya.

Terdengar helaan nafas panjang Dipa. Dua kali mengalami kegagalan saat kencan buta membuat pria itu kurang bersemangat untuk bertemu dengan Cyntia. Tapi dia juga tidak enak menolak niat baik sang grandpa. Akhirnya Dipa hanya bisa membalas dengan ucapan terima kasih dan menyetujui bertemu Cyntia akhir pekan ini.

Sebuah ketukan tertangkap telinga Dipa. Tak berapa kemudian pintu terbuka. Anjar, asistennya masuk ke dalam ruangan.

“Dip.. ada yang mau ketemu.”

“Siapa?”

“Cewek, namanya Aneska kalau ngga salah.”

“Neska,” gumam Dipa pelan.

“Dia ada di ruang tunggu khusus tamu.”

“Oke.”

Dipa berdiri kemudian keluar dari ruangannya. Dengan langkah pelan dia menuju ruang tunggu untuk tamu yang ada di dekat lift. Pria itu bertanya-tanya apa yang membuat Aneska ingin bertemu dengannya. Sesampainya di ruang tunggu, Dipa langsung masuk. Nampak Aneska sedang duduk menunggu. Dia langsung berdiri ketika melihat Dipa masuk.

“Neska?”

“Dipa ya?”

Keduanya saling berjabat tangan. Dipa mempersilakan Aneska untuk duduk kembali. Sejenak Dipa memandangi wanita di depannya. Aneska mengenakan blouse berwarna biru muda dipadu dengan rok pensil warna hitam. Rambutnya panjang melebihi bahu dan sedikit ikal di bagian bawah.

“Sebelumnya aku mau minta maaf karena ngga bisa bertemu dengan kamu hari Sabtu kemarin.”

“Ngga apa-apa. Aku dengar kamu lagi sakit. Sekarang gimana? Udah sembuh?”

“Alhamdulillah udah. Sebenarnya aku datang ke sini sekalian mau minta maaf soal Sandrina. Maaf kalau dia sudah merepotkan.”

Dipa hanya tersenyum kecil. Mendengar nama Sandrina membuatnya kembali mengingat bocil yang sudah membuatnya menggigil.

“Sandrina itu adik bungsuku. Aku juga ngga nyangka diam-diam dia menghubungiku atas namaku. Sekali lagi aku minta maaf.”

“Ngga apa-apa.”

“Selain soal Sandrina, aku juga mau membicarakan hal lain.”

“Soal apa?”

“Kamu pasti tahu tujuan kita dipertemukan untuk apa. Sebelumnya aku minta maaf, sebenarnya untuk saat ini aku belum memikirkan soal pernikahan. Jujur saja aku masih takut untuk berkomitmen.”

“Kalau boleh tahu, kenapa?”

“Sebenarnya dua tahun yang lalu aku sempat ingin menikah. tapi ternyata laki-laki yang sudah dua tahun berpacaran denganku diam-diam sudah menikah dengan sahabatku sendiri, mereka menikah karena sahabatku hamil duluan. Enam bulan setelah menikahi sahabatku, dia mau menikahiku juga. Untung saja semuanya terbongkar sebelum pernikahanku. Sejak saat itu aku jadi sedikit trauma. Aku tahu kamu laki-laki yang baik, tapi untuk saat ini aku masih belum berani berkomitmen, maaf.”

Dipa menganggukkan kepalanya. Dia cukup kagum dengan keberanian Aneska berkata jujur padanya. Wajar saja kalau wanita itu takut untuk berkomitmen karena apa yang dilakukan mantan kekasihnya sangat tidak pantas dan pasti sangat melukainya.

“Sebenarnya aku juga ngga bisa jawab iya dengan rencana perjodohan ini. karena menurutku, kita harus saling kenal lebih dulu. Aku juga ngga mau terburu-buru menolak karena siapa tahu ke depannya kita memang berjodoh. Begitu juga sebaliknya, tidak mau langsung mengiyakan, karena bukan tidak mungkin ke depannya kita tidak bisa bersama. Tapi menghargai apa yang dilakukan oleh kakek kita, bagaimana kalau kita berteman saja? Soal kita berjodoh atau tidak, kita serahkan saja pada takdir.”

“Baiklah, Dipa. Aku setuju.”

Kesepakatan terjadi di antara keduanya. Baik Dipa maupun Aneska sama-sama lega dan puas dengan keputusan yang diambil. Kalau pun mereka tidak berjodoh, yang penting mereka bisa tetap menjalin hubungan pertemanan.

