Bertemu Calon Grandpa

Selesai makan, Attar mengajak Suci meninggalkan The Orchid. Dikarenakan Suci tidak membawa mobil, maka dia akan pulang bersama dengan Attar. Lagi pula pria itu sudah menawarkan untuk ikut mencuci film hasil jepretannya tadi. Sesampainya di pelataran parkir, Attar mengajak Suci ke pinggir jalan lebih dulu.

“Ini filmnya sisa dua. Gimana kalau kamu habisin dulu. Coba kamu ambil foto dengan cara panning. Tahu kan?”

“Lupa lagi, hehehe.. bapak jelasin lagi boleh?”

Sebuah senyum tercetak di wajah Attar. Pria itu menerangkan dengan singkat apa yang dimaksud dengan teknik panning. Teknik ini digunakan untuk menangkap objek yang bergerak. Kepala Suci mengangguk tanda mengerti. sesuai petunjuk Attar, gadis itu mengatur shutter speed lebih dulu, lalu mulai mengarahkan kameranya.

Suci mengarahkan kamera di satu titik. Ketika ada mobil yang melintas di titik yang sudah dipilihnya, barulah dia menekan shutter. Dua kali dia melakukan hal tersebut, lalu memberikan kamera kembali pada pemiliknya.

“Oke.. kalau gitu sekarang kita ke galeri.”

Hanya anggukan kepala saja yang diberikan oleh Suci. Gadis itu segera masuk ke dalam mobil Attar. Tak berapa lama kendaraan roda empat pria itu mulai bergerak maju. Sepanjang perjalanan mereka isi sambil berbincang. Tak terasa perjalanan mereka berakhir ketika mobil yang dikendarai Attar berhenti di depan sebuah bangunan bercat hitam putih.

Suci turun dari mobil, lalu matanya melihat bangunan di depannya. Di bagian depan bangunan terdapat papan nama bertuliskan KIM GALERY. Attar jalan mendahului Suci kemudian membuka pintu galeri. Beberapa bingkai berisi foto terpajang di sepanjang dinding. Selain itu, ada pula foto yang sengaja dijepit di sebuah tali yang tergantung.

“Ini semua hasil foto bapak?”

“Ngga semuanya, sebagian karya papa. Ada juga karya teman-teman. Nanti karya kalian yang bagus bisa juga dipajang di sini.”

“Kalau galeri gini menghasilkan ngga sih, pak?”

Terdengar tawa kecil Attar. Pria itu tidak langsung menjawab. Dia membiarkan dulu Suci menikmati foto-foto yang terpajang di sana.

“Galeri ini kadang disewa oleh fotografer untuk memamerkan karyanya. Biasanya mereka yang sengaja membuat pameran untuk dijual hasil karyanya.”

“Karya bapak pernah dijual juga?”

“Pernah.”

Suci meneruskan perjalanannya menikmati deretan foto yang terpajang. Kemudian langkahnya terhenti di depan sebuah foto yang menampilkan seorang wanita cantik. Wanita tersebut mengenakan gaun pengantin panjang yang menjuntai sampai ke lantai dengan latar belakang danau yang sangat indah.

“Ini foto siapa? Calonnya bapak?”

“Hahaha.. bukan. Saya belum punya calon. Dia ini model. Pemilik butik minta saya membuat foto untuk promosi produk terbarunya.”

“Itu danaunya indah banget, pak. Lokasinya di mana?”

“Itu di Jepang.”

“Wah keren banget.”

“Ayo kita ke atas. Kamu mau ikut nyetak foto kan?”

“Siap!”

Dengan bersemangat Suci mengikuti Attar naik ke lantai dua. Pria itu terus berjalan menuju ruangan yang paling ujung. Ruangan dengan tembok bercat hitam itu dilengkapi dengan beberapa peralatan di dalamnya. Selain itu juga terdapat bak seperti bak untuk mencuci piring. Air memang dibutuhkan dalam proses mencuci dan mencetak film.

Attar menaruh kamera yang dibawanya. Kemudian dia membuka kunci agar bisa memutar film. Setelah proses rewind selesai, pria itu mengeluarkan roll film dari dalam kamera. Pria itu mematikan lampu ruangan dan ruangan hanya diterangi lampu kecil berwarna merah. Selanjutnya dia menyiapkan tiga buah tray yang sudah diisi cairan kimia seperti developer dan fixer.

Suci terus memperhatikan apa yang dilakukan Attar. Pria itu mengeluarkan film dari rollnya. Lalu membawanya ke mesin enlarger. Mesin enlarger digunakan untuk melakukan penyinaran pada klise film untuk dicetak di kertas foto. Setelah melakukan penyinaran, dia memasukkan lembaran kertas foto ke dalam cairan developer, dilanjut ke fixer dan terakhir lembaran foto ditaruh di bawah pancuran air yang sudah ditaruh ember. Air yang mengalir digunakan untuk membersihkan sisa cairan kimia agar foto tidak berubah kuning.

