Dosen Pembimbing Killer

Mata elang milik Jarvis menatap tajam pada mahasiswinya yang berdiri beberapa meter saja di depannya. Pria itu cukup banyak mendengar pujian yang dilontarkan Bianca untuknya. Sementara Bianca nampak kikuk. Dia sama sekali tidak menyangka orang yang dibicarakannya sudah berada di belakangnya. Melihat cara Jarvis melihatnya, dia yakin kalau pria itu sudah mendengar apa yang dikatakannya.

“Kamu ikut ke ruangan saya sekarang!”

Jarvis berbalik lalu keluar dari ruang dosen. Reni menepuk pelan pundak sahabatnya, memberi dukungan untuknya. Feni mengepalkan tangannya pada Bianca, mencoba memberi semangat pada gadis itu. Dengan langkah gontai Bianca keluar dari ruangan kemudian mengikuti Jarvis yang sudah sedikit jauh berjalan.

Begitu sampai di ruangan Jarvis, Bianca langsung menarik kursi di depan meja kerja sekretaris prodi tersebut. Untuk sejenak suasana menjadi hening. Bianca hanya menundukkan saja kepalanya, tidak berani melihat pada Jarvis.

“Apa kamu sudah menyiapkan judul?” tanya Jarvis memecah kesunyian di antara mereka.

“Sudah, pak.”

“Mana? Coba saya lihat.”

Bianca membuka tasnya lalu mengambil binder dari dalamnya. Dia membuka lembaran binder, mencari judul yang sudah dibuatnya. Setelah menemukan yang dicari, gadis itu memberikannya pada Jarvis. Hanya sepintas saja Jarvis membacanya kemudian mengembalikannya pada Bianca.

“Kamu cuma buat satu judul?”

“Iya, pak.”

“Pede banget kamu. Kaya yakin judul kamu bakal di acc.”

“Namanya juga usaha, pak.”

“Cari judul yang lain. Judul yang kamu buat itu terlalu pasaran.”

“Iya, pak,” jawab Bianca tanpa protes.

“Tempat penelitianmu sama dengan tempat magangmu?”

“Iya, pak.”

“Saya mau kamu melakukan penelitian kuantitatif, jangan kualitatif. Di rak perpustakaan sudah banyak penelitian kualitatif. Dan judul yang kamu buat juga sudah banyak yang buat hanya beda tempat saja.”

“Kuantitatif pak?”

“Iya, terserah kamu mau uji korelasi atau uji pengaruh. Mau dua atau tiga variabel bebas aja. Lebih bagus kalau tiga variabel.”

Bianca meneguk ludahnya kelat. Membuat penelitian kuantitatif dengan dua variabel saja sudah membuat kepalanya pening, apalagi sampai tiga variabel. Gadis itu menggerutu dalam hati. Mempunyai pembimbing seperti Jarvis memang sebuah malapetaka untuknya.

“Saya mau kamu serahin judul ke saya tiga hari lagi. Buat lima sampai sepuluh judul.”

“Banyak amat, pak.”

“Buat alternatif, buat jaga-jaga judul yang kamu buat di bawah standar semua.”

Kalau tidak ingat Jarvis adalah dosen pembimbingnya, ingin rasanya Bianca melemparkan binder ke muka pria itu. Bisa dibayangkan bimbingan yang akan dijalaninya penuh kedongkolan dan kekesalan.

“Semuanya harus kuantitatif.”

“Iya. Kenapa? Kamu takut buat penelitian kuantitatif?”

“Bukan takut, pak. Ragu aja.”

“Kamu udah ambil mata kuliah statistik kan?”

“Udah, pak.”

“Mata kuliah metodologi penelitian udah juga?”

“Udah juga.”

“Terus masalahnya di mana? Kalau kamu mengikuti perkuliahan dengan benar, kamu pasti sudah mengerti langkah apa saja untuk membuat penelitian kuantitatif. Lagian sekarang juga sudah ada software spss. Kamu tinggal input data, bisa meringankan pekerjaan kamu. Ngga harus ngitung manual.”

“Tapi pak..”