🌵🌵🌵

“Bi!”

Bianca menolehkan kepalanya ketika mendengar sebuah suara memanggilnya. Ternyata Reni, sang sahabat yang memanggilnya. Bianca menghentikan langkahnya, menunggu Reni sampai ke dekatnya.

“Udah tahu siapa yang jadi pembimbing skripsi?” tanya Reni.

Saat ini Bianca sudah berada di semester akhir masa perkuliahannya. Semua mata kuliahnya sudah selesai diambil dan kini hanya tinggal menyelesaikan tugas akhirnya. Mereka diberi waktu untuk membuat judul seminggu yang lalu sambil menunggu siapa yang akan menjadi pembimbing mereka.

“Belum. Emang udah keluar pengumumannya?”

“Udah. Katanya ditempel di mading dekat ruang admin.”

“Ya udah, ayo kita lihat.”

Kedua gadis itu bergegas memasuki gedung fakultasnya. Mereka segera menuju ruang administrasi. Nampak beberapa mahasiswa teman seangkatan Bianca sudah berkumpul di depan mading. Mereka ingin melihat siapa pembimbing untuk tugas akhirnya. Bianca dan Reni mendekat dan langsung mencari nama mereka.

“Yes.. gue pembimbingnya bu Feni,” seru Reni.

Bianca masih mencari namanya. Matanya membulat ketika melihat nama pembimbingnya adalah dosen yang paling tidak disukainya.

“Demi apa pembimbing gue pak Jarvis!” pekik Bianca.

“Selamat ya, Bi. Selamat bengek, hihihi…”

“Duh ngga banget pembimbing gue. Bantuin dong, bisa ngga sih gue minta ganti?”

“Kayanya sih bisa deh. Waktu itu pernah kating kita minta ganti pembimbing terus di acc.”

“Minta gantinya ke siapa ya?”

“Ke bu Feni, kan bu Feni yang ngatur soal bimbingan,” celetuk salah satu teman Bianca.

“Antar gue ketemu bu Feni.”

Tanpa menunggu persetujuan Reni, Bianca langsung menarik tangannya. Keduanya segera menuju ruang dosen. Bianca benar-benar berharap Feni mau mengabulkan keinginannya untuk berganti dosen. Setelah mengetuk pintu, Bianca dan Reni masuk ke dalam. Mereka langsung menemui Feni.

“Siang, bu,” sapa Bianca.

“Siang. Ada apa?”

“Bu, saya boleh ganti pembimbing ngga?” tanya Bianca to the point.

“Memangnya pembimbing kamu siapa?”

“Pak Jarvis.”

Perbincangan mereka terjeda sebentar ketika ada mahasiswa yang masuk dan menyerahkan tugas pada Feni. Setelah mahasiswa itu pergi barulah Bianca melanjutkan ucapannya.

“Saya mohon bu, saya mau ganti pembimbing,” Bianca menangkupkan kedua tangannya.

“Memangnya kenapa kamu mau ganti pembimbing? Setahu saya pak Jarvis itu salah satu dosen terbaik di kampus ini. Dia selalu memberikan pengarahan yang baik pada semua mahasiswa bimbingannya, ngga ngasal. Harusnya kamu beruntung dibimbing beliau.”

“Tapi bu..”

“Masalah pemilihan dosen pembimbing sudah hasil diskusi semua dosen. Mereka diberikan jatah yang sama untuk membimbing mahasiswa. Kalau kamu minta berganti pembimbing, malah akan merusak sistem yang sudah disusun. Dan kalau ibu mengabulkan, bukan tidak mungkin nanti yang lain ikut-ikutan minta ganti dosen pembimbing.”

“Saya punya alasan tersendiri bu.”

“Oke kalau alasan kamu logis, mungkin saya akan pertimbangkan untuk mengganti pembimbingmu. Katakan apa alasannya?”

“Pak Jarvis itu perfeksionis, kalau apa-apa dia maunya zero mistake dan semuanya harus sempurna. Kebayang dong bu kalau saya dibimbing sama dia. Udah gitu orangnya jutek, jarang senyum, galak. Yang ada saya malah stress kalau bimbingan sama dia.”