Satu jam kemudian proses pencetakan selesai. Attar membiarkan semua foto yang sudah dicetak masih berada di dalam ember yang terdapat air mengalir dari pancuran. Kemudian diambil satu per satu foto dan digantung menggunakan penjepit jemuran.

“Selesai.”

“Dikeringkannya berapa lama, pak?”

“Tunggu aja sekitar satu atau dua jam.”

“Wah lama juga ya. Aku penasaran dengan hasilnya.”

“Besok kamu bisa ke sini buat lihat hasilnya.”

“Oke.”

“Sekarang aku antar pulang.”

Kepala Suci mengangguk cepat. Pengalaman hari ini benar-benar luar biasa. Dia banyak belajar tentang fotografi. Mata kuliah yang tidak disukainya saat kuliah. Namun bersama orang yang tepat, lambat laun dia jadi mulai menyukai fotografi.

“Pak, aku kok jadi ketagihan hunting,” ujar Suci saat sudah berada di dalam mobil.

“Kapan-kapan kita bisa hunting lagi.”

“Tapi nanti aku yang cetak filmnya ya.”

“Boleh.”

“Ehm.. beli kamera SLR di mana ya?”

“Masih banyak yang jual. Tapi kamu bisa pakai punyaku. Aku punya beberapa kamera SLR yang bisa kamu pakai.”

“Ya ampun bapak baik banget sih. Yakin belum punya calon pak?” goda Suci.

“Yakin. Emangnya kamu mau jadi calonku?” tanya Attar setengah bercanda.

Hanya senyuman saja yang diberikan oleh Suci. Namun tak ayal wajahnya memerah juga. Pria di sampingnya yang berstatus sebagai dosen ini memiliki wajah yang rupawan. Hampir semua mahasiswi yang satu kelas dengannya menyukai pria ini. wajar saja kalau Suci merasa malu sekaligus senang mendengar kelakaran Attar. Apalagi statusnya sekarang adalah jomblo ngenes yang ditinggal nikah kekasihnya.

“Rumah kamu di mana?” tanya Attar membuyarkan lamunan Suci.

“Daerah Dago, pak. Dari pasar simpang terus ke atas.”

“Oke..”

Attar mengarahkan kendaraannya menuju daerah Dago atas. Sesekali dia melihat pada Suci yang duduk di sampingnya. Tidak disangka hari ini bisa menghabiskan waktu dengan perempuan yang sudah berhasil memikat hatinya. Dan yang lebih menggembirakan, ternyata gadis itu sekarang sudah sendiri. Jadi peluangnya untuk mendekati Suci lebih besar. Tentu saja Attar tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

Mobil yang dikemudikan Attar berbelok memasuki perumahan di mana Suci tinggal. Dia terus mengarahkan kendaraan dosennya menuju rumah sang kakek yang juga menjadi tempat tinggal orang tuanya. Juna memang meminta Ezra tetap tinggal bersamanya setelah menikah.

“Nah rumahku yang pagar hitam itu, pak.”

Attar menghentikan mobilnya di depan rumah berpagar hitam. Sejenak Attar memandangi rumah besar dari balik kaca jendelanya. Ternyata Suci anak orang berada. Pria itu segera melepaskan sabuk pengamannya lalu ikut turun bersama Suci.

“Makasih ya, pak.”

“Sama-sama. Ayo aku antar sampai ke depan pintu rumah.”

“Ngga usah repot-repot, pak.”

“Aku ngga repot kok.”

Karena Attar terus memaksa, mau tidak mau, Suci pun mengijinkan. Bersama dengan Attar, gadis itu memasuki pekarangan rumah lalu berhenti di depan pintu yang tertutup. setelah memijit bel, tak berapa lama kemudian pintu terbuka. Juna yang membukakan pintu terdiam memandangi Attar yang berdiri di samping cucunya.

“Assalamu’alaikum grandpa,” salam Suci.

“Waalaikumussalam. Dari mana saja kamu?”

“Habis jalan-jalan, grandpa.”

“Kamu anaknya Denis kan?” tanya Juna.

“Iya, grandpa,” Attar mengikuti cara panggil Suci untuk kakeknya. Lalu dia meraih tangan Juna dan mencium punggung tangannya.

“Kok grandpa tahu?”

“Mukanya udah kaya orang Korea, hahaha.. ayo masuk. Eh namamu siapa? Kakek lupa.”

“Attar, grandpa.”

“Ayo masuk, Attar.”

