“Ayo bang Dipa, kita berseluncur lagi.”
“Ngga, ah. Aku ngga bisa.”
“Pegangan sama aku. Sini pegang pinggangku.”
“Bukan mahrom.”
“Ya ampun soleh banget sih. Ya udah pegang ujung bajuku aja.”
Karena Sandrina terus memaksa, akhirnya Dipa menurutinya. Dia memegang baju yang dikenakan gadis itu. Untung saja pakaian yang dikenakannya sedikit longgar, jadi memungkinkan Dipa untuk memegang kain bajunya tanpa menyentuh tubuhnya. Sandrina mulai meluncur. Dipa memegang erat pakaian Sandrina.
Satu putaran berhasil mereka lewati dengan selamat. Pelan-pelan Dipa mulai menikmati permainan ini. menyesal rasanya kenapa dia tidak pernah meminta diajari oleh Gilang. Adik sepupunya ini memang mahir bermain sepatu roda dan ice skating. Saat di sekolah Gilang pernah menjadi juara pertama lomba sepatu roda antar sekolah.
“Gimana, bang? Asik kan?”
“Hem..”
Hanya itu saja jawaban yang keluar dari mulut Dipa. Terdengar teriakan Sandrina ketika berseluncur. Gadis itu menolehkan kepalanya ke belakang, melihat pada Dipa.
“Abang bisa nyanyi ngga? Kita nyanyi bareng yuk!”
“Nyanyi apa?”
“Lagu yan lagi viral. Kita bikin romantis. Bikin paling romantis. Sambil bermain mata, turun ke hati, hatinya jatuh. Kita bikin romantis yang paling romantis. Sambil gandengan tangan, hati pelukan di angan syahdu.”
Harus Dipa akui kalau suara Sandrina memang merdu. Lagu yang dinyanyikannya tidak ada yang luput nadanya. Sebenarnya gadis itu paket lengkap, cantik, supel, ceria dan memiliki suara merdu. Sayang dia masih terlalu kecil dan Dipa tidak ada minat menjalin hubungan dengan bocah ingusan yang labil seperti dirinya.
“Ayo bang, katanya mau nyanyi.”
“Aku ngga tahu lagu itu. aku tahunya cuma lagu dangdut atau Sunda.”
Tiba-tiba saja terbersit dalam benak Dipa untuk membuat Sandrina malu dan ilfil padanya. Gadis muda seperti dia pasti gengsi kalau harus menyanyikan lagu dangdut atau lagu Sunda. Dengan begitu Sandrina akan menjauh dengan sendirinya.
“Serius abang cuma bisa nyanyi dangdut sama Sunda?”
Mendadak Sandrina berhenti dan membalikkan tubuhnya. Gerakan Sandrina yang tiba-tiba membuat Dipa kehilangan keseimbangan. Untuk kedua kalinya pria itu terjatuh. Sandrina mengulurkan tangannya, tapi Dipa memilih merangkak menuju pinggir arena. Untung saja jaraknya tidak terlalu jauh. Sambil berpegangan pada pembatas arena, Dipa berusaha berdiri. Sandrina pun langsung mendekatinya.
“Udahan yuk,” ajak Dipa.
“Dua putaran lagi ya, bang. Sambil nyanyi. Please.”
“Udah kubilang, aku cuma bisa nyanyi lagu dangdut atau Sunda.”
“Ngga apa-apa. Kita nyanyi duet.”
“Emang kamu ngga malu?”
“Ngga. Kan dangdut udah mendunia sekarang. Anggap aja kita ini pasangan Leslar hehehe..”
Dipa menepuk keningnya, ternyata cara ini juga tidak berhasil. Sandrina terus merajuk dan memintanya bermain dua putaran lagi. Suara rajukannya cukup keras hingga menarik perhatian orang-orang yang tengah bermain di sana. Mau tidak mau Dipa pun menurutinya. Dia memegang kembali pakaian Sandrina dan meluncur mengikuti langkah gadis itu. Sandrina mulai bernyanyi dan kali ini dia mewajibkan Dipa untuk ikut bernyanyi.
“Bismillah cinta. Percaya padaku, percaya cinta. Yakin kita bisa lalui semua. S’gala cobaan yang mendera.”