Ketika Bianca sedang mengungkapkan alasannya, tiba-tiba saja Jarvis masuk ke dalam ruangan. Feni yang melihat kedatangan Jarvis berusaha menghentikan Bianca yang masih berbicara. Melihat arah pandang Feni, Reni pun menolehkan kepalanya. dia terkejut melihat pria yang sedang dibicarakan sahabatnya sudah berdiri di belakang mereka. Namun Bianca sama sekali tidak menyadarinya dan terus saja berbicara.

“Coba ibu bayangin kalau saya bimbingan sama pak Jarvis, bisa-bisa dua tahun baru beres skripsi saya gara-gara sikap perfeksionisnya dia. Coba ibu lihat ke belakang, apa ada bimbingan pak Jarvis yang bisa menyelesaikan skripsi dengan cepat? Ngga ada kan?”

“Euung.. Bian…”

Feni berusaha menghentikan ucapan Bianca. Reni juga menarik-narik ujung kemeja yang dikenakan sahabatnya itu. namun Bianca bergeming. Dengan lancar gadis itu terus mengatakan keburukan Jarvis.

“Jadi saya mohon dengan sangat, tolong ganti pembimbing saya. Saya pengen tetap waras selama mengerjakan skripsi. Kalau pak Jarvis jadi pembimbing saya, takutnya saya kena gangguan mental.”

“Kalau kamu sampai kena gangguan mental, saya yang akan membiayai kamu konsultasi ke psikolog.”

Bianca terjengit mendengar suara yang familiar di telinganya. Pelan-pelan dia membalikkan tubuhnya. Wajahnya sedikit tegang ketika melihat Jarvis sudah berdiri di depannya. Pria itu melihatnya dengan tatapan tajam.

Mamvus gue, guman Bianca dalam hati.