“Ngga ada tapi-tapi. Kamu harus men-chalenge diri sendiri. Motivasi diri kamu, kalau kamu bisa. Kamu pasti bisa. Tanamkan di mind set kamu,” Jarvis mengetuk kepalanya sendiri.

“Kamu kan tadi lancar dan percaya diri banget ngomongin saya. Masa ngga percaya diri buat penelitian kuantitatif,” lanjut Jarvis setengah menyindir.

“Iya, pak. Saya akan coba.”

“Tiga hari lagi, saya tunggu.”

“Iya, pak. Saya permisi dulu. Assalamu’alaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Bianca bangun dari duduknya lalu keluar dari ruangan. Gadis itu berjalan menjauh dari ruangan sekretaris prodi. Setelah berada cukup jauh, terdengar teriakannya. Sambil menendang ruang kosong di depannya, Bianca berjalan sementara mulutnya terus mengeluarkan gerutuan.

“Dasar dosen nyebelin. Belum apa-apa udah bikin gue mumet. Dia pikir bikin sepuluh judul gampang aja. Iya kalau ngomong sih gampang, tapi ngerjainnya yang susah. Dasar dosen nyebelin! Bujang lapuk!”

Untuk menghilangkan kekesalannya, Bianca memilih menuju kantin. Dia perlu minuman dingin untuk menurunkan suhu tubuh dan kepalanya yang memanas setelah bimbingan singkat dengan Jarvis. Sesampainya di kantin, Bianca langsung memesan avocado milk shake lalu menuju salah satu meja.

Lima menit berselang, Suci masuk ke dalam kampus. Sama seperti Bianca, gadis itu juga baru akan menyusun tugas akhirnya. Bedanya di semester delapan ini dia masih harus mengulang satu mata kuliah. Mata Suci langsung menangkap keberadaan Bianca. Dia mengambil minuman yang dipesan sepupunya itu sambil memesan minuman untuknya.

Suci menaruh gelas berisi avocado milk shake di depan Bianca. Lalu gadis itu menarik kursi di depan Bianca. Langsung saja Bianca mengambil gelas minumannya lalu menyeruputnya sampai habis setengah.

“Haus bu?” goda Suci.

“Iya, haus gue. Nih ubun-ubun gue rasanya udah mau meledak.”

“Kenapa?”

“Gue dapet pembimbing pak Jarvis. Sue banget.”

“Pak Jarvis, dosen yang ada di nikahan kak Lana?”

“Iya. Mimpi apa gue semalem dapet dosen pembimbing model dia. Bawaannya jutek mulu, kelamaan jomblo kayanya.”

“Lo pacarin aja biar jinak, hahaha..”

“Dih.. ogah banget. Biar pun dia satu-satunya cowok di dunia ini, tetap aja gue ogah sama dia. Mending jomblo seumur hidup.”

“Jangan terlalu benci. Beda benci sama cinta itu tipis banget, setipis bulu hidung, hahaha..”

Bianca hanya menyebikkan bibirnya saja. Mendengar ledekan Suci, dia bertambah kesal saja. Seorang pelayan datang membawakan pesanan Suci. Sama seperti Bianca, gadis itu langsung menyeruputnya.

“Lo sendiri aja?”

“Iya.”

“Penyanyi dangdut mana?”

“Bisa ngga sih, lo manggil pacar gue dengan baik dan benar?” kesal Suci.

“Lah salah gue apa? Kan nama pacar lo tuh Ashraf. Kan Ashraf itu penyanyi dangdut, benar kan?”

Bianca hanya tertawa saja ketika Suci melemparkan gulungan kertas ke arahnya. Dia senang sekali memanggil kekasih sepupunya itu dengan sebutan penyanyi dangdut.

“Ashraf udah pulkam. Kan dia udah lulus enam bulan lalu. Dia udah diterima jadi CPNS.”

“Terus dia ngga bakal balik ke Bandung lagi dong?”

“Kayanya.”

“Dia orang mana?”

“Bangka.”

“Jauh juga ya. Eh hati-hati, jangan sampai lo ditinggal nikah sama dia.”

