“Hah?” kompak pandawa lima.
Bukan hanya Abi, Juna, Jojo dan Cakra yang terkejut. Tapi Kevin, pria yang mengenalkan Yolanda pada Dipa juga dibuat terkejut. Pria itu sama sekali tidak menyangka kalau Yolanda yang menurutnya cantik, supel dan pintar ternyata adalah wanita buatan. Kevin tetap berusaha mempertahankan wajah datarnya ketika para sahabat melihat padanya.
“Ya ampun, Vin.. emang kamu ngga bisa bedai mana perempuan tulen, mana yang abal-abal?” ceplos Juna.
“Harap maklum, dari dulu sampai sekarang dia cuma kenal satu orang perempuan, Rindu doang,” sambung Jojo.
“Keterlaluan kamu, Vin. Masa ngasih jodoh buat cucuku perempuan berbatang?” lanjut Cakra.
“Emang kamu ngga lihat temboloknya?” timpal Abi.
“Jakun, kek. Kalau tembolok kan ayam,” ralat Dipa.
“Ngga ada jakunnya,” jawab Kevin sambil melotot.
“Iya kek, emang dia udah ngga ada jakun. Aslinya emang cantik banget. Aku malah ngga ngira kalau dia laki. Cuma aneh aja pas makan semua digabres, udah kaya kuli hahaha..”
“Nih fotonya. Coba lihat, kalian pasti juga ngga nyangka kalau dia itu laki-laki.”
Tak mau terus disalahkan, Kevin memperlihatkan foto Yolanda pada keempat sahabatnya. Kompak Abi dan yang lain langsung memperhatikan foto tersebut. Harus diakui secara fisik, Yolanda memang terlihat seperti perempuan tulen. Kevin memperlihatkan raut penuh kemenangan demi membuktikan alibinya kalau dia juga sama tertipu seperti Dipa.
“Dia operasi di mana?” tanya Cakra penasaran.
“Di Thailand katanya, eyang.”
“Kenapa nanya-nanya? Mau ikutan juga? itu keriput udah ngga bisa dihilangin,” ceplos Abi.
“Ck.. aku tuh laki-laki tulen. Gagah, sudah terbukti kejantanannya. Buktinya aku udah punya dua anak dan banyak cucu,” bangga Cakra.
“Tapi kalau ngga dibantuin, belum tentu Sekar mau sama kamu,” balas Abi.
“Ngga usah mulai.”
Tanpa rasa bersalah sama sekali, Abi hanya tertawa saja. Kalau dulu dirinya tidak mengerjai Cakra tentang pernikahan pria itu dengan saudara sepupunya, mungkin Sekar tidak akan mengakui perasaannya pada Cakra.
“Tapi harusnya kamu cari tahu dulu soal Yolanda, jangan main jodohin aja sama cucuku,” Cakra kembali ke topik Yolanda.
“Yang penting niatku baik. mau mencarikan jodoh buat Dipa.”
“Tapi jangan asal comot juga dong,” timpal Jojo.
“Yang penting udah nyariin, jadi ngga bakal kena bully hahaha..” sahut Juna.
“Tetap aja ujung-ujungnya kena bully juga. Soalnya yang dikenalin perempuan KW, hahaha..”
Abi tertawa puas habis meledek Kevin. Suami dari Rindu itu hanya mendengkus saja. Padahal tadinya dia mau memamerkan calon yang dipilihkan olehnya. Tidak disangka malah menuai hujatan dari para sahabatnya. Dipa tak ayal ikut tertawa apalagi ketika melihat wajah Kevin yang tidak berubah walau sudah diledek habis-habisan oleh yang lain.
“Sudah kamu sama anaknya om Arnav aja. Namanya Keira, tapi sekarang dia lagi di Perancis. Lagi jadi perwakilan perusahaannya ikut seminar pariwisata di sana. Mungkin minggu depan baru pulang.”
“Emang dia kerjanya apa, kek?”
“Dia kerja di perusahaan travel. Kadang dia ikutan jadi tour guide kalau lagi high season. Anaknya bukan hanya cantik, tapi fasih beberapa bahasa. Bisa bahasa Inggris, China, Jepang, dan India.”
“Wah pinter banget dong, kek.”
“Iya, dong. Kakek kalau ngasih calon tuh ngga kaleng-kaleng. Ngga kaya yang onoh,” Abi menunjuk Kevin dengan jempolnya dan pria itu hanya mencibir saja.
“Narsis,” desis Kevin kesal.
“Nanti waktunya kakek yang atur.”
“Eh ngga, kek. Aku ngga mau ketemuan yang diatur kaya kencan gitu, udah trauma aku.”
“Terus maunya gimana?”
“Gini aja. Kalau dia jadi tour guide, nanti aku ikut rombongan dia. Pengen tahu aja dulu kaya gimana dia, jangan langsung dikenalin. Nanti malah zonk lagi.”