Terdengar suara merdu Sandrina menyanyikan lirik lagu Bismillah Cinta milik Lesti dan Pasha Ungu. Dia menyanyikan lagu dengan suara cukup keras hingga bisa terdengar oleh yang lain. Dengan sangat terpaksa Dipa menyambung nyanyian tersebut.
“Bismillah cinta. Panjatkan doa pada Yang Kuasa. Bersujud pada-Nya dengan airmata. In Syaa Allah Ramadhan membawa hikmat.”
“Wah.. suara abang merdu juga. Kapan-kapan kita karaokean yuk.”
Tidak ada jawaban dari Dipa. Jangankan berkaraoke, dia tidak berencana untuk bertemu dengan Sandrina lagi. Dengan sengaja Dipa melepaskan pegangannya pada Sandrina. Pelan-pelan dia mencoba menjaga keseimbangan lalu berjalan menuju pinggir arena. Saat akan sampai, tiba-tiba dari arah belakang muncul seseorang yang berseluncur dengan cepat. Dipa kehilangan keseimbangan dan kembali terjatuh.
“Aduh.. sial amat sih gue,” gerutu Dipa.
Sandrina bergegas mendekat, kemudian tanpa bertanya dia langsung memegang lengan Dipa dan membantunya berdiri.
“Udah ya,” ujar Dipa.
“Oke, bang.”
Keduanya kemudian keluar dari arena. Setelah mengembalikan sepatu luncur kepada petugas, mereka segera pergi. Sandrina mengajak Dipa menuju kedai kopi. Sandrina langsung memesankan iced cappuccino untuk Dipa. Padahal pria itu ingin menikmati minuman hangat. Tapi tidak ada protesan dari Dipa.
“Abang kerja di mana?”
“J&J Entertainment.”
“Wah itu kan manajemen artis ngetop. Aku bisa ngga jadi artis di sana?”
“Bisa aja.”
“Dilolosin ya.”
“Ngga janji. Kan yang seleksi bukan aku.”
“Eh aku dengar kalian mau bentuk girl band lagi ya. Aku mau ikut audisi ah. Boleh bang?”
“Boleh aja.”
Seorang pelayan datang membawakan minuman pesanan mereka. Dipa langsung menyambar gelas minuman di depannya dan langsung menyeruputnya.
“Eh tapi kira-kira abang ngijinin aku jadi artis kalau kita udah nikah?”
Uhuk.. Uhuk..
Dipa langsung tersedak mendengar ucapan Sandrina. Melihat Dipa yang terbatuk, Sandrina segera memanggil pelayan dan meminta dibawakan air mineral. Sandrina segera membukakan tutup botol air mineral lalu memberikannya pada Dipa. Batuk Dipa mulai mereda setelah meminum air mineral.
“Udah baikan, bang?”
“Udah.”
“Abang belum jawab pertanyaanku yang tadi.”
“Pertanyaan yang mana?”
“Kalau kita nikah, emang abang masih ngijinin aku jadi artis?”
“Ehmm.. gini ya San. Aku mu jalan sama kamu hari ini bukan berarti kita bisa menikah.”
“Emang abang ngga suka sama aku?”
“Untuk pernikahan bukan masalah suka atau ngga, tapi banyak pertimbangan. Itu juga yang buat aku sampai sekarang masih sendiri. Aku ingin menikah sekali seumur hidup, makanya aku agak ketat dalam menyeleksi calon istriku.”
“Aku ngga masuk kriteria abang?”
“Ngga, maaf ya.”
Walau harus membuat Sandrina kecewa, Dipa tetap harus bersikap tegas. Jangan sampai karena tidak tiga dia nantinya memberikan harapan palsu padanya.
“Kamu itu masih muda. Masih banyak yang bisa kamu lakukan. Manfaatkan masa mudamu sebaik mungkin. Kalau kamu sudah menikah nanti, bukan hanya sudah terikat, tapi langkah kamu juga terbatas karena apa yang kamu lakukan harus mendapat ijin dari suamimu, belum lagi kamu harus menjalani kewajiban sebagai istri. Berbeda kalau kamu masih sendiri, bisa bebas ngelakuin apa aja.”
Sandrina tercenung mendengar penuturan panjang lebar Dipa. Tapi apa yang dikatakan pria di depannya ini memang benar. Hanya saja dia sudah terlanjur jatuh hati pada Dipa. Andai saja dia lahir empat atau lima tahun lebih cepat, mungkin peluangnya bersama dengan Dipa lebih besar.