Attar segera masuk lalu mengikuti Juna menuju ruang tengah. Setelah anak Nick menikah dengan keluarga Hikmat, ikatan persaudaraan Nick dan para sahabatnya semakin bertambah banyak. Sahabat-sahabat Nick juga sudah dianggap keluarga oleh keluarga Hikmat dan Ramadhan.

“Kegiatanmu apa sekarang?”

“Masih kerja di Style magazine. Kebetulan sekarang saya juga diminta jadi dosen fotografer di kampus Suci kuliah.”

“Dia dosenku, grandpa. Kan aku ngulang matkul fotografi. Nah pak Attar ini dosennya.”

“Ini kan di rumah, jangan panggil bapak. Lagian Attar masih muda. Panggilnya pakai sebutan lain.”

“Sebutan apa, grandpa?”

“Terserah kamu. Mau aa, akang, mas, abang, uda. Bebas aja, benar kan Attar?”

“Aku ngikut aja, grandpa.”

“Suci. Buatkan minuman buat Attar, sama bawakan camilan.”

“Siap, grandpa.”

Suci beranjak dari duduknya. Gadis itu segera ke dapur untuk membuatkan minuman untuk tamunya. Sementara di ruang tengah, Juna masih berbincang dengan Attar. Pria itu menanyakan kabar Denis dan yang lain.

“Kalian tadi kemana aja?”

“Tadi aku lagi ke The Orchid, kebetulan ketemu Suci di sana. Dia lagi bengong aja, makanya aku ajak hunting foto. Alhamdulillah ternyata dia senang.”

“Suci lagi patah hati. Dia baru aja putus dari pacarnya.”

“Iya, tadi Suci juga udah cerita.”

“Masa? Tumben biasanya dia jarang cerita masalah pribadinya sama orang yang baru dikenal.”

“Yang benar, grandpa?”

“Iya. Tapi sepertinya buat kamu pengecualian.”

Senyum tercetak di wajah Attar. Sebuah harapan muncul di hatinya. Siapa tahu Suci sudah terpikat juga olehnya. Juna memperhatikan wajah pria di sebelahnya dengan seksama. Sebagai yang sudah berpengalaman, dia tahu kalau Attar menyukai cucunya. Sinyal sebagai pak comblang langsung menyala kuat. Pria itu beringsut lebih mendekat pada Attar.

“Kamu suka sama Suci ya?”

“Mau grandpa bantu?” tanya Juna lagi ketika Attar belum menjawab pertanyaannya.