“Ah elah, lo malah doain yang ngga-ngga.”

“Bukannya gitu, biasanya sih kalau yang kuliahnya merantau udah punya calon di kampung halamannya. Siapa tahu aja Ashraf udah punya calon. Kalau dia udah punya calon gimana?”

“Jangan dong.”

“Lo bucin banget ya?”

“Bukan gitu. Selama berhubungan sama gue, Ashraf tuh baik banget. Dia juga setia dan ngga macam-macam. Udah kenal baik juga sama bokap, nyokap.”

Hanya anggukan kepala saja yang diberikan oleh Bianca. Memang benar Ashraf adalah pria yang baik. Selama dua tahun berhubungan dengan Suci, pria itu tidak pernah berbuat macam-macam.

“Eh gue cabut ya,” ujar Suci sambil menghabiskan minumannya dengan cepat.

“Mau kemana?”

“Gue kan masih ada satu mata kuliah lagi. Nyempil sebiji doang.”

“Matkul apaan?”

“Fotografi 2. Gara-gara gue ngga ngumpulin tugas, gue ngga lulus semester enam kemarin. Tapi katanya sekarang mau ada dosen baru. Buat bantuin kita-kita ngerjain tugas. Jadi semacam dosen praktek gitu. Nah sekarang pertemuan pertama kita.”

“Ya udah sana, buruan. Nanti telat kaga lulus lagi. Tar ngga bisa sidang.”

“Bayarin minuman gue ya.”

Suci bergegas keluar dari kantin. Hari ini adalah pertemuan kedua untuk mata kuliah Fotografi 2. Kabarnya mulai hari ini akan ada dosen baru yang khusus mengajarkan teknis tentang fotografi. Sambil berlari, Suci bergegas menuju gedung fakultasnya. Tiba-tiba dari arah kirinya muncul seseorang dan bertabrakan dengannya. Tas yang dibawa Suci terjatuh.

“Maaf,” ujar pria itu seraya mengambilkan tas Suci.

“Makasih.”

“Ehmm.. gedung fakultas komunikasi di mana ya?” tanya pria itu.

“Itu di depan gedung fakultas komunikasi. Mau ke sana?”

“Iya.”

“Ya udah bareng aja.”

“Kamu kuliah di fakultas komunikasi?”

“Iya.”

Keduanya segera berjalan menuju gedung fakultas komunikasi yang hanya tinggal beberapa meter saja. suci melirik pria yang berjalan di sebelahnya. Tubuhnya terbilang tinggi, mungkin 180 cm lebih. Kulitnya kuning langsat, rambutnya dibiarkan panjang sampai sebahu. Jika dilihat-lihat wajahnya mirip seperti aktor Korea.

“Kalau ruang dosen di mana?” tanya pria itu setelah berada di gedung fakultas komunikasi.

“Lurus aja, nanti belok ke kiri. Lurus lagi nanti ada tulisannya ruang dosen.”

“Oke, terima kasih.”

“Sama-sama.”

Keduanya berpisah. Pria tadi terus berjalan menuju arah yang ditunjukkan Suci. Sementara gadis itu menuju lift. Dia menekan tombol lima. Kelas yang akan dimasukinya berada di lantai tersebut. Tak butuh waktu lama, dia sudah sampai di lantai lima. Suci segera keluar lalu menuju ruangan 501.

Ketika memasuki kelas, hampir semua penghuni kelas adalah adik tingkatnya. Baru saja dia mendaratkan bokongnya di kursi, teman satu kelasnya muncul. Dia juga sama seperti Suci, harus mengulang mata kuliah fotografi 2.

“Ci..” tegurnya.

“Eh.. elo ambil kuliah ini juga.”

“Iya, sama gue ngulang juga. Eh katanya hari ini dosen baru yang ngajar.”

“Katanya sih.”

Suasana kelas yang tadi riuh seketika menjadi tenang ketika dosen fotografi memasuki ruangan. Di belakangnya menyusul seorang pria muda. Suci langsung mengenali pria itu. Dia adalah pria yang tadi bersamanya menuju gedung fakultas.