🌵🌵🌵

Hayo loh Bian, yang diomongin ada di belakang🤣

Terpopuler

Comments

Mur Wati

Mur Wati

itu orang gak layak di sebut sahabat gak usah di ingat lagi buang ke laut aja

2024-12-20

1

DhilaZiya Ulyl

DhilaZiya Ulyl

🤣🤣🤣🤣🤣🤣 jodohmu Biii

2024-11-03

1

mio amore

mio amore

mimpi ap kau bian smlm

2024-10-08

1

lihat semua
Episodes
1 Calon Untuk Dipa
2 Kencan
3 Bocil Bikin Menggigil
4 Biar Takdir Bicara
5 Dosen Pembimbing Killer
6 Pesona Dosen Baru
7 Kamu Bukan Jodohku
8 Hadirmu Alihkan Duniaku
9 Bertemu Calon Grandpa
10 Oppa
11 Kencan Salah Sasaran
12 Yolanda
13 Kena Bully
14 Berganti Taktik
15 Mulai Jinak
16 Bawaan Orok
17 Perjodohan Terselubung
18 Ikan Buntal vs Frankenstein
19 Pacar Dadakan
20 Namaste
21 Annoying Dipa
22 Kencan 24 Jam
23 Istri Tua dan Istri Muda
24 Kencan 24 Jam, Batal!
25 Rival
26 Dia Milikku
27 Raja Gombal
28 Kegalauan Keira
29 Jadi Sahabat atau Kekasih?
30 Jangan Merindukanku
31 Berburu Informasi
32 Jarvis Sakit
33 Bimbingan atau Pendamping?
34 Panas.. Panas.. Panas.. Hati ini
35 Sebuah Rasa
36 Penolakan Tegas
37 Pertengkaran
38 Perjaka Formalin
39 Di Luar Prediksi
40 Baju Couple
41 Mas dan Saya
42 Akting atau Nyata?
43 Hadiah Tanjakan dan Turunan
44 Kado Istimewa
45 Icih dan Kemod
46 Ganti Profesi
47 Detektif Arnav
48 Ketua Perserikatan Jomblo
49 Bocil Meresahkan
50 Seperti Monyet Lupa Kacangnya
51 Sepupu Durjana
52 Kejutan Dari Jarvis
53 Atasan Tak Terduga
54 The Clever, Emma
55 Calon Menantu
56 Melewati Batas Maksimum
57 Penerjemah Bikin Pusing
58 Ribut Lagi
59 Konferensi Meja Bundar
60 Bad News
61 Fortune Cookies
62 Ketegangan di Meja Makan
63 Boyband
64 Penghulu Bikin Malu
65 Memulai Lebih Dulu
66 Kecanduan Kamu
67 Solusi
68 Sarange
69 Persiapan Calon Pengantin
70 Berharap Cemburu
71 Pria Dewasa
72 Adu Kecepatan
73 Pantang Menyerah
74 Seragam Bikin Geram
75 Duet Calon Besan
76 Celetukan Bikin Malu
77 Belajar Mesra
78 Sedikit Bicara, Banyak Bekerja
79 Romantis Ala Jarvis
80 Pukulan Telak
81 Penyesalan Mendalam
82 Tak Ada Kebohongan yang Abadi
83 Suami Mandiri
84 Bumil yang Manja
85 Rahmat Bukan Rahman
86 Sumpah Gilang
87 Pretty Woman
88 Pawang Emma
89 Bandulan Bertemu Celengan Semar
90 Dendam Salah Alamat
91 Pertarungan
92 Takut Kehilangan
93 Ibu Tiri Kejam
94 Penyesalan Mendalam
95 Embel-embel
96 Menuju Hari H
97 Jalan-jalan
98 Keinginan Ibu Hamil
99 Lawan Seimbang
100 Akhir Bahagia
101 Bonus Chapter : Everlasting Happiness
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Calon Untuk Dipa
2
Kencan
3
Bocil Bikin Menggigil
4
Biar Takdir Bicara
5
Dosen Pembimbing Killer
6
Pesona Dosen Baru
7
Kamu Bukan Jodohku
8
Hadirmu Alihkan Duniaku
9
Bertemu Calon Grandpa
10
Oppa
11
Kencan Salah Sasaran
12
Yolanda
13
Kena Bully
14
Berganti Taktik
15
Mulai Jinak
16
Bawaan Orok
17
Perjodohan Terselubung
18
Ikan Buntal vs Frankenstein
19
Pacar Dadakan
20
Namaste
21
Annoying Dipa
22
Kencan 24 Jam
23
Istri Tua dan Istri Muda
24
Kencan 24 Jam, Batal!
25
Rival
26
Dia Milikku
27
Raja Gombal
28
Kegalauan Keira
29
Jadi Sahabat atau Kekasih?
30
Jangan Merindukanku
31
Berburu Informasi
32
Jarvis Sakit
33
Bimbingan atau Pendamping?
34
Panas.. Panas.. Panas.. Hati ini
35
Sebuah Rasa
36
Penolakan Tegas
37
Pertengkaran
38
Perjaka Formalin
39
Di Luar Prediksi
40
Baju Couple
41
Mas dan Saya
42
Akting atau Nyata?
43
Hadiah Tanjakan dan Turunan
44
Kado Istimewa
45
Icih dan Kemod
46
Ganti Profesi
47
Detektif Arnav
48
Ketua Perserikatan Jomblo
49
Bocil Meresahkan
50
Seperti Monyet Lupa Kacangnya
51
Sepupu Durjana
52
Kejutan Dari Jarvis
53
Atasan Tak Terduga
54
The Clever, Emma
55
Calon Menantu
56
Melewati Batas Maksimum
57
Penerjemah Bikin Pusing
58
Ribut Lagi
59
Konferensi Meja Bundar
60
Bad News
61
Fortune Cookies
62
Ketegangan di Meja Makan
63
Boyband
64
Penghulu Bikin Malu
65
Memulai Lebih Dulu
66
Kecanduan Kamu
67
Solusi
68
Sarange
69
Persiapan Calon Pengantin
70
Berharap Cemburu
71
Pria Dewasa
72
Adu Kecepatan
73
Pantang Menyerah
74
Seragam Bikin Geram
75
Duet Calon Besan
76
Celetukan Bikin Malu
77
Belajar Mesra
78
Sedikit Bicara, Banyak Bekerja
79
Romantis Ala Jarvis
80
Pukulan Telak
81
Penyesalan Mendalam
82
Tak Ada Kebohongan yang Abadi
83
Suami Mandiri
84
Bumil yang Manja
85
Rahmat Bukan Rahman
86
Sumpah Gilang
87
Pretty Woman
88
Pawang Emma
89
Bandulan Bertemu Celengan Semar
90
Dendam Salah Alamat
91
Pertarungan
92
Takut Kehilangan
93
Ibu Tiri Kejam
94
Penyesalan Mendalam
95
Embel-embel
96
Menuju Hari H
97
Jalan-jalan
98
Keinginan Ibu Hamil
99
Lawan Seimbang
100
Akhir Bahagia
101
Bonus Chapter : Everlasting Happiness

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!