🌵🌵🌵

Juna gatel pengen jadi pak comblang😂

Terpopuler

Comments

Ayuna

Ayuna

Ohh Anaknya Denis yg visualnya Riky harun ya yg fotografer jga

2025-01-17

1

Mur Wati

Mur Wati

ada job baru nih para tetua

2024-12-21

1

Yang Herdayani

Yang Herdayani

juna dah ketularan abi

2024-11-14

1

lihat semua
Episodes
1 Calon Untuk Dipa
2 Kencan
3 Bocil Bikin Menggigil
4 Biar Takdir Bicara
5 Dosen Pembimbing Killer
6 Pesona Dosen Baru
7 Kamu Bukan Jodohku
8 Hadirmu Alihkan Duniaku
9 Bertemu Calon Grandpa
10 Oppa
11 Kencan Salah Sasaran
12 Yolanda
13 Kena Bully
14 Berganti Taktik
15 Mulai Jinak
16 Bawaan Orok
17 Perjodohan Terselubung
18 Ikan Buntal vs Frankenstein
19 Pacar Dadakan
20 Namaste
21 Annoying Dipa
22 Kencan 24 Jam
23 Istri Tua dan Istri Muda
24 Kencan 24 Jam, Batal!
25 Rival
26 Dia Milikku
27 Raja Gombal
28 Kegalauan Keira
29 Jadi Sahabat atau Kekasih?
30 Jangan Merindukanku
31 Berburu Informasi
32 Jarvis Sakit
33 Bimbingan atau Pendamping?
34 Panas.. Panas.. Panas.. Hati ini
35 Sebuah Rasa
36 Penolakan Tegas
37 Pertengkaran
38 Perjaka Formalin
39 Di Luar Prediksi
40 Baju Couple
41 Mas dan Saya
42 Akting atau Nyata?
43 Hadiah Tanjakan dan Turunan
44 Kado Istimewa
45 Icih dan Kemod
46 Ganti Profesi
47 Detektif Arnav
48 Ketua Perserikatan Jomblo
49 Bocil Meresahkan
50 Seperti Monyet Lupa Kacangnya
51 Sepupu Durjana
52 Kejutan Dari Jarvis
53 Atasan Tak Terduga
54 The Clever, Emma
55 Calon Menantu
56 Melewati Batas Maksimum
57 Penerjemah Bikin Pusing
58 Ribut Lagi
59 Konferensi Meja Bundar
60 Bad News
61 Fortune Cookies
62 Ketegangan di Meja Makan
63 Boyband
64 Penghulu Bikin Malu
65 Memulai Lebih Dulu
66 Kecanduan Kamu
67 Solusi
68 Sarange
69 Persiapan Calon Pengantin
70 Berharap Cemburu
71 Pria Dewasa
72 Adu Kecepatan
73 Pantang Menyerah
74 Seragam Bikin Geram
75 Duet Calon Besan
76 Celetukan Bikin Malu
77 Belajar Mesra
78 Sedikit Bicara, Banyak Bekerja
79 Romantis Ala Jarvis
80 Pukulan Telak
81 Penyesalan Mendalam
82 Tak Ada Kebohongan yang Abadi
83 Suami Mandiri
84 Bumil yang Manja
85 Rahmat Bukan Rahman
86 Sumpah Gilang
87 Pretty Woman
88 Pawang Emma
89 Bandulan Bertemu Celengan Semar
90 Dendam Salah Alamat
91 Pertarungan
92 Takut Kehilangan
93 Ibu Tiri Kejam
94 Penyesalan Mendalam
95 Embel-embel
96 Menuju Hari H
97 Jalan-jalan
98 Keinginan Ibu Hamil
99 Lawan Seimbang
100 Akhir Bahagia
101 Bonus Chapter : Everlasting Happiness
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Calon Untuk Dipa
2
Kencan
3
Bocil Bikin Menggigil
4
Biar Takdir Bicara
5
Dosen Pembimbing Killer
6
Pesona Dosen Baru
7
Kamu Bukan Jodohku
8
Hadirmu Alihkan Duniaku
9
Bertemu Calon Grandpa
10
Oppa
11
Kencan Salah Sasaran
12
Yolanda
13
Kena Bully
14
Berganti Taktik
15
Mulai Jinak
16
Bawaan Orok
17
Perjodohan Terselubung
18
Ikan Buntal vs Frankenstein
19
Pacar Dadakan
20
Namaste
21
Annoying Dipa
22
Kencan 24 Jam
23
Istri Tua dan Istri Muda
24
Kencan 24 Jam, Batal!
25
Rival
26
Dia Milikku
27
Raja Gombal
28
Kegalauan Keira
29
Jadi Sahabat atau Kekasih?
30
Jangan Merindukanku
31
Berburu Informasi
32
Jarvis Sakit
33
Bimbingan atau Pendamping?
34
Panas.. Panas.. Panas.. Hati ini
35
Sebuah Rasa
36
Penolakan Tegas
37
Pertengkaran
38
Perjaka Formalin
39
Di Luar Prediksi
40
Baju Couple
41
Mas dan Saya
42
Akting atau Nyata?
43
Hadiah Tanjakan dan Turunan
44
Kado Istimewa
45
Icih dan Kemod
46
Ganti Profesi
47
Detektif Arnav
48
Ketua Perserikatan Jomblo
49
Bocil Meresahkan
50
Seperti Monyet Lupa Kacangnya
51
Sepupu Durjana
52
Kejutan Dari Jarvis
53
Atasan Tak Terduga
54
The Clever, Emma
55
Calon Menantu
56
Melewati Batas Maksimum
57
Penerjemah Bikin Pusing
58
Ribut Lagi
59
Konferensi Meja Bundar
60
Bad News
61
Fortune Cookies
62
Ketegangan di Meja Makan
63
Boyband
64
Penghulu Bikin Malu
65
Memulai Lebih Dulu
66
Kecanduan Kamu
67
Solusi
68
Sarange
69
Persiapan Calon Pengantin
70
Berharap Cemburu
71
Pria Dewasa
72
Adu Kecepatan
73
Pantang Menyerah
74
Seragam Bikin Geram
75
Duet Calon Besan
76
Celetukan Bikin Malu
77
Belajar Mesra
78
Sedikit Bicara, Banyak Bekerja
79
Romantis Ala Jarvis
80
Pukulan Telak
81
Penyesalan Mendalam
82
Tak Ada Kebohongan yang Abadi
83
Suami Mandiri
84
Bumil yang Manja
85
Rahmat Bukan Rahman
86
Sumpah Gilang
87
Pretty Woman
88
Pawang Emma
89
Bandulan Bertemu Celengan Semar
90
Dendam Salah Alamat
91
Pertarungan
92
Takut Kehilangan
93
Ibu Tiri Kejam
94
Penyesalan Mendalam
95
Embel-embel
96
Menuju Hari H
97
Jalan-jalan
98
Keinginan Ibu Hamil
99
Lawan Seimbang
100
Akhir Bahagia
101
Bonus Chapter : Everlasting Happiness

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!