“Assalamu’alaikum.”

“Waalaikumsalam.”

“Untuk perkuliahan hari ini dan seterusnya, saya akan dibantu oleh seseorang. Beliau adalah seorang fotografer professional. Silahkan untuk melakukan perkenalan.”

Pria berwajah tampan itu maju ke depan. Sebelum memperkenalkan diri, dia melemparkan senyuman manisnya ke seluruh penghuni kelas.

“Selamat siang.”

“Siang pak.”

“Perkenalkan nama saya Attar Rafandra Kim.”

🌵🌵🌵

Ini penampakan Bianca dan Jarvis versiku

Terpopuler

Comments

DhilaZiya Ulyl

DhilaZiya Ulyl

kangeeen mamake.... maap ya mamake... aq hibernasi dr smua apk baca onlen..... skr balik lagiii mau meramaikan karya mamake yg slalu bikin mood ku balik lg.... 😍😍😍🥰🥰🥰

2024-11-03

1

Mur Wati

Mur Wati

nah iya tuh bener kata suci biar gak sama" jomblo

2024-12-21

1

ˢ⍣⃟ₛMPIT💋🅚︎🅙︎🅢︎👻ᴸᴷ

ˢ⍣⃟ₛMPIT💋🅚︎🅙︎🅢︎👻ᴸᴷ

ucapan adalah doa lhoo, diaminin aja dah 😁

2024-12-02

1

lihat semua
Episodes
1 Calon Untuk Dipa
2 Kencan
3 Bocil Bikin Menggigil
4 Biar Takdir Bicara
5 Dosen Pembimbing Killer
6 Pesona Dosen Baru
7 Kamu Bukan Jodohku
8 Hadirmu Alihkan Duniaku
9 Bertemu Calon Grandpa
10 Oppa
11 Kencan Salah Sasaran
12 Yolanda
13 Kena Bully
14 Berganti Taktik
15 Mulai Jinak
16 Bawaan Orok
17 Perjodohan Terselubung
18 Ikan Buntal vs Frankenstein
19 Pacar Dadakan
20 Namaste
21 Annoying Dipa
22 Kencan 24 Jam
23 Istri Tua dan Istri Muda
24 Kencan 24 Jam, Batal!
25 Rival
26 Dia Milikku
27 Raja Gombal
28 Kegalauan Keira
29 Jadi Sahabat atau Kekasih?
30 Jangan Merindukanku
31 Berburu Informasi
32 Jarvis Sakit
33 Bimbingan atau Pendamping?
34 Panas.. Panas.. Panas.. Hati ini
35 Sebuah Rasa
36 Penolakan Tegas
37 Pertengkaran
38 Perjaka Formalin
39 Di Luar Prediksi
40 Baju Couple
41 Mas dan Saya
42 Akting atau Nyata?
43 Hadiah Tanjakan dan Turunan
44 Kado Istimewa
45 Icih dan Kemod
46 Ganti Profesi
47 Detektif Arnav
48 Ketua Perserikatan Jomblo
49 Bocil Meresahkan
50 Seperti Monyet Lupa Kacangnya
51 Sepupu Durjana
52 Kejutan Dari Jarvis
53 Atasan Tak Terduga
54 The Clever, Emma
55 Calon Menantu
56 Melewati Batas Maksimum
57 Penerjemah Bikin Pusing
58 Ribut Lagi
59 Konferensi Meja Bundar
60 Bad News
61 Fortune Cookies
62 Ketegangan di Meja Makan
63 Boyband
64 Penghulu Bikin Malu
65 Memulai Lebih Dulu
66 Kecanduan Kamu
67 Solusi
68 Sarange
69 Persiapan Calon Pengantin
70 Berharap Cemburu
71 Pria Dewasa
72 Adu Kecepatan
73 Pantang Menyerah
74 Seragam Bikin Geram
75 Duet Calon Besan
76 Celetukan Bikin Malu
77 Belajar Mesra
78 Sedikit Bicara, Banyak Bekerja
79 Romantis Ala Jarvis
80 Pukulan Telak
81 Penyesalan Mendalam
82 Tak Ada Kebohongan yang Abadi