“Ya udah. Nanti kakek telepon om Arnav dulu.”
“Oke, kek. Kalau gitu aku pulang dulu ya. Capek nih, mau istirahat.”
Dipa berdiri kemudian mencium pungung tangan pandawa lima satu per satu. Pria itu kemudian meninggalkan kediaman Abi. Dia ingin segera pulang ke rumah untuk beristirahat. Beberapa hari ini dia selalu lembur karena J&J Entertainment memang sedang mengerjakan proyek baru.
🌵🌵🌵
Bianca turun dari mobilnya yang sudah terparkir di area parkir kampusnya. Untuk ketiga kalinya dia akan menjalani bimbingan dengan Jarvis. Tiga hari yang lalu dia sudah menyerahkan 20 judul skripsi. Dan yang membuatnya shock, ternyata Jarvis menolak semua judul yang dibuat olehnya. Alasannya pun bermacam-macam. Gadis itu kembali diminta membuat judul lain.
Demi bisa mendapat persetujuan dari Jarvis, Bianca sampai meminta bantuan para sepupunya. Dia mendatang Zar, Ervano, Irzal, Rakan, Dipa dan juga kakaknya, Arya. Masing-masing dari mereka memberikan ide untuk judul skripsinya. Dan sekarang dia sudah siap bertemu lagi dengan Jarvis dengan membawa enam buah judul baru.
TOK
TOK
TOK
“Masuk!”
Bianca membuka pintu ruangan sekretaris prodi. Gadis itu langsung mendekati meja Jarvis. Setelah dipersilakan duduk, Bianca mengeluarkan kertas dari map dokumen lalu memberikannya pada Jarvis. Untuk sesaat pria itu membaca enam buah judul baru yang diberikan oleh mahasiswi bimbingannya.
“Ini pasti bukan kamu yang buat,” ceplos Jarvis.
“Buatan saya, pak.”
“Masa?” Jarvis melihat pada Bianca sambil mengernyitkan keningnya.
“Saya emang habis konsultasi sama sepupu saya. Dan mereka kasih ide buat saya.”
“Ini ide dari enam orang berbeda?”
“Iya, pak. Ngga penting siapa yang kasih ide, yang penting judulnya siap. Iya kan?”
“Dua judul ini bagus.”
Jarvis melingkari judul hasil ide Irzal dan Zar. Senyum mengembang di wajah Bianca. Tidak sia-sia dia bersusah payah mengabulkan keinginan Zar dan Irzal yang cukup aneh dan nyeleneh, pada akhirnya judulnya di acc.
“Jadi saya boleh pilih salah satunya?”
“Judulnya cuma pake dua variabel, coba digabung jadi tiga variabel.”
“Hah? Please pak, jangan mempersulit saya. Dua variabel aja udah buat saya pusing, apalagi tiga. Kasihanilah saya pak.”
Sebisa mungkin Bianca membuat suaranya sememelas mungkin. Wajahnya juga dibuat sendu. Namun ternyata itu tidak berguna bagi Jarvis. Pria itu tetap memintanya melakukan penelitian dengan tiga variabel. Akhirnya Bianca hanya bisa pasrah saja. Jarvis kemudian menggabungkan judul dari Zar dan Irzal. Dikarenakan mereka berdua mengajukan satu variabel yang sama, ketika digabung bisa menjadi tiga variabel.
“Berapa lama kamu bisa buat usulan penelitian?”
“Ehm.. satu bulan pak.”
“Kelamaan! Dua minggu!”
“Tiga minggu deh, pak.”
“Seminggu!”
“Kok malah berkurang?”
“Kalau kamu protes lagi, jatahnya jadi tiga hari.”
“Ya udah seminggu.”
Lagi-lagi Bianca harus pasrah menerima keputusan dari Jarvis. Ingin rasanya dia berteriak sambil mencakar wajah datar pria di depannya.
“Kamu ngapain masih di sini?”
“Emang udah selesai pak?”
“Udah. Kamu ketemu lagi sama saya satu minggu lagi!”
Tanpa mengatakan apa pun, Bianca segera meninggalkan ruangan Jarvis. Gadis itu berjalan menjauh namun masih terdengar ocehan dari mulutnya.
“Dasar dosen yang tidak berperasaan, nyebelin banget sih. Gini nih kalau kelamaan jomblo, ngelampiasinnya ngenesnya ke orang lain.”
“Saya dengar ya!”
Bianca terjengit ketika mendengar suara Jarvis di belakangnya.
🌵🌵🌵
Nah loh🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Mur Wati
baca lagi aku suka bianca sama jarvis ...jarvis kan udah paham bian pasti misah misuh jadi langsung di buntuti😃😃
2025-01-07
1
mio amore
😂😂😂
2024-10-08
1
MunaRizka
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-09-29
1