“Habiskan minumanmu. Habis itu aku antar kamu pulang.”
“Iya, bang.”
Sandrina terlihat tidak bersemangat seperti ketika pertama kali bertemu. Dipa mencoba mengabaikan apa yang terjadi pada gadis di depannya. Ini adalah yang terbaik untuknya. Selain masih muda, menurutnya Sandrina memang belum bisa menyentuh hatinya. Entah perempuan seperti apa yang diinginkan oleh hatinya. Dipa pun masih belum tahu.
Usai menghabiskan minumannya, Sandrina dan Dipa bersiap untuk pulang. Saat berangkat, Sandrina pergi menggunakan taksi online. Gadis itu tidak menolak ketika Dipa mengantarnya pulang. Ternyata rumah Sandrina tidak jauh dari mall yang mereka datangi. Pria itu menghentikan mobilnya di depan kediaman Sandrina.
“Makasih ya, bang. Hari ini aku bahagia banget.”
“Sama-sama. Ayo aku antar sampai depan rumah.”
“Ngga usah.”
“Nganterin anak gadis harus sampai depan pintu rumah. Lebih bagus kalau ketemu sama orang tuanya. Kamu kan bukan naik taksi online.”
“Aaah… bang Dipa sweet banget sih. Tapi beneran ngga usah. Mama sama papa lagi ke rumah nenek. Kak Neska paling lagi istirahat di kamar. Jadi sampai di sini aja.”
“Oke, deh.”
“Sekali lagi makasih ya, bang.”
Sandrina membuka sabuk pengamannya. Sebelum turun dia melihat pada Dipa sebentar, lalu..
CUP
Sebuah kecupan mendarat di pipi Dipa. Sebelum Dipa sadar dengan apa yang dilakukannya, Sandrina segera turun dari mobilnya. Dipa hanya melongo saja sambil memegangi pipinya yang tadi dicium Sandrina.
“Haaiisshhh.. hari ini gue benar-benar ternistakan sama bocil,” gerutu Dipa sambil menyalakan mesin mobilnya.
🌵🌵🌵
Hatchi!
Hatchi!
Hatchi!
Sepulang mengantar Sandrina, Dipa langsung berbaring di kamarnya. Tiba-tiba saja dia tidak enak badan dan terkena flu. Beberapa kali jatuh di atas arena es membuatnya langsung terkena flu. Apalagi Sandrina juga memesankan minuman dingin untuknya.
Pintu kamar Dipa terbuka, Anya masuk membawakan minuman hangat untuk anaknya. Dia mendudukkan diri di sisi ranjang. Dipa bangun dari tidurnya lalu mengambil cangkir dari sang mama. Minuman hangat yang terdiri dari rebusan jahe yang diberi perasan jeruk nipis dan madu masuk ke tenggorokan Dipa, membuat tubuhnya sedikit hangat.
“Gimana acara kencannya?”
“Kacau ma.”
“Kacau gimana?”
Dipa kemudian menceritakan apa yang dialaminya hari ini. anya tidak bisa menahan mendengar cerita anaknya. Di pertemuan pertama bertemu dengan Risna yang memiliki kepercayaan tinggi dan di pertemuan kedua bertemu dengan gadis muda.
“Sabar Dip, baru dua kan? Masih ada stok dari grandpa sama kakek.”
“Ngga yakin deh ma.”
“Coba aja dulu. Siapa tahu yang ketiga dan keempat ada yang cocok.”
Sebuah senyuman tersungging di wajah Anya. Dia meminta Dipa untuk berbaring lalu menyelimuti tubuhnya.
“Kalau kamu udah nikah, pas lagi sakit ada yang meluk kamu. Kalau sekarang kamu peluk guling dulu.”
Anya memberikan guling pada anaknya lalu keluar dari kamar. Dipa hanya mendelik saja mendengar ucapan mamanya. Pria itu segera memejamkan matanya. Gara-gara bocil dia jadi tidak enak badan sampai menggigil seperti ini. Sungguh apes sekali hidupnya.
🌵🌵🌵
Nasibmu Dip, ternistakan oleh bocil🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Ayuna
Tapi jadinya sama Sandrina kan ya.
2025-01-16
1
mio amore
kasian bngt dipa
2024-10-08
1
sakura hanae @ mimie liyana❤️
Kalah ni kesahnya ma bocil🤣🤣🤣🤣
2024-08-21
1