KRIUK…
Kepala Jarvis langsung terangkat ketika mendengar suara alam yang berasal dari perut Bianca. Refleks gadis itu menutup wajah dengan lembaran kertas di tangannya. dia merutuki perutnya yang berbunyi tanpa melihat situasi dan kondisi. Jarvis melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul empat sore.
“Kamu belum makan?”
“Belum pak, hehehe.. dari pagi saya di depan laptop terus ngejar deadline. Makanya sampai lupa makan.”
“Bereskan semuanya.”
“Eh.. revisinya yang tadi aja pak?”
“Masih ada. Sekarang kamu ikut saya dulu. Jam kerja saya juga sudah selesai.”
Dengan cepat Bianca membereskan barang-barangnya kemudian mengikuti Jarvis keluar dari ruangan. Sebisa mungkin dia mengejar langkah panjang Jarvis yang beberapa meter berada di depannya.
“Bapak mau kemana? Biar saya bisa kasih alamatnya ke taksi online.”
Sontak Jarvis menghentikan langkahnya mendengar ucapan Bianca. Dia melihat pada mahasiswi yang sekarang sudah berdiri di sampingnya.
“Kamu ngga bawa mobil?”
“Ngga, pak. Semalam saya begadang, takut bawa mobil sendiri.”
“Ya udah, kamu ikut saya aja.”
Tanpa membantah lagi Bianca segera mengikuti Jarvis. Gadis itu hendak membuka pintu bagian depan namun Jarvis segera mencegahnya.
“Kamu duduk di belakang.”
“Hah? Ngga enak dong, pak. Emangnya bapak supir,” ujar Bianca dengan suara pelan.
“Kita ini bukan mahrom. Jadi lebih baik kalau kamu duduk di belakang.”
“Oh iya, pak.”
Bianca membuka pintu bagian belakang, lalu mendudukkan diri di sana. Dia cukup mengagumi Jarvis yang sangat memperhatikan hubungan antara perempuan dan laki-laki yang belum memiliki hubungan. Jarvis segera duduk di belakang kemudi, lalu menjalankan kendaraannya.
Perut Bianca kembali berbunyi. Gadis itu memang sudah sangat lapar sekali. Sesekali dia melihat pada Jarvis. Tampak ingin mengatakan sesuatu, namun terlihat ragu. Jarvis yang menyadari itu berinisiatif untuk bertanya.
“Ada apa?”
“Euungg.. kalau ngga keberatan, nanti bisa mampir di drive thru? Saya mau beli makanan, hehehe.. maaf pak.”
“Di sini ngga ada drive thru. Kamu tunggu sepuluh sampai lima belas menit ngga akan bikin kamu pingsan kan?”
“Eh.. ngga, pak.”
Bianca terpaksa menahan rasa laparnya. Padahal baru saja mobil Jarvis melewati drive thru salah satu fast food. Bianca hanya bisa melihat tempat makan itu sambil membayangkan burger atau French fries. Tanpa sadar dia meneguk ludahnya kelat.
Asik melamun, Bianca tidak sadar kalau mobil yang ditumpanginya sudah berhenti. Lamunannya buyar ketika Jarvis mengajaknya turun. Gadis itu keluar dari mobil. Matanya langsung melihat sebuah kedai dengan tulisan PRATO MEXICANO di bagian atas. Dengan gerakan kepala Jarvis meminta Bianca mengikutinya.
Ketika memasuki kedai, para pegawai langsung menyambut kedatangan Jarvis. Bianca jadi bertanya-tanya apakah pria itu pelanggan tetap di sini. Bianca terus mengikuti Jarvis menuju meja yang ada di bagian sudut. Pertanyaannya terjawab ketika salah satu pegawai menghampirinya.
“Selamat sore pak Jarvis.”
“Sore.”
“Ini laporan penjualan bulan lalu.”
Pegawai pria itu menyerahkan sebuah map pada Jarvis. Pria itu hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian dia meminta sang pegawai bernama Angga itu membawakan buku menu. Jarvis memberikan buku menu pada Bianca.
“Kamu pilih aja mau makan apa.”
“Terima kasih, pak.”
Bianca melihat-lihat buku menu. berhubung perutnya sedang lapar, maka semua terlihat menarik dan lezat di matanya. Air liurnya hampir menetes ketika melihat gambar burrito dengan keju mozzarella yang meleleh.
“Saya pesan burrito aja pak.”
“Minumnya mau apa?”
“Ehmm.. yang enak apa?”
“Mau coba agua de Jamaica?”
“Apa itu, pak?”
“Minuman teh dari bunga kembang sepatu kering.”
“Boleh deh, pak.”
“Pesan burrito, agua de Jamaica, nachos, guacamole, aqua frescas dan flan.”
Dengan cepat Angga mencatat pesanan Jarvis. Setelahnya dia segera menuju ke dapur. Bianca menunggu pesanan tiba sambil melihat-lihat keadan kedai. Cukup banyak pengunjung yang datang ke kedai ini. Rata-rata adalah kawula muda. Dinding ruangan ditempeli wallpaper berupa border Meksiko. Di beberapa sudut juga terdapat pernak-pernik negara Amerika Latin tersebut.
“Ini kedainya bapak?”
“Iya.”
“Kok saya baru tahu? Apa sayanya yang kuper ya?”
“Saya mendirikan Prato Mexicano dua tahun yang lalu. Dan cabang di sini baru dibuka enam bulan yang lalu.”
“Memangnya ada berapa cabang, pak?”
“Baru dua. Ada rencana buka gerai ketiga tapi masih memilih lokasi yang tepat.”
“Cabang pertama di mana pak?”
“Jatinangor.”
