Tiga hari kemudian Bianca datang ke kampus. Gadis itu mau tidak mau mengikuti perintah Jarvis yang memintanya menyerahkan hasil revisi lebih cepat dari jadwal yang seharusnya. Dia sadar kalau masih banyak kekurangan dalam revisi kali ini. Namun dia bersikap masa bodoh. Bukankah Jarvis yang sudah seenaknya mengganti jadwal pertemuan?
Saat sampai di depan ruangan Jarvis, Bianca masih harus menunggu. Selain dirinya sudah ada dua orang yang mengantri. Ternyata hari ini cukup banyak mahasiswa yang melakukan bimbingan padanya. Bianca mendudukkan diri di bangku yang ada di depan ruang sekretaris prodi. Di dalam, Jarvis masih bertemu dengan bimbingannya yang lain.
Setengah jam lamanya dia menunggu sampai akhirnya gilirannya tiba. Baru saja dia hendak masuk ke dalam ruangan, tiba-tiba saja Jarvis keluar. Di bahu pria itu tersampir tas kerjanya. Bianca hanya melongo saja melihat Jarvis yang bersiap untuk pulang. Dia langsung menghalangi di depan pintu.
“Bapak mau kemana?” tanya Bianca.
“Pulang,” jawab Jarvis santai.
“Kan bapak bilang saya disuruh datang hari ini. Kenapa bapak malah pulang?” sengit Bianca.
“Sekarang jam berapa?”
Bianca melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul empat lebih dua puluh menit. Sudah lewat dua puluh menit dari jam kerja Jarvis. Tak heran kalau pria itu bersiap untuk pulang.
“Tapi saya belum bimbingan.”
“Siapa suruh kamu datang sore. Harusnya datangnya pagi atau siang.”
“Tapi kan bapak yang minta saya bimbingan hari ini. Padahal harusnya dua hari lagi.”
“Karena kamu sudah bimbingan dengan saya via wa.”
“Emangnya cuma saya aja yang bimbingan via wa?”
“Iya.”
“Tapi kan bapak yang bilang kalau ada pertanyaan, saya boleh nanya via wa. Emangnya cuma saya aja yang boleh wa bapak?”
“Semua bimbingan saya juga diperbolehkan wa saya. Saya memperlakukan semua mahasiswa saya. Memangnya kamu siapa harus saya perlakukan spesial?”
Sumpah demi apa pun ingin rasanya Bianca menyumpal mulut Jarvis yang seperti mercon saja. Setiap ucapan yang keluar dari mulut pria itu tidak enak di telinga dan pastinya bisa membuat tekanan darah naik. Namun Bianca mencoba bersabar. Berulang kali dia berusaha menenangkan dirinya.
“Nah berarti bapak ngga adil sama saya. Kenapa mereka wa ngga masalah, terus saya jadi masalah?” cecar Bianca. Dia benar-benar merasa diperlakukan tidak adil oleh Jarvis.
“Tapi sejauh ini tidak ada yang berani bimbingan via wa, kecuali kamu. Kalau pun ada yang mengirimkan pesan, hanya mengatakan soal jadwal bimbingan saja. Tidak seperti kamu.”
“Tapi kan bapak yang bilang saya boleh bimbingan via wa.”
“Tapi kamu nanyanya borongan. Dan kayanya semua yang harus kamu revisi, kamu tanya semua sama saya. Makanya saya potong hari penyetoran kamu. memangnya belum selesai juga? Padahal saya sudah kasih penjelasan banyak via wa.”
Jarvis melewati Bianca begitu saja lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi pada Bianca. Gadis itu tidak bisa menahan emosinya lagi. Semalam dia baru tidur pukul dua malam, bangun pukul lima dan langsung berkutat di depan laptop sampai melupakan makan juga. Hari ini dia hanya makan roti bakar saat sarapan. Itu pun karena Naya memaksanya.
Kesal diperlakukan seperti itu oleh Jarvis membuat kekesalan Bianca sampai ke puncaknya. Bukannya marah atau memaki, Bianca justru menangis. Buliran bening mengalir dari kedua matanya. Isaknya pun mulai terdengar. Jarvis menghentikan langkahnya ketika mendengar suara tangis di belakangnya. Dia langsung membalikkan tubuhnya.
Mata Jarvis menatap tak berkedip pada Bianca yang tengah menghapus airmata yang membasahi pipinya. Terdengar isakan gadis itu, berusaha menahan suara tangisnya agar tidak terdengar kencang. Pria itu menghela nafasnya lalu mendekati Bianca. Melihatnya menangis seperti itu, dia jadi tidak tega juga.
“Kamu ke sini naik apa?” tanya Jarvis.
“Naik ojeg. Saya habis begadang, ngga berani bawa mobil,” jawab Bianca di sela-sela tangisnya.
“Ya udah kamu ikut saya!”
Jarvis melanjutkan langkahnya. Bianca langsung mengikutinya. Dia masih menangis, airmatanya terus keluar dari kedua matanya karena masih kesal pada Jarvis. Tiba-tiba saja Jarvis berbalik dan hampir saja Bianca menabraknya. Untuk remnya sangat pakem.
“Jangan nangis lagi!” seru Jarvis.
Pria itu berbalik dan melangkahkan kakinya lagi. Bianca menundukkan kepalanya ketika berpapasan dengan beberapa mahasiswa. Gadis itu terus saja menunduk sampai tidak sadar kalau sudah berada di pelataran parkir. Dia bergenti ketika menabrak punggung Jarvis. Sontak dia mengangkat kepala sambil mengusap keningnya.
“Masuk!” ujar Jarvis setelah membukakan pintu bagian belakang.