83 Suami Mandiri
84 Bumil yang Manja
85 Rahmat Bukan Rahman
86 Sumpah Gilang
87 Pretty Woman
88 Pawang Emma
89 Bandulan Bertemu Celengan Semar
90 Dendam Salah Alamat
91 Pertarungan
92 Takut Kehilangan
93 Ibu Tiri Kejam
94 Penyesalan Mendalam
95 Embel-embel
96 Menuju Hari H
97 Jalan-jalan
98 Keinginan Ibu Hamil
99 Lawan Seimbang
100 Akhir Bahagia
101 Bonus Chapter : Everlasting Happiness
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Calon Untuk Dipa
2
Kencan
3
Bocil Bikin Menggigil
4
Biar Takdir Bicara
5
Dosen Pembimbing Killer
6
Pesona Dosen Baru
7
Kamu Bukan Jodohku
8
Hadirmu Alihkan Duniaku
9
Bertemu Calon Grandpa
10
Oppa
11
Kencan Salah Sasaran
12
Yolanda
13
Kena Bully
14
Berganti Taktik
15
Mulai Jinak
16
Bawaan Orok
17
Perjodohan Terselubung
18
Ikan Buntal vs Frankenstein
19
Pacar Dadakan
20
Namaste
21
Annoying Dipa
22
Kencan 24 Jam
23
Istri Tua dan Istri Muda
24
Kencan 24 Jam, Batal!
25
Rival
26
Dia Milikku
27
Raja Gombal
28
Kegalauan Keira
29
Jadi Sahabat atau Kekasih?
30
Jangan Merindukanku
31
Berburu Informasi
32
Jarvis Sakit
33
Bimbingan atau Pendamping?
34
Panas.. Panas.. Panas.. Hati ini
35
Sebuah Rasa
36
Penolakan Tegas
37
Pertengkaran
38
Perjaka Formalin
39
Di Luar Prediksi
40
Baju Couple
41
Mas dan Saya
42
Akting atau Nyata?
43
Hadiah Tanjakan dan Turunan
44
Kado Istimewa
45
Icih dan Kemod
46
Ganti Profesi
47
Detektif Arnav
48
Ketua Perserikatan Jomblo
49
Bocil Meresahkan
50
Seperti Monyet Lupa Kacangnya
51
Sepupu Durjana
52
Kejutan Dari Jarvis
53
Atasan Tak Terduga
54
The Clever, Emma
55
Calon Menantu
56
Melewati Batas Maksimum
57
Penerjemah Bikin Pusing
58
Ribut Lagi
59
Konferensi Meja Bundar
60
Bad News
61
Fortune Cookies
62
Ketegangan di Meja Makan
63
Boyband
64
Penghulu Bikin Malu
65
Memulai Lebih Dulu
66
Kecanduan Kamu
67
Solusi
68
Sarange
69
Persiapan Calon Pengantin
70
Berharap Cemburu
71
Pria Dewasa
72
Adu Kecepatan
73
Pantang Menyerah
74
Seragam Bikin Geram
75
Duet Calon Besan
76
Celetukan Bikin Malu
77
Belajar Mesra
78
Sedikit Bicara, Banyak Bekerja
79
Romantis Ala Jarvis
80
Pukulan Telak
81
Penyesalan Mendalam
82
Tak Ada Kebohongan yang Abadi
83
Suami Mandiri
84
Bumil yang Manja
85
Rahmat Bukan Rahman
86
Sumpah Gilang
87
Pretty Woman
88
Pawang Emma
89
Bandulan Bertemu Celengan Semar
90
Dendam Salah Alamat
91
Pertarungan
92
Takut Kehilangan
93
Ibu Tiri Kejam
94
Penyesalan Mendalam
95
Embel-embel
96
Menuju Hari H
97
Jalan-jalan
98
Keinginan Ibu Hamil
99
Lawan Seimbang
100
Akhir Bahagia
101
Bonus Chapter : Everlasting Happiness

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!