Kepala Bianca mengangguk tanda mengerti. Dia tidak menyangka kalau Jarvis juga mengelola bisnis di luar kesibukannya sebagai dosen. Jarvis mengajak Bianca kembali berdiskusi tentang skripsinya. Cukup banyak masukan yang diberikan pria itu. Dan tentu saja membuat itu membuat Bianca bersyukur. Ternyata melakukan bimbingan dengan Jarvis tidak semenyeramkan yang dipikirnya.
Acara diskusi mereka berakhir ketika pelayan datang membawakan pesanan. Bianca meneguk ludahnya ketika melihat burrito di hadapannya. Dia melirik pesanan Jarvis. Pria itu hanya memesan nachos alias keripik tortilla. Di dekatnya ada mangkok kecil berisi guacamole atau saos alpukat. Lamunannya buyar ketika Jarvis menyodorkan piring kecil berisi flan atau puding karamel ke dekat Bianca.
“Buat saya pak?”
“Iya. Ayo dimakan. Kasihan cacing kamu udah demo terus dari tadi.”
Bianca memajukan bibirnya mendengar ucapan Jarvis. Pria itu hanya tersenyum saja melihat ekspresi Bianca. Lagi-lagi Bianca dibuat terpana melihat senyum di wajah Jarvis yang baru dilihatnya dua kali. Tanpa menunggu lama, dia langsung melahap burrito pesanannya.
“Kamu laper banget ya?” tanya Jarvis yang melihat Bianca menghabiskan burrito dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
“Iya, pak. Hehehe.. bapak emang kenyang makan keripik aja?”
“Saya udah makan siang tadi. Kamu mau coba?”
Jarvis menyodorkan piring berisi nachos pada Bianca. Malu-malu Bianca mengambil sau buah nachos lalu mengambil guacamole sebagai teman makan. Ternyata rasa guacamole-nya sangat enak. Sangat pas dipadu dengan nachos. Malu-malu Bianca mengambil satu buah nachos lagi karena tidak cukup kalau hanya makan satu.
“Habiskan aja,” ujar Jarvis.
“Ngga ah, pak. Makasih. Itu masih ada puding. Nanti perut saya meledak.”
Bianca menarik piring berisi fran kemudian mulai memakannya. Jarvis pun menghabiskan nachos yang hanya tersisa lima keeping lagi. sesekali dia melirik Bianca yang tengah menghabiskan puding karamel. Beberapa kali berinteraksi dengan gadis itu membuat penilaiannya sedikit berubah.
“Ehm.. pak, saya boleh ngga wa bapak. Kali aja ada yang ngerti.”
“Boleh. Kamu sudah ada nomer saya?”
“Udah pak.”
“WA aja kalau ada yang kamu ngga ngerti.”
“Siap, pak.”
Selesai makan, Jarvis berbaik hati mengantarkan Bianca pulang. Di tengah perjalanan terdengar suara adzan maghrib. Jarvis membelokkan kendaraannya memasuki pelataran masjid untuk menunaikan ibadah shalat maghrib.
“Rumah kamu di mana?” tanya Jarvis setelah mereka kembali ke mobil.
“Tubagus Ismail, pak.”
“Kamu sudah punya pacar?” Jarvis melirik Bianca dari kaca spion tengah.
“Belum, pak. Saya mah jomblo dari lahir.”
“Oh jomblo ternyata. Pantes aja sih, siapa juga yang mau jadi pacar kamu.”
“Saya cantik loh pak,” jawab Bianca sambil mendelik sebal.
“Cantik kalau otaknya korslet, siapa juga yang mau sama kamu.”
“Daripada ngurusin saya, mending bapak urus hidup bapak sendiri. Umur bapak kan udah tua, tapi masih jomblo. Jangan kelamaan sendiri, nanti keburu kakek-kakek,” balas Bianca.
“Kamu segitu perhatiannya sama saya. Jangan-jangan kamu suka sama saya ya?”
“Mana ada!”
Bianca langsung membuang wajahnya ke samping sambil melipat kedua tangannya. Baru saja dia memuji Jarvis ternyata memiliki sisi positif juga. Namun ternyata pria itu berhasil membuatnya naik darah lagi. Berbeda dengan Jarvis yang terlihat santai. Pria itu membelokkan kendaraannya memasuki daerah Tubagus Ismail.
“Ini arahnya kemana? Saya bukan cenayang ya,” celetuk Jarvis.
“Lurus aja, nanti di depan belok ke kiri. Lurus lagi terus belok kanan.”
Jarvis mengikuti arahan dari Bianca. Dia berbelok ke kiri lalu berjalan lurus. Pria itu berbelok ke kanan ketika Bianca memberikan arahan. Jarvis menghentikan kendaraan di depan rumah besar bercat biru muda.
“Makasih, pak.”
“Sama-sama. Ingat seminggu lagi.”
“Iya, pak.”
Bianca keluar dari mobil. Tanpa melihat lagi pada Jarvis, gadis itu segera membuka pintu pagar. Jarvis pun langsung melajukan kendaraannya lagi setelah Bianca masuk. Setelah mengucapkan salam, namun mulutnya masih bergumam, mengungkapkan kekesalannya pada Jarvis.
“Dasar perjaka tua. Emang bawaan orok nyebelin, ya nyebelin aja terus.”
“Siapa yang nyebelin, Bi?” tanya Naya membuat gadis itu terkejut.
🌵🌵🌵
Baru aja damai udah ribut lagi😂
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Ayuna
Apa Jarvis keturunan keluarga Italia siapa ya blanco itu tah
2025-01-17
1
serafika andriana
pingsan sih engga pak, palingan asam lambung ma diare
2024-11-05
1
DhilaZiya Ulyl
😂😂😂🤣🤣🤣 itu namanya jodoh Biii🤣🤣
2024-11-04
1