Bianca segera masuk ke dalam mobil. Tak berapa lama kemudian Jarvis menyusul. Pria itu segera menyalakan mesin mobil lalu menjalankannya. Bianca hanya diam sambil menolehkan kepalanya ke jendela samping. Dia malas berbicara pada Jarvis. Gadis itu juga tidak peduli kemana Jarvis membawanya.
Mobil yang dikendarai Jarvis berhenti membuat Bianca terjaga dari lamunannya. Matanya kemudian melihat bangunan di depannya. Rupanya Jarvis mengajaknya ke Zicko Coffee. Gadis itu segera keluar dari mobil dan mengikuti Jarvis memasuki kedai kopi tersebut. Kedatangan Jarvis disambut oleh Fabian.
“Sama siapa, bang?” tegur Fabian.
“Tuh,” Jarvis menunjuk Bianca dengan jarinya.
“Kamu Bian kan?” tanya Fabian. Dan hanya dijawab anggukan kepala saja oleh gadis itu.
“Mau minum apa?”
“Apa aja.”
“Jangan kasih dia kopi. Ada coklat ngga?” sela Jarvis.
“Kenapa? Ngga suka kopi?”
“Dia kayanya belum makan. Sekalian siapin makanan berat buat dia.”
“Oke. Kamu mau apa?”
“Apa aja.”
“Ngga ada menu apa aja di sini. kalau ngga percaya, Lihat aja di buku menu.”
Senyum Bianca akhirnya terbit melihat gurauan receh Fabian. Gadis itu mengambil buku menu, melihatnya sekilas lalu memesan makanan yang cukup berat, karena memang dia sangat lapar sekarang. Dia belum makan dan energinya habis untuk membereskan usulan penelitian dan menghadapi Jarvis.
“Nasi iga bakar.”
“Oke. Abang mau apa?”
“Samain aja.”
“Wokeh.”
“Kita di lantai tiga ya.”
“Sip.”
“Kenapa di lantai tiga, pak? Di sini aja, saya udah ngga punya tenaga naik tangga!”
Rengekan Bianca sama sekali tidak didengarkan oleh Jarvis. Pria itu terus melangkahkan kakinya menapaki anak tangga. Mau tidak mau Bianca mengikuti. Nafas gadis itu terdengar ngos-ngosan ketika sampai di lantai tiga. Namun rasa lelahnya terbayar dengan indahnya pemandangan di lantai ini.
Terdapat delapan buah meja beserta kursinya. Jarvis mengambil meja yang dekat dengan pagar pembatas. Mereka bisa melihat pemandangan di depan mereka. Gunung Tangkuban Perahu terlihat dari kejauhan, lalu lalang kendaraan di bawah juga bisa terlihat dan jangan lupakan semilir angin yang membuat badan sedikit segar.
“Mana hasil revisinya?” tanya Jarvis setelah duduk.
Bianca membuka map dokumen lalu memberikan lembaran kertas pada Jarvis. Pria itu mulai memeriksa dengan seksama, Mata Bianca terus mengawasi tangan Jarvis yang masih memberikan revisi di beberapa tempat.
“Masih salah, pak?”
“Hem.. padahal saya sudah menerangkan dengan jelas, tapi kamu payah sekali mengeksekusinya.”
“Kan waktunya terbatas pak.”
“Alasan.”
“Bapak bisa ngga sih, ngga judes bin jutek sama aku?”
“Ngga,” jawab Jarvis cepat.
Mendengar itu refleks Bianca mencebikkan bibirnya. Dia juga menggembungkan pipinya. Penampilannya sekarang mirip ikan buntal di mata Jarvis. Tak ayal membuat pria itu tertawa.
“Bi.. coba ngaca sana. Muka kamu persis ikan buntal, hahaha..”
Mata Bianca mengerjap beberapa kali. Rasanya tidak percaya melihat pria itu tertawa lepas. Biasanya dia hanya tersenyum saja. itu pun durasinya hanya beberapa detik. Namun sekarang dia malah tertawa kencang.
“Bapak pernah ngaca ngga kalau judes bin juteknya lagi kumat?”
“Ngga pernah, males banget.”
“Coba deh sesekali ngaca. Bapak kalau lagi jutek mukanya udah kaya Frankenstein.”
PLETAK!
Sebuah sentilan mendarat di kening Bianca. Gadis itu langsung mengusap keningnya yang terasa sakit sambil melihat pada Jarvis dengan wajah cemberut. Meski kesal namun Bianca sadar kalau dia sudah salah. Mana ada mahasiswa yang berani meledek Jarvis yang adalah dosennya seperti Frankenstein. Hanya dia saja yang berani.
Seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka. Bianca langsung menuju wastafel yang ada di dekat tangga. Dengan cepat dia mencuci tangan kemudian kembali ke mejanya. Tanpa menunggu lama dia langsung menyantap nasi dengan iga bakar pesanannya. Sesekali terdengar desisannya karena sambal yang terdapat pada iga cukup pedas juga rasanya.
“Makannya pelan-pelan. ngga akan ada yang ngambil juga,” ujar Jarvis.
“Lapar pak.”
“Kamu kayanya setiap mau bimbingan sengaja ngga makan ya, biar ditraktir saya.”
“Mana ada!”
🌵🌵🌵
Ribut maning😂
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Ayuna
Kirian keluarga spagety 🤭🤭🤭🙏
2025-01-17
1
mio amore
haduuh kapan akur nya nih bun Jarvis am bian
2024-10-08
1
ˢ⍣⃟ₛ 𝘊𝘰𝘦ˢ☠️⃝⃟ⱽᴬ 𝐀⃝🥀
jawab dong biaannn.....calis gethooo.....dijamin auto mingkem deh pak dosen nya🤣🤣🤣
2024-